Minggu, 07 April 2013

The Haunted House : She is singing with me…


ilustrasi
Tinggal di rumah yang lingkungannya masih sangat sepi dengan kondisi rumah sekitar banyak yang rusak, memang tidak enak. Apalagi di tambah dengan kehadiran-kehadiran “lainnya” yang tak kasat mata. Wew… Tapi apa mau dikata? Aku harus menghadapinya selama setahun ke depan. Tentu dengan mempertebal iman, memperbanyak kegiatan, dan menambah daftar tetangga untuk saling bersilaturahmi. Hanya saja kalau malam menjelang, tetap saja aku harus bertempur dengan ketakutanku , terutama saat suami sedang shift malam.

Rumah yang kami kontrak ini tidak begitu besar. Cuma terdiri dari 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tamu sekaligus ruang keluarga, dapur kecil, dan gudang kecil yang beersebelahan dengan kamar ke dua. Kami hanya memakai kamar pertama yang lumayan luas, sedangkan kamar ke dua, dibiarkan kosong, karena Putri yang masih 7 bulan saat itu masih tidur dengan kami.



Antara kamar utama yang kami tempat dengan kamar ke dua, ada kamar mandi. Namun pintu kamar utama menghadap ke pintu kamar ke dua dan juga ke arah dapur yang letaknya bersisian dengan kamar ke dua.Tidak ada halaman belakang yang tersisa, karena pemilik rumah menghabiskan sisa lahan untuk gudang kecil  (cuma seukuran 1x3m) dan menambah luas dapur.  Di depan kamar kami ada sepetak lahan kecil  yang  ditanami rumput, dan, di depan ruang tamu yang merangkap ruang keluarga adalah teras yang mempunyai beberapa fungsi, sebagai tempat jemur pakaian, dan juga garasi motor.

Bila maghrib menjelang, aku sudah mempersiapkan diri dengan semua kebutuhan yang mungkin kuperlukan . Pastinya semua lampu sudah kunyalakan, kecuali di gudang, karena tidak tersedia lampu di plafonnya. Teko air , susu, gelas, sendok, camilan,  semua kuletakkan di atas meja dorong dan kumaksukkan ke dalam kamar. Aku menghindari ke dapur saat sudah maghrib. Pokoknya, begitu maghrib, aku dan putriku sudah ada di dalam kamar.  Dan kumandang ayat-ayat Qur’an melalui mp3  pun sudah siap menemaniku semalaman melalui komputer. Kalau terpaksa harus ke kamar mandi, barulah aku keluar. Begitulah malam-malam kujalani bila suami lagi tidak di rumah.
Tetapi sayangnya, kalau suami lagi bertugas , mataku malah susah sekali untuk terlelap. Untungnya tidak dengan Putri. Kalau aku membacakan ayat-ayat Qur’an sebagai pengantar tidurnya, dia dengan mudahnya terlelap sampai pagi. Paling-paling terbangun karena pipis dan minta susu . Dan semua kebutuhan Putri tersebut sudah tersedia di atas meja dorong yang kumasukkan ke dalam kamar.
Kadang-kadang, untuk menghadirkan rasa kantuk, aku mencoba menulis di komputer sebagai ganti menulis di diary. Tetapi saat duduk menghadap komputer, aku merasa tidak nyaman. Seperti ada orang lain yang mengawasi dari balik punggungku. Akhirnya aku balik lagi ke kasur dan membaca buku atau majalah. Dan itu cukup berhasil membuatku tertidur. Tetapi kadang kala mata ini baru bisa terpejam saat jam dinding sudah menunjuk pukul 9 malam ke atas.

Pernah saat mata masih belum bisa lelap, aku lagi baca-baca majalah di kasur. Tiba-tiba dari dinding kamar (lagi-lagi arahnya dari rumah sebelah kanan yang kosong dan rusak serta dipenuhi belukar) terdengar ketukan berirama. Tempat tidurku memang menempel di sisi dinding kanan. Ketukan itu seperti kita mengetuk rumah tetangga saat  bertamu.  ‘Tuk tuk..Tuk  tuk…” begitu bunyinya berulang-ulang.
 Aku coba abaikan saja, berpikir positif bahwa bisa jadi itu cicak atau apalah. Tetapi nalarku mengatakan tak mungkin itu hewan, karena ketukan itu cukup terasa di dinding, terdengarnya jelas dan  dilakukan berirama.  Dan aura enggak enak seperti biasa  pun hadir melingkupi. Mencoba memejamkan mata, tetap saja tidak bisa. Bayangkan saja, dinding tempat ketukan itu berdempetan dengan kasur, jadi ketukan itu seperti dilakukan di dekat  telingaku langsung.

Berbekal pengalaman sebelumnya bahwa aku harus lebih berani dari lawan tak kasat mata itu , aku pun menepuk dinding dengan telapak tanganku keras-keras sambil ngomel,” Hei.., jangan ganggu kenapa! Aku mau tidur, tahu!”

Jangan ditanya degup jantung saya saat melakukan itu.  Yang pastinya mulut  dan hati saya tak putus membaca segala ayat Qur’an yang saya hafal, termasuk pula ayat kursi. Kadang kala bentakan yang aku lakukan untuk menimpali ketukan itu berhasil. Kadangkala tidak. Tetapi lama kelamaan  aku jadi terbiasa dengan keadaan tersebut.

Ketukan itu tak hanya di dinding kamar saja, termasuk pula di dinding kamar mandi.  Kalau di kamar mandi, suamiku yang mengalaminya, dan mereka berbalas ketukan.  Suami yang tidak pernah punya pengalaman aneh denngan dunia lain ini, mengakui bahwa ketukan itu bukan berasal dari bunyi hewan , tetapi seperti dilakukan oleh tangan manusia. Dan tangan manusia siapa yang mengetuk-ngeteuk dinding kamarku dari dalam rumah kosong rusak tak berpenghuni tersebut? Malam-malam pula…

Kalau selama ini hanya malam hari aku mulai diserang ketakutan, ternyata siang pun tak luput dari gangguan.  Ini bermula beberapa bulan sejak kejadian pertama pindah.  Yang namanya komplek masih sepi, tentu saja suasana sunyi sangat terasa. Apa yang lewat depan rumah, dengan mudah terdengar. Apalagi bila ada tamu yang berkunjung. Seperti suatu siang. Aku tergopoh-gopoh  dari dapur menuju ruang tamu untuk membuka pintu, karena mendengar ada suara perempuan memberi salam, “Assalamualaikum…”

“Waalaikum salam. Sebentar ya Bu?” kataku sambil memutar handel pintu. Khawatirnya  tetangga yang suka berbagi makanan datang sebagai kunjungan balasan dariku.

Eh begitu pintu terbuka, teras kosong melompong. Tidak ada seorang pun di depan pintu. Aku cuma bengong menatap teras yang kosong. Sekalikah kejadian ini? Tidak. Terlalu sering. Kadang-kadang pas aku abaikan salam tersebut, ternyata beneran tetangga yang  datang. Jadi susah juga.Walau kesal diusili, mau tidak mau aku tetap selalu menjawab salam dari pintu depan karena khawatir kalau ternyata tetangga yang datang berkunjung

Usilnya penghuni lain ini tidak sampai di sini. Memang seiring waktu yang berjalan, aku terbiasa dengan keusilan mereka, walau dengan catatan: tetap saja kalau malam dan suami lagi shift malam, aku selalu ngumpet di kamar.  Untungnya mereka tidak sampai keterlaluan, apalagi dengan Putri. Itu juga yang membuat aku sanggup bertahan.

Pengalaman lain yang membekas yakni makhluk lain ini suka juga ternyata mengikutiku bernyanyi. Suaranya suara perempuan dan merdu lho. Bening dan bulat (wah, emang ada suara yang bulat ya?)
Ceritanya, aku kerap menidurkan Putri saat siang di ayunan yang aku buat di bagian pintu kamar ke dua. Putri sangat mudah tidur kalau di ayunkan dan disenandungkan lagu ataupun bacaan ayat-ayat suci. Kadang kalau lagi M aku lebih memilih menyanyi lagu-lagu oldie Elvis Presley  (aku penggemar lagu-lagu jadul), walau kadang juga lagu anak-anaknya Barney.

Nah, siang itu sekitar jam 1, aku mulai menidurkan Putri di ayunan. Kupilih untuk menyanyikan lagu Elvis Presley dengan lagu ‘Don’t cry daddy’, tapi kata daddy di lagu kuganti dengan nama Putri. Enaknya tinggal di komplek yang sepi adalah bisa melepaskan hobi menyanyi  dengan sepenuh hati. Kalaupun terdengar tetangga, pastilah terdengarnya lamat-lamat, karena jarak terdekat dengan tetangga (yang rumahnya ditinggali) adalah dipisahkan 2 rumah.Jadi enggak malu-malu amat kalau suaranya sember.

Lagi sepenuh hati menyanyi, aku kok merasa ada yang ikutan menyanyi denganku. Perempuan, dan suaranya merdu. Sejenak aku menghentikan senandungku.  Suara itu tidak terdengar lagi. Ah, mungkin perasaanku saja. Aku pun melanjutkan lagi senandungku. Suara merdu perempuan itu ikutan bersenandung lagi. Kalau soal merdu, jelas aku kalah, sehingga aku yakin betul kalau kali ini aku tidak menyanyi solo, tapi seperti duet. Aku diam, dia diam. Aku lanjut nyanyi, dia ikutan nyanyi…  Gondok juga bercampur takut. Milih aman, aku ganti senandungku dengan membaca ayat-ayat suci AlQuran. Barulah tuh suara perempuan yang ikutan nyanyi diem.

Keadaan di rumah ini membuat aku beradaptasi dengan ketakutanku. Habis mau gimana lagi..Aku tidak bisa semena-mena minta pindah rumah ke suami. Pertama, biaya, ke dua, repotnya pindahan, apalagi dengan balita dan aku mengandung anak ke dua. Dan tentunya, aku merasa penghuni lain yang ada di rumahku tidak sampai pada tahap mengganggu. Cuma usil, barangkali.  Mungkin ketika awal pindah Putri menangis jerit-jerit itu karena penghuni lain di rumah ini sedang memperkenalkan diri. Semenjak itu Putri bersikap biasa-biasa saja.

Kalau mau diceritakan, selama 3 tahun ngontrak di sana (kok betah ya?, hehehe), banyak lagi kejadian aneh-aneh yang kualami. Tapi sekali lagi, ternyata untuk menghadapinya kita harus lebih berani dan lebih usil dari mereka. Bahkan kalau perlu bersikap galak . Tentu saja dengan catatan bila mereka yang memulai dulu. (Tapi tetap saja kalau malam sudah datang, aku tetap dengan kebiasaanku menjadikan kamar sebagai benteng pertahananku, hehehe)

Lalu bagaimana dengan teman duetku? Dia masih ikutan menemaniku bernyanyi. Kadangkala aku bête digangguinya terus. Aku nyanyi , dia nyanyi. Aku diem, dia diem. Ya sudah, aku ajakin aja dia untuk berduet. “Nyanyi  bareng yuk, tapi jangan muncul ya…” kataku  sebelum memulai aktifitasku menidurkan Putri di ayunan. Teman duetku  kadang menanggapi, kadang juga tidak. Mungkin saat tidak berduet denganku dia lagi ikut show di gelaran hajat mereka kali ya. Just kidding, hehehe.

Aku pindah dari rumah kontrakan itu setelah 3 tahun bermukim di sana. Pindahnya pun bukan karena gangguan ‘mereka’, tetapi karena rumah itu bocornya sudah tidak bisa diperbaiki lagi (dilemma rumah komplek yang dempetan dengan rumah tetangga), sehingga kalau musim hujan bagian belakang dan kamar kedua seperti banjir kecil. Dan alasanku pindah terutama karena tikus-tikus yang makin merajalela. Jujur, kalau dengan tikus, nyaliku lebih ciut dibandingkan harus menghadapi keusilan mereka…













14 komentar:

  1. waa..yang ini lebih syerem mba.. soalnya ada yang nyanyi.. mungkin dia dulunya penyanyi, hehe.. aduh, jadi membayangkan, dia memakai baju layaknya Madonna atau Marylin Monroe... ups..

    BalasHapus
  2. sementara teman duetnya pakai jilbab. dikasih nama apa duet seperti itu? hahahaha. kalau masalah beginian memang lebih baik dibawa ketawa aja Mbak. kalau enggak kita merasa dalam suasana spooky terus...Terima kasih sudah meninggalkan jejaknya ya

    BalasHapus
  3. widiih, mbak Lina termasuk pemberani dong, kalo saya sudah nangis bombay, gak mau alone deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Christanty, saya tuh penakut benerrr..Keadaan yang memaksa saya harus jadi berani, karena saya dan suami memang jauh dari keluarga. Yang penting dalam pikiran saya tanamkan bahwa mereka tidak akan bisa melukai saya, cuma usil saja.kecuali kalau ada manusia jahat yang memperalat mereka.

      Hapus
  4. So creepy banget storinya mbak :)

    BalasHapus
  5. Halo Mbak Christanty...Senang sudah mampir di sini. creepy? hehehe, tergantung cara pandang kita juga akhirnya ya Mbak. Tapi yakin aja Mbak, kalau pun mengalami ini, sebenarnya mereka cuma bisa usili saja, tetapi tidak akan pernah bisa menyakiti kita. kecuali ada manusia jahat yang memperalat mereka. Terima kasih sudah mampir :)

    BalasHapus
  6. wah kalau saya sih mendingan pindah kontrakan aja deh hehe...:)
    saya juga pernah ngalamin di rumah kontrakan saya, tapi ga seserem pengalamannya mbak rebellina sih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf, baru balas. baru sembuh dari sakit, hehehe. pengennya sih pindahan Mbak. tapi saat iotu keuangan lagi seret. jadi ya akhirnya ketakutan saya kalah oleh keadaan. alhamdulillah, sampai sekarang walau sudah di rumah sendiri pun masih 'sering' diamati oleh mereka-mereka. hehehe. salam kenal ya

      Hapus
  7. Ih, sereeem banget, Mak. Salut deh dengan keberanianmu. Kalo aku pasti udah merayu suami setengah mati utk pindah, biarlah capek pindahan dan keluar biaya, daripada harus kencing di celana setiap hari. Hihi.
    Salut deh dgmu, Mak. Kalo rumah yang sekarang gimana Mak? Mudah2an aman yaaa. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah mbak Alaika mampir nih. rumah sekarang, ada tuh. awal pindah enggak ada. bersih. 2 tahun terakhir ini kayaknya pindahan dari kebon-kebon di belakang rumah. atau sayanya yang peka ya..., hehehe. tq udah mampir ya

      Hapus
  8. Balasan
    1. hehe, saat itu iya. sekarang walau masih sering merasa diawasi, perasaan seremnya gak berkurang

      Hapus
  9. Salam.kenal mba santi, saya juga bbrp kali pernah mengalami hal hal mistis, dari sekedar suara2 tengah malam, mainan anak anak yang berbunyi sendiri, sampai penampakan seutas tali melayang2,sama dengan mba saya beranikan diri dan membaca ayat ayat alquran.

    BalasHapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge