Senin, 20 Mei 2013

Saat Maut Menjemput….


Panggil namanya Pak Kliwon (nama samaran). Sosoknya kurus kecil, dan berkulit hitam. Rambutnya selalu disisir klimis dengan minyak rambut cap  Mandom ( aku hafal betul baunya, karena kakekku juga pakai Mandom). Dan kalau berpakaian rapih sekali, menampakkan bekas lipatan strikaan pada celana panjangnya. Penampilan Pak Kliwon sebenarnya biasa saja, seperti orang yang lainnya. Tapi yang tidak biasa adalah  tatapan matanya yang mencorong dingin, ditambah sikapnya yang tidak hanya dingin  tetapi juga kaku terhadap orang lain. Pak Kliwon pelit akan kata-kata. Apalagi terhadap  anak-anak, seperti padaku yang mengenalnya sejak usia 6 tahun . Aku pernah terbirit-birit kabur dari hadapannya saat dengan mata mencorongnya dia menegurku yang masuk ke bagian tengah rumahnya tanpa sengaja.

Aku tahu Pak Kliwon ini karena nenekku dan mamaku  menyewa masing-masing  sepetak kamar di belakang rumah mereka.  Beliau kerja di suatu perusahaan perkebunan. Istrinya dipanggil dengan Nek Wiji (nama samaran juga). Kalau Nek Wiji lumayan ramah terhadap siapa pun, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Pak Kliwon. Rumah yang kami tempati itu termasuk rumah tua, dibangun sekitar tahun 1960-an  dan bisa dibilang rumah paling tua di jalan P tempat aku tinggal di Medan .


Rumah tua ini memiliki  5 kamar, dan kami menyewa 2 kamar di antaranya yang terletak di area belakang, dekat dengan dapur dan kamar mandi. Kamar mandi masih menggunakan sumur yang menggunakan timba . Bagi yang tidak tahu timba, timba adalah ember kecil yang diikat pakai tali, digunakan untuk mengambil air dari dalam sumur.  Tiga kamar lainnya terletak di sisi kanan dan kiri rumah, yang berbentuk lorong menuju ke ruang depan sekaligus ruang tamu.  Aku sangat tidak suka bila disuruh nenek untuk ke ruang depan (kalau ada keperluan dengan Nek Wiji), karena harus melewati lorong  tersebut. Selain gelap, aroma lembab dan suasana dingin kerap menyergapku saat melewati lorong yang panjangnya cuma sekitar  5 meteran tersebut.

Pak Kliwon dan Nek Wiji memiliki 5 orang anak, namun hanya satu yang tinggal bersama mereka, yakni anak perempuan bungsunya, karena yang lain sudah menikah dan tinggal di tempat yang berbeda. Usianya berbeda sekitar 10 tahunan dariku. Kita sebut saja dengan Mbak Dewi.  Mbak Dewi ini sosoknya cantik, kalem, dan ramah. Rajin sholat dan baca al-Qur’an tiap malam.  Dari bilik kamar kami, aku sering mendengarnya mengaji dengan suaranya yang merdu.

Dilingkungan kami ini sudah sering terdengar rumor bahwa Pak Kliwon ini ngelmu (menganut ilmu) tertentu dan memelihara ‘jin’. Bahkan beliau ini dikatakan hanya mandi setahun sekali, sesuai syarat ilmunya. Kalau soal kebenaran memelihara jin,  Wallaahua’lam. Tapi masalah keyakinan, memang Pak Kliwon ini aneh. Selain tidak pernah melihatnya sholat Jumat atau paling tidak sholat hari raya Idul Fitri atau pun Idhul Adha, seperti yang pernah mamaku ceritakan bahwa Pak Kliwon pernah menantang siapa pun untuk membuktikan bahwa surga dan neraka itu ada
.
“Saya tidak percaya surga atau neraka itu ada!” katanya. “Kalau benar ada, siapa yang pernah datang ke sana dan kembali lagi ke sini untuk bersaksi bahwa surga dan neraka itu ada?” lanjutnya lagi dingin, sedingin tatapan matanya yang mencorong.



Selama aku tinggal di situ, aku memang tidak pernah melihat penampakan-penampakan aneh, walau tetap saja ada perasaaan tidak enak di lorong rumah tersebut. Tetapi, hampir setiap bulan, ada peristiwa kerasukan terjadi di rumah itu, dan justru menimpa putri bungsu Pak Kliwon, yakni Mbak Dewi. Kalau sudah kerasukan, Mbak Dewi mengeluarkan suara berat seperti  suara kerbau   yang disembelih.  “Hrg...Hrg...Hrg...” seperti itulah bunyinya.  Dan Mbak Dewi yang kalem dan lembut itu, mendadak berubah menjadi sosok yang kasar dengan tenaga yang hanya mampu dilawan oleh 3-4 orang laki-laki dewasa.
Aku pernah menyaksikan sendiri bagaimana Mbak Dewi saat kesurupan itu dipegangi oleh tetanggaku sebanyak 4 orang laki-laki, dan seorang diantaranya memjit jempol kakinya sambil bicara tegas,”Keluar! Kamu harus keluar dari tubuh ini!”. Kelanjutannya aku tidak tahu, karena nenekku langsung menarik tanganku untuk kembali ke kamar.

Kalau lagi kumat kerasukannya,  seringnya aku dan adik-adik meringkuk di kamar ketakutan, sementara orang ramai datang mencoba menolong. Sekitar 1 – 2 jam kemudian baru keadaan Mbak Dewi bisa dipulihkan. Dan kejadian itu selalu terulang, minimal sekali dalam sebulan.  Kata tanteku, ada makhluk tinggi besar, hitam dan  berbulu dengan mata merah seperti bola api yang nongkrong di atas lemari  di kamar Mbak Dewi. Tanteku ini memang biasa kami sebut dengan mata setan, karena mampu melihat penampakan mg (mahkluk ghoib).

Kami pindah dari rumah itu saat aku kelas 4 SD. Pindahnya juga masih sekitar situ, tidak berapa jauh dari rumah Pak Kliwon. Kurun waktu beberapa tahun, karena sudah tidak tinggal serumah lagi, aku tidak tahu peristiwa apa saja yang terjadi di rumah tersebut. Sampai kemudian saat aku SMA, terdengar  berita Pak Kliwon sakit parah.

Rupa-rupanya sakit Pak Kliwon ini sudah sangat parah, sampai-sampai untuk memudahkan orang yang menjenguknya beliau ditempatkan di ruang depan sekaligus ruang tamu. Beralas kasur yang diletakkan di lantai, Pak Kliwon seperti orang sedang menantikan sakratul maut.  Istri dan anak-anaknya berkumpul di dekatnya sembari membisikkan sesuatu di telinganya. Aku yakin, pastilah syahadat, sebagaimana harusnya penganut Islam lakukan. 

Malam itu, malam yang masih kuingat jelas dibenakku, karena aku menyaksikannya langsung, kondisi Pak Kliwon benar-benar sudah parah. Tetangga sebagaimana lazimnya pun mulai berdatangan membezuk. Walau pun Pak Kliwon kurang disukai tetangga karena sikapnya yang angkuh dan dingin, tetapi Nek Wiji dikenal cukup baik dalam bergaul. Jadi cukup wajar warga yang datang membezuk karena menghargai Nek Wiji.
Nafas Pak Kliwon sudah satu-satu dan terasa berat. Matanya terbuka lebar menatap langit-langit di ruang tamu rumahnya. Kursi-kursi sudah disingkirkan ke sudut ruangan, untuk memberi ruang yang cukup lapang bagi warga yang datang membezuk. Dada Pak Kliwon yang kurus terlihat naik turun seirama dengan nafasnya yang kepayahan. Sepertinya kondisi Pak Kliwon sudah payah, karena Nek Wiji terus-terusan menangis, sementara keempat anaknya (yang satu tinggal di Surabaya), sudah berkumpul mengelilingi Pak Kliwon.

Sekali-kali Nek Wiji mengucapkan sesuatu di telinga Pak Kliwon. Walau samar, aku masih cukup mendengar Nek Wiji mengucapkan, “Pak eling,Pak..eling...” Eling itu dalam bahasa Jawa artinya ingat, maksudnya ingat Tuhan.

Diantara pembezuk ada yang mengusulkan agar anak-anak Pak Kliwon membaca Qur’an di sisi Pak Kliwon. Tujuannya baik, agar yang sakit tentunya bisa terus mengingat Allah, sehingga kalau pun meninggal,insya Allah berujung pada husnul khatimah. Saran itu diterima oleh keluarga Pak Kliwon.
Maka Mbak Dewi  dan beberapa kerabat keluarga pun mulai duduk di sisi Pak Kliwon dan membaca Qur’an. Surat Yassin, kalau aku tidak salah ingat. Baru beberapa ayat di baca, tiba-tiba terdengar kegaduhan. Ini peristiwa yang masih terekam jelas di ingatanku.

Mata Pak Kliwon yang semula nyalang memandang ke langit-langit ruangan, tiba-tiba menoleh ke arah yang membaca Qur’an. Dari mulutnya keluar suara geraman (seperti geraman hewan yang marah) yang keras, dan matanya itu..., sungguh, aku tak akan melupakan sepasang mata yang menyorot penuh kemarahan, dan merah!  Bola mata Pak Kliwon membelalak lebar dan bagian putihnya  dipenuhi garis-garis merah sehingga nyaris bola mata Pak Kliwon terlihat berwarna merah darah. Aku yang duduk di dekat pintu keluar kaget dengan situasi yang tak terduga ini, begitu juga dengan  yang lainnya di dalam ruangan ini.

Semakin lantunan Qur’an di keraskan, semakin  terlihat marah Pak Kliwonnya. Geraman yang keluar dari mulutnya semakin keras dan matanya  yang merah semakin melotot ke luar. Tubuhnya yang ringkih seperti berusaha hendak bangkit. Geraman itu lebih mirip suara hewan buas yang sedang terjebak dalam keadaan terluka. Semakin lama geraman itu semakin keras, sehingga membuat keriuhan di dalam ruangan. Bacaan Qur’an semakin dikencangkan bercampur tangisan keluarga, sementara di luar rumah, kegaduhan itu membuat tetangga berdatangan.  Isak tangis keluarga seiring kalimat thoyibah yang diucapkan di telinga Pak Kliwon tak membuat suasana membaik. Pak Kliwon tetap dalam kondisi semula, mata merahnya melotot lebar dan mulutnya mengeluarkan geraman marah!

Menghindari malu, pihak keluarga kemudian menutup pintu dan urun rembug untuk penanganan masalah Pak Kliwon selanjutnya. Sebelum keluar, samar-samar aku mendengar  ada seseorang yang bicara agar mencarikan air comberan yang benar-benar kotor  untuk diminumkan ke Pak Kliwon. “Yang kotor harus dikeluarkan  dengan yang kotor..”  begitu yang terdengar. Ketika kuminta penjelasannya dari nenek, nenekku bilang, orang yang menganut ilmu tertentu (baca:ilmu ghaib), akan susah matinya sebelum ilmu itu keluar dari tubuhnya. Dan cara ilmu itu bisa dikeluarkan, tergantung ilmu itu jenis apa, apakah ilmu hitam atau sebaliknya.

Akhirnya Pak Kliwon di bawa ke rumah sakit. Aku tidak tahu, kebijakan ini diambil karena menghindari malu, ataukah benar-benar mencari kesembuhan untuk Pak Kliwon. Tapi beberapa jam kemudian, terdengar berita  bahwa Pak Kliwon telah berpulang ke Rahmatullah.

Pihak keluarga pun mempersiapkan kedatangan jenazah. Namun di tunggu-tunggu, sampai 2 jam lebih sejak kabar terakhir berita meninggalnya Pak Kliwon diterima, tetap juga belum ada tanda-tanda mobil pembawa jenazah akan tiba. Padahal, jarak normal antara rumah sakit dan rumah  hanya memakan waktu 30 menit. Saat itu belum ada telepon selular, jadinya diutus seseorang  dengan naik motor untuk mencari tahu masalahnya apa.

Sekitar 30 menit  sejak utusan dikirim, barulah mobil pembawa jenazah tiba. Sang supir mengatakan bahwa keterlambatan ini karena ban mobil gembos. Dan itu terjadi dua kali. “Seumur-umur bawa mobil  jenazah, baru kali mengalami dua kali pecah ban,” kata sang supir. “Dan bawaan mobil rasanya berat banget, sehingga mobil lajunya lambat,” sambungnya.

Tidak berhenti sampai di situ. Saat pemakaman dan jenazah telah di bawa ke pemakaman, tiba-tiba seseorang tergopoh-gopoh  mendatangi rumah almarhum dan mencari-cari papan penutup mayit (di liang kubur)  karena ternyata papan  penutup mayit  yang di bawa ke pemakaman kurang.  Apakah kekurangan papan penutup mayit di liang kubur itu karena terlupa di bawa atau hal lain, wallaahua’lam.

Semenjak pemakaman sampai beberapa waktu kemudian, peristiwa ini ramai dibincangkan warga. Tentunya tidak terang-terangan.  Dan entah mengapa situasi yang ada kemudian terasa mencekam, sehingga untuk beberapa waktu jalanan di desa tempatku tinggal akan mendadak sunyi begitu  malam menjelang. Padahal sebelumnya tidak.  Ada beberapa minggu lamanya sebelum keadaan berubah normal kembali.

Aku tidak tahu rumor apa yang berkembang di luaran terkait kejadian malam itu. Tapi, peristiwa yang kusaksikan dengan mataku menjadi pelajaran berharga untuk diriku. Bagaimana kita akan berakhir, apakah  husnul khatimah atau sebaliknya, tergantung apa yang telah kita lakukan sepanjang hidup kita.  Dan apakah Pak Kliwon husnul khatimah atau sebaliknya, bukanlah hakku untuk menilai. Semoga kisah ini dapat dipetik hikmahnya. Wallaahua’lam.

"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". (QS Al-An’am 6:93)

"(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu". (QS, An-Nahl, 16 : 28-29 )

20 komentar:

  1. Innalilahi mba, semoga menjadi pelajaran ya buat kita semua

    ceritanya kaya di majalah hidayah hehe, coba dikirim aja mba kesitu ^^

    BalasHapus
  2. iya Mbak. pelajaran yang berharga buat yang mau mengambil hikmahnya, terutama buat saya sendiri. terima kasih sudah mampir, dan salam kenal :)

    BalasHapus
  3. wah ini bisa jadi ikhtibar bagi kita agar selalu berada di jalanNYA, iya mba Rebellina masukan ke majalah Hidayah, Hikayat atau sejenisnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi masukan nih buat ngirim ke majalah yang dimaksud. tapi apa syarat-syaratnya ya? terima kasih Mbak sudah mau mampir , dan salam kenal

      Hapus
  4. Ceritanya keren Bu.....komentar pembaca diminta gak ya? he2....coba ibu beri klimaks/atau malah anti klimaks dari cerita di atas, jd lebih terasa "greng"nya....selain itu udah bagus semuanya, pilihan kata2nya aku suka, luwes deh cara berceritanya....jempol buat dirimu!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah senangnya dirimu berkenan mampir, Bu. Ma kasih nih atas masukannya. Aku memang kesulitan dengan endingnya. pengen nambah-nambahin biar greng, tapi takut malah mengada-ada di luar kisah aslinya. jadinya, ya begini..., but, ntar kalau nulis lagi, aku akan praktekkan usul dirimu ya Jeng. gimana proyek kita?

      Hapus
  5. hehehe setuju dengan Mbak Rima Farananda, kurang greng, secara kita2 ini terbiasa mendengar dan melihat orang2 yang terlibat dengan ilmu ghaib...
    dirimu berbakat ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. berbakat apa nih Bu? kalau dibilang berbakat nulis, saya senang deh, heheheeh. Terima kasih atas apresiasi dan masukannya ya :)

      Hapus
  6. pelajaran yang berharga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener sekali Mbak. sejatinya, kehidupan ini setiap detiknya merupakan pelajaran yang berharga. terima kasihudah mampir yaa

      Hapus
  7. semoga kejadian ini jadi pelajaran untuk kita semua, semoga kita dapat kembali kepada-NYA dalam keadaan husnul khatimah. Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Kembali dalam keadaan husnul khatimah adalah impian setiap muslim. semoga terkabulkan.

      Hapus
  8. Wah mba berceritanya seperti sedang membaca novel 👍. Terima asih ilmunya mengingatkan kita tentang hari pulang

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama, semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya

      Hapus
  9. ya Allah, semoga kita semua berakhir dengan husnul khatimah

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin. berharap kita semua husnul khotimah ya

      Hapus
  10. Mba, aku membaca tulisan ini jadi ikut degang dan membayangkan kondisi saat itu ketika berada di dekat Pak Kliwon. Naudzubillah, semoga tak terjadi pada diri kita sekeluarga dan keluarga Pak Kliwon mampu mendoakan untuk Pak Kliwon ya. Aamin. Makasih sudah berbagi mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul Mbak. aku mampu menuliskannya, karena saat itu aku lihat sendiri

      Hapus
  11. Aku bacanya sambil membayangkan bagaimana situasi saat pak Kliwon sakaratul maut...ya Allah, kebayang gimana keluarganya menghadapi situasi kyk gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. entahlah.., campur aduk mungkin. berharap kita semua husnul khotimah ya

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge