Jumat, 04 Maret 2016

Meriahnya Berbagi Dan Mengedukasi Cemilan Sehat Untuk Anak Bersama Morinaga Chil-Go!

http://www.rebellinasanty.blogspot.com

28 Februari 2016

Momen Acara Berbagi Yang Dinanti…

Seperti yang saya  tuliskan sebelumnya, bahwa selama seminggu penuh saya telah merencanakan momen bersama Morinaga Chil-Go! berbagi dan mengedukasi anak-anak teman bermain Aisyah dan Adek di  sekitar rumah, mengenai cemilan sehat pengganti jajanan. Lengkapnya tulisan tersebut bisa dibaca di sini: Hitung Mundur Menuju Acara Berbagi dan Mengedukasi Bersama Morinaga Chil-Go!. 
Yang membuat saya khawatir sampai beberapa jam menjelang acara dimulai adalah hujan yang masih  tak berhenti…

Kamis, 03 Maret 2016

Hitung Mundur Menuju Acara Berbagi Dan Mengedukasi Bersama Morinaga Chil-Go!

http://www.rebellinasanty.blogspot.com

Awal Januari 2016

Prihatin!

Itulah yang saya rasakan saat  melihat  kebiasaan anak-anak di sekitar rumah  yang sepantaran usianya dengan Aisyah dan Adek. Setiap ada penjual makanan keliling yang melintasi jalan, sebagian besar  anak-anak tersebut akan berkumpul untuk membeli jajanan tersebut. Kadangkala terdengar ada yang menangis memaksa  minta uang pada ibunya agar bisa ikutan temannya membeli jajajan tersebut.   Kebetulan rumah saya berada di pinggir jalan, dan  di sela-sela kegiatan menulis, saya suka memandang keluar jendela, sembari mengawasi Adek dan Aisyah yang sedang bermain di luar. Karena kebiasaan saya tersebut, saya jadi tahu pola tingkah anak-anak tetangga yang gemar jajan, ditambah informasi yang saya peroleh langsung dari orangtua anak-anak tersebut saat  bersilaturahmi dengan mereka.

Kebiasaan jajan anak-anak di sekitar rumah tidak hanya tertuju pada  makanan yang dijual penjaja makanan keliling. Mereka juga jajan di warung-warung penjual jajanan yang banyak bertebaran di daerah tempat saya tinggal ini. Bahkan dalam jarak 10 m, bisa ada beberapa warung penjual makanan di sini. Belum lagi saat di sekolah.  Dan hal itu dipertegas oleh pengakuan ibu-ibu tersebut mengenai kebiasaan jajan anak-anak mereka  yang membuat saya kaget.

Bayangkan, untuk satu orang anak, anggaran jajannya bisa mencapai kisaran Rp.5000 sampai dengan Rp.15.000 setiap hari.Padahal latar belakang  ekonomi  tetangga saya yang hidup dari pertanian, tidaklah berlebihan. 

 Apa yang membuat anak-anak tersebut suka jajan? Bagaimana bila dalam satu rumah ada 2-3 orang anak yang memaksa minta jajan? Apakah para ibu mereka tidak khawatir dengan apa yang terkandung di dalam jajanan yang dinikmati anak-anak mereka? Bukankah sudah banyak informasi bahwa banyak zat-zat yang membahayakan tubuh di dalam jajanan anak yang tidak jelas bahan dan cara pembuatannya? Kenapa tidak membuat cemilan sendiri yang lebih sehat, terjaga kualitas dan nilai gizinya, lebih mengenyangkan dan pastinyanya jauh lebih hemat daripada membiarkan anak-anak jajan sembarangan?

http://www.rebellinasanty.blogspot.com
contoh bahan berbahaya yang terdapat dalam jajanan/makanan. sumber di sini

Semua pertanyaan  itu melintas dalam pikiran  dan mengusik rasa penasaran saya. Soalnya seluruh anak-anak saya, sejak kecil  tidak ada yang terbiasa jajan sembarangan.  Tentu saja sebagai konsekwensinya, saya harus menyediakan makanan selingan berupa cemilan. Repot sedikit tidak apa, asal anak sehat dan terbiasa memilah dan memilih jajanan sehat yang ingin dikonsumsinya. Namun karena mereka sudah kenyang di rumah dengan tiga kali makanan utama dan 2 kali makanan selingan alias cemilan, biasanya  mereka tidak lagi berminat untuk jajan di luar. 
Apa itu yang membedakannya?

badge