Kamis, 12 September 2013

Selamat Ulang Tahun Mama..

Tanggal  9 September 2013 lalu, genap usia 58 tahun untuk mamaku. Dan terakhir aku bertemu beliau di tahun 2011 lalu. Aku dan mama tidak tinggal sekota, melainkan dipisahkan oleh Selat Sunda. Aku di Bogor, sedangkan mama di Medan. Jadi, walau komunikasi masih terjalin lewat telepon, aku belum pernah lagi melihat raut wajah mamaku. Dan saat aku telpon mama untuk mengucapkan selamat padanya, kudengar isak tangis di seberang sana. Katanya, hanya akulah satu-satunya dari 8 anaknya yang selalu mengingat hari kelahirannya. Ada nada kesepian sebuah hati terwakili dari kata-kata wanita itu, dan aku yang mendengarnya, ikut menitikkan air mata.

Aku dan mama, bukanlah pinang di belah dua. Walau sama-sama berkulit putih, tapi mataku mewarisi garis darah kakek yang berdarah Tionghoa, sedangkan mamaku matanya bulat indah. Wajah mama cantik dan cenderung mengikuti garis darah buyutku yang peranakan Jerman. Tidak heran waktu mudanya mamaku di panggil dengan Ida Jerman.  Itu dari sisi fisik yang bisa dilihat. Tapi kata papaku, karakter ‘keras hati’ kami berdua  itulah yang layak dikatakan pinang di belah dua. Mama keras hati, aku pun demikian.  Dan terkadang, tak satu pun dari kami mau mengalah. Sehingga selalu saja ada benturan-benturan setiap kali berinteraksi dengan mama.



Masa-masa paling menyiksaku adalah saat aku menjelang SMP sampai menjelang menikah.  Benturan itu semakin sering terjadi, sehingga seringkali papa yang harus mendamaikan kami. Masing-masing kami memegang teguh prinsip yang kami yakini kebenarannya.  Aku merasa mama selalu pilih kasih, sementara mama berpikiran, aku anak yang tak tahu diri, gemar mengkoreksi, serta selalu menjadi pemberontak di rumah ini .

Ah, kisah ini bukan untuk membuka luka.. Aku hanya ingin berbicara tentang cinta. Cinta yang tak terucap, tetapi tetap terasa, walau dibungkus dalam kemarahan ( dulunya).

Memang, aku dan mama tak seiring sejalan dalam banyak hal. Tapi aku belajar banyak hal juga darinya dalam hal  kehidupan. Kerja keras, semangat mandiri, caranya berdagang dan melayani pelanggan, nasehat-nasehatnya tentang kehidupan, dan banyak lagi, kuserap dari sosok mamaku.  Di sisi lain, hal yang aku tak sejalan dengan pemikiran  mama, juga menjadi pelajaran untukku, agar tak kuulangi dalam kehidupan pribadiku.

Walau kerap bersinggungan, ada juga masa-masa intim yang kami lewati bersama, hanya berdua. Misalnya saat kami melewatkan malam dengan berkeliling kota naik mobil untuk mencari makanan. Terkadang kita berhenti untuk makan kerang rebus di pinggir jalan yang banyak di daerah Tanjung Morawa, atau makan sop kepala kambing. Mama juga meletakkan kepercayaan yang besar untukku, sehingga dia yakin melepaskanku pergi sendiri bacpack travelling mulai dari Medan, melintasi kota-kota di pulau Jawa, sampai berujung di Pulau Bali. Itu kulakukan sendiri, saat aku belum nikah. Kepercayaan yang tidak dia berikan kepada adik perempuanku yang lain. Dia sungguh yakin aku wanita yang bisa menjaga diri. Dan kepercayaan darinya tidak pernah kusalahgunakan sampai kini.

Banyak lagi ajaran beliau yang mungkin bagi orangtua lainnya terdengar ekstrim, tapi bagiku sangat berguna ketika aku masuk ke lingkungan dan pergaulan kerja. Dengan caranya sendiri, mama berhasil membentukku menjadi pribadi mandiri yang tidak cengeng. Itu sebabnya, saat merantau jauh dari keluarga karena ikut suami, aku tidak terlalu kesulitan, karena mama sudah meletakkan dasar-dasar kemandirian yang kokoh dalam hidupku. Sayangnya,  untuk ke 7 adikku yang lainnya, mama berlaku jauh berbeda. Rasa sayang yang berlebihan, memanjakan mereka dengan uang, membuat mereka tidak mandiri dan kerap menyulitkan mama sampai usianya kini.

Kini, di usianya yang sudah semakin menua, dan kedekatan kami terpisahkan jarak ribuan kilometer jauhnya, kurasakan hatiku lebih bisa memahami mama, mengerti mengapa dia bersikap berbeda padaku dibanding adik-adikku, dan justru berterima kasih untuk hal itu saat ini. Walau tak selalu mesra, tapi ternyata baru kusadari, aku mencintai mamaku, lebih dari yang kutahu.., dan yang membuatku  terharu, mamaku (baru sekali ini) mengakui hal itu.

courtesy of Pinterest.Com

Selamat Ulang Tahun Mama..
Cinta anakmu yang berada jauh ini selalu ada melalui do’a-do yang kupanjatkan padaNya untukmu. Love u so much..

Repost dari Kompasiana, 11 September 2013 oleh penulis yang sama




4 komentar:

  1. kisah mbak Santy dengan Mama-nya, setali tiga uang dengan kisahku dengan Bapakku.
    Kami serupa dalam sifat, sering terjadi benturan, tapi hubungan dan ikatan emosi kami justru paling dekat dibandingkan antara ayah dengan saudara2 saya yang lain.
    Misskomunikasi yang sering terjadi justru menjadi komunikasi akrab kami,untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain.
    Sungguh,saya masih selalu rindu pada almarhum.
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau bahas tentang orangtua, selalu mata ini ingin basah. serumit apa pun hubungan kita dengan ortu, ternyata kita selalu merindu mereka, apalagi kalau berjauhna. Terima kasih udah mampir dan meninggalkan jejaknya ya :)

      Hapus
  2. Rasanya, setiap dari kita minimal 1 x mengalami benturan pendapat (hebat) dengan ortu. Dan selalu, penyesalan datang belakangan. Tidak jarang malah, setelah berada dalam situasi berjauhan dengan ortu, bahkan setelah mereka tiada! :( #pengalamanpribadi

    Yang terpikirkan sekarang, apakah anak2 juga akan mengalami hal yang sama dengan kita, ortunya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah mbak, mengapa kemudian saya ingin bersujud di kaki ibu saya, karena suami saya mengajarkan, mungkin dengan kesabaran kita menghadapi ortu, termasuk mengalah, kita mengharap Allah akan memberikan anak yang bersikap sabar pula pada kita nantinya, atau bisa sebaliknya, kita menjadi ortu yang lebih bijaksana bila dalam situasi serupa :)

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge