Sabtu, 22 Maret 2014

Hari Leye-Leye

www.rebellinasanty.blogspot.com
credit
Horee...! Sabtu datang lagi. Dan selalu, saya menyambutnya dengan gembira. Sabtu yang selalu identik dengan weeked, alias  akhir pekan, memang kerap disambut dengan gembira bagi sebagian pekerja, karena Sabtu dan Minggu  berarti libur (bagi sebagian pekerja) dan merupakan moment untuk dinikmati bersama keluarga atau pun orang yang dikasihi.

Tapi, saya khan bukan working mom dan suami saya pun kerjanya dari rumah. Berarti saya setiap hari bisa melewatkan waktu bersama dengan keluarga, kan? Jadi, apa bedanya hari Sabtu, Minggu, dan hari yang lainnya bagi saya? Toh setiap hari adalah hari-hari kami selalu bersama.

Justru itu, karena setiap hari bareng keluarga, apalagi suami bekerjanya kebanyakan dilakukan di rumah, membuat saya merasakan butuh untuk melepaskan diri dari rutinitas harian, setidaknya sekali dalam seminggu. Sabtu saya pilih, tentunya dengan ijin suami, sebagai hari off duty saya, alias ‘me time’ book! Dan saya memberi istilah keren untuk hari me time saya sepenuhnya itu, yakni Hari Leye-Leye.

Jumat, 21 Maret 2014

Yang Penting Bahagia...

Apa passion  anda?

Kalau pertanyaan itu diajukan pada saya, maka dulu dengan yakin saya akan jawab, menjadi penulis! Saya merasa punya sedikit  bakat, hasil karya pernah nampang di media, serta punya segudang ide yang seliweran di benak saya siap dituangkan dalam tulisan (Sok percaya diri banget euy, malu-maluin deh). Tapi itu dulu! Awal-awal saya terkena euforia menulis, dan ikutan menulis rame-rame alias antologi, walau hasil karya antologi cuma sebiji! Setelah itu saya mandeg dari menulis. Lama…, sekitar 2 tahunan. Walau kini mengaktifkan diri untuk kembali belajar menulis, namun kalau ditanya kini apa passion saya? Maka akan saya jawab, banyak! Bukan cuma menulis saja.

Menyerah?  Atau takut menghadapi kenyataan di depan mata bahwa penulis baru bermunculan dengan talenta dan ide-ide yang lebih segar?

www.theway-weremember.blogspot.com
courtesy: www.theway-weremember.blogspot.com
Tidak begitu. Saya tidak menyerah atau khawatir kalah bersaing dengan penulis lainnya. Setiap orang dan termasuk penulis, punya jalannya masing-masing dalam mewujudkan mimpinya. Termasuk saya. Impian menjadi penulis masih tertanam kuat, jalan ke sana pun sudah dirintis. Namun saya memilih realistis dengan kondisi saya . Saya punya prioritas lebih dari keinginan pribadi. Ada 4 anak yang masih sangat butuh perhatian, suami yang tetap punya hak atas diri saya seperti saya memiliki hak atas dirinya, dan lingkungan yang saya harus tetap ambil bagian di dalamnya. Diantara ke empat anak kami tersebut, satu memerlukan perhatian yang khusus, karena dia pun khusus, tidak sama dengan saudara-saudaranya yang lain. Saya jadi merasa egois kalau fokus mengejar mimpi sementara tanggung jawab utama saya terbengkalai.

Bukannya cari-cari alasan saja? Banyak penulis lain yang punya banyak keterbatasan mampu menghasilkan karya?
badge