Minggu, 07 April 2013

Cara Membuat Pupuk Organik Cair


Di  sekitar tempat  tinggalku ini banyak tumbuh pohon jambu biji, karena merupakan salah satu sentra penghasil buah yang kaya vitamin C ini. Saat lagi musim, buahnya yang sudah terlalu matang  banyak bertebaran di tanah. Selama ini kalau aku lagi lewat dan melihat buah-buah tersebut, selalu terbersit rasa ‘sayang’, dan bagaimana cara memanfaatkan buah yang sudah tak terpakai tersebut. Kebetulan,  aku pernah menonton tayangan cara membuat pupuk organic cair di salah satu tv swasta. Klop deh, pikirku. Bahan ada, cara membuat juga tidak ribet, di tambah aku pun memang mempunyai beberapa tanaman hias dan tanaman buah yang memang membutuhkan pupuk.  Tinggal action nya saja.

www.rebellinasanty.blogspot.com
halaman belakang Rebellina
Jadi, di suatu pagi yang berkabut, di halaman belakang, aku pun berkutat dengan bahan-bahan yang telah kupersiapkan sehari sebelumnya. Berikut bahan-bahan yang diperlukan dan  cara membuatnya :

1 kg buah jambu biji yang sudah tak terpakai (busuk/terlalu matang), di blender (halus atau kasar tidak terlalu masalah. Tapi aku memilih halus supaya pupuk cairnya lebih beraroma buah tersebut). Buah Jambu bisa diganti dengan sisa buah apa saja.
200 gr gula pasir
3 liter air tanah/air sumur
Karung beras
Tong/wadah yang mempunyai tutup

Cara membuat:

The Haunted House : She is singing with me…


ilustrasi
Tinggal di rumah yang lingkungannya masih sangat sepi dengan kondisi rumah sekitar banyak yang rusak, memang tidak enak. Apalagi di tambah dengan kehadiran-kehadiran “lainnya” yang tak kasat mata. Wew… Tapi apa mau dikata? Aku harus menghadapinya selama setahun ke depan. Tentu dengan mempertebal iman, memperbanyak kegiatan, dan menambah daftar tetangga untuk saling bersilaturahmi. Hanya saja kalau malam menjelang, tetap saja aku harus bertempur dengan ketakutanku , terutama saat suami sedang shift malam.

Rumah yang kami kontrak ini tidak begitu besar. Cuma terdiri dari 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tamu sekaligus ruang keluarga, dapur kecil, dan gudang kecil yang beersebelahan dengan kamar ke dua. Kami hanya memakai kamar pertama yang lumayan luas, sedangkan kamar ke dua, dibiarkan kosong, karena Putri yang masih 7 bulan saat itu masih tidur dengan kami.

Jumat, 05 April 2013

Roti Perancis Ala Bunda..

Lama tak bersentuhan dengan peralatan baking karena keasyikan menulis dan berkebun. Hasrat itu muncul lagi saat kemarin, Kamis, kita sedang puasa sunnah. Putri saya yang sulung (9 tahun) dan adiknya (5 tahun) minta dibangunkan sahur dan ikut puasa sunnah. Memang mereka sudah saya biasakan untuk berpuasa sejak kecil, bahkan si sulung saat usia 4 tahun puasa pertamanya di bulan ramadhan poll (penuh) tanpa ada ketinggalan, dan si adiknya yang 5 tahun puasa ramadhannya hanya kecolongan 1 hari karena panas (saat puasa ramadhan pertamanya, adik berusia 4,5 tahun).
Jadilah Kamis kemarin itu kami berempat, saya, suami dan dua putri kami puasa sunnah. Untuk menyemangati mereka, saya menjanjikan akan membuat kue atau roti sebagai pembuka hidangan berbuka nantinya.

 "Bunda memang sudah lama ya tidak bikini kita kue," ajuk Si  Sulung mendukung niat saya tersebut     "Iya, nanti aku bantuin ya, Bun" timpal Si Adik dengan semangat.
      
Memang, saya sudah lama tidak membuatkan mereka cake atau roti yang dipanggang. Biasanya dulu saya rajin membuatkan mereka cup cake, atau pun pizza kegemaran mereka. Tetapi semenjak perhatian saya tersita untuk menulis kembali dan berkebun, hobi saya yang lain  (baking) terabaikan. Sungguh sulit membagi waktu untuk semua hal. Tapi kali ini saya menguatkan tekad untuk memenuhi janji saya pada putri-putri saya.

Sampai jam 2 siang saya masih belum tahu mau membuat apa. Buka box persediaan bahan makanan, semua bahan dasar  yang dibutuhkan ada. Terigu, telur, gula, dan  margarin. Tinggal aksi saja sebenarnya. Mau buka-buka kumpulan resep kok rasanya malas banget. Ingin buat roti, duhh..., prosesnya itu lho. Lama. Berdasarkan pengalaman dari mulai adonan, sampai siap santap, butuh waktu minimal 3 jam. Tetapi, semua anakku suka roti. Akhirnya, saya putuskan untuk membuat roti juga dan mengalahkan rasa malas saya. Saya hitung waktunya pas nanti selesai mendekati waktu berbuka. Masalah lainnya muncul lagi, jenis roti yang mana nih?

Pilihan jatuh pada Roti Perancis atau French Bread. Sesuai namanya, roti ini berasal dari Perancis, panjang roti umumnya sekitar 40 cm dengan diameter 5 cm. Permukaan roti keras dan pori-porinya besar. Saya suka roti jenis ini karena bisa dipakai buat roti pizza, kesukaan anak-anak. Bisa juga dioles selai coklat, atau di cocol dengan saus sambal sebagai teman minum kopi. Dan yang pasti, membuatnya supeer gampang, tidak seperti roti lainnya. Saya tidak perlu menguleninya sampai elastis. cukup sampai kalis saja. (Salah satu yang bikin saya malas bikin roti adalah proses pengulenannya harus sampai elastis. Bikin pegel tangan). Tapi soal elastis ini versi saya lho. Oh ya resep saya dapat dari googling (Crazy Pastry Ideas), dan telah saya modifikasi. Berikut resep Roti Perancis ala saya

Rabu, 03 April 2013

Menjadi Penulis Yang Rendah Hati… (di Dunia Maya)


Saya  sungguh beruntung bisa tahu  dan bergabung dalam suatu komunitas yang berisikan ibu-ibu hebat yang jago menulis.  Sebagai seorang yang masih sangat dangkal ilmunya,  dan ingin menjadi seperti mereka, saya pun dengan semangat belajar meminta pertemanan melalui jejaring sosial pada beberapa ibu penulis tersebut. Saya katakan ibu-ibu penulis karena sudah  teruji dengan  hasil tulisannya, baik yang sering mejeng di media cetak, sering menang lomba blog,  ataupun yang menelurkan buku .  Berteman dengan ibu-ibu hebat, sedikit banyak pastilah bias memberikan kontribusi positif buat saya yang cetek ilmu menulis ini. Begitu pikir saya.

 Pada beberapa postingan status teman penulis,  saya  memilih menjadi silent reader . Namun tak jarang juga saya ikut  memberi komentar , yang lainnya paling saya beri tanda like.  Selama  2 tahun bergaul dengan teman-teman penulis dari suatu komunitas ini, saya belajar beberapa hal. Ternyata  di dunia ibu-ibu penulis, ada dua kategori penulis yang menurut saya terlihat jelas, yakni penulis yang rendah hati, dan penulis yang  sebaliknya, alias sombong. Kenapa saya bisa  katakan begitu?
badge