Kamis, 06 Agustus 2015

Lukisan Berhantu


 
http://rebellinasanty.blogspot.com
sumber: www.thesun.co.uk
Katanya, lukisan yang mengambarkan seorang bocah laki-laki yang sedang menangis itu, berhantu! Lukisan yang berjudul The Crying Boy itu dikabarkan membawa sial bagi yang memilikinya, bahkan hasil repronya sekalipun. Banyak yang mempercayai kebenaran berita ini, walau ada juga berita yang mengatakan semua itu adalah hoax. Namun, cerita mengenai lukisan berhantu ini mengingatkan saya akan pengalaman pribadi. Mengenai sebua lukisan, di sebuah kamar hotel yang ada di Cilegon. Dan Lukisan itu…

Tahun 2002 kejadiannya. Sudah lama banget ya, dan itu masih awal-awal pernikahan saya. Masih honeymoon ceritanya.

Saat itu suami sedang ada urusan ke Cilegon. Sebagai pengantin baru, dan perantauan pula, enggak enak banget khan ditinggal sendirian. Jadilah saya ngintil ikut suami. Dengan bis malam, kami pun berangkat menuju Cilegon.

Awuk-Awuk Ubi Ungu, Resep Mudah Tanpa Oven dan Bebas Gluten

http://rebellinasanty.blogspot.com
awuk-awuk ubi ungu, yummi. foto koleksi pribadi Rebellina
Ceritanya, saya nih dah lama enggak posting tulisan tentang resep favorit keluarga. Sejak ramadhan kemaren, kelelahan sepertinya belum mau beranjak pergi dari tubuh. Mau ngapa-ngapain bawaannya malas. Jangankan nulis resep, blog berkebun yang lagi dibenahi theme-nya aja masih terbengkalai. Takut lumutan dan penuh sarang laba-laba nih kalau dibiarkan terus rasa malasnya.

Untunglah..., tantangan GA-nya Pakde Abdul Cholik membuat semangat saya hadir lagi. Pakde Abdul Cholik ini seorang senior blogger yang sudah malang melintang di dunia blogging, sudah menulis beberapa buku, dan selalu rajin membuat GA, dan GAnya temanya unik-unik loh. Seperti kali ini, GA-nya tentang sepotong kue untuk Pakde. Hmm, jadi curiga , jangan-jangan Pakde mau ulang tahun nih

Sabtu, 01 Agustus 2015

Lonely In The Crowd

   
http://rebellinasanty.blogspot.com

 “Apa kabar, Ren?”

                Tulisan itu muncul di chat box  fbku. Sebut saja namanya Tiar, seorang sahabat sejak masa kuliah dulu. Kujawab kabarku baik, dan aku balik bertanya mengenai kabarnya saat ini.

                “Aku merasa tidak ada gunanya hidup,” tulisnya. “Aku merasa hampa dan tidak ada yang menyayangi dan peduli padaku,” lanjutnya dalam barisan tulisan berikutnya.

                Aku terenyuh membacanya. Aku mengenal baik sahabatku ini. Aku juga sedikit banyak tahu permasalahan yang dia hadapi. Perceraian. Padahal usia pernikahannya baru seumur jagung. Suatu pernikahan yang dinanti-nantinya selama bertahun-tahun, cuma dinikmatinya kurang dari 1 tahun. Melihat hal ini, aku tahu, komunikasi lewat chat box kurang efektif untuk melipur dukanya. Maka kuputuskan untuk meneleponnya.
badge