Senin, 18 November 2013

Karena Hobi, Narsis di Leisure

Narsis di media sosial? Sepertinya sudah jamak ya. Tetapi muncul di salah satu rubrik surat kabar berskala nasional, mengutip kata-kata Syarini, “rasanya sesuatu gitu”. Emang sih yang muncul masih secuil profile dan kegiatan menyangkut tema yang diangkat, tetapi bagi aku, dampaknya menambah semangat lho. Next time, karya-karyaku yang muncul , begitu janji hati ini menyemangati diri. Aamiin.
.

Kamis, 14 November 2013

Hujan, Semangkuk Bakso, dan …Posting!


Hujan menderas hampir selalu di penghujung hari. Tidak kira-kira, diselingi pula oleh kilat dan guntur yang menggegap gempita. Kalau sudah begitu, kegiatan yang paling enak dilakukan adalah bergelung dibalik selimut hangat di atas kasur empuk. Plus semangkok bakso panas mengepul dengan cocolan sambal super pedas sebagai temannya. Sayangnya, saat selera ingin makan bakso muncul, cekki kulkas tak ada persediaan bakso dan teman-temannya untuk menjadikan hidangan impian itu tersaji di atas meja.

Jumat, 08 November 2013

Selamat Jalan Papa…


Firasat itu sudah ada, tetapi tidak pernah kumenduga bahwa papa akan berpulang kepadaNya dengan cara yang sedemikian cepat, tanpa pesan. Justru meninggalkan kesan yang mendalam buat kami keluarganya, terutama bagiku, anak sulungnya. Papaku, berpulang keharibaanNya, Jumat, 25 Oktober lalu, sekitar pukul 9 pagi, setelah terjatuh saat membangunkan adik bungsuku. Hanya 2 menit kemudian, dia sudah tidak ada lagi di dunia ini…

Kamis, 10 Oktober 2013

Cinta Dalam Sepotong Cemilan

Bermula dari Si Bungsu yang keranjingan makan roti , baik roti tawar mau pun jenis roti lainnya. Enggak tahu nih kenapa anak saya yang usianya baru menjelang 3 tahun Desember mendatang ini suka banget dengan roti. Tengah malam terbangun pun yang dimintanya juga roti. Padahal makannya sih alhamdulillah,  enggak masalah. Artinya, Si Bungsu ini makannya normal, 3x sehari dan lahap pula. Tetapi untuk cemilan, anak-anak memang tidak saya ijinkan jajan sembarangan. Paling-paling biskuit, atau snack yang saya buat sendiri, dan roti.

www.rebellinasanty.blogspot.com

www.rebellinasanty.blogspot.com www.rebellinasanty.blogspot.com


Jumat, 20 September 2013

Ada Hantu Di Rumahku

Malam Jumat, hujan-hujan, nulis tentang hantu pula..Hiiii

Berurusan dengan hantu mungkin pernah dialami oleh sebagian orang, termasuk aku. Sebenarnya menurut pemahamanku hantu ini adalah perwujudan jin yang usil. Sukanya mengganggu manusia dengan iseng menampakkan wujudnya yang menyerupai orang yang sudah meninggal, atau pun makhluk-makhluk aneh yang tidak biasa. Dan entah mengapa, di beberapa fase hidupku, aku kerap bersinggungan dengan si jin usil ini, dan seterusnya dibagian ceritaku ini kusebut dengan hantu.


Waktu masih tinggal di Medan, aku pernah sampai terbirit-birit keluar kamar dengan gaya kungfu (mata terpejam sambil menendang pintu), karena tidak tahan digoda hantu. Bermula dari tiduran santai di kamar sambil baca buku. Malam sih masih sekitar jam 8-an, dan keluarga yang lain pada asyik nonton tv di ruang keluarga merangkap ruang tamu. Lalu, terdengar suara-suara berat seperti suara orang yang sesak nafas di kamarku. Kututup buku sejenak dan aku konsentrasi mendengarkan suar itu lebih jauh. Suara itu masih terdengar, dan semakin berat menggaung di kamarku

Manfaat Sereh Sebagai Minyak Anti Nyamuk

Punya tanaman itu menyenangkan. Apalagi kalau tumbuh subur dan bermanfaat tak hanya bagi penanamnya, tapi juga orang-orang disekelilingnya. Itu yang saya rasakan.

salah satu tanaman koleksi Rebellina: Jambu Mede


Mudik On The Road

Lebaran memang sudah  usai. Arus mudik pun sudah tak lagi ramai. Namun, setiap kali melihat pemberitaan tentang riuhnya persiapan dan perjalanan mudik ini, saya jadi teringat akan perjalanan mudik saya 2 tahun yang lalu.

ilustrasi di ambil dari : hizbut-tahrir.or.id

Awalnya, saya dan suami merencanakan untuk pulang ke kampung halaman saya (Medan) dengan naik pesawat. Ternyata, setelah memantau beberapa situs penerbangan online, kami membatalkan keinginan kami tersebut. Harga tiket pulang pergi untuk kami sekeluarga (6 orang), ternyata melewati anggaran yang tersedia. Maklum, saat-saat tersebut dikategorikan high season, sehingga harga tiket pun bisa melambung 2x lipat. Belum lagi persoalan dengan anak ke dua kami yang istimewa. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan darat dengan mobil.

Selanjutnya baca di sini...

Kamis, 12 September 2013

Maafkan Ibumu, Nak...

Aku seorang ibu yang baru saja kehilangan suami dan seorang anak dalam suatu kecelakaan lalu lintas beberapa bulan yang lalu. Karena kecelakaan itu, kini yang kupunyai hanya si bungsu yang berusia 6 tahun kurang. Dia belum bersekolah. Rencananya, tahun depan akan kumasukkan ke SD dekat rumah saja, supaya bisa kuawasi sambil aku bekerja mengerjakan pesanan jahitan dari pelanggan.

Semenjak suami dan seorang anakku meninggal, aku memang harus mencari nafkah sendirian, demi menghidupi aku dan anakku. Kedua orangtua kami, baik dari pihakku dan almarhum suami berdiam di seberang pulau. Aku memilih tidak pulang kampung, karena aku ingin berdekatan selalu dengan makam suami dan anakku. Jadi, di sinilah aku, hidup berdua dengan anak semata wayang di pinggir kota yang tenang.

Sejak kehilangan suami dan seorang anak membuatku menjadi obsesif terhadap putra semata wayangku kini. Apalagi marak berita tentang penculikan anak, baik untuk dimintai tebusan, ataupun di gunakan sebagai pengemis jalanan. Jadinya, aku akui aku sedikit mengekang kebebasan bermain dirinya dengan anak-anak sekitar. Aku hanya mengijinkan dia bermain sejauh mataku masih bisa memandangnya. Kalau dia mau bermain agak jauh bersama teman-temannya, harus minta ijin dulu padaku. Syukurlah, anakku bocah yang penurut pada ibunya, sehingga aku tidak terlalu kerepotan mengawasinya.

Pagi ini, saat aku masih berkutat di dapur untuk makan siang kami, dia menghampiriku. “Bu, Adek mau main sepeda ama Syahid. Boleh ya, Bu?” tanyanya penuh harap.

Selamat Ulang Tahun Mama..

Tanggal  9 September 2013 lalu, genap usia 58 tahun untuk mamaku. Dan terakhir aku bertemu beliau di tahun 2011 lalu. Aku dan mama tidak tinggal sekota, melainkan dipisahkan oleh Selat Sunda. Aku di Bogor, sedangkan mama di Medan. Jadi, walau komunikasi masih terjalin lewat telepon, aku belum pernah lagi melihat raut wajah mamaku. Dan saat aku telpon mama untuk mengucapkan selamat padanya, kudengar isak tangis di seberang sana. Katanya, hanya akulah satu-satunya dari 8 anaknya yang selalu mengingat hari kelahirannya. Ada nada kesepian sebuah hati terwakili dari kata-kata wanita itu, dan aku yang mendengarnya, ikut menitikkan air mata.

Aku dan mama, bukanlah pinang di belah dua. Walau sama-sama berkulit putih, tapi mataku mewarisi garis darah kakek yang berdarah Tionghoa, sedangkan mamaku matanya bulat indah. Wajah mama cantik dan cenderung mengikuti garis darah buyutku yang peranakan Jerman. Tidak heran waktu mudanya mamaku di panggil dengan Ida Jerman.  Itu dari sisi fisik yang bisa dilihat. Tapi kata papaku, karakter ‘keras hati’ kami berdua  itulah yang layak dikatakan pinang di belah dua. Mama keras hati, aku pun demikian.  Dan terkadang, tak satu pun dari kami mau mengalah. Sehingga selalu saja ada benturan-benturan setiap kali berinteraksi dengan mama.

Jumat, 06 September 2013

Pengalaman Pertama....

     Kali ini aku mau cerita. Tentang pengalaman pertama. Eits..., jangan berfikir yang aneh-aneh dulu. Aku cuma ingin berbagi, bagaimana rasanya pertama kali melihat sesuatu, tepatnya makhluk Allah yang lain di luar manusia. Bukan hewan lho....
     Terjadinya ketika aku masih kecil, sekitar umur 5 tahunan. Sudah lazim di masa itu kalau asyik bermain sampai lupa waktu. Kalau anak zaman sekarang mainnya kebanyakan di depan komputer atau asyik dengan gadgetnya, beda dengan zamanku. Main karet gelang, patok lele, bekel, guli (atau kelereng ), alip cendong dan banyak lagi yang sekarang sudah langka dimainkan anak-anak masa kini. Dan kalau sudah main, selalu sampai lupa waktu.Kalau soal lupa waktu sepertinya dari zaman ke zaman sama aja ya...Tidak anak masa dulu, mau pun masa kini.

      Nah, seperti biasa aku keasyikan main sampai lupa waktu, bahkan lupa mandi sore sampai nenekku datang dengan omelannya. "Sudah mau maghrib, pulang!" katanya galak. Nenekku emang cerewet, tetapi dia sangat sayang padaku. Dan aku pun dengan takjim mengikuti langkah kaki nenekku menuju rumah, yang jaraknya cuma sekitar 10 meter saja dari tempatku main.

The Haunted House..(1)

Selama menjadi kontraktor beberapa tahun, alias ngontrak rumah dari satu tempat ke tempat yang lain ,cuma satu rumah yang meninggalkan kenangan terdalam. Rumah yang kami sewa itu masuk dalam komplek yang terletak di jalan strategis di kota Bogor. Hanya saja memang rumah yang kami tempati itu posisinya di bagian belakang komplek, karena jujur saja saat itu pertimbangan harga yang murah yang membuat kami (terpaksa)memilih rumah tersebut.
ilustrasi



Waktu itu tahun 2005, dan aku masih mempunyai anak 1 yang masih berusia 7 bulan dan lagi hamil muda anak ke dua. Saat pertama kali pindah ke rumah tersebut, blok yang kami tempati cuma diisi oleh beberapa keluarga. Rumah-rumah yang kosong sangat tidak terawat, rusak parah, dan dipenuhi semak belukar. Rumah yang kami sewa diapit oleh rumah kosong. Di sisi yang kanan rumah kosongnya sangat rusak parah dan dipenuhi oleh tumbuhan liar. Sedangkan di sisi kiri, walau hanya dikunjungi sekali-kali, masih lumayan terawat. Di ujung blok, ada sungai besar yang sekaligus menjadi pemisah antara batas komplek perumahan dengan penduduk kampung sekitar komplek. Total dari sekitar 20 rumah di blok tersebut, yang terisi permanen hanya sekitar 5 rumah.

The X-Files2: Darimana Uangnya?

Dalam kehidupan kita, ada beberapa kejadian yang mungkin mennurut kita tidak bisa dijelaskan dengan nalar. Begitu juga dengan saya.  Fase-fase ini pernah terjadi saat saya masih berseragam putih abu-abu. Seperti ini ceritanya.

Kamis, 29 Agustus 2013

Review Buku : Rainbow.., 20 Flash Fiction Twist Ending

Judul      : Rainbow, 20 Flash Fiction Twist Ending
Editor     : Umma Azura
Penerbit : RinRa Publishing
Cetakan : Juli, 2013
Tebal     : 121 hlm




“Morning, Cantik!”
Laki-laki ini, selalu membangunkanku dengan ciuman-ciuman panas di leherku. Selalu leher. Mengapa bukan wajahku? Supaya aku bisa membalas dengan sama panasnya. Hmm, mungkin pagi hari mulut kami sama-sama bau. Atau, barangkali ia teramat menyukai leherku. (hal 1)

Kalimat itu menjadi pembuka cerita di kumpulan Flash Fiction (FF) yang terdiri dari 20 cerita. Ditulis oleh Okie Noor, salah satu dari 20 penulis yang ikut berkontribusi dalam buku ini. Aku dan Lelakiku, pilihan yang tepat sebagai pembuka cerita. Narasi yang menggoda, menggiring imajinasi pembaca menjelajah lebih jauh lembar demi lembar lagi kumpulan cerita FF ini . Siapa sosok aku akan tersingkap dengan cara yang manis di ending ceritanya. Layak disebut sebagi FF yang twisting ending sesuai dengan judul buku ini : Rainbow, 20 Flash Fiction Twist Ending.

Lalu, di dalam cerita Jahe Hangat Untuk Dul, pembaca seperti terbawa suasana yang digambarkan dalam cerita tersebut. Kemesraan dan kasih sayang dalam suasana gerimis di sore hari, dan dialog-dialog yang mengalir lancar, membuat pembaca seolah berada di sana, ikut menikmati bagaimana pasngan suami istri setengah baya menghabiskan senja gerimis dengan pertanyaan menyangkut cinta. 

“Apa cintamu akan menghilang seiring lenyapnya senja?”
“Senja akan selalu menghilang saat waktunya menghilang.”
“Bagaimana denganmu,Bu?”
“Bukankah Ibu selalu di sini? Di samping Bapak setiap waktu?” (hal. 41)

Mengenal Halua, Manisan Khas Puak Melayu..


Halua atau halwa, adalah manisan yang terbuat dari buah-buahan dan anek ragam sayuran. Rasanya manis, namun tetap terasa garing saat di gigit, dan tampilannya yang cantik menggoda itulah yang menjadi ciri khas dari halua. Bentuk halua yang indah dipandang mata kadang membuat kita malah sayang untuk memakannya. Butuh ketrampilan dan kesabaran untuk membuat halua ini. Mulai dari proses membentuk buahnya menjadi potongan-potongan yang elok dipandang mata, sampai menjadikannya manisan yang bisa awet sampai berbulan-bulan lamanya.

www.rebellinasanty.blogspot.com
Berbagai bentuk Halua dari Betik (Pepaya Mengkal). sumber photo : di sini.
Halua ini adalah salah satu kuliner khas Melayu. Dulu kerap dijumpai menjadi suguhan saat perayaan Idul Fitri atau pun pesat-pesta adat Melayu dan pernikahan. Kalau kini, keberadaan halua sudah semakin jarang terlihat di rumah-rumah puak Melayu. Kalau pun ada, itu pun karena dibeli, bukan dibuat sendiri. Hanya segelintir generasi muda Melayu yang mengenal dan mampu membuat halua ini. Hal ini karena untuk membentuk halua menjadi tidak sekedar suguhan yang enak dimakan, tetapi juga mempunyai nilai seni tinggi, bukanlah hal yang mudah. Butuh ketelatenan, kesabaran, dan ketrampilan khusus untuk itu. Dan hal itu yang generasi kini tidak miliki. Generasi masa kini maunya melakukan sesuatu dengan cepat dan praktis

Jumat, 23 Agustus 2013

Yang Mana Suaminya?


Cerita ini terjadi di suatu desa yang indah. Di desa tersebut tinggal seorang lelaki beserta istri dan dua anak perempuan mereka. Kehidupan mereka sederhana, namun cinta melingkupi rumah kecil mereka.
 A village in Slovenia. sumber di sini :

Sang Lelaki bekerja sebagai penebang kayu di hutan. Setiap kali dia hendak bekerja, dia selalu melewati jalan setapak yang melewati sebuah rumah. Rumah itu di kelilingi oleh tanaman bunga mawar yang berbau harum dan indah oleh warnanya yang merah menyala. Setiap kali si lelaki melewati rumah tersebut, dia selalu tergoda oleh harum mawar yang mekar dan warna merahnya yang menyala. Rasanya, ingin sekali dia memetik beberapa kuntum bunga mawar itu untuk diberikan kepada istrinya tercinta, karena dia tahu istrinya sangat menyukai bau harum bunga mawar.  Sayangnya, dia terlalu takut untuk meminta ijin ke pada pemilik tanaman bunga mawar tersebut, karena pemilik tanaman bunga mawar tersebut dikenal sebagai seorang penyihir.
ilustrasi cerita. sumber di sini 



Selasa, 20 Agustus 2013

Tuhan, Inilah Proposal Mimpi-Mimpiku…


Berani bermimpi? Mengapa tidak? Hampir tiap malam saat tidur saya selalu bermimpi, hehehe. Tapi bukan itu sih yang ingin saya jadikan point dalam tulisan ini. Tetapi tentang harapan, keinginan, cita-cita yang belum namun dalam proses akan terwujud. Insha Allah.

Saya sangat yakin akan kekuatan mimpi, jauh sebelum jargon ini berkembang satu dasawarsa terakhir ini. Waktu saya masih duduk di bangku SD, saya sangat menginginkan satu buah sepeda yang bisa saya pakai untuk ikutan bermain dengan teman-teman. Padahal, secara realita, penghasilan orangtua   jauh dari mencukupi untuk memenuhi keinginan saya tersebut.
www.rebellinasanty.blogspot.com
sumber foto: di sini 
Tak putus semangat, tiap hari saya mengisi celengan yang terbuat dari buah  kelapa kering yang dibolongi sedikit agar uang logam bisa masuk. Uang saku yang diberikan orang tua sebesar Rp.50,- itulah yang saya tabung setiap hari. Betapa senangnya saya ketika tabungan itu saya bongkar dan hasilnya bisa membeli sepeda BMX bekas yang saya impikan. Rasanya saya ingin teriak ke seluruh dunia saat menaiki sepeda tersebut bahwa sepeda ini hasil jerih payah saya dengan menabung. Saya sangat bangga dengan sepeda tersebut --- harta pribadi pertama saya, walau setiap kali menaikinya saya harus kerap berhenti karena sadelnya kerap jatuh. Maklum sepeda bekas, jadi  ondeerdilnya banyak yang protolan, dan dana tabungan sudah habis untuk memperbaikinya. Dengan sepeda BMX bekas itu saya sering menang lomba 17 Agustusan, walau tidak harus juara 1.

Lalu, mimpi saya lainnya adalah sebuah mesin tik. Waktu itu saya SMA, dan saya senang banget menulis .Karena enggak enak dengan salah satu mahasiswa yang kos di rumah nenek saya karena  selalu saya pinjam mesin tiknya, agar saya bisa menerima job mengetikkan tugas makalah dari sekolah, saya bertekad ingin punya mesin tik sendiri.  Berkat hasil nabung karena job mengetikkan tugas makalah dari sekolah untuk teman-teman, mesin tik impian saya berhasil saya wujudkan. Mereknya Brother, dan lagi-lagi bekas. Mana hurup a-nya kalau diketikkan melompat agak ke atas, tetap saja itu sudah membuat hati saya senang. Dengan mesin tik yang hurup a-nya ini lompat ke atas, cerpen saya berhasil menembus majalah Anita Cemerlang dan koran lokal Waspada untuk cerita anak-anak.
sumber foto, di sini

Banyak mimpi-mimpi saya lainnya yang terwujud. Mulai dari keinginan travelling melihat daerah-daerah lain, bahkan sampai luar negeri, punya rumah sesuai kriteria,  bahkan suami yang harus berasal dari luar pulau, semua tercapai. Tetapi, satu hal yang pasti dari terwujudnya semua mimpi-mimpi saya tersebut, adalah campur tangan Tuhan. Karena kalau tidak dengan seijinNya, maka mimpi-mimpi itu cuma sekedar angan kosong belaka.

Kini, di fase kedua hidup saya, yakni kehidupan dalam pernikahan, saya  mengajukan kembali proporsal mimpi-mimpi saya padaNya. Berharap Dia mau menyetujui semua yang menjadi cita-cita,keinginan, dan harapan saya, sebelum maut memanggil saya kembali ke haribaanNya.

Maka, dalam penyerahan totalitas saya padaNya, saya ajukan padaNya daftar keinginan saya yang ingin Dia untuk menyetujuinya.

 “Tuhan…,Inilah proposal mimpi-mimpiku..”
www.rebellinasanty.blogspot.com
sumber foto :di sini


Minggu, 18 Agustus 2013

Waiting 4 The Knight With The Shinning Armour..(1)

“Kapan lagi nih undangannya?”
“Jangan milih-milih…”
“Awas, jangan sampai terlangkah lho dengan adikmu. Ntar jadi sulit jodoh…”

Kebal sudah kuping ini menerima ucapan semacam itu. apalagi kalau lagi menghadiri undangan pernikahan teman. Saya yang semula percaya diri habis untuk hadir ke pesta pernikahan sahabat, bisa jadi lunglai pulangnya karena tidak tahan mendengar segala macam nasehat yang mampir ke telinga. Nasehat itu datangnya dari kerabat ataupun juga dari teman-teman orang tua. Namun begitupun, saya menyikapinya dengan mencoba berbesar hati dan pasang senyum di bibir demi alasan sopan santun. Padahal di hati saya pengen teriak…,”Apa yang salah dengan diri saya kalau saya memang milih-milih jodoh saya?”

Ya, saya akui saya memang pemilih dalam hal jodoh. Apa itu salah? Ah.., pikiran saya jadi mengembara mengenai masalah pilih-pilih jodoh ini.

Kamis, 01 Agustus 2013

Saat Putriku Bertanya...


www.rebellinasanty.blogspot.com
poto pribadi rebellina
Putri sulungku (9,5 tahun) tadi sore bertanya padaku, "Bunda, apakah amal ibadahku di catat oleh Allah? bukankah aku belum baligh? Katanya kalau melakukan dosa belum akan tercatat, karena belum baligh. Bukankah harus demikian pula dengan amal sholih? Belum akan tercatat sebagai pahala karena aku belum baligh?"

Pertanyaannya cukup membuat aku tercenung sejenak, berpikir untuk menjawab tapi bukan dengan asal jawab. Kemudian aku berkata  padanya, " Kakak, walau pun kakak belum balig, tetapi apa yang kakak lakukan saat ini seperti menanam bibit pohon  yang terbungkus kulit yang keras. Bibit itu akan tumbuh menjadi menjadi pohon membutuhkan waktu yang lama, karena dia harus memecahkan dulu kulit pembungkusnya yang keras. Dan untuk itu butuh tanah yang subur dan air yang cukup.

www.rebellinasanty.blogspot.com
Kakak N Adik. Photo Pribadi Rebellina



Pohon Alpukat Pembawa Harapan..

www.rebellinasanty.blogspot.com
Pohon Alpukat 2008
 Ketika pertama kali menempati rumah ini di tahun 2008 lalu, kondisi di halaman depan dan belakang sungguh gersang. Walau di halaman depan ada sebatang pohon rambutan, tetap saja paparan sinar matahari sangat terasa. Begitu juga dengan halaman belakang. Hanya ada satu batang pohon alpukat, yang tumbuh meranggas, dengan daun-daun yang kering dan batang yang kurus.

 Setiap hari pohon alpukat itu kusirami dengan air bekas cucian beras dan ikan/daging. Tidak sampai setahun, pohon itu tumbuh subur dengan batang yang semakin besar dan cabang yang semakin rimbun. Halaman belakang yang gersang menjadi teduh dan menjadi tempat yang nyaman untuk kami sekeluarga mengisi hari libur dengan kegiatan luar ruang. Aku berkebun, suamiku berkutat dengan lepinya, dan anak-anak bermain ayunan dari sebilah papan yang diikat tali tambang di salah satu rantingnya yang kokoh.

Senin, 22 Juli 2013

Bermula Dari Alamanda

www.rebellinasanty.blogspot.com
Alamanda, sumber foto: di sini
Jengkel! Itulah yang kurasakan pertama kali saat ibu mertua datang ke rumah dengan ‘setumpuk  tanaman’.  Sebagian dalam pot, dan sebagian lagi dalam polibag. Terus terang, aku tidak begitu tertarik dengan urusan tanam menanam kala itu. Wong  kesibukan mengurus anak dan rumah tangga saja sepertinya tidak ada habis-habisnya, boro-boro harus ngurusin tanaman.  Tapi tentu saja tidak pantas aku menunjukkan perasaanku kepada  Nin, panggilankukepada Ibu Mertua. Jadilah dengan setengah hati aku menerima amanah harus mengurus tanaman yang sudah Beliau bawa jauh-jauh dari Serang.
                “Biar rumah kalian terlihat lebih indah dan asri. Rumah yang  banyak tanamannya pasti indah dipandang mata,” tutur Beliau.

                Aku manggut-manggut dengan pikiran lain yang berkecamuk di benakku. Duh…, bertambah deh kerjaan dengan ngurusin tanaman.  Tapi tak kupungkiri kata-kata Nin benar. Setiap kali berkunjung ke rumah Nin, selalu mata ini tertambat pada jejeran tanaman yang tumbuh subur dalam pot-pot bunga yang di tata asri.  Selain terlihat indah, rasa teduh dan  perasaan tentram pun turut hadir di tengah suasana. “ Tapi Nin dan Aki khan sudah tidak punya anak lagi buat diurusi,” bathinku ,mencari-cari alasan pembenaran kejengkelanku terhadap titipan tanaman tersebut. Tetap saja akhirnya aku harus menerima bahwa sekarang di rumah yang kami tempati , selain urusan keluarga , bertambah lagi beban  yang harus kuurus. Setumpuk tanaman hias dari Nin!

Selasa, 02 Juli 2013

Dengan al-Qur’an Kumenata Hidupku Kembali

(Curhatan seorang ibu korban child abuse )

Fenomena bullying akhir-akhir ini semakin banyak mencuat. Banyak peristiwa tragis yang diakibatkan oleh bullying. Yang tidak kuat menghadapinya, berakhir pada kasus yang menyedihkan, bunuh diri salah satunya. Sebagian mungkin berhasil melewatinya, namun sebagian besar lainnya, akan membawa trauma akibat bullying itu seumur hidupnya.

Saya, salah satu diantara korban bullying sejak kecil yang tumbuh dalam trauma yang berkepanjangan. Tepatnya korban child abuse, karena yang saya alami bukan sekedar bullying, tetapi lebih jauh dari itu. Tak perlulah saya ungkapkan bagaimana dan siapa pelakunya, biar saja hanya Allah, saya, dan beberapa orang yang saya percayai saja yang mengetahui hal ini. Tak hanya kekerasan fisik yang pernah saya peroleh, tetapi juga kekerasan psikis yang justru membenam kuat sampai ke alam bawah sadar saya. Trauma psikis itulah yang menghantui saya sampai kini, bahkan setelah menjadi seorang ibu dari 4 anak-anak yang luar biasa.

Di tengah-tengah kepedihan saya sebagai korban dari child abuse, saya masih beruntung diberi Allah orang-orang yang melindungi dan mencintai saya sepenuh hati. Kakek saya yang luar biasa cerdas dan teman diskusi yang asyik, nenek saya yang walau cerewet namun sangat melindungi dan menyayangi saya, Tante Ana, Om Alex dan Pakde Nuang saya. Mereka itulah sosok yang membuat saya bisa tegar menghadapi hidup.


Selasa, 25 Juni 2013

Pak, Saya lagi Hamil…

Peristiwa ini terjadi saat saya pulang ke Medan karena ada urusan yang harus segera di selesaikan. Kondisi saya lagi hamil memasuki usia kehamilan 3 minggu. Saya pulang sendiri. Suami tidak bisa menemani karena urusan saya  ini mendadak, dan dia tidak bisa mengambil cuti dari kantornya. Jadilah saya sibuk ke sana kemari mengurus persoalan ini sendirian.

Untuk memudahkan urusan, saya meminjam motor adik saya.  Saya bolak balik ke Medan -  Belawan  dengan naik motor. Nekad juga karena lalu lintas  ke arah Belawan tersebut sangat padat dan dipenuhi truk-truk besar yang seliweran menuju pelabuhan. Keder juga hati ini sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Urusan yangn harus saya selesaikan sangat mendesak untuk dituntaskan, dan saya  sudah sangat ingin pulang kembali ke Bogor. Jadi saya bela-belain deh berpanas-panas di bawah terik matahari jalan Medan – Belawan agar urusan itu kelar.

Namun, yang membuat hati saya selalu was-was di jalan justru kalau ada razia oleh Polantas. Sejak masih belum menikah, saya selalu tidak beruntung kalau ada razia di jalan. Pasti kena stop Polisi. Ya jelaslah, wong saya tidak pernah punya sim motor. Yang saya miliki justru Sim A.  Untuk urusan ini mama saya sampai bilang, “Wah, mama sudah seumur begini kalau bawa motor tidak pernah kena tilang. Kok kamu selalu kena ya. Padahal mama tidak punya SIM lho..”

Minggu, 23 Juni 2013

The Haunted House: Siapa Yang Menemani Saya Nonton '' Mirror?'

Photo Pribadi Rebellina
Masih ingat tulisan saya tentang The Haunted House dan The Haunted House: She Is Singing With Me? Berhubung di rumah tersebut memang lumayan banyak kejadian yang saya alami, maka kali ini saya share pengalaman saya yang lain masih di rumah tersebut.

Suatu malam, saya nonton film Indonesia, temanya horor pula. Sebenarnya, tayangan itu rerun, alias sudah diputar ulang, dan untuk yang ini pun sudah kali ke dua saya menontonnya. Tentunya ditemani suami dong.

Oh ya, film tersebut judulnya Mirror. Pemerannya, yang saya kenal cuma si Nirina Zubir. Menurut saya sih ceritanya tidak terlalu istimewa, tetapi karena seingat saya tidak ada tontonan lain yang asyik di nikmati dari layar tv, terpaksalah saya menonton ulang tayangan film ini.

Jumat, 21 Juni 2013

Mengambang...

Pernah mengalami ketindihan atau istilahnya erep-erep? Pastinya dari beberapa kalian pernah mengalaminya. Tetapi aku tidak. Aku belum pernah mengalami ketindihan seperti itu. Yang kualami, justru berbeda sekali. dan itu terjadi sejak aku kecil sampai aku duduk di SMA.

Aku tidak tahu apa istilahnya untuk menggambarkan apa yang kualami. Baiknya kukisahkan saja di sini. Siapa tahu, ada yang mempunyai pengalaman serupa, dan bisa memberiku jawaban.

Minggu, 16 Juni 2013

THE X-FILES 1: TUYUL??


sumber poto di sini 
Seumur-umur aku belum pernah melihat sosok penampakan tuyul. Mahkluk yang sering digambarkan berwujud anak kecil, botak alias gundul, dan seringkali berpanmpilan  telanjang itu, lumayan populer di kalangan masyarakat umum. Bukan karena kelucuan dan keluguan layaknya anak kecil. Tetapi populer karena tugas yang diemban dari majikannya. Yakni mencuri! Uang yang dicuri hanya berupa uang kertas, dan itu pun cuma selembar saja setiap harinya dari satu rumah.  Tetapi uang yang diambil adalah uang yang memiliki nilai nominal tertinggi.

MG (makhluk gaib) yang satu ini menurut cerita para tetua di kampung kami berasal dari jenazah bayi yang meninggal sebelum sempat menyusu dari ibunya. Maksudnya, mayat bayi tersebut hanyalah sarana bersemayamnya jin tuyul yang melakukan perjanjian dengan manusia yang tersesat (demi menjadi kaya mendadak). Tentu saja untuk jasanya, akan ada bayaran yang harus ditunaikan oleh si manusia yang melakukan perjanjian. Bentuknya bisa jadi berupa tumbal, kadang berupa nyawa dari keturunan si pelaku.


Sabtu, 15 Juni 2013

Bukan Sekedar Halal, Tetapi Juga Berkah...


di bawah rindang Alpukat Rebellina
Sudah dua tahun terakhir ini keluarga kami tidak bisa bebas lagi bermain di halaman belakang. Sebelumnya halaman belakang selalu menjadi tempat favorit kami sekeluarga untuk ngumpul. Di bawah rindangnya pohon Alpukat, ditemani dua gelas kopi panas (untukku dan suamiku), serta camilan buatan sendiri untuk kita semua. Lalu, sembari mengawasi anak-anak bermain ayunan yang dibuat dari tali tambang yang diikatkan ke dahan pohon alpukat ditambah sebilah papan, aku  dan suami asyik membahas apa saja. Terkadang pula meja dan komputer di bawa ke sini untuk ayah bekerja, atau juga untukku mencari inspirasi menulis.

Namun, semua itu kini hampir tidak bisa lagi kami lakukan. Sebabnya, bau menyengat dari kotoran ayam milik tetangga sebelah rumah. Walau dibatasi tembok setinggi 2 meter, bau itu tetap sangat mengganggu. Apalagi semenjak tembok belakang rubuh karena kontruksi pembangunannya yang tidak beres, halaman belakang sudah tidak nyaman lagi bagi kami untuk tempat berkumpul. Bukan hanya bau busuk menyengat, tetapi juga lalat-lalat yang menjijikkan pun membuat kami harus selalu menutup pintu belakang. Sungguh, 2 tahun sampai kini kami kehilangan udara segar pagi hari, semilir angin yang biasa kami nikmati kala hari menjelang senja, bahkan hangatnya sinar mentari pagi. Plus, hobi berkebunku yang mau tak mau menjadi terbengkalai karena bau busuk kotoran ayam ini.
penampakan kandang ayam. poto Rebellinasanty

Kalau cuma memelihara ayam beberapa ekor saja sih tidak akan menimbulkan bau busuk mengganggu ini. Tetapi masalahnya, memelihara ayam ini untuk skala bisnis menengah, dan jumlahnya di atas 500 ekor. Pastinya memang ada aturan khusus yang mengatur soal tempat memelihara hewan untuk usaha. Yang aku pelajari dulu waktu sekolah adalah dilarang mendirikan kandang hewan di belakang rumah, karena tidak baik untuk kesehatan. Apalagi hewan untuk usaha. Tetapi, itu tidak berlaku di sini, di daerah tempatku tinggal.

Jumat, 14 Juni 2013

Si Ungu Cantik Pencegah Kanker (Ipomea Batatas Poiret)

Lagi belanja di pasar tradisional, mata ini langsung tertambat pada tumpukan ubi jalar di salah satu lapak pedagang. Dan salah satu jenis ubi jalar  yang dijual adalah ubi jalar ungu. Benar-benar ungu, baik kulitnya sampai isinya.
 Sumber foto, di sini


Ahai..., saya memang suka dengan ubi jalar atau kalau orang Medan bilang ubi rambat. Selain rasanya yang manis legit. Ubi rambat ini juga mengingatkan saya pada orang yang saya sayangi (missed you much Grandpa). Kenangan saat makan ubi rambat ungu rebus bersama beliau saat saya masih kecil, sangat membekas. Dengan telatennya beliau akan mengupaskan kulit luar ubi ungu ini untuk saya, dan  meniup-niup asap panas yang masih mengepul dari ubi ini agar saya yang sudah tak sabaran ini bisa segera memakannya.

Terus terang, itu  terakhir saya melihat ubi rambat ungu (yang benar-benar ungu ya). Sampai besar dan kemudian menikah, ubi ungu itu tidak pernah terlihat lagi di depan mata. Entah mama yang tidak pernah membelinya, ataukah memang ubi ungu sudah sulit ditemukan. Setelah menikah, saya berkali-kali cari di pasar, dan nanya ke penjual ubi jalar, namun tidak pernah ketemu. Yang ada ubi rambat putih,kuning, oranye, merah  dan yang kulitnya berwarna putih tetapi isinya berwarna keunguan. Atau sebaliknya, kulitnya berwarna ungu tapi isinya malah putih.    yang benar-benar ungu baik isi dan kulitnya, hanya bisa saya lihat di tv, itu pun baru sekitar 2 tahun terakhir. Makanya, begitu melihat ada ubi rambat ungu yang di jual, saya langsung mampir dan membelinya.


Sabtu, 08 Juni 2013

The Memory Of Jimboo

seperti inilah kira-kira wujud fisik Jimboo.
hanya saja bulunya lebih coklat. sumber foto: Google
Akhir-akhir ini di sekitar rumahku sering terdengar lolongan anjing. Dan selalu bertepatan dengan azan yang dikumandangkan, terutama azan subuh  dan magrib. Heran juga, darimana asalnya anjing tersebut, karena di wilayah tempat tinggalku kutahu tidak ada yang memelihara anjing. Sempat terpikir, jangan-jangan anjing siluman. Udah parno duluan pikirannya saking seringnya mendengar hal-hal yang ‘begituan’. Dugaan itu dipatahkan suamiku karena dia  pernah melihat 2 ekor anjing besar masuk ke halaman rumah (karena pagar depan selalu terbuka, jarang dikunci). Berarti anjing itu nyata ada.Hanya saja kalau siang tidak pernah kelihatan.

Lolongan itu terdengar begitu sedih, bukan seperti lolongan yang sering digambarkan dalam cerita atau pun film-film spooky. Dan lolongan itu mengikuti panggilan azan yang dikumandangkan lewat pengeras suara. Begitu azan usai,lolongan itu pun berhenti. Aneh,ya.

Selasa, 21 Mei 2013

Bersedekah Tak Harus Menunggu Kaya


“Kalau kaya, kita akan lebih mudah beramal sholih,  misalnya bersedekah......”
Beberapa waktu yang lalu, wacana sejenis ini wara wiri di laman fesbuk, di posting beberapa orang  dalam waktu yang hampir bersamaan, walau tidak  seratus persen sama redaksinya.  Latar belakangnya, ketika itu ramai diperbincangkan gaya hidup hedonis  anggota DPR . Dan pihak-pihak yang gerah tergerak untuk ramai-ramai memberi opini untuk menjustifikasi bahwa menjadi kaya itu sangat perlu. Lengkap juga dengan kutipan dalil dan contoh kehidupan sahabat  nabi.

Saya tidak ingin membahas tentang gaya hidup hedonis orang lain. Apalagi dari mana sumber uang yang di dapatnya untuk bisa bergaya hidup mewah tersebut.  Logika saya hanya terusik saat  wacana itu (saat merebaknya) demikian menekankan betapa pentingnya untuk menjadi kaya, karena dengan kaya bisa berbuat kebaikan dan amal sholih lebih besar. Pendapat seperti ini selaras dengan yang tercantum dalam al-Qur’an surat At Taubah; 75 , “Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah:"Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian dari karunia-Nya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh".

  Sedemikian pentingnya untuk menjadi kaya sehingga meghalalkan segala cara, bukan juga cara yang baik untuk dilakukan. Apalagi untuk ditiru. Bahkan bisa jadi kekayaan itu malah jadi bumerang buat pemiliknya, karena apa pun yang diberikannya dengan alasan amal sholih, akan tertolak kalau sumbernya tidak  halal.
Lalu, kalau tidak kaya, bagaimana dong? Enggak bisa beramal shalih, tidak bisa bersedekah, tidak bisa bangun mesjid de el el...

Senin, 20 Mei 2013

Saat Maut Menjemput….


Panggil namanya Pak Kliwon (nama samaran). Sosoknya kurus kecil, dan berkulit hitam. Rambutnya selalu disisir klimis dengan minyak rambut cap  Mandom ( aku hafal betul baunya, karena kakekku juga pakai Mandom). Dan kalau berpakaian rapih sekali, menampakkan bekas lipatan strikaan pada celana panjangnya. Penampilan Pak Kliwon sebenarnya biasa saja, seperti orang yang lainnya. Tapi yang tidak biasa adalah  tatapan matanya yang mencorong dingin, ditambah sikapnya yang tidak hanya dingin  tetapi juga kaku terhadap orang lain. Pak Kliwon pelit akan kata-kata. Apalagi terhadap  anak-anak, seperti padaku yang mengenalnya sejak usia 6 tahun . Aku pernah terbirit-birit kabur dari hadapannya saat dengan mata mencorongnya dia menegurku yang masuk ke bagian tengah rumahnya tanpa sengaja.

Aku tahu Pak Kliwon ini karena nenekku dan mamaku  menyewa masing-masing  sepetak kamar di belakang rumah mereka.  Beliau kerja di suatu perusahaan perkebunan. Istrinya dipanggil dengan Nek Wiji (nama samaran juga). Kalau Nek Wiji lumayan ramah terhadap siapa pun, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Pak Kliwon. Rumah yang kami tempati itu termasuk rumah tua, dibangun sekitar tahun 1960-an  dan bisa dibilang rumah paling tua di jalan P tempat aku tinggal di Medan .

Kamis, 16 Mei 2013

Kekayaan Materi Bukanlah Ukuran Tuhan Menyayangimu Lebih

Wah panjang juga judulnya ya. Tapi tidak apa-apalah, habis susah juga mau cari judul yang menggambarkan isi hati saya

Tulisan ini terinspirasi dari bincang-bincang saya dengan salah satu anggota keluarga. Tepatnya pembicaraan satu arah, karena yang ngomong melulu adalah orang yang dituakan dalam keluarga besar kami. Dan saya, karena alasan kepatutan dan etika, lebih memilih diam dengan gempuran emosi di dada yang berusaha saya redam sekuat mungkin.

Bagaimana redaksional pembicaraan satu arah itu tidak usahlah saya tuliskan. Intinya, sang pembicara menekankan berkali-kali, bahwa Tuhan demikian sayangnya pada beliau, dibuktikan oleh kelimpahan materi yang dimiliki oleh beliau saat ini. Dan sebaliknya, bila rejeki masih seret, maka harus banyak-banyak introspeksi diri, jangan-jangan yang bersangkutan penuh dosa dan Tuhan sedang murka pada yang bersangkutan.

 Saya setuju pada kata beliau soal harus introspeksi diri. Dan itu berlaku bagi siapa pun, di mana pun, tak peduli  berapa banyak materi yang dimiliki, atau kere sekalipun. Lalu, apakah bentuk wujud sayang Tuhan pada hambaNya adalah harus selalu dalam bentuk kelimpahan materi? Apakah juga orang yang sholih mudah terlihat karena hartanya yang melimpah sebagai  ‘hadiah’ dari Tuhan karena ke sholihannya dan sebaliknya, yang miskin  harta adalah para pendosa di hadapan Tuhannya Wah…, kalau begitu manusia akan mudahnya mengkotak-kotakkan ke shalihan seseorang berdasarkan berapa banyak harta yang dia miliki dong. Hmmm…, untuk hal ini saya katakan tidak setuju. Baik dari sisi pembahasan logika, maupun dari sisi agama.

Rabu, 15 Mei 2013

Suburkan Tanaman Dengan Pupuk Organik Dari Dapur


Tidak ada yang lebih diinginkan para pecinta tanaman selain melihat tanamannya tumbuh subur. Daun-daun yang hijau mengilat, kuntum bunga yang mekar sempurna, atau untuk tanaman buah tentunya menghasilkan buah yang baik mutunya. Tentunya semua itu tidak diperoleh dengan begitu saja membiarkan tanaman tumbuh apa adanya. Pastinya harus ada perawatan sesuai karakteristik tanaman.

Tidak semua tanaman bisa diperlakukan sama. Ada tanaman yang hanya bisa tumbuh dalam air. Contoh seperti ini adalah teratai. Ada pula yang butuh sinar matahari penuh dan penyiraman yang cukup dilakukan seminggu sekali. Untuk tanaman hias jenis ini kalau lagi musim hujan, lebih baik ditempatkan terlindung dari limpahan air hujan. Contoh jenis tanaman hias ini adalah  salah satunya Kamboja Jepang (Adenium) dan Euphorbia. Ada pula jenis tanaman yang akan tumbuh subur di bawah naungan, atau tidak terpapar sinar matahari secara langsung. Contoh tanaman jenis ini adalah Sri Rejeki, Sirih, dan banyak lagi. Sedangkan untuk tanaman berbatang keras dan menghasilkan buah, umumnya harus terkena matahari secara penuh, setidaknya selama 6 jam untuk bisa berbuah kelak.
www.rebellinasanty.blogspot.com

Walau untuk perawatan tanaman dibedakan berdasarkan jenis dan karakteristiknya, namun satu hal yang menjadi persamaannya, yakni, semua tanaman membutuhkan nutrisi untuk mereka bisa tumbuh. Nutrisi bagi tanaman diperoleh dari unsur hara yang terdapat di dalam tanah tempat tanaman itu tumbuh. Nutrisi juga bisa diperoleh dari air . Namun bila kandungan nutrisi di dalam media tempat tanaman itu tumbuh tidak mencukupi , maka pemberian nutrisi berupa pupuk harus dilakukan.

Pupuk yang ada sekarang ini banyak macamnya. Ada yang sifatnya kimiawi, dan ada pula yang organic.  Penggunaannya pun di beda-bedakan, untuk pertumbuhan batang dan daun, untuk pembungaan, bahkan ada untuk percepatan pembuahan, sehingga tanaman buah bisa dipanen di luar musim. Harga pupuk yang di pasaran saat ini bervariasi, tergantung merek dan jenisnya. Dan pupuk di pasaran harganya cenderung meningkat dari waktu ke waktu.

Selaras dengan kampanye go green yang semakin digencarkan, bagi para pecinta tanaman dan juga pecinta lingkungan, selayaknya merubah pola pikirnya  untuk segera beralih ke pupuk yang ramah lingkungan. Pupuk organic bisa menjadi pilihan. Namun harganya yang cukup lumayan terkadang menjadi kendala bagi para pecinta tanaman.  Apalagi kalau jumlah tanamannya tidak sedikit.

Namun jangan khawatir. Pupuk organic  bisa kita buat sendiri. Salah satunya adalah pupuk organic cair, yang cara pembuatannya pernah saya posting di blog ini  sebelumnya.  Namun tak hanya pupuk organic cair saja yang bisa menyuburkan tanaman , beberapa bahan-bahan yang akrab kita gunakan di dapur, ternyata sangat bermanfaat untuk tanaman. Mau tahu apa saja bahan-bahan di dapur yang bis amenyuburkan tanaman? Berikut ini paparannya.

Selasa, 14 Mei 2013

Perjanjian Pranikah,Perlukah?


www.rebellinasanty.blogspot.com
Sumber foto: www.huffingtonpost.com
Maraknya berita perceraian selebritis senior akhir-akhir ini cukup mengejutkan. Pasalnya, usia pernikahan mereka bukanlah seumur jagung. Dan sebelumnya pun para selebritis senior ini dikenal sebagai pasangan yang harmonis. Dan biasanya, perceraian selebritis selalu dikait-kaitkan dengan masalah pembagian harta gono gini.

Ada yang menarik perhatian saya saat membaca berita terkait perceraian salah satu artis senior yang sudah kurang lebih 17 tahun menikah. Yakni masalah harta gono gini yang ternyata telah dibuatkan perjanjian sebelumnya, yakni  perjanjian pranikah atau Prenuptial Agreement.  Lalu, apa sih perjanjian pranikah tersebut dan bagaimana hukumnya di Indonesia?


Temukan Passionmu (Kembali)


     Saat kita kecil, kalau ditanya cita-cita, pastilah beragam jawabnya. Namun jarang ada yang konsisten dengan satu cita-cita, sampai kemudian mewujudkannya saat dewasa.  Saya termasuk di dalamnya. Tidak konsisten dan selalu berganti cita-cita.  Waktu SD, kalau ditanya apa cita-citanya, maka akan dengan lantang menjawab, ingin menjadi guru.  Belum sampai tamat SD, sudah berganti lagi, mau jadi sarjana hukum.  Waktu SMP, mengambang, tidak jelas mau jadi apa. Mungkin karena saat itu saya masuk dalam zona labil, alias beradaptasi dengan perubahan diri  yang memasuki masa baligh. Lalu SMA, nah ini dia…, di sini saya terus terang kesulitan menentukan pilihan mau masuk jurusan apa, karena saya termasuk type yang banyak maunya. Susahnya, saat saya membutuhkan banyak masukan dan bimbingan untuk pilihan ke depannya, orangtua saya malah menyerahkan sepenuhnya kepada saya. ..
     Jadilah saya masuk A3, mungkin sekarang namanya  IPS, lalu lanjut kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Fisip. Niatnya sih mau jadi diplomat, atau setidaknya jurnalis. Selain karena suka nulis, tujuan lainnya adalah bisa jalan-jalan. Dan gratis! (karena tugas, itu impian saya sih…) Tapi apa daya, saya tak sempat menyicipi profesi  impian saya. Malah dengan seijin Yang Kuasa, saya jadi wirausahawan kecil-kecilan.  Namun niat jalan-jalan gratis kesampaian. Walau cuma beberapa tempat saja.
Tapi jujur, sampai titik itu saya belum menemukan passion saya. Walau  secara materi saat itu lebih dari cukup, serasa masih ada yang kurang. Ada ruang kosong di hati.  Saya seperti masih mencari-cari, sesuatu yang bisa saya kerjakan dengan senang hati, dan tak melulu soal materi.

Senin, 13 Mei 2013

Mengapa Anak Semakin Mudah Berbuat Kriminal?

ilustrasi dari Google

Kekerasan yang pelakunya anak-anak, demikian marak akhir-akhir ini. Miris rasanya membaca berita atau menontonnya lewat televisi, bagaimana bocah-bocah yang harusnya masih polos tersebut, sudah sanggup melakukan tindak kriminal,  mulai dari pencurian, pemerkosaan, bahkan pembunuhan keji. Seperti baru-baru ini, ramai diberitakan pembunuhan oleh seorang bocah usia 8 tahun terhadap temannya yang masih berusia 6 tahun hanya karena hutang seribu rupiah. Cara pembunuhannya pun tergolong sadis untuk seusianya, yakni dengan membenamkan korban ke dalam air berulang kali sampai korban akhirnya tewas.

Maraknya kasus kriminal di mana pelaku dan korban adalah anak-anak, menunjukkan bahwa kondisi kehidupan sosial keluarga dan masyarakat sudah di luar kenormalan. Fungsi keluarga, kontrol masyarakat , dan aturan hukum untuk melindungi anak-anak ini semakin melemah.  Penyelesaian masalah ini bukan hanya sekedar mengganjar pelaku dengan hukuman seberat-beratnya, karena di satu sisi mereka masih anak-anak, namun memerlukan perubahan 180 derajat pada tatanan kehidupan sosial masyarakat.

Minggu, 12 Mei 2013

Puding Marmer Pepaya


www.rebellinasanty.blogspot.com
panen pepaya dari halaman
    Masih terkait postingan tentang pepaya beberapa waktu yang lalu. Kebetulan di halaman samping rumah saya terdapat sebatang pohon pepaya. Tumbuh subur sarat buah.

 Setiap hari saya panen buah pepaya matang. Tidak jarang sekali panen, saya sampai harus memetik 3 buah pepaya, karena sudah matang pohon. Lama-lama buah pepaya yang saya panen numpuk di kulkas, karena antara kecepatan memakan buah pepaya segar dengan hasil panennya tidak selaras. Mau dibagi-bagi ke tetangga, kok rasanya kurang tepat. Soalnya tetangga kanan kiri depan belakang semuanya juga memiliki pohon pepaya dan juga sedang berbuah.
 
      Pohon pepaya memang dikenal gampang tumbuh dan gampang berbuah. Buahnya yang matang selalu mengundang selera untuk menyantapnya saat segar. Apalagi kalau disantap dalam keadaan dingin. Hmmm, yummy. Tetapi kalau setiap hari? Wah bisa bosan juga. Mengakalinya adalah  menyajikan pepaya dalam bentuk lain pada keluarga. Browsing sana sini, akhirnya ketemulah resepnya, menyesuaikan dengan bahan-bahan yang ada di rumah. Pilihan saya jatuh pada resep berikut ini, plus cara pembuatannya.

Paparan Singkat Pepaya dan Manfaatnya



www.rebellinasanty.blogspot.com
pepaya dari kebun milik sendiri

Siapa yang tak kenal pepaya? Buah satu ini hampir bisa dipastikan sangat akrab dengan keluarga Indonesia. Bahkan anak-anak pun tidak sulit mengenali buah yanga satu ini, terlepas dari mereka menyukainya atau tidak. Selain cita rasanya  rasanya yang manis dan menyegarkan, bentuk buahnya yang khas, dan pohonnya yang bisa dijumpai di mana saja, memudahkan semua orang untuk mengenal jenis buah yang kaya manfaat ini.

      Buah pepaya diketahui memiliki kandungan vitamin C melebihi jeruk. Dalam 100 gram pepaya, terkandung 78mg vitamin C, sedangkan jeruk hanya dalam berat yang sama hanya 49mg. Satu-satunya buah yangkandungan vitamin C-nya mengalahkan pepaya adalah jambu biji, yakni sebanyak 87 mg per 100 gr. Tidak hanya itu, kandungan Vitamin A-nya lebih banyak daripada wortel, serta kaya pula dengan vitamin B kompleks dan vitamin E

     Pohon pepaya (Carica papaya L ), sama halnya seperti pohon kelapa, dikenal mempunyai banyak manfaat . Mulai dari akar, bunga, daun, bahkan getahnya, semua bisa dimanfaatkan. Apakah itu sebagai sumber gizi, atau untuk pengobatan herbal dari berbagai penyakit. Ini karena lebih dari 50 asam amino yang terkandung di dalamnya. 
Berikut ini paparan singkat tentang manfaat pepaya.

Minggu, 07 April 2013

Cara Membuat Pupuk Organik Cair


Di  sekitar tempat  tinggalku ini banyak tumbuh pohon jambu biji, karena merupakan salah satu sentra penghasil buah yang kaya vitamin C ini. Saat lagi musim, buahnya yang sudah terlalu matang  banyak bertebaran di tanah. Selama ini kalau aku lagi lewat dan melihat buah-buah tersebut, selalu terbersit rasa ‘sayang’, dan bagaimana cara memanfaatkan buah yang sudah tak terpakai tersebut. Kebetulan,  aku pernah menonton tayangan cara membuat pupuk organic cair di salah satu tv swasta. Klop deh, pikirku. Bahan ada, cara membuat juga tidak ribet, di tambah aku pun memang mempunyai beberapa tanaman hias dan tanaman buah yang memang membutuhkan pupuk.  Tinggal action nya saja.

www.rebellinasanty.blogspot.com
halaman belakang Rebellina
Jadi, di suatu pagi yang berkabut, di halaman belakang, aku pun berkutat dengan bahan-bahan yang telah kupersiapkan sehari sebelumnya. Berikut bahan-bahan yang diperlukan dan  cara membuatnya :

1 kg buah jambu biji yang sudah tak terpakai (busuk/terlalu matang), di blender (halus atau kasar tidak terlalu masalah. Tapi aku memilih halus supaya pupuk cairnya lebih beraroma buah tersebut). Buah Jambu bisa diganti dengan sisa buah apa saja.
200 gr gula pasir
3 liter air tanah/air sumur
Karung beras
Tong/wadah yang mempunyai tutup

Cara membuat:

The Haunted House : She is singing with me…


ilustrasi
Tinggal di rumah yang lingkungannya masih sangat sepi dengan kondisi rumah sekitar banyak yang rusak, memang tidak enak. Apalagi di tambah dengan kehadiran-kehadiran “lainnya” yang tak kasat mata. Wew… Tapi apa mau dikata? Aku harus menghadapinya selama setahun ke depan. Tentu dengan mempertebal iman, memperbanyak kegiatan, dan menambah daftar tetangga untuk saling bersilaturahmi. Hanya saja kalau malam menjelang, tetap saja aku harus bertempur dengan ketakutanku , terutama saat suami sedang shift malam.

Rumah yang kami kontrak ini tidak begitu besar. Cuma terdiri dari 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tamu sekaligus ruang keluarga, dapur kecil, dan gudang kecil yang beersebelahan dengan kamar ke dua. Kami hanya memakai kamar pertama yang lumayan luas, sedangkan kamar ke dua, dibiarkan kosong, karena Putri yang masih 7 bulan saat itu masih tidur dengan kami.

Jumat, 05 April 2013

Roti Perancis Ala Bunda..

Lama tak bersentuhan dengan peralatan baking karena keasyikan menulis dan berkebun. Hasrat itu muncul lagi saat kemarin, Kamis, kita sedang puasa sunnah. Putri saya yang sulung (9 tahun) dan adiknya (5 tahun) minta dibangunkan sahur dan ikut puasa sunnah. Memang mereka sudah saya biasakan untuk berpuasa sejak kecil, bahkan si sulung saat usia 4 tahun puasa pertamanya di bulan ramadhan poll (penuh) tanpa ada ketinggalan, dan si adiknya yang 5 tahun puasa ramadhannya hanya kecolongan 1 hari karena panas (saat puasa ramadhan pertamanya, adik berusia 4,5 tahun).
Jadilah Kamis kemarin itu kami berempat, saya, suami dan dua putri kami puasa sunnah. Untuk menyemangati mereka, saya menjanjikan akan membuat kue atau roti sebagai pembuka hidangan berbuka nantinya.

 "Bunda memang sudah lama ya tidak bikini kita kue," ajuk Si  Sulung mendukung niat saya tersebut     "Iya, nanti aku bantuin ya, Bun" timpal Si Adik dengan semangat.
      
Memang, saya sudah lama tidak membuatkan mereka cake atau roti yang dipanggang. Biasanya dulu saya rajin membuatkan mereka cup cake, atau pun pizza kegemaran mereka. Tetapi semenjak perhatian saya tersita untuk menulis kembali dan berkebun, hobi saya yang lain  (baking) terabaikan. Sungguh sulit membagi waktu untuk semua hal. Tapi kali ini saya menguatkan tekad untuk memenuhi janji saya pada putri-putri saya.

Sampai jam 2 siang saya masih belum tahu mau membuat apa. Buka box persediaan bahan makanan, semua bahan dasar  yang dibutuhkan ada. Terigu, telur, gula, dan  margarin. Tinggal aksi saja sebenarnya. Mau buka-buka kumpulan resep kok rasanya malas banget. Ingin buat roti, duhh..., prosesnya itu lho. Lama. Berdasarkan pengalaman dari mulai adonan, sampai siap santap, butuh waktu minimal 3 jam. Tetapi, semua anakku suka roti. Akhirnya, saya putuskan untuk membuat roti juga dan mengalahkan rasa malas saya. Saya hitung waktunya pas nanti selesai mendekati waktu berbuka. Masalah lainnya muncul lagi, jenis roti yang mana nih?

Pilihan jatuh pada Roti Perancis atau French Bread. Sesuai namanya, roti ini berasal dari Perancis, panjang roti umumnya sekitar 40 cm dengan diameter 5 cm. Permukaan roti keras dan pori-porinya besar. Saya suka roti jenis ini karena bisa dipakai buat roti pizza, kesukaan anak-anak. Bisa juga dioles selai coklat, atau di cocol dengan saus sambal sebagai teman minum kopi. Dan yang pasti, membuatnya supeer gampang, tidak seperti roti lainnya. Saya tidak perlu menguleninya sampai elastis. cukup sampai kalis saja. (Salah satu yang bikin saya malas bikin roti adalah proses pengulenannya harus sampai elastis. Bikin pegel tangan). Tapi soal elastis ini versi saya lho. Oh ya resep saya dapat dari googling (Crazy Pastry Ideas), dan telah saya modifikasi. Berikut resep Roti Perancis ala saya

Rabu, 03 April 2013

Menjadi Penulis Yang Rendah Hati… (di Dunia Maya)


Saya  sungguh beruntung bisa tahu  dan bergabung dalam suatu komunitas yang berisikan ibu-ibu hebat yang jago menulis.  Sebagai seorang yang masih sangat dangkal ilmunya,  dan ingin menjadi seperti mereka, saya pun dengan semangat belajar meminta pertemanan melalui jejaring sosial pada beberapa ibu penulis tersebut. Saya katakan ibu-ibu penulis karena sudah  teruji dengan  hasil tulisannya, baik yang sering mejeng di media cetak, sering menang lomba blog,  ataupun yang menelurkan buku .  Berteman dengan ibu-ibu hebat, sedikit banyak pastilah bias memberikan kontribusi positif buat saya yang cetek ilmu menulis ini. Begitu pikir saya.

 Pada beberapa postingan status teman penulis,  saya  memilih menjadi silent reader . Namun tak jarang juga saya ikut  memberi komentar , yang lainnya paling saya beri tanda like.  Selama  2 tahun bergaul dengan teman-teman penulis dari suatu komunitas ini, saya belajar beberapa hal. Ternyata  di dunia ibu-ibu penulis, ada dua kategori penulis yang menurut saya terlihat jelas, yakni penulis yang rendah hati, dan penulis yang  sebaliknya, alias sombong. Kenapa saya bisa  katakan begitu?

Rabu, 27 Maret 2013

Cerita tentang Banana Musa Ornata Pink..


www.rebellinasanty.blogspot.com
photo pribadi rebellina
Aku jatuh cinta pada tanaman ini saat pulang kampung ke Medan, Juli 2011 lalu. Di halaman rumah orang tua, pisang ini kelihatan berbeda dengan tanaman pisang lainnya. Batangnya ramping dan jantung pisangnya berwarna pink dan tumbuh tegak ke atas,berbeda dengan tanaman pisang umumnya . Buah pisangnya yang biasa membentuk tandan, tidak begitu terlihat, karena bentuknya kecil dan tidak begitu banyak. Kata Papaku, pisang ini dibawa beliau dari Nias saat mengunjungi adiknya di sana.

Saat aku pulang ke Bogor di akhir Juli 2011 tersebut, Papa dengan antusias membawakanku anak pisang ini setelah sebelumnya bersusah payah mencangkulnya untuk memisahkannya dari pohon induknya. Perjalanan kami pulang kembali ke Bogor lewat darat (karena kami naik mobil) selama hampir 1 minggu, sempat membuatku khawatir pohon pisang ini akan mati  saat tiba di Bogor. Syukurlah,  walau sempat mengalami stress, pohon pisang ini bertahan hidup sampai sekarang.

Sejak  ditanam sampai kini, pohon ini telah dua kali berbunga (seperti dalam photo). Tepatnya ini adalah generasi yang kedua setelah generasi pertama yang kubawa mati (setelah berbunga).  Bunga dari pohon yang pertama, tidak begitu bagus hasilnya. Mungkin karena tempatnya ditanam kurang cocok, agak ternaungi pohon lainnya .  Setelah dipindah tempatkan, kini pohon pisang yang bernama latin Banana Musa Ornata ini berbunga lumayan bagus, walau belum optimal menurutku.

Aku tahu nama latin tanaman hias ini setelah searching di Google. Pisang jenis ini memang ditanam bukan untuk buahnya, tetapi sebagai tanaman hias karena bunganya yang berwarna menarik.   Ada lebih dari 50 spesies variasi dari tanaman yang masuk family Musacea ini, diantaranya  Abyssinian, Siam Yellow Banana, African Red, Milky Way, Mannii, Becarrii, Macro, Royal Purple , Royal Ruby, Royal Pink, Sumatrana (Zebrina), Bronze Banana dan Musa Velutina.
www.rebellinasanty.blogspot.com
poto pribadi rebellina

Pohon pisang jenis ini mempunyai ketinggian sekitar 0.5 meter. Pelepah dan daun pisang ini lebih kecil. Ia juga mengeluarkan jantung dan berbunga tetapi kebanyakannya tidak menghasilkan buah. Hampir semua jantung pisang musa ornata keluar secara tegak, tidak seperti pisang biasa. Ada juga jenis pisang ini yang berbuah tetapi buahnya tidak bisa dimakan.

Bukan semata nilai estetikanya saja yang membuatku suka berlama-lama memandang pohon pisang ini dari jendela. Ada kenangan yang tentang papaku yang bersusah payah menggali tanaman ini dan membawakannya untuk kami. Bagiku, itu wujud perhatiannya pada kami. Ada juga kisah sedih dibaliknya, yakni saat seseorang kerabat dekat mencibir keberadaan pohon ini dan menganggapnya cuma pohon pisang hias yang tak berarti. Mungkin, bagi orang tersebut, keberadaan pohon pisang hias itu tidak sebanding dengan tanaman mahal yang dipunyainya. Tetapi bagiku, pohon pisang ini mengingatkanku akan rasa sayang dan perhatian papa terhadap putri sulungnya. Dan aku bertekad, pohon pisang ini akan terus tumbuh di halamanku dengan suburnya. Tentu, karena aku merawatnya dengnan cinta, dan karena ada cinta yang terpancar dari indah warna bunganya...

Bogor, 27 Maret 2013

www.rebellinasanty.blogspot.com
Papa, with Zulfikar 2011
Dan kini, pohon pisang ini akan selalu mengingatkanku akan alm papaku tersayang. Setiap kali aku merindukannya, aku akan melihat ke luar jendela, memandang daun-daunnya, dan kukekang senyum senangnya saat berhasil memisahkan anakan pohon pisang ini untuk kubawa ke Bogor.

I Missed You Dearest Papa
with Love
Bogor, 20 September 2014

Rabu, 13 Maret 2013

Prasangka

Tahun 2000-an
www.rebellinasanty.blogspot.com
prasangka ,credit
   










 Perempuan di hadapanku itu duduk dengan cara yang sedikit tidak sopan, menurutku. Kakinya agak dilebarkan, sedikit mengangkang, walau memakai celana denim, tetap saja tidak elok di mata. Jemari tangan kanannya mengapit sebatang rokok yang mengepulkan asap  rokok yang membentuk lingkaran-lingkaran  dari mulutnya.  Aku tidak mengenalnya,  karena ketika aku memilih duduk di bawah tenda bulat ini sambil menunggu giliranku belajar menyetir mobil, dia sudah terlebih dulu ada di sana. Tebakanku, dia masih terkait hubungan keluarga dengan pemilik usaha belajar menyetir mobil dimana aku saat itu terdaftar sebagai salah satu pesertanya.

     "Rokok..."katanya sambil mengangsurkan sebungkus kotak rokok berwana putih ke hadapanku.
     "Maaf, saya tidak merokok," jawabku sopan. Aku tidak tahu dari mana datang ke  pikirannya bahwa aku seorang perokok. Apa mungkin penampilanku saat itu, dengan baju ketat menampakkan bahu dan lengan mulus dipadankan celana denim berwarna hitam yang membuatnya berfikir aku seorang perokok?

Senin, 11 Maret 2013

Wuihhhh...Akhirnya!


    Akhirnya! Setelah bertahun-tahun pengen punya blog sendiri, baru kesampaian sekarang. Selama ini tahunya cuma blogwalking dan memendam keinginan dalam hati, "Kapan ya aku bisa punya blog sendiri?"

     Sebenarnya aku sempat punya blog di wordpress. Tapi bukan aku yang buat,melainkan teman dekatku. Kok rasanya kurang sreg. Seperti bukan diriku, gitu. Memang semenjak punya pasangan hidup yang jago IT, aku tergantung banget dengan kemampuannya tersebut. Apalagi dianya memang memanjakanku untuk hal-hal yang berbau tekhnologi terbaru. Jadinya aku malas untuk belajar sendiri. Padahal, sebelum bersamanya, aku bukan pribadi yang gagap tekhnologi  lho. Wong mengenalnya juga melalui chatting yang waktu itu lagi booming sebelum eranya facebook sekarang ini. Tapi begitulah..., saat segala keinginan kita terbiasa terpenuhi tanpa usaha keras, maka otak kita pun lambat laun akan menjadi lamban kinerjanya. Seperti itulah yang kurasakan untuk beberapa lama.

badge