Senin, 22 Juli 2013

Bermula Dari Alamanda

www.rebellinasanty.blogspot.com
Alamanda, sumber foto: di sini
Jengkel! Itulah yang kurasakan pertama kali saat ibu mertua datang ke rumah dengan ‘setumpuk  tanaman’.  Sebagian dalam pot, dan sebagian lagi dalam polibag. Terus terang, aku tidak begitu tertarik dengan urusan tanam menanam kala itu. Wong  kesibukan mengurus anak dan rumah tangga saja sepertinya tidak ada habis-habisnya, boro-boro harus ngurusin tanaman.  Tapi tentu saja tidak pantas aku menunjukkan perasaanku kepada  Nin, panggilankukepada Ibu Mertua. Jadilah dengan setengah hati aku menerima amanah harus mengurus tanaman yang sudah Beliau bawa jauh-jauh dari Serang.
                “Biar rumah kalian terlihat lebih indah dan asri. Rumah yang  banyak tanamannya pasti indah dipandang mata,” tutur Beliau.

                Aku manggut-manggut dengan pikiran lain yang berkecamuk di benakku. Duh…, bertambah deh kerjaan dengan ngurusin tanaman.  Tapi tak kupungkiri kata-kata Nin benar. Setiap kali berkunjung ke rumah Nin, selalu mata ini tertambat pada jejeran tanaman yang tumbuh subur dalam pot-pot bunga yang di tata asri.  Selain terlihat indah, rasa teduh dan  perasaan tentram pun turut hadir di tengah suasana. “ Tapi Nin dan Aki khan sudah tidak punya anak lagi buat diurusi,” bathinku ,mencari-cari alasan pembenaran kejengkelanku terhadap titipan tanaman tersebut. Tetap saja akhirnya aku harus menerima bahwa sekarang di rumah yang kami tempati , selain urusan keluarga , bertambah lagi beban  yang harus kuurus. Setumpuk tanaman hias dari Nin!







www.rebellinasanty.blogspot.com
suplir,salah satu koleksi tanamanku
                Tak punya pengalaman sama sekali dalam mengurus tanaman membuatku kerepotan juga dengan hal ini. Walau mamaku juga hobi menanam tanaman hias dan  rumah kami juga cukup teduh dengan adanya pohon Nangka yang rajin berbuah di halaman depan rumah, tetap saja tak menumbuhkan minatku dalam hal tanam menanam ini. Apalagi sekarang, pikirku. Ngurus rumah tangga dan anak-anak  saja aku keteteran. Namun semua dalil pembenaran atas kejengkelanku  mental begitu aku membayangkan  bagaimana  sikap Nin saat datang ke rumah kami nanti  dan menemukan kenyataan bahwa semua tanaman yang dibawanya dengan penuh cinta  itu mati.
                Maka mulailah aku menyisihkan perhatianku terhadap tanaman-tanaman tersebut. Mula-mula tanaman hias yang  dalam pot aku letakkan di teras depan. Maksud hati agar teras rumah menjadi terlihat sedikit manis. Ternyata letak rumah yang menghadap barat tidak cocok untuk tanaman hias tersebut. Intensitas cahaya matahari yang tinggi  menyakiti tanaman tersebut. Walau kusirami (saat ingat saja, hehehe), daun-daunnya tumbuh merana, dengan ujung-ujungnya kering seperti terbakar.  Walaah…., ini bisa jadi bencana kalau tanaman tersebut sampai mati. Maka aku pun berinisiatif memindahkannya ke sisi kiri rumah. Sama saja.  Tanaman yang sudah merana itu semakin sekarat. Bahkan sebagian ada yang mati.  Posisi sisi kiri rumah memang tidak langsung menghadap matahari. Tapi tetap saja intensitas cahaya matahari cukup kuat menerpa daerah ini. 
Dengan asumsi seperti itu, aku pun kembali memindahkan pot-pot tanaman itu ke sisi kanan rumah. Walau cuma memiliki lebar sekitar 90 cm, daerah sisi kanan rumah ini cukup terlindungi dari paparan langsung sinar matahari.  Apalagi dengan adanya tembok setinggi 2,5 m yang membatasi rumah kami dengan rumah tetangga, membuat intensitas matahari menjadi terhalang tembok dan atap rumah. Di area ini, semua tanaman itu aku keluarkan dari potnya dan langsung kutanam di tanah.  Di sini tanaman-tanaman tersebut mulai terlihat membaik. Bahkan beberapa minggu kemudian, tersebut mulai terlihat tunas-tunas baru, pertanda bahwa tanaman itu tidak  lagi sekarat, malah mulai bertumbuh. Dan aku pun senang.
                Sebagian tanaman yang masih dalam polibag, aku tanam di halaman belakang yang masih cukup luas dan teduh dengan adanya sebatang pohon Alpukat yang tumbuh subur. Pohon Alpukat itu sudah ada saat kami baru pindah. Hanya saja tumbuh merana dengan daun yang meranggas. Setelah beberapa bulan  kami tempati, pohon  Alpukat itu mulai membesar dengan tunas-tunas daun baru yang bermunculan di sana sini. Mungkin karena setiap hari aku sirami dengan air cucian beras dan ikan. Kini dia sudah tumbuh besar dan cukup meneduhkan halaman belakang rumah kami.
                Di area halaman belakang ini, semua tanaman hias yang dalam polibag itu tumbuh.Sebagian ada yang subur, dan sebagian terkesan stagnan walau tetap hidup. Tapi tidak dengan satu jenis tanaman yang saat itu satu-satunya tanaman hias yang aku tahu namanya.  Itu pun tahunya dari Nin.  Alamanda! "Nin beli Alamanda ini mahal lho.." katanya waktu menyerahkan Alamanda yang masih setinggi sekitar 30 cm di dalam polybag.             
                Mendengar kata mahal, aku jadi tidak enak hati. Berarti aku tidak boleh setengah hati merawatnya. Awalnya  aku biarkan saja bunga itu tetap di tempatnya, di polybag. Namun dalam beberapa minggu, tanaman tersebut tidak menunjukkan perkembangan apapun. Mati tidak, tunas baru juga tidak muncul. Aku berinisiatif dengan memindahkannya ke tanah di sisi kiri halaman belakang. 
             Di tempatnya yang baru di sisi kiri halaman belakang , Alamanda tersebut  malah terlihat semakin tidak sehat. Waduh…, jangan mati deh…, pikirku.  Apa kata Nin nanti kalau Alamanda ini mati? Bathinku khawatir.  
               
rebellinasanty.blogspot.com
kk di halaman sisi kanan rumah
Melihat gelagat bahwa si Alamanda tidak akan bertahan hidup bila masih di tempatnya, aku pun kembali berinisiatif untuk merelokasinya kembali. Pilihan tempat barunya   lagi-lagi sisi kanan rumah . Dan benar saja. Di tempat barunya si Alamanda tumbuh dengan subur dan memberi kami bunga kuningnya yang setiap hari mekar. Bahkan saking suburnya, sisi kanan atap rumah sebagian tertutupi oleh Alamanda dengan rimbunan daun dan bunganya yang lebat, sehingga dari kejauhan atap rumah kami yang sebelah kanan seperti tertutup selimut berbunga-bunga kuning, hehehe.
   
               Keuntungan lainnya semenjak si Alamanda semakin subur dan rimbun, membuat sisi kanan rumah semakin teduh. Ditunjang tekstur tanah yang  sedikit berpasir (sisa-sisa pembangunan dapur rumah), apapun tanamannya, bila kami letakkan di area tersebut, pasti tumbuh subur. Padahal tanaman tersebut jarang kusiram , apalagi di beri pupuk.  Karenanya, area kanan rumah tersbut kunamakan dengan karantina tanaman, sebab aku selalu menempatkan tanaman yang sakit di situ sampai pulih.  Sedangkan tanaman yang tumbuh subur dan berkembang biak, sebagian aku pindahkan ke dalam pot .
                Tanpa kusadari selama proses kerepotanku mengurus si Alamanda, membuat aku menyenangi kegiatan yang satu ini. Ada kepuasan tersendiri saat tanaman itu bisa tumbuh baik, apalagi sampai  mempunyai anakan. Tapi tak jarang juga aku menjadi kecewa bila ada tanaman yang mati. Tapi dari situ aku belajar sedikit demi sedikit tentang tanaman , mulai dari nama tanamannya, media yang tepat untuk pertumbuhannya, cara memperbanyak tanamannya, serta intensitas cahaya matahari dan kelembaban yang dibutuhkan, serta semua hal yang terkait dengan tanaman. Aku pun membuat pupuk cair sendiri dari  sisa-sisa buah jambu biji yang memang banyak tumbuh di daerahku ini, karena aku memang bertekad tidak memakai pupuk kimia untuk semua tanaman yang ada di area halaman rumah kami.
                Semenjak itu, kecintaanku pada dunia tanam menanam ini menjadi bertambah-tambah. Apalagi aku sangat didukung oleh suamiku.   Lahan yang masih memungkinkan untuk dimanfaatkan, tidak  kami biarkan kosong.  Aku pun mengajarkan pada anak-anak untuk terbiasa membuang sampah di dua zona. Zona sampah organik, dan sampah anorganik. Selain itu, mereka juga kudidik untuk ikut memelihara lingkungan dengan salah satu caranya adalah mencintai tanaman. Bahkan kini  Ayah (suamiku) ikut semangat dengan rajin membuat lubang bio pori. Selain sebagai resapan air saat hujan, juga bisa dimanfaatkan sebagai  tempat sampah daun-daun yang berguguran.  Dalam 2-4 minggu, lubang bio pori tersebut bisa dipanen. Hasilnya: kompos!
             
www.rebellinasanty.blogspot.com
salah satu koleksi tanaman buah Rebellina
   Tak hanya tanaman hias, tanaman buah pun kini hadir menghiasi halaman. Tentu saja semua itu berkat Nin, yang selalu rajin membawakan bibit-bibit tanaman tersebut saat berkunjung ke rumah. Kalau dulu aku sedikit jengkel, sekarang justru terbalik. Aku menerimanya dengan senang hati.  Bagiku jadi seperti tantangan, bagaimana tanaman itu harus bisa tumbuh subur dan berbuah (kelak). Aku pun jadi semakin rajin  bersilaturahmi dengan tetangga yang memang banyak berprofesi sebagai petani. Bukankah untuk mencari ilmu harus langsung ke pakarnya?  Blog walking ke para hobiis tanaman pun kerap kulakukan walau hanya bisa saat malam hari dan anak-anak sudah tidur.  Atau bergabung di forum-forum pecinta tanaman   di dunia maya. Dari situ aku banyak mendapat ilmu yang bisa langsung kuterapkan di lapangan.

www.rebellinasanty.blogspot.com
pohon salam koleksi rebellina
                Sekarang, selain tanaman hias, halaman rumah kami sudah hampir penuh dengan berbagai jenis tanaman. Untuk sisi kanan yang kunamakan dengan area karantina tanaman, dipenuhi oleh berbagai jenis tanaman hias, karena untuk tanaman berbatang keras, luas tanahnya tidak memungkinan. Selain Alamanda, ada Sri Rejeki, Zodia si Pengusir Nyamuk, Pegagan (yang sengaja kubiarkan tumbuh menutupi tanah), sejenis palem, Puring, Sansiviera, dan beberapa jenis lagi yang aku tidak hafal namanya. Di halaman belakang  beberapa jenis pohon pisang  seperti pisang Siam, Pisang Raja, Pisang Ambon, dan Pisang Lampung. Semua jenis pohon pisang tersebut telah kami nikmati hasil buahnya, dan tentu saja juga dibagi ke tetangga. Selain itu, ada Alpukat, Sukun, Salam, Jahe , Kunyit, Lempuyang, Lengkuas, Sirsak, Srikaya, Pandan, Jambu biji merah, dan Pepaya. Rame bukan?
                Halaman depan yang memiliki area yang paling luas untuk ditanami, dipenuhi oleh tanaman berbatang keras ( walau adajuga tanaman hias),seperti Rambutan, Durian, Jeruk (ada beberapa varietas), Mangga,  dan Jambu Air.



www.rebellinasanty.blogspot.com
tanaman daunjeruk untuk bumbu koleksi Rebellina
 Memang belum semua tanaman itu memberikan hasil (buah),tetapi  perasaan teduh dan adem sudah sangat terasa disekitar rumah. Apalagi di halaman belakang, tempat favorit kami sekeluarga untuk menikmati senja ditemani cemilan dan kopi panas. Ayunan yang kami buat sendiri dari tali dan sebilah papan dan diikatkan pada dahan pohon Alpukat, membuat  anak-anak betah bermain di sana. Aku sendiri kadang suka iseng main di ayunan tersebut, sembari berbagi cerita masa kecilku dengan anak-anak.  Suasana seperti ini sangat berbeda 180 derajat dibanding saat pertama kali kami menempati rumah ini 4 tahun yang silam.  Saat itu, pohon yang ada cuma sebatang Alpukat yang meranggas dan  tanah kering yang panas.
Kini, aku sedang menekuni tentang tanaman obat. Selain mencari dan mengumpulkan data, aku juga mencoba belajar lebih jauh tentang meracik obat herbal. Ke depannya, aku dan suami bercita-cita  memiliki lahan luas dimana kami bisa mewujudkan mimpi kami memiliki usaha yang berbasis alam dan membawa manfaat, tidak hanya pada banyak orang, tetapi juga pada alam itu sendiri.
     
       

16 komentar:

  1. Waktu saya bilang pengen punya tanaman, justru ibu saya bilang, gimana bisa ngurus tanaman, ngurus anak saja keteteran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, kebalik ya Mbak dengan saya. trus, sekarang gimana? jadi punya tanamannya?..

      Hapus
  2. waaa...mau jambunya mba.... sy juga nanti kalo udah punya rumah mau tak tanemin buah2an.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. dido'akan agar punya rumah segera dan bisa tanam menanam. kalau sekarang nanam di polibag aja dulu Bu. ntar tinggal pindahin..

      Hapus
  3. wah bisa jadi modal usaha tu mbak...jualan tanaman aja hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebentar lagi mau buka ol shop khusus bibit dan alat pertanian. doakan ya..n, beli ya. heheheh

      Hapus
  4. kata ibu ku kalo punya pohon buah buahan jadi banyak teman..karena kalo lg berbuah lebat tetangga yang jauh pun nyamperin..(minta buahnya apalagi kalo buah mangga he..he)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget bu. juga jadi ajang alat silaturahmi. pengalaman dengan rambutan yang buahnya lebat dan dibagi-bagi ke saudara dan teman sebagai buah tangan silaturahmi. makasih sudah mampir ya bu, dan salam kenal

      Hapus
  5. Waaah bisa dibudidayakan lebih banyaak ya,mbak :) siapa tahu bisa jadi tambahan penghasilan nantinya.Terus smngaaat menulisnyaa ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak. awalnya satu, lama kelamaan malah jadi kebanyakan. ke depannya bercita-cita menekuni usaha ini. semangat? tetap!!!! heheheh

      Hapus
  6. cantik ya Mba hasilnya,dulu rumah di Cibubur juga banyak tanamannya, senang sekali kalau pas berkebun sekeluarga, enaknya punya kebun sendiri kalaubutuh apa-apa tinggal cari di pekarangan gak usah jauh2 nyari ke warung or pasar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul Mbak..Selain itu berkebun juga merupakan sarana relaksasi selain hasil yang bisa dinikmati tentunya.

      Hapus
  7. Mbak,senang banget baca tulisannya apalagi mengenai bercocok tanam.walau tanah rumah kecil kami kurang memadai untuk berkebun seperti keluarga mbak,tapi kami upayakan bercocok tanam juga dengan tanaman kecil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah mau berkunjung. walau halamankecil, bisa diakali dengan membuat vertikal garden, Mbak. atau tanam di polibag, dan susuna bertingkat :)

      Hapus
  8. Subhanallah keren banget mba. Mlongooo deh baca koleksi buah2an dan umbi2an keperluan memasak hehe.
    Pasti rumahnya punya pekarangan luas bgt ya mba. Oiya mba. Aku sdg menanam alamanda untuk menutup jendela kamar krn rumah menghadap barat. Bbrp hari terakhir jd agak kering. Bs bertahan gak ya mba sampai lebaaatt gitu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bertanama alamanda memang gampang-gampang susah. stkan saya sejauh ini gagal total, walau alamanda saya suburnya minta ampun. anakannya hanya 2 yang berhasil di pindah dan masih mencoba survive. kuncinya ternyata rajin di siram kalau dia terlalu kena papar matahari. siram tiap hari mba, walau cuma sekali sehari, dan beri pupuk organik, misalnya EM4, air cucian beras atau ikan. mudah-mudahn segar pohonnya

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge