Kamis, 13 Februari 2014

Wasiat Membawa Petaka (1)


Aku berjalan tidak tahu arah. Semua yang kulihat hanya hapmparan kosong semata, dan aku sendirian. Tak ada satu pun benda-benda yang kukenal yang kutemui dalam perjalanan ini. Bahkan yang kupijak pun aku tak yakin bisa di sebut tanah. Padang pasir? Juga bukan. Aku bahkan tak bisa menemukan bayanganku dan jejak-jejak langkahku di tempatku berpijak..

 Kebingungan, putus asa, serta ketakutan membungkus diriku seutuhnya. Apa yang terjadi pada diriku? Dimanakah aku? Tempat apa ini?

Frustasi menjalari pembuluh darahku. Aku ingin menangis, tapi..tenggorokanku tercekat, dan mulutku terkunci. Aku ingin duduk, tapi kakiku diluar kendali terusa melangkah tak tentu arah, sampai sebuah suara memanggilku dari kejauhan,”Ana…Ana…”
 
www.rebellinasanty.blogspot.com
walking nowhere, ilustrasi, sumber di sini


Namaku Diana, dan aku biasa dipanggil Ana. Hanya seorang kakak perempuan yang kupunya, dan namanya Ayu. Aku punya kembaran perempuan juga, 2 orang abang, dan 2 orang adik lak-laki.

Selasa, 11 Februari 2014

Mengajarkan Ketrampilan Hidup Pada Anak

Sebagai orangtua, sama halnya dengan orangtua yang lainnya, tentunya saya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya.  Salah satunya adalah pendidikan. Bagi saya dan suami, pendidikan untuk anak-anak adalah prioritas utama, sejajar dengan kebutuhan primer keluarga. Dan pendidikan utama untuk anak-anak kami adalah pendidikan agama, beserta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Senin, 10 Februari 2014

Syarat Pengiriman Tulisan Di Rubrik Gado-Gado Femina

www.rebellinasanty.blogspot.com
ilustrasi: sumber:di sini
Sebenarnya, sudah banyak penulis yang membahas mengenai syarat pengiriman tulisan untuk rubrik Gado-Gado Femina. Namun, tidak ada salahnya saya tuliskan kembali di blog saya, diniatkan untuk berbagi ke orang lain, dan juga untuk diri sendiri sebagai pengingat dan dokumentasi.

Syarat  mengirim tulisan ke rubrik Gado-Gado Femina adalah sebagai berikut  (berdasarkan referensi dari berbagai sumber, dan pengalaman pribadi):

Kamis, 06 Februari 2014

Gadis Kecil Di Kamar Kos

Peristiwa ini sudah lama banget terjadinya, sekitar tahun 2000. Waktu itu saya masih single, dan punya usaha mandiri, namun dalam beberapa hal masih terikat dengan kantor pusat yang berada di Jakarta. Mungkin kalau sekarang seperti franchise begitu.

Ceritanya, setiap beberapa bulan, minimal setidaknya 2 kali dalam setahun saya harus hadir di Jakarta untuk gathering dengan perwakilan dari daerah lain di kantor pusat. Tentu saja di sana kami dapat pelatihan motivasi, dan kepemimpinan serta hal-hal lain terkait kemajuan usaha yang kami miliki. Kalau usaha tiap perwakilan daerah maju, tentunya kantor pusat juga akan mendapat untung besar, bukan? Jadi tidak heran, kantor pusat pun tidak segan mengeluarkan biaya untuk kami perwakilan daerah berupa penginapan di hotel dan fasilitas lainnya, termasuk akomodasi pulang pergi ke daerah asal.
www.rebellinasanty.blogspot.com
bisnis plan, ilustrasi



Gado-Gado Kedua Di Femina: Bun Tu Si

Naskah Gado-gado yang ini saya kirim hanya berjarak 5 hari dari naskah Gado-gado pertama yang berjudul Lho Kok Ayah Ada Dua? Saya mengirim Bun Tu Si ini tanggal 8 Mei 2013 lalu, dan alhamdulillah dimuat di Femina edisi no 02, Januari 2014 lalu. 
   
Proses pemuatan naskah ini terbilang lebih cepat dari yang pertama. Dapet telpon dari sekertaris redaksi Femina di awal-awal Januari, yang menanyakan keabsahan tulisan ini benar karya saya, bukan plagiasi dan belum dimuat di media manapun. Dan selagi saya menunggu (seperti proses pemuatan pertama) file yang harus saya tanda tangani, ternyata beberapa hari kemudian dapet sms dari mbak sekertaris bahwa Bun Tu Si akan dimuat di Femina No 02,11 - 17 Januari 2014. 
www.rebellinasanty.blogspot.com
Femina, edisi 02, 11-17 Januari 2014

Bila di Gado-Gado pertama yang dimuat adalah naskah yang bertema supranatural, maka Bun Tu Si bercerita tentang kebiasaan saya sehari-hari yang saya lakukan dengan suami, anak-anak, dan ke tetangga.  Seperti judul rubriknya, Gado-Gado, rubrik ini memang menerima kisah dengan beragam genre (atau tema, sih?). Asal cara mengemasnya (baca: menulisnya) sesuai dengan gaya Femina. Untuk tahu gaya Gado-Gado Femina, memang tidak ada pilihan lain selain membaca rubrik tersebut secara intens.

Untuk naskah Bun Tu Si, ternyata lumayan banyak mengalami pengeditan, terutama kalimat yang tidak efektif. Jadinya banyak kalimat tidak efektif yang dipangkas redaksi Femina. Wah, saya harus lebih intens lagi belajar mengenai masalah kata/kalimat efektif nih.

Rabu, 05 Februari 2014

"Mama", Film Horor Drama Yang Menyentuh Hati

“Mama”,  film horor drama yang menyentuh hati ; Sebuah  ulasan dari sudut pandang seorang ibu

www.rebellinasanty.blogspot.com
Mama, 2013, sumber foto di sinisini
Menonton film horor yang satu ini beda dari  horor lainnya yang pernah saya tonton. Terlepas dari kejutan-kejutan yang mendebarkan jantung, film Mama ini berhasil menyedot emosi saya dan membuat mata saya basah... (Rebellina)


Sudah lama saya ingin menonton film Mama  (2013) besutan sutradara Andres Muschietti.  Film yang diangkat dari film pendek , cuma 3 menit,dari sutradara yang sama. Spoiler film ini begitu menggoda hati untuk menontonnya. Namun baru kesampaian setelah hubby mendownload film ini dari salah satu situs film gratisan.

Layaknya film horor, pastilah dimaksudkan untuk memberi rasa takut pada penontonnya. Saya akui, itu lumayan saya dapatkan dari film ini, terutama dibagian awal-awal film. Suasana creepy ditambah  backsound music yang mendukung, lumayan membuat adrenalin meningkat. Belum lagi penampakan Mama, terutama juga suara-suara sang Mama saat akan muncul, membuat beberapa kali saya menyembunyikan wajah di dada suami (asyiknya kalau nonton berdua bareng hubby, hehehe)
.
 Tapi ternyata, tidak seperti film-film horor lainnya yang pernah saya tonton , film mama ini justru memikat hati saya bukan karena kengerian yang berhasil  dibangunnya. Namun karena drama yang menyentuh emosi tentang hubungan seorang ‘Mama’ dengan anak-anaknya. Mungkin karena saya juga seorang ibu, jadi film ini bagi saya terasa spesial, punya nilai plus lainnya dari beragam film horor yang pernah saya tonton sebelumnya.

Menonton film Mama seperti membaca visualisasi buku-buku dongeng masa kecil, dengan pembukaan cerita yang dimulai dengan Once upon a time… (pada suatu ketika..).  Tokohnya pun terpusat pada 2 bocah kecil, yakni Victoria dan Lily. Victoria  (Megan Charpentier) masih berusia 3 tahun dan Lily (Isabelle Nelisse) 1 tahun, saat mereka dibawa oleh ayah mereka, setelah membunuh ibu mereka. Perjalanan menembus suasana dingin bersalju berakhir di suatu kabin di tengah hutan setelah mobil yang dikendarai mengalami kecelakaan tunggal karena menabrak pohon.

badge