Kamis, 16 Mei 2013

Kekayaan Materi Bukanlah Ukuran Tuhan Menyayangimu Lebih

Wah panjang juga judulnya ya. Tapi tidak apa-apalah, habis susah juga mau cari judul yang menggambarkan isi hati saya

Tulisan ini terinspirasi dari bincang-bincang saya dengan salah satu anggota keluarga. Tepatnya pembicaraan satu arah, karena yang ngomong melulu adalah orang yang dituakan dalam keluarga besar kami. Dan saya, karena alasan kepatutan dan etika, lebih memilih diam dengan gempuran emosi di dada yang berusaha saya redam sekuat mungkin.

Bagaimana redaksional pembicaraan satu arah itu tidak usahlah saya tuliskan. Intinya, sang pembicara menekankan berkali-kali, bahwa Tuhan demikian sayangnya pada beliau, dibuktikan oleh kelimpahan materi yang dimiliki oleh beliau saat ini. Dan sebaliknya, bila rejeki masih seret, maka harus banyak-banyak introspeksi diri, jangan-jangan yang bersangkutan penuh dosa dan Tuhan sedang murka pada yang bersangkutan.

 Saya setuju pada kata beliau soal harus introspeksi diri. Dan itu berlaku bagi siapa pun, di mana pun, tak peduli  berapa banyak materi yang dimiliki, atau kere sekalipun. Lalu, apakah bentuk wujud sayang Tuhan pada hambaNya adalah harus selalu dalam bentuk kelimpahan materi? Apakah juga orang yang sholih mudah terlihat karena hartanya yang melimpah sebagai  ‘hadiah’ dari Tuhan karena ke sholihannya dan sebaliknya, yang miskin  harta adalah para pendosa di hadapan Tuhannya Wah…, kalau begitu manusia akan mudahnya mengkotak-kotakkan ke shalihan seseorang berdasarkan berapa banyak harta yang dia miliki dong. Hmmm…, untuk hal ini saya katakan tidak setuju. Baik dari sisi pembahasan logika, maupun dari sisi agama.




Mari kita lihat Dalam surat Al-Fajr ayat 15-20, yang artinya sebagai berikut:
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku".(15) Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku (16) Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim. (17)

Dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsir IV, terkait dengan ayat di atas adalah bahwa Allah Ta’ala mengingkari sebagian hamba-hambaNya yang berkeyakinan bahwa Dia meluaskan rezeki kepada mereka itu dimaksudkan untuk menghormati mereka, dan& bila menyempitkan rezeki kepada mereka berarti menghinakan mereka. Maka Allah Ta’ala berfirman,”Sekali-kali,tidak!” kenyataannya tidaklah seperti yang mereka yakini, sebab Allah memberikan harta kekayaan kepada orang yang dicintai juga kepada orang yang tidak dicintai-Nya. Allah juga menyempitkan harta kepada orang yang dicintai,juga kepada orang yang tidak dicintai-Nya,karena sikap menaati Allah dapat dilakukan baik dalam kondisi lapang maupun sempit. (hal 976-977.)

Pada hakekatnya, harta benda adalah titipan dan amanah yang harus dipergunakan sebagaimana mestinya. Harta merupakan perhiasan dunia yang Allah Ta’ala jadikan sebagai satu ujian keimanan pada manusia. Keimanan dan ketaatan pada Allah dapat dilakukan baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Bila dia orang kaya, dia bersyukur kepada Allah atas kekayaannya, dan memperbanyak ketaatan kepada Allah SWT, sebagaimana kalau dia miskin, dia bersabar atas kefakirannya itu dengan terus menerus melaksanakan ketaatan dan menjauhi kedurhakaan. Jadi, baik orang yang diberi kelebihan harta benda, sebagaimana juga orang yang fakir harta benda, hakikatnya sama-sama diuji oleh Allah. Pembedanya di hadapan Allah adalah tingkat ketaqwaannya.

Allah tidak membeda-bedakan kasih sayangNya untuk hamba-hambaNya, sebagaimana adilnya Allah memberlakukan hisabNya kepada hamba-hambaNya sesuai tingkat ketaqwaan masing-masing.
Demikian juga sifat Allah sebagai Maha Pemberi Rezeki, berlaku untuk semua manusia, tapi bukan berarti tingkat kepemilikan harta benda sebanding lurus dengan tingkat kasih sayang Allah padaNya. Ayat Qur’an di atas telah mempertegas pengingkaran Allah terhadap orang yang berpandangan demikian Semoga kita terhindar dari termasuk orang-orang yang berpandangan demikian. Wallaahu'alam

Bogor, 16 Mei 2013. 4.55

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge