Sabtu, 08 Juni 2013

The Memory Of Jimboo

seperti inilah kira-kira wujud fisik Jimboo.
hanya saja bulunya lebih coklat. sumber foto: Google
Akhir-akhir ini di sekitar rumahku sering terdengar lolongan anjing. Dan selalu bertepatan dengan azan yang dikumandangkan, terutama azan subuh  dan magrib. Heran juga, darimana asalnya anjing tersebut, karena di wilayah tempat tinggalku kutahu tidak ada yang memelihara anjing. Sempat terpikir, jangan-jangan anjing siluman. Udah parno duluan pikirannya saking seringnya mendengar hal-hal yang ‘begituan’. Dugaan itu dipatahkan suamiku karena dia  pernah melihat 2 ekor anjing besar masuk ke halaman rumah (karena pagar depan selalu terbuka, jarang dikunci). Berarti anjing itu nyata ada.Hanya saja kalau siang tidak pernah kelihatan.

Lolongan itu terdengar begitu sedih, bukan seperti lolongan yang sering digambarkan dalam cerita atau pun film-film spooky. Dan lolongan itu mengikuti panggilan azan yang dikumandangkan lewat pengeras suara. Begitu azan usai,lolongan itu pun berhenti. Aneh,ya.


 Kata tetanggaku, dulunya anjing itu ada pemiliknya, dan anjing itu digunakan untuk menjaga ladang. Setelah pemiliknya meninggal, anjing itu tidak ada yang mengurus. Jadinya dia terlunta-lunta. Entah mengapa aku yang mendengarnya jadi kasihan. Kasihan kok pada anjing ya. Eh, anjing juga makhluk Allah lho. Dan kalau saja aku memiliki alasan yang kuat untuk menjadikan anjing itu penjaga ladang atau rumah, terpikir olehku untuk memeliharanya di rumah. Tentu dengan alasan tadi, menjaga rumah atau ladang,karena bagi muslim yang kutahu hanya boleh memelihara anjing hanya untuk berburu dan menjaga rumah/ladang/kebun).

Dan cerita tentang anjing selalu membuat memoriku surut ke belakang, ke masa aku kecil dulu, saat masih SD. Aku lupa tepatnya kapan papaku membawa seekor anak anjing ke rumah. Mama keberatan, karena ngurus anjing itu khan harus hati-hati, tidak boleh terkena jilatannya, karena ada hukumnya yang jelas untuk itu.  Tapi papa bergeming, dan tetap menjadikan anjing itu sebagai peliharaan kami. Tentu saja menempatkannya di luar rumah.

Anjing kecil itu diberi nama Jimboo. Persoalan nama ini aku lupa siapa yang mentasbihkannya. Tahu-tahu saja sudah dipanggil dengan Jimboo. Jimboo ternyata anjing betina, dan dari jenis anjing apa aku juga tidak tahu. Pokoknya Jimboo, anjing yang bulunya lumayan tebal, dan berwarna coklat.

Jimboo tumbuh besar dengan cepat. Tidak saja papaku yang menyayanginya, tetapi ternyata nenekku pun jatuh hati padanya. Bahkan di mataku Jimboo lebih dekat dengan nenekku dibanding dengan papaku yang membawanya ke rumah kami. Mungkin karena nenek yang selalu menyediakan  makanan dan minumannya di wadah khusus untuknya. Untuk urusan membersihkan, papaku yang selalu memandikan Jimbo dan memberi shampoo untuk bulu-bulunya. Jadi, walau tinggal di kampung, Jimboo tumbuh terawat dan bersih. Tidak heran dia menjadi montok dan cepat besar.

Aku pun kerap bermain dengan Jimboo, mengajarkannya untuk berguling-guling, bersalaman, dan tentu saja melempar kayu agar dibawanya kembali ke padaku. Senangnya ketika ternyata Jimboo cepat merespon yang aku ajarkan. Tapi suka kesal juga kalau tanpa sengaja bagian tubuhku terkena jilatan Jimboo. Karena, mau tak mau aku harus rajin menyamaknya (membersihkan bagian tubuh yang terkena najis) yaitu dengan cara , menyiramkan bagian yang terkena liur Jimboo dengan air sebanyak 7 kali dan satu kali diantaranya adalah dengan menggunakan air yang dicampur tanah (tentu saja tanah yang bersih dan bebas dari najis)
Ada beberapa tahun Jimboo bersama kami. Kalau tidak salah, sejak dia dibawa papa sampai 3 tahun setelahnya. Satu peristiwa yang menyedihkan, kemudian merenggut Jimboo dari kami untuk selamanya,. Peristiwa itu tidak akan pernah terlupakan bagi kami sekeluarga.

Masa itu, sudah terdengar berita bahwa banyak terjadi pencurian anjing besar-besaran. Baik anjing peliharaan, mau pun anjing liar yang ada di jalan-jalan. Kabarnya lagi,anjing-anjing tersebut di jual di lapo (warung) tuak (minuman yg terbuat dari nira yg sudah difermentasi/beralkohol) sebagai bagian dari menu yang disajikan, alias anjing curian tersebut dibantai untuk memenuhi nafsu kebinatangan yang suka memakan daging anjing ini. Lapo-lapo tuak ini banyak berdiri di sepanjang jalan Yamin Ginting menuju kampus USU sampai arah menuju Berastagi. Nama wilayahnya disebut dengan Padang Bulan.

Lapo-lapo tuak ini terang-terangan menuliskan menu B2 sebagai andalannya. B2 alias daging babi. Tapi untuk daging anjing, menu ini saya kira masuk dalam kategori black market. Selalu tersedia, tapi tidak terang-terangan ditampilkan. (hueks.., mengingatnya sampai mual rasanya) Aduh..,kok saya jadi bahas masalah menunya si lapo tuak saat itu ya.  Cuma ini memang ada kaitannya dengan peningkatan pencurian anjing yang terjadi saat itu,  dengan menjamurnya lapo tuak yang menyajikan hidangan daging anjing.
Kembali ke Jimboo. Berita tentang poencurian anjing ini terdengar juga oleh papa dan nenekku. Cara mencurinya pun tergolong sadis. Anjing-anjing tersebut di jerat lehernya pakai seutas kawat, dan kemudian di seret sampai jauh dari lokasi domisili anjing, baru kemudian anjing tersebut diangkut ke motor. Pencuri anjing ini selalu berdua dan mengendarai motor dalam beraksi, sehingga sulit untuk dikenali dan dikejar. Apalagi terjadinya selalu lewat tengah malam.

Menanggapi berita tersebut, papa agak khawatir juga untuk melepas Jimboo tiap malam. Oh ya, Jimboo selelau dilepas dari rantainya setiap malam. Supaya dia bisa bebas dan bisa menjaga rumah dan warung kami yang ada di seberang jalan depan rumah.

Nah, di malam naas itu, seperti biasa Jimboo pun dilepas dari rantai pengikat lehernya. Dan seperti biasa juga, Jimboo pun duduk di halaman depan di tepi jalan sambil  memandang ke arah warung yang persis terletak di seberang jalan depan rumah. Sekitar pukul 11 malam, warung di tutup dan kita pun beristirahat.
Sekitar jam 2-an, terdengar suara motor yang sepertinya memperlambat jalannya, dan  berhenti di halaman depan. Entah apa yang menggerakkan papa dan nenek untuk bangun bersamaan dan bergegas keluar rumah sambil mengucapkan kata yang sama,”Jimboo!”

Terlambat beberapa detik. Begitu papa membuka pintu, terlihat seorang yang ada diboncengan motor sudah menyeret Jimbo yang hanya mampu mengeluarkan suara yang tercekik. Bagaimana tidak, seutas kawat sudah melingkari lehernya dengan erat.  Nenek yang juga menyaksikan langsung bagaimana Jimboo diseret sepanjang jalan dengan motor yang menderu kencang, sampai ikut berlari berusaha mengejar pencuri anjing tersebut. Tapi apa daya seorang nenek? Sementara papaku bergegas mengeluarkan motor dan bersama om (adik mama) yang terbangun, berusaha mengejar pelaku pencuri Jimboo.
Seperti inilah gambaran saat Jimboo dijerat lehernya dan diseret dari motor yang menderu kencang. Kejam banget! (sumber foto: Google)

Papa baru kembali ke rumah menjelang subuh. Tentu saja dengan tangan hampa. Papa bahkan mengejar dan mencari pelaku pencuri Jimboo sampai ke Padang Bulan yang jaraknya sekitar 15 kiloan dari rumah. Tapi Jimboo tidak pernah kembali lagi. Kulihat nenekku yang sangat berduka, dan tentu saja juga papaku. Karena mereka berdualah yang ikut menyaksikan bagaimana Jimboo dijerat dengan cara yang sadis hanya untuk dijadikan sepiring hidangan. Dan kamiu pun semua berduka karena Jimboo walau pun seekor hewan sudahm enjadi bagian dari kehidupan keseharian kami.

Sejak saat itu, setiap kali melihat ada anjing yang terlantar, aku selalu ingat Jimboo. Dan setiap kali  ke kampus  dan melihat lapo tuak yang berjejer di sepanjang Jamin Ginting (entah masih ada atau tidak sekarang ini), dan di mana saja (ternyata di Bogor juga ada lapo tuak ini dekat dengan pabrik Goodyear) perutku selalu mual dan ada perasaan marah yang muncul tanpa kusadari. Aku tak habis pikir, kok bisa ya mereka memperlakukan hewan dengan sekejam itu hanya untuk dijadikan hidangan peneman minum tuak. Sudah kejam, dapatnya dari mencuri pula!

Jimboo memang tidak pernah kembali lagi. Tetapi dia meninggalkan 3 generasi penerusnya yang lucu-lucu, salah satunya diberi nama Bruno. Yang dua lagi, diberikan kepada orang lain yang mau memeliharanya. Kisah Jimboo kerap kuceritakan kepada anak-anakku sebagai pelajaran agar mereka mengasihi hewan dan tidak berlaku kejam terhadap hewan-hewan peliharaan. Bahkan terhadap hewan liar dan terlantar sekali pun!.

Bogor, 7 Juni 2013




24 komentar:

  1. Kasian banget Jimboo ya, Mba. Aku jadi ingat, dulu waktu tinggal di Medan, tetangga depan rumah tuh, memiliki seekor anjing berbulu coklat, gagah banget, Tapi aku hanya sempat melihatnya beberapa bulan sejak tinggal di sana, karena setelahnya, si anjing itu lenyap, dan pemiliknya berduka. Katanya anjingnya dicuri orang, untuk dijadikan hidangan temani orang2 yang minum tuak di lapo2. Hiks. Sadis emang. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Alaika. kejadian itu banyak terjadi. Enggak tahu kalau sekarang ya Mbak. Makanya sampai sekarang suka benci lihat orang yang suka semena-mena terhadap hewan. Dan kalau lihat lapo tuak..., entahlah. Gimanaa gitu..

      Hapus
  2. Salam kenal ya mbak :) Soal lolongan waktu azan, jadi ingat waktu aku tinggal di Bali dulu mbak. Di sana kan banyak anjing liar berkeliaran di jalan-jalan. Nah, di komplek perumahan tempat aku tinggal kebetulan ada musholanya. Tiap subuh, saat azan dikumandangkan, semua anjing di sekitar situ yang tadinya pada berisik langsung terdiam, dan lantas kompak melolong sahut-sahutan dengan nada yang menyayat hati sekali. Seperti sedang menangis, begitulah. Entah mereka ikut bertasbih memuji Allah, atau apa, saya nggak tau persis. Pokoke bikin merinding deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga Mbak. Kalau saya pikirnya memang hewan-hewan tersebut ikut bertasbih ya Mbak. soalnya lolongannya emang beda dengan yang biasa saya dengar (kalau lagi tidak ada azan). Tapi wallahua'lam sih. Terima kasih sudah mampir ya

      Hapus
  3. hiks jadi inget Kiki sama Tambur. Kiki malah dimasukin karung, dilelepin di saluran irigasi. Buat apa coba? sateee. Waktu itu aku hanya anak kecil, rengekan dan tangisanku ga digubris.
    Tambur, anjing hitam yang dibawakan om sedari masih kecil, hilang dibawa orang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh..., ternyata kesadisan terhadap hewan bermacam-macam caranya ya. Benar-benar mengiris hati. Sekarang, masih punya hewan peliharaan kah? Oh ya, salam kenal dan terima kasih sudah mampir meninggalkan jejak

      Hapus
  4. sedih bacanya, mak. dulu anjingku Baron juga diculik orang subuh2 naik motor. Ada saksi matanya dan konon katanya memang mau dibawa ke lapo tuak :(

    sekarang di rumah ada 8 ekor anjing. tiap azan subuh dan maghrib mereka semua memang sahut2an melolong :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak Sari , peristiwa anjing mak itu terjadinya di Jawa sini? Saya pikir di Medan saja terjadi pencurian anjing besar-besaran untuk dijadikan teman minum tuak. Pengalaman itu membekas banget ya Mak. padahal sudah puluhan tahun berlalu, tapi saya masih mengingat jelas momen saya dengan Jimboo.

      Hapus
  5. ya Allah, kejam amat ya para penculik anjing itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak. demi sejengkal perut, dengan cara yang sadis!

      Hapus
  6. Halo..salam kenal :)
    Baca ceritanya jadi ingat waktu saya masih kecil, kakek saya pernah punya anjing yg lucu dan setia, sayang nasibnya sama seperti Jimboo :( hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali. Ikut sedih juga dengan nasib anjing punya kakek anda. semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi ya...

      Hapus
  7. terkadang, karena anjing najis liurnya, anjing dilempari dan diperlakukan kasar.. padahal kan anjing juga makhluk-Nya.. saya tidak memelihara anjing dan kadang takut berdekatan karena kuatir najisnya itu.. tapi sering gak tega lihat anjing dianiaya karena hukum najisnya itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak. Saya juga sangat tidak suka melihat sikap manusia yang semena-mena terhadap hewan. makasih sudah mampir ya :)

      Hapus
  8. Hiks hiks kasihan ya mbak jimbo dan kawan2nya yg akhir hidup nya di lalui dg cara seperti itu. Saya malah pernah denger yg lbh sadis mbak.anjing nya di masukkan ke dalam karung kemudian di banting2 sampai mati *ngeri ngebayangin nya juga*
    Demi kepuasan mulut (sesaat) dan perut kok ya segitu tega nya ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau di tempat saya (dulu juga mbak), dilakukan pada kucing. pokoknya sadis-sadis deh. sanggup ya makan dengan cara yang begituan?

      Hapus
  9. oh tidaaak...sadisnya...ga tahan lihat fotonya mbak. huhuhu...saya pun dl akrab dg anjing krn tetangga2 pd miara anjing. tp belum pernh dengar yg sadis begitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, kalau begitu, kisah nyata ini bisa membuka cakrawala baru ya mbak, bahwa bnayak orang jadi sadis hanya karena nafsu perutnya

      Hapus
  10. Astaghfirullah..sadis bener manusia ya mbak..baca ceritamu aku mewek lho...:(
    aku ni pecinta hewan bgt soalnya..aku suka anjing tp mang ga pernah pelihara..kl kucing sih smp sekarang aku punya ..udh kya anakku sdr :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya mbak. makanya kutulis, karena kisah ini membekas banget. aku bukan pecinta hewan sih mak, tapi bukan pembencinya, apalgi penyiksa, naudzubillah ya. di rumah bnayak kucing, cuma enggak peliharaan, sampai beranak pinak entah berapa generasi, hehehe

      Hapus
  11. terlalu sedih membaca kisah jimboo sampai menitis airmata membayangkan azab di tanggungnya oleh penzalim berhati syaitan. saya juga tidak memelihara anjing apalagi menyentuh tapi kerana ia makluk Allah, saya melayan anjing dengan baik dan memberi mereka makan jika terjumpa. Allah maha Adil.orang yang zalim dan kejam selayaknya ditimpa azab yang sangat sangat berat

    BalasHapus
    Balasan
    1. beyul. hewan juga makhluk Allah. Tidak boleh berlaku semena-mena memperlakukannya. terima kasih sudah mampir ya. sayang, identitasnya tidak jelas pengen mengunjungi balik :)

      Hapus
  12. Mbak, meski saya baru baca tulisan ini, saya turut merasakan apa yang Mbak sekeluarga rasakan. Saya pernah mengalami hal yang sama, di rumah, 10 tahun lalu, kehilangan seekor anjing, bukan ras, hanya anjing kampung biasa, tidak tampan, tidak halus bulunya, ceking, tapi punya kesetiaan dan pemahaman dan rasa pembelaan yang luar biasa terhadap kami semua. Kehilangan dia rasanya sama seperti kehilangan seorang anggota keluarga, bahkan kehilangan seorang anak. Semoga manusia Indonesia mampu memiliki hati yang lebih peka lagi, memandang hewan tidak sebagai objek, melainkan sebagai ciptaan Tuhan yang juga BERNYAWA, bahkan seringkali BERHATI dan BERPERASAAN seperti kita juga. Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget mbak. Manusia yang kadang lebih kejam dari hewan liar sekalipun, Kalau hewan, membunuh hewan lainnya sekedar untuk makan, dan itu pun sesuai instingnya. Tapi kalau manusia, membunuh hewan yang bukan untuk dimakan, demi memenuhi hawa nafsunya, dengan cara yang sangat keji pula. Hiks..,jadi inget Jimboo lagi

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge