Selasa, 21 Mei 2013

Bersedekah Tak Harus Menunggu Kaya


“Kalau kaya, kita akan lebih mudah beramal sholih,  misalnya bersedekah......”
Beberapa waktu yang lalu, wacana sejenis ini wara wiri di laman fesbuk, di posting beberapa orang  dalam waktu yang hampir bersamaan, walau tidak  seratus persen sama redaksinya.  Latar belakangnya, ketika itu ramai diperbincangkan gaya hidup hedonis  anggota DPR . Dan pihak-pihak yang gerah tergerak untuk ramai-ramai memberi opini untuk menjustifikasi bahwa menjadi kaya itu sangat perlu. Lengkap juga dengan kutipan dalil dan contoh kehidupan sahabat  nabi.

Saya tidak ingin membahas tentang gaya hidup hedonis orang lain. Apalagi dari mana sumber uang yang di dapatnya untuk bisa bergaya hidup mewah tersebut.  Logika saya hanya terusik saat  wacana itu (saat merebaknya) demikian menekankan betapa pentingnya untuk menjadi kaya, karena dengan kaya bisa berbuat kebaikan dan amal sholih lebih besar. Pendapat seperti ini selaras dengan yang tercantum dalam al-Qur’an surat At Taubah; 75 , “Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah:"Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian dari karunia-Nya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh".

  Sedemikian pentingnya untuk menjadi kaya sehingga meghalalkan segala cara, bukan juga cara yang baik untuk dilakukan. Apalagi untuk ditiru. Bahkan bisa jadi kekayaan itu malah jadi bumerang buat pemiliknya, karena apa pun yang diberikannya dengan alasan amal sholih, akan tertolak kalau sumbernya tidak  halal.
Lalu, kalau tidak kaya, bagaimana dong? Enggak bisa beramal shalih, tidak bisa bersedekah, tidak bisa bangun mesjid de el el...

Senin, 20 Mei 2013

Saat Maut Menjemput….


Panggil namanya Pak Kliwon (nama samaran). Sosoknya kurus kecil, dan berkulit hitam. Rambutnya selalu disisir klimis dengan minyak rambut cap  Mandom ( aku hafal betul baunya, karena kakekku juga pakai Mandom). Dan kalau berpakaian rapih sekali, menampakkan bekas lipatan strikaan pada celana panjangnya. Penampilan Pak Kliwon sebenarnya biasa saja, seperti orang yang lainnya. Tapi yang tidak biasa adalah  tatapan matanya yang mencorong dingin, ditambah sikapnya yang tidak hanya dingin  tetapi juga kaku terhadap orang lain. Pak Kliwon pelit akan kata-kata. Apalagi terhadap  anak-anak, seperti padaku yang mengenalnya sejak usia 6 tahun . Aku pernah terbirit-birit kabur dari hadapannya saat dengan mata mencorongnya dia menegurku yang masuk ke bagian tengah rumahnya tanpa sengaja.

Aku tahu Pak Kliwon ini karena nenekku dan mamaku  menyewa masing-masing  sepetak kamar di belakang rumah mereka.  Beliau kerja di suatu perusahaan perkebunan. Istrinya dipanggil dengan Nek Wiji (nama samaran juga). Kalau Nek Wiji lumayan ramah terhadap siapa pun, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Pak Kliwon. Rumah yang kami tempati itu termasuk rumah tua, dibangun sekitar tahun 1960-an  dan bisa dibilang rumah paling tua di jalan P tempat aku tinggal di Medan .

Kamis, 16 Mei 2013

Kekayaan Materi Bukanlah Ukuran Tuhan Menyayangimu Lebih

Wah panjang juga judulnya ya. Tapi tidak apa-apalah, habis susah juga mau cari judul yang menggambarkan isi hati saya

Tulisan ini terinspirasi dari bincang-bincang saya dengan salah satu anggota keluarga. Tepatnya pembicaraan satu arah, karena yang ngomong melulu adalah orang yang dituakan dalam keluarga besar kami. Dan saya, karena alasan kepatutan dan etika, lebih memilih diam dengan gempuran emosi di dada yang berusaha saya redam sekuat mungkin.

Bagaimana redaksional pembicaraan satu arah itu tidak usahlah saya tuliskan. Intinya, sang pembicara menekankan berkali-kali, bahwa Tuhan demikian sayangnya pada beliau, dibuktikan oleh kelimpahan materi yang dimiliki oleh beliau saat ini. Dan sebaliknya, bila rejeki masih seret, maka harus banyak-banyak introspeksi diri, jangan-jangan yang bersangkutan penuh dosa dan Tuhan sedang murka pada yang bersangkutan.

 Saya setuju pada kata beliau soal harus introspeksi diri. Dan itu berlaku bagi siapa pun, di mana pun, tak peduli  berapa banyak materi yang dimiliki, atau kere sekalipun. Lalu, apakah bentuk wujud sayang Tuhan pada hambaNya adalah harus selalu dalam bentuk kelimpahan materi? Apakah juga orang yang sholih mudah terlihat karena hartanya yang melimpah sebagai  ‘hadiah’ dari Tuhan karena ke sholihannya dan sebaliknya, yang miskin  harta adalah para pendosa di hadapan Tuhannya Wah…, kalau begitu manusia akan mudahnya mengkotak-kotakkan ke shalihan seseorang berdasarkan berapa banyak harta yang dia miliki dong. Hmmm…, untuk hal ini saya katakan tidak setuju. Baik dari sisi pembahasan logika, maupun dari sisi agama.

Rabu, 15 Mei 2013

Suburkan Tanaman Dengan Pupuk Organik Dari Dapur


Tidak ada yang lebih diinginkan para pecinta tanaman selain melihat tanamannya tumbuh subur. Daun-daun yang hijau mengilat, kuntum bunga yang mekar sempurna, atau untuk tanaman buah tentunya menghasilkan buah yang baik mutunya. Tentunya semua itu tidak diperoleh dengan begitu saja membiarkan tanaman tumbuh apa adanya. Pastinya harus ada perawatan sesuai karakteristik tanaman.

Tidak semua tanaman bisa diperlakukan sama. Ada tanaman yang hanya bisa tumbuh dalam air. Contoh seperti ini adalah teratai. Ada pula yang butuh sinar matahari penuh dan penyiraman yang cukup dilakukan seminggu sekali. Untuk tanaman hias jenis ini kalau lagi musim hujan, lebih baik ditempatkan terlindung dari limpahan air hujan. Contoh jenis tanaman hias ini adalah  salah satunya Kamboja Jepang (Adenium) dan Euphorbia. Ada pula jenis tanaman yang akan tumbuh subur di bawah naungan, atau tidak terpapar sinar matahari secara langsung. Contoh tanaman jenis ini adalah Sri Rejeki, Sirih, dan banyak lagi. Sedangkan untuk tanaman berbatang keras dan menghasilkan buah, umumnya harus terkena matahari secara penuh, setidaknya selama 6 jam untuk bisa berbuah kelak.
www.rebellinasanty.blogspot.com

Walau untuk perawatan tanaman dibedakan berdasarkan jenis dan karakteristiknya, namun satu hal yang menjadi persamaannya, yakni, semua tanaman membutuhkan nutrisi untuk mereka bisa tumbuh. Nutrisi bagi tanaman diperoleh dari unsur hara yang terdapat di dalam tanah tempat tanaman itu tumbuh. Nutrisi juga bisa diperoleh dari air . Namun bila kandungan nutrisi di dalam media tempat tanaman itu tumbuh tidak mencukupi , maka pemberian nutrisi berupa pupuk harus dilakukan.

Pupuk yang ada sekarang ini banyak macamnya. Ada yang sifatnya kimiawi, dan ada pula yang organic.  Penggunaannya pun di beda-bedakan, untuk pertumbuhan batang dan daun, untuk pembungaan, bahkan ada untuk percepatan pembuahan, sehingga tanaman buah bisa dipanen di luar musim. Harga pupuk yang di pasaran saat ini bervariasi, tergantung merek dan jenisnya. Dan pupuk di pasaran harganya cenderung meningkat dari waktu ke waktu.

Selaras dengan kampanye go green yang semakin digencarkan, bagi para pecinta tanaman dan juga pecinta lingkungan, selayaknya merubah pola pikirnya  untuk segera beralih ke pupuk yang ramah lingkungan. Pupuk organic bisa menjadi pilihan. Namun harganya yang cukup lumayan terkadang menjadi kendala bagi para pecinta tanaman.  Apalagi kalau jumlah tanamannya tidak sedikit.

Namun jangan khawatir. Pupuk organic  bisa kita buat sendiri. Salah satunya adalah pupuk organic cair, yang cara pembuatannya pernah saya posting di blog ini  sebelumnya.  Namun tak hanya pupuk organic cair saja yang bisa menyuburkan tanaman , beberapa bahan-bahan yang akrab kita gunakan di dapur, ternyata sangat bermanfaat untuk tanaman. Mau tahu apa saja bahan-bahan di dapur yang bis amenyuburkan tanaman? Berikut ini paparannya.

Selasa, 14 Mei 2013

Perjanjian Pranikah,Perlukah?


www.rebellinasanty.blogspot.com
Sumber foto: www.huffingtonpost.com
Maraknya berita perceraian selebritis senior akhir-akhir ini cukup mengejutkan. Pasalnya, usia pernikahan mereka bukanlah seumur jagung. Dan sebelumnya pun para selebritis senior ini dikenal sebagai pasangan yang harmonis. Dan biasanya, perceraian selebritis selalu dikait-kaitkan dengan masalah pembagian harta gono gini.

Ada yang menarik perhatian saya saat membaca berita terkait perceraian salah satu artis senior yang sudah kurang lebih 17 tahun menikah. Yakni masalah harta gono gini yang ternyata telah dibuatkan perjanjian sebelumnya, yakni  perjanjian pranikah atau Prenuptial Agreement.  Lalu, apa sih perjanjian pranikah tersebut dan bagaimana hukumnya di Indonesia?


Temukan Passionmu (Kembali)


     Saat kita kecil, kalau ditanya cita-cita, pastilah beragam jawabnya. Namun jarang ada yang konsisten dengan satu cita-cita, sampai kemudian mewujudkannya saat dewasa.  Saya termasuk di dalamnya. Tidak konsisten dan selalu berganti cita-cita.  Waktu SD, kalau ditanya apa cita-citanya, maka akan dengan lantang menjawab, ingin menjadi guru.  Belum sampai tamat SD, sudah berganti lagi, mau jadi sarjana hukum.  Waktu SMP, mengambang, tidak jelas mau jadi apa. Mungkin karena saat itu saya masuk dalam zona labil, alias beradaptasi dengan perubahan diri  yang memasuki masa baligh. Lalu SMA, nah ini dia…, di sini saya terus terang kesulitan menentukan pilihan mau masuk jurusan apa, karena saya termasuk type yang banyak maunya. Susahnya, saat saya membutuhkan banyak masukan dan bimbingan untuk pilihan ke depannya, orangtua saya malah menyerahkan sepenuhnya kepada saya. ..
     Jadilah saya masuk A3, mungkin sekarang namanya  IPS, lalu lanjut kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Fisip. Niatnya sih mau jadi diplomat, atau setidaknya jurnalis. Selain karena suka nulis, tujuan lainnya adalah bisa jalan-jalan. Dan gratis! (karena tugas, itu impian saya sih…) Tapi apa daya, saya tak sempat menyicipi profesi  impian saya. Malah dengan seijin Yang Kuasa, saya jadi wirausahawan kecil-kecilan.  Namun niat jalan-jalan gratis kesampaian. Walau cuma beberapa tempat saja.
Tapi jujur, sampai titik itu saya belum menemukan passion saya. Walau  secara materi saat itu lebih dari cukup, serasa masih ada yang kurang. Ada ruang kosong di hati.  Saya seperti masih mencari-cari, sesuatu yang bisa saya kerjakan dengan senang hati, dan tak melulu soal materi.

Senin, 13 Mei 2013

Mengapa Anak Semakin Mudah Berbuat Kriminal?

ilustrasi dari Google

Kekerasan yang pelakunya anak-anak, demikian marak akhir-akhir ini. Miris rasanya membaca berita atau menontonnya lewat televisi, bagaimana bocah-bocah yang harusnya masih polos tersebut, sudah sanggup melakukan tindak kriminal,  mulai dari pencurian, pemerkosaan, bahkan pembunuhan keji. Seperti baru-baru ini, ramai diberitakan pembunuhan oleh seorang bocah usia 8 tahun terhadap temannya yang masih berusia 6 tahun hanya karena hutang seribu rupiah. Cara pembunuhannya pun tergolong sadis untuk seusianya, yakni dengan membenamkan korban ke dalam air berulang kali sampai korban akhirnya tewas.

Maraknya kasus kriminal di mana pelaku dan korban adalah anak-anak, menunjukkan bahwa kondisi kehidupan sosial keluarga dan masyarakat sudah di luar kenormalan. Fungsi keluarga, kontrol masyarakat , dan aturan hukum untuk melindungi anak-anak ini semakin melemah.  Penyelesaian masalah ini bukan hanya sekedar mengganjar pelaku dengan hukuman seberat-beratnya, karena di satu sisi mereka masih anak-anak, namun memerlukan perubahan 180 derajat pada tatanan kehidupan sosial masyarakat.

Minggu, 12 Mei 2013

Puding Marmer Pepaya


www.rebellinasanty.blogspot.com
panen pepaya dari halaman
    Masih terkait postingan tentang pepaya beberapa waktu yang lalu. Kebetulan di halaman samping rumah saya terdapat sebatang pohon pepaya. Tumbuh subur sarat buah.

 Setiap hari saya panen buah pepaya matang. Tidak jarang sekali panen, saya sampai harus memetik 3 buah pepaya, karena sudah matang pohon. Lama-lama buah pepaya yang saya panen numpuk di kulkas, karena antara kecepatan memakan buah pepaya segar dengan hasil panennya tidak selaras. Mau dibagi-bagi ke tetangga, kok rasanya kurang tepat. Soalnya tetangga kanan kiri depan belakang semuanya juga memiliki pohon pepaya dan juga sedang berbuah.
 
      Pohon pepaya memang dikenal gampang tumbuh dan gampang berbuah. Buahnya yang matang selalu mengundang selera untuk menyantapnya saat segar. Apalagi kalau disantap dalam keadaan dingin. Hmmm, yummy. Tetapi kalau setiap hari? Wah bisa bosan juga. Mengakalinya adalah  menyajikan pepaya dalam bentuk lain pada keluarga. Browsing sana sini, akhirnya ketemulah resepnya, menyesuaikan dengan bahan-bahan yang ada di rumah. Pilihan saya jatuh pada resep berikut ini, plus cara pembuatannya.

Paparan Singkat Pepaya dan Manfaatnya



www.rebellinasanty.blogspot.com
pepaya dari kebun milik sendiri

Siapa yang tak kenal pepaya? Buah satu ini hampir bisa dipastikan sangat akrab dengan keluarga Indonesia. Bahkan anak-anak pun tidak sulit mengenali buah yanga satu ini, terlepas dari mereka menyukainya atau tidak. Selain cita rasanya  rasanya yang manis dan menyegarkan, bentuk buahnya yang khas, dan pohonnya yang bisa dijumpai di mana saja, memudahkan semua orang untuk mengenal jenis buah yang kaya manfaat ini.

      Buah pepaya diketahui memiliki kandungan vitamin C melebihi jeruk. Dalam 100 gram pepaya, terkandung 78mg vitamin C, sedangkan jeruk hanya dalam berat yang sama hanya 49mg. Satu-satunya buah yangkandungan vitamin C-nya mengalahkan pepaya adalah jambu biji, yakni sebanyak 87 mg per 100 gr. Tidak hanya itu, kandungan Vitamin A-nya lebih banyak daripada wortel, serta kaya pula dengan vitamin B kompleks dan vitamin E

     Pohon pepaya (Carica papaya L ), sama halnya seperti pohon kelapa, dikenal mempunyai banyak manfaat . Mulai dari akar, bunga, daun, bahkan getahnya, semua bisa dimanfaatkan. Apakah itu sebagai sumber gizi, atau untuk pengobatan herbal dari berbagai penyakit. Ini karena lebih dari 50 asam amino yang terkandung di dalamnya. 
Berikut ini paparan singkat tentang manfaat pepaya.

badge