Sabtu, 18 Oktober 2014

Ciri-Ciri Orang Yang Gemar Berhutang, Tapi Enggan Membayar (1)

www.rebellinasanty.blogspot.com
photo pinjem dari sini
1990-an  

Gayanya seperti ibu pejabat. Dan sebenarnya bisa dikatakan begitu. Beliau saat itu berusia 40-an, Kepala sekolah dari sebuah sekolah swasta yang cukup dikenal di seputaran tempat tinggal saya. Suaminya, juga seorang pendidik, sebelum kemudian menjadi anggota DPRD Medan.

Kalau lagi bepergian, dandanannya selalu rapi, berkebaya dan bersanggul, serta senyum yang tak lepas dari bibir. Ramah memang, tapi eits…,jangan terkecoh dengan keramahannya dulu ya. Ada kisah buruk yang terekam jelas di benak saya menyangkut dirinya. Ini tidak dimaksudkan untuk ghibah, karena saya menuliskannya agar yang baca bisa mengambil hikmahnya. Nama pelaku saya samarkan, kecuali tempat.


Panggil saja beliau Bu Minda (nama samaran). Saat itu saya masih kecil, masih SD, namun sudah membantu orangtua jaga warung. Mama saya membuka warung kelontong yang juga menjual sayur-sayuran dan ikan segar. Di Medan disebut dengan Kedai Sampah. Entahlah kenapa namanya seperti itu J

Dagangan Mama sangat laris saat itu. Selain memang lengkap, juga Mama sangat ramah melayani pembelinya. Saking larisnya, Mama dan Papa sampai bisa membeli tanah dan mendirikan rumah dari hasil jualan di warung tersebut.  Saking larisnya juga, sampai-sampai ada peristiwa tuyul pada masa itu. Baca kisah tuyul itu di sini.

Nah, Bu Minda ini sebenarnya bukan langganan tetap. Hanya saja sesekali dia datang berbelanja, itupun kemudian berhutang!  Beli kontannya di mana, hutangnya di warung kita, begitulah tabiat Bu Minda.
Yang namanya hutang, rajin bayar dong? Wah.., Bu Minda ini jenis extraordinary loh. Bayar hutangnya nungguh ditagih. Jadilah setiap awal bulan, saya disuruh mama sebagai juru tagih. Lengkap bawa catatan hutang-hutangnya, karena memang kita selalu mencatat setiap transaksi di satu buku besar.

Alih-alih bayar lunas, tabiat Bu Minda ini pun keren, dalam artian minus. Bayarnya tidak pernah tuntas lunas, hanya sebagian dari keseluruhan total hutangnya. Lalu kemudian nambah berhutang lagi. Begitu seterusnya tiap bulan, sampai tunggakan hutang Bu Minda numpuk. Kalau sudah begitu, Bu Minda berkelit dari kewajibannya membayar hutang dengan menghindar. Tak jarang dia malah datang ke warung dan marah-marah karena merasa malu ditagih di rumah. Tetapi tetap saja tidak bayar hutangnya. Setelahnya, berbulan-bulan dia tidak datang ke warung, padahal setiap hari melewati jalan tempat warung kami berada. Dan dia sangggup melenggang santai tanpa ada rasa malu!

Seingat saya, mama sampai kesal luar biasa dengan sikap Bu Minda ini, dan kemudian memberi tanda silang di catatan hutang atas namanya. Harapan mama,  ya sudahlah kalau hutangnya tidak dibayar, tapi jangan pernah datang lagi. Nyatanya, tipe Bu Minda ini memang muka tembok. Setelah beberapa bulan, kembali datang dan bikin hutang lagi. Ada beberapa kali mama membuat tanda silang di catatan hutang atas nama Bu Minda ini, sampai kemudian kami menutup warung, Bu Minda masih menyisakan hutang-hutang atas namanya.

Apakah Bu Minda ini orang susah atau hidup berkekurangan? Tidak! Beliau orang yang terpandang dan hidup mapan. Anak-anaknya pun sudah mandiri dan bekerja di berbagai bidang. Namun sepertinya orangnya memang suka berhutang, dan enggan membayar! Buktinya, suaminya sampai mengeluh karena banyaknya penagih hutang yang silih berganti datang ke rumahnya, terutama dari pihak panglong (penjual bahan material bangunan).  Ternyata, Bu Minda pun banyak berhutang di luaran. Sampai-sampai suaminya pernah mengeluh, bahwa mungkin dia harus mati dulu baru hutang Bu Minda terbayar.

Ucapan adalah do’a. Itu terbukti pada suami Bu Minda. Saat dalam perjalan pulang dari Jakarta menuju Medan, pesawat yang ditumpangi suami Bu Minda jatuh si Sibolangit, menewaskan seluruh awak (12) dan penumpangnya(222). Kejadian itu tanggal 26 September 1997, dan sangat mengggemparkan, serta merupakan salah satu kecelakaan pesawat terbesar dalam sejarah Indonesia.  (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Garuda_Indonesia_Penerbangan_152)

Hampir sebagian besar jenazah tidak dikenali, namun jenazah suami Bu Minda hanya kehilangan sebelah tangganya saja. Seperti kata almarhum, kematiannya memang membuat Bu Minda bisa melunasi sebagian besar hutang-hutangnya, karena mendapat asuransi kecelakaan. Namun hutangnya pada mama? Tidak dibayar sampai akhir hayatnya!
www.rebellinasanty.blogspot.com
tempat suami Bu Minda dimakamkan , photo pinjem dari sini


Bu Minda meninggalkan kenangan buruk pada ingatan saya bukan semata karena hutangnya yang tidak mau dibayarnya. Tetapi karena sikapnya yang sombong, merendahkan serta sok mulia, yang justru membuat kenangan saya atas hutang-hutangnya yang tidak mau dibayarnya jadi tidak pernah hilang.

Saat itu saya sudah selesai kuliah, dan buka usaha di rumah. Bu Minda terdengar sedang sakit. Oleh Bude , ketua pengajian taklim yang saya ikuti, saya diajak untuk membezuk beliau. Ok lah, saya pun ikut Bude ke rumah Bu Minda.

Di sana ternyata saya merasa dipermalukan oleh beliau. Bayangkan, di tengah banyak ibu-ibu lain yang membezuknya, Bu Minda mengeluarkan kata-kata yang mengungkapkan sesuatu tentang mama saya dengan sengaja. Dan itu sesuatu yang tidak enak. Muka saya seperti kerang rebus. Saya tersinggung. Biar bagaimanapun, orang yang dihina Bu Minda adalah mama saya! Ingin rasanya saat itu saya keluarkan semua aibnya, betapa banyak hutang-hutangnya yang masih belum dia bayar, dan catatannya pun masih ada, dan itu tidak lagi ditagih oleh mama saya. Tapi akal sehat saya membuat saya menahan diri, hanya memilih langsung angkat kaki saat itu juga tanpa pamit pada Bu Minda.  Kejadian ini tak pernah hilang dari ingatan saya.

Beberapa bulan kemudian Bu Minda meninggal dunia. Menyisakan kisah tumpukan hutang di mana-mana. Entahlah apakah kemudian dibayar oleh ahli warisnya. Yang pasti, hutangnya pada mama saya tetap tidak lunas sampai kini.
www.rebellinasanty.blogspot.com
photo pinjem dari sini


Dari Bu Minda saya belajar mengenal type-type orang yang (gemar) berhutang. Bu Minda adalah type pertama, yakni : 

 Berhutang bukan karena tidak mampu beli, tapi karena memang tabiatnya gemar berhutang, dan sangat enggan membayar dikarenakan ego, merasa diri lebih tinggi dari orang lain. Type begini biasanya hidupnya cukup mapan, terpandang di masyarakat, serta selalu bersikap manis mulut. Namun kalau diingatkan akan kewajibannya membayar, justru dia berbalik tersinggung, seolah harga dirinya yang di hina. 

Type begini merasa kedudukannya dalam masyarakat membuatnya berhak melakukan yang dia mau. Karena dia merasa orang penting, orang hebat, dan harus dihormati.  Dan type begini, tidak akan kapok berhutang, bahkan di tempat yang sama dengan orang yang sama.

Kadangkala, kedudukan si penghutang ini membuat kita sungkan menolak. Tapi berhadapan dengan type penghutang seperti ini, sikap tegas itu suatu keharusan, kalau tidak mau rugi. Lain halnya kalau kita berniat sedekah untuknya .

Selanjutnya akan saya bahas type orang yang gemar berhutang lainnya, lengkap dengan kisah nyatanya. Tunggu lanjutan kisahnya dibagian kedua




59 komentar:

  1. Ngeri ya mbak utang itu..makanya kl mang ga punya duit aku ga maksain beli sesuatu. Umur manusia cm Allah tahu..iya kl kita ada umur ngelunasi kl nggak...
    Naudzubilah :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hutang kalau sejak awal diniatkan tidak mau bayar, itu memang ngeri akhirnya Mbak Muna. sayangnya, jaman sekarang ini banyak pula yang sengaja berhutang tapi tidak punya niat bayar. ini yang perlu diberi pelajaran. Naudzubillah

      Hapus
    2. bethul itu .. masih banyak orang yang punya tipikal seperti itu, dan kebanyakan yang sy temui para ibu, gimana menyadarkannya ya

      Hapus
    3. susah juga bila bicara soal kesadaran. Karena kalau yang bersangkutan memilih tidak mau sadar, jutaan kali diberi alasan pun tidak akan sadar-sadar :)

      Hapus
  2. Memang ada orang yang punya tabiat seperti itu Mak. Makanya. kalau sy ada teman yang belum kenal karakternya, kalau mau pinjam uang suka saya tanya buat apa. Kalau misal terlalu besar, saya ga berani. Biasanya saya meminjamkan dengan model nothing to lose, artinya saya ga berharap uang kembali. Misal ga dikembalikan saya angap sodaqoh, besok lagi ya ga akan saya pinjami..hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak. iniatkan sodaqoh itu baik. tapi tetap saja model penghutang seperti ini membuat jengkel. apa enggak tahu ya akibat berhutang yang dia enggan membayarntya di akhirat kelak?

      Hapus
    2. Mba Rizka Alyna, kata katanya bikin adem banget kalau utangin ke org emg harusnya berniat nothing to lose ya mba. Tp jangan dipinjami lagi kalau sudah tau tabiatnya.. Saya bbrp x sudah mengalami hal tdk dibayar utangnya, tp karena saya tidak berniat seperri itu alias model htg saya sistem kepercayaan ya akhirnya mengecewakan diri sndri ya mba.. Alhamdulillaah pelajaran berharga mba, niat awal saya harus diperbaiki seperti guru ngaji dulu pernah blg. Niat memberikan hutang kpd org lain harus nothint to lose.

      Hapus
  3. Saya pernah tuh ngalamin. Yang ngutang justru seseorang yang di tempat tinggalnya dikenal sebagai ustad. Saya lupa kalau di masa kecil saya, ibu si ustad ini juga hobi berhutang. Tapi akhirnya terbayar karena kegigihan suami menagihnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bikin miris ya Mbak Laila. Bukannya seorang yang kita anggap tahu agama harusnya lebih menyadari bahayanya urusan hutang piutang yang tidak selesai di dunia?

      Hapus
  4. aduh kalau nemu yang suka ngutang begini emang paling nyebelin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gimana cara Mbak Susan menghadapinya? bagi dong

      Hapus
  5. naudzubillah... :( semoga saya segera bisa bayar hutang sebelum meninggal, aamiin

    Ditunggu lanjutannya, mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. berhutang, rasanya siapapun pernah melakukannya. saya pun punya hutang. Hanya saja yang membedakan antara setiap orang adalah itikad dan attitudenya setelahnya. iya enggak Mak?

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  6. Kalau orang mau utang, biasanya perkataannya manis sekali. Pas ditagih, sering berkelit. Ah, masak duit segitu aja ditagih. Kayak orang susah aja, lu.

    Aduhhhh... gemes banget ma orang kayak gini, ya Mbak Ren. Apalagi kalau masih ada hubungan keluarga. Padahal utang tetaplah utang, berapa pun jumlahnya.

    Semoga Allah menjadikan kita orang amanah. aamiin. :)

    Salam,
    ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul Mbak Ira. Harus diwaspadai kalau mulutnya luar biasa manis waktu mau ngutang. giliran bayar, berkelit dan banyak alasan melulu. amanah, sekarang ini banyak kehilangan makna

      Hapus
  7. Kalau hanya untuk kehidupan sehari hari ya usahakan jangan berhutang karena masih banyak cara untuk menghindarinya yaitu dg membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Namun manusia tentunya tidak akan lepas dari hutang karena kebutuhan manusia memang banyak seperti tempat tinggal misalnya yg harganya setiap tahun bahkan bulan terus naik sehingga memaksa kita untuk membelinya dg cara kredit. Jujur saja secara pribadi saya paling takut berhutang dengan manusia (hutang materi tentunya) karena ketika meninggal hutang itu akan terus dibawa sebelum dibayar, berbeda bila hutang dg bank ada asuransinya sehingga ketika meninggal hutang dibayar oleh asuransi dan tidak membebani ahli waris.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau type penghutang yang saya tuliskan ini, memang berhutang bukan karena tak mampu. Hanya saja tabiat dan ego yang membuatnya memilih berhutang, dan pastinya, malas bayar! penyakit kali ya...

      Hapus
  8. waduh hmhm semoga saja sebisa mungkin jangan menghutang karena menghutang itu beban nya berat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. siapapun mungkin pernah berhutang. asal karena benar-benar butuh dan pastinya punya itikad bayar, serta sikap yang baik tentunya

      Hapus
  9. Naudzubillah....semoga kita tak termasuk golongan ini ya mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul Mbak Kania. Naudzubillah, jangan sampai jadi golongan penghutang bukan karena tak mampu, tapi karena memang tabiat serta tak mau bayar, alias jadi prang yang tak amanah

      Hapus
  10. hutang memang membuat kita bimbang
    kunjungi blog saya ya

    http://Ahmad12345.sharethisstory.net/id-408410-1490

    BalasHapus
    Balasan
    1. hutang membuat hidup kita tak tenang..

      Hapus
  11. Aku salut dg Mak Santy yg masih bisa menahan diri utk nggak memuntahkan cerita ttg hutang beliau walau beliau menyinggung hati Mak Santy. Mungkin nggak semua orang bisa menahan emosinya di saat kayak gitu. Sekarang lagi banyak orang yg dilabeli dg julukan #KelasMenengahNgehe. Mereka adalah yg terlihat dari luar serba berkecukupan, barang branded, liburan ke luar negeri, gadget paling canggih. Tapi ternyata sering berhutang. Ternyata hutangnya bukan utk mencukupi kebutuhan, tapi utk memenuhi keinginannya akan gaya hidup kelas atas. Memang harus punya filter ya, Mak. Kalau mampunya segini, ya jangan memaksakan utk tampil seperti kelas atas.. Huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup Mak Graciemelia, gambaran tentang #KelasMenengahNgehe, cocok disematkan kapada Bu Minda. Memaksakan diri tampil diatas rata-rata warga sekitar, dengan cara mengorbankan orang lain. Miris ya

      Hapus
  12. lindungi keluarga kami dari lilitan hutang ya Rabb :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. dan bantu kami ya Rabb untuk melunaskan hutang-hutang kami..(doa saya)

      Hapus
  13. wah ternyata gak hanya saya aja ya mbak yang kena maslaah hutan gini hadeehh

    BalasHapus
  14. Keluarga saya juga mendapatkan penghasilan dari toko kelontong di rumah. Dari situ bahkan bisa membiayai saya kuliah. Ibu juga nyambi berjualan macam-macam. Tapi duh yaa... saya sering miris kalo denger cerita ibu nagih orang yang gak mau bayar. Sungguh ga punya malu, utang banyak tapi enggan ditagih sampe rumah. Apalagi orang yang hutangnya masih ada tapi gak mau dibayar lagi :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena punya pengalaman yang sama, pasti tahu sakitnya itu ada di sini (#tunjukki dada), kalau ada yang enggan bayar hutang padahal mampu

      Hapus
  15. ya ampun jd suaminya jg jd korban kecelakaan pesawat garuda 97 lalu? 2 org tetangga saya dan 1 temen jg ikutan meninggal di peristiwa itu..

    Ada 1 temen saya yg jg punya kebiasaan berhutang dan ga mw bayar setelahnya mba... otomatis pas dia minta pinjaman uang k saya, ya jd males ngasih ya.. drpd ntr saya kyk debt collector nagih2 ke dia, trs malah dianya yg marah2, ya udhlah, mnding ditolak dr awal... ga enak loh nagih utang itu..

    makanya saya ga abis pikir org2 yg kerja sebagai penagih di bagian kartu kredit... krn saya kerja di bank, tp beda dept, saya srg dpt cerita dr temen2 yg kerjanya emg di bagian itu... ya ampuuuun mba, kalo masuk ke ruangan mrk, lgs gila saya rasa... bentakan, debatan, sampe kdg2 makian kebun binatang udh biasa kedengaran di sana -__-. Kalo saya kerja di situ, mungkin saya lgs resign...ga kuat kayaknya kerja hrs maki2 org ngutang tiap hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga waktu jadi sales avon, banyak lunasi hutang orang lain ke saya. Pusing mau nagih-nagih tapi orangnya ndableg. mending di iklashin aja. sama Mbak, enggak kebayang kerja di bagian tersebut

      Hapus
  16. Saya juga sering heran mereka begitu mudah berhutang, ga dikasih kasihan, dikasih ya itu nagihnya susah, yang ditagih malah marah-marah seakan-akan kita yang yang salah hehehe .. kalau sudah begini saya lebih suka di ikhlasin saja, mudah-mudahan kita diberi rejeki penggantinya, aamiin ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. diiklashin memang bikin hati lebih tenang. Tetapi tetep aja yang suka berhutang dan menjadikannya sebagai hobi susah berhenti dan ngutang lagi di mana-mana

      Hapus
  17. Iya, bahkan ada suami istri yang hobi berhutang tapi ketika ditagih malah menghindar terus, ganti no hp sampai pindah rumah. Padahal dia seorang ustadz dan ustadzah tp ko kelakuannya begitu, tidak bertanggung jawab. Padahal pernah jg sampe di laporin polisi krn menggelapkan uang sebuah yayasan tp...ga kapok2....
    Malah sekarang sedang beraksi lg d sebuah yayasan, dg segudang cerita bohongnya suami istri tersebut bisa dg mudah mengelabui orang lain.
    Naudzubillah.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. naudzubillah. apa enggak sadar ya kalau mati meninggalkan hutang, sekelas meninggalnya syahid saja akan susah masuk surga. Semoga kita terhindar dari bersikap demikian ya...

      Hapus
  18. Koq ciri-cirinya hampir mirip dengan salah satu pelanggan saya,, Ramah,, Penampilannya perlente, rumah bagus lengkap dgn kendaraan roda 4 yg bagus pula,, tapi sayang punya tabiat suka hutang dan tega2nya melalaikan hutang2nya pd pedagang kecil spt saya... Kalau punya uang, dia beli ditempat lain, giliran gk punya uang ngutang kesini,, hmmm... #Jadi_CurcoL

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena ada tipikal begitu Mbak makanya saya tulis ciri-ciri org yang berhutang tapi enggan membayar. Kalau kata temen saya, tipe org begini namanya kelas menengah ngehe, heheheh. So, sikap mbak menghadapi penghutang seperti ini bagaimana? didiemi, ditagih atau diiklashin?

      Hapus
  19. saya juga pernah dihutangin bu, malah sekarang lagi proses. Entah proses apa.
    Bingung saya gimana.

    Ceritanya disini : http://permatakebaikan.blogspot.com/2015/12/catatan-singkat-minjam-uang-nggak-ganti.html
    tp sorry konten bahasanya lumayan kasar. Saya tumpahin semua emosi saya disana soalnya.

    btw saya pinta image nya buat pasang di link tsb ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah baca. Ngerti kalau sampai marah begitu. semoga Allah gantkan uang yang dihutangi oknum tersebut dengan rejeki lain yang lebh banyak ya. Orang-orang begitu akan selalu ada...

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  20. Memang betul, anjing buat orang yang suka hutang, mereka itu sama saja dengan penghuni neraka, iblis jahanam, bangsat sekali orang yang ga tau diri sm hutang2nya.
    Karena itulah Rasulullah tidak pernah mau menyolati mayit yg masih meninggalkan hutang. nazubillahi mindzalik

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga yang mempunyai hutang menyegerakan membayar hutangnya. kalau dia tidak mampu bayar, bukan tidak mau ya karena beda antara mampu namun tidak mau bayar dengan bener-bener tidak mampu,lebih baik dianggap lunas saja

      Hapus
  21. Nah saya punya temen mbak temen akrab malahan, tgl 28-10-2015 dia minjem Rp.1.1jt sm saya. Dia minta tolong bgt dipinjemin soalny takut motorny diambil leasing soalny uda pembayaran terakhir dgn muka melas. Dan berjanji kalo uda motor lunas kan dapet BPKB nah bpkb ny mau digadai utk lunasi hutang saya. Krn kasihan drpda motorny diambil leasing ya saya pinjamin dgn syarat asal dikembalikan. Dan ia janji tgl 1-11-2015 akan dilunasi. Wah apa mau dikata saat uang udah ditangan, dia kayak ga ada utang sm saya kayak pura2 ga tau gitu. Lah kita yg ngutangin kan jadi khawatir. Tgl 01-01-2016 saya tanyain dgn halus soalny temenan uda lama( bukan nagih loh) eh malah saya di caci dan dimaki sama dia. Maksud saya kalau belum bisa bayar ya kita maklumi asal sering2 ngasih kabar klo belum punya uang untuk bayar, jadi rasa khwatir kita agak berkurang, wah berarti si doi msh inget sama utangny. SAMPAI SKRG BLUM DIBAYAR. Wah kalo masalah uang saya msh punya kok. Tapi yg buat saya ga bisa ngelupain hutangny itu krn sifat sombong yg ngutang dan suka merendahkan saya dan teman saya yg satuny. Sifatny yg sok mulia itu yg buat saya sulit utk mengiklaskanny (mirip orang dlam cerita mbak,hehehe) bahkan kalau dia mmg ga mau bayar. Sampe dia masuk liang lahat saya tetap ga ikhlas

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu dia yang bikin kita jengkel. sudah berhutang, tidak punya tata krama. tapi orang-orang begini hanya tinggal menunggu waktu untuk menerima balasanNya

      Hapus
  22. Saya bener2 mau nolong minjemin dia uang TANPA BUNGA. hutang 1.1jt saya potong Rp. 100.000 jadi 1jt wah malah yg ngutangin potong harga. Maksud saya hutangny 1.1jt cukup dibayar 1jt aja buat keringanan dan kalau belum mampu bayar sering kasih kabar ke saya. Biasany utang ga pake bunga kan jatuh tempo. Nah ini saya kasih keringanan lg di kredit aja TANPA BUNGA lagi. Apa mau dikata yv saya terima bukan uang tapi maki2an dari dia. itu yg bikin saya bener2 SAKIT HATI sm tuh orang. Kita uda nolong bener2 bukanny terimakasih, eh malah yg ngutangin dimaki.

    Sudah lumrahnya dunia
    Nagih hutang = mengemis
    Yg ngutang = cuek
    ditelpon = ga aktif
    Di sms = ga di bls
    Fb = diblokir
    Bbm = di dc

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau sudah begitu, sependek pengalaman bergaul dengan orang beginian, akan makin bikin sakit hati kalau terus berusaha menagih hutang pada ybs. Pilihannya sih 2, iklashkan (tapi kalau saya pribadi juga berat untuk iklas dgn org kayak begini), atau tidak usah ditagih lagi, tapi tetap anggap itu hutangnya. yang kedua ini berat buat yang berhutang loh walau secara duniawi dia malah terlihat bebas. soalnya tagihannya nanti...,Allah yang akan melakkukannya. dan saya percaya, dia mau berkelit bagaimanapun, hidupnya tidak akan berkah di dunia dan akhirat.

      Hapus
  23. ASsalamualaikum
    dengar cerita di atas saya rasa ngena juga untuk diri saya pribadi bu
    saya ini hanya anak kuliahan . ya seperti biasa lah anak kuliahan klo megang uang biarpun bisa nyari uang sendiri . tetapi tetap gak bakal banyak
    nah sy punya teman yang kek gni
    yang 1 orang nya waktu minjam hutang sikap nya baik", tapi setelah bayar hutang udah gak tepat waktu terus waktu udh bayar, seperti ada rasa gak suka sama kita . pas balikin nya kek gak iklas gitu . malah jadi kita yang gak enak sama dia .( perasaan saya si kek nya jadi renggang sama dia ) padahal dia gak tau kita ini juga butuh uang pada saat itu . cm karna mungkin dia lebih butuh , jadi saya kasi dia aja dlu
    nah yang 1 lagi ini parah banget ada adik kelas saya waktu SMA dulu . gaya nya kalo sekarang bisa di katain sebagai anak Eksis Gaul . HP nya Iphone semua barang" nya Update, SIkap nya seperti di atas Baik banget kalo udah di sosial Media . bahkan yang gak bisa saya lupakan Itu dia perna pasang PM di BBM nya seperti Ini " Payah ya Orang kalo udah minjam uang sikap ny manis kalo udah di kasi Ilang gak ada kabar " (DAN KARENA SAYA PERNA BACA PM DIA YANG INI LAH JADI SAYA MAU MINJAMIN DIA UANG Senilai 500.000 Karena saya kira dia ini orang baik"jujur Amanah bisa jaga omongan nya )
    dia BBM saya mau minjam uang 500 ribu karena Butuh Untuk hari itu . sebenarnya ada uang di ATM . Cuma ATM yang ada uang nya ketelan di mesin jadi mesti di urus lagi katanya . biarpun uang saya cm 800 semua nya dan saya udh mau make utk jualan untuk bulan puasa ini . dia minjam nya Maret tangal 27 an Gitu janji nya balikin tangal 1 April .
    Karena saya percaya dia tanggal 1 2 3 4 5 gak ada saya tagih mungkin dia lagi sibuk . tangal 7 mulai saya nanya gimana uang nya . dia jawab ntar siang saya transfer . tapi abs itu gak ada kabar . besok" nya saya tanya lagi . " dia minta Nomor rekening saya " terus abis itu gk ada kabar lagi . yaudah saya diamin dlu . saya bbm lagi gak di read nya . kita pasti tersinggung dong kalo liat dia Update terus tapi BBM kita gk di read nya seakan merendah kan kita . saya tunggu sampe 1 bulan . nah udah 1 bulan saya hubungi lagi Via BBM . dia ganti BBM . Saya Coba chat di line gak di read lagi . nah saya sms Ke nomor HP nya ada yang balas bilang " INI ABANG Nya " ( saya rasa si itu dia cm ngaku abang nya ) PARAH NYA LAGI . SKALI SAYA SMS ABANG NYA . KATA ABANG NYA MAU BAYAR . TAPI SEPERTI DI ATAS LAGI TERULANG . bilang nya mau ketemu udah sy tunggu gk ada kabar. bilang minta nomor Rekening udah sy kasi gk ad kabar lagi.
    nah rencana Hari ini Minggu 29 Mei 2016 saya mau nagih kerumah nya . ngmong langsung ke orang tua nya . menurut Ibu apakah saya salah jika melakukan Hal tersebut
    saya sangat kesal ketika membaca blok ini teringat jadi kebaikan kita ini di angap nya main"
    dan 1 lagi saya perna Baaca Kutipan
    " KAMU GAK AKAN TAU SIKAP ORANG TERSEBUT SAMPAI KAMU BERURUSAN SOAL UANG DENGAN DIA" yang kamu liat manis baik Paras nya belum tentu Hati nya " Sekian
    Mohon Saran nya bu pertanyaan saya "

    saya mau nagih kerumah nya . ngmong langsung ke orang tua nya . menurut Ibu apakah saya salah jika melakukan Hal tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikum salam wr wb. Maaf ya baru baca. Menurut hemat saya, karena itu hak Adik, silakan aja ngomong langsung ke orangtuanya. Setidaknya itu ikhtiar dan sebelumnya sudah dilakukan berbagai cara yang ke bersangkutan langsung dengan baik, tapi dianya bersikpa begitu. Hanya saja siap-siap bila respon keluarganya sama dengan ybs, karena seringkali keluarga ybs menolak ikut bertanggung jawab. Tapi, di coba dulu sembari baca do'a nabi Musa saat mau ngomong ke ortu ybs. Semoga berhasil ya Dik..

      Hapus
  24. Mba.. Saya mau nanya
    Hukumnya gimana kalo si penagih dan si peminjam uang itu sama sama lupa kalo ada utang piutang diantara mereka? Contohnya mungkin dulu mereka waktu sekolah pernah pinjem uang 2000, si peminjam dan si pemberi pinjaman sama sama lupa.. Sekarang mereka sudah dewasa.. Gmana itu mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau salah satu yang lupa, yang masih ingat harus mengingatkan. Bila yang ingat adalah orang yang berhutang, dia wajib melunasi hutangnya walau temannya sudah tidak ingat. Namun bila yang ingat adalah si pemberi hutang, dia hrus mengingatkan temannya untuk membayar, atau dia harus menegaskansecara langsung bahwa dia telah merelakan/mengiklashkan hutangnya untuk dianggap lunas. semoga membantu ya

      Hapus
  25. wah hati-hati sama hutang..terpuruk

    BalasHapus
  26. Aastaghfirullah, padahal hutang satu rupiah aja bisa bikin hidup gak tenang dan beratin langkah buat ke surga :(

    Salam,
    Aci

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, betul. Bahkan sekelash syuhada bisa terganjal masuk surga kalau masih ada hutang yang belum dibayar

      Hapus
  27. Assalamualaikum...
    bu sy mau cerita sedikit, sy punya mertua yang sering banget pinjam uang ke anak2nya bukan hanya ke saya saja , tapi kemenantu yg lain pun begitu, bahkan sy pnya 2 kakak ipar yang ngutang ke sy dari tahun 2013 s/d sekarang belum dibayar, setiap ditagih bilangnya nanti & nanti tapi tdk dibayar juga (SKIP), lanjut ke mama mertua sy, mertua sy sering banget pinjam uang ke sy , pertama kali mertua sy pinjam wkt sy baru nikah 2 bulanan, mertua sy pinjm 1jt u/ byr BPJS karena telat byar, tapi sy tdk menganggp itu hutang, sy bilang ke mertua sy " sdh mak jgn dibayar sy ikhlas ngasih buat bantu mak" nah setelah itu selang beberapa tahun mertua sy pinjam uang lg ke sy katanya u/ biaya nikah kakak ipar sy nanti dibyr setelah dpt arisan paling 1 mingguan, wkt itu sy belum tau banyak kebiasaan mertua sy yg sering pinjam uang ke orang trmsk anak2nya,dan sy langsung kasih pinjam, sy tunggu 1 minggu 2 minggu s/d 2 bulan belum juga dibayar2 , hutang itu lumayan besar buat sy klw seratus dua ratus masih bisa sy ikhlasin, apalagi sy sedang bangun rumah yg perlu budget besar, tapi hutang itu tidak dibayar juga oleh mertua sy, setelah hampir 3 bulan lamanya suami sy kasih uang ke sy klw itu utang dari mama mertua sy yg dibayr, sy bilang alhamdullilah ..." tapi ternyata uang yg dibayarkan ke sy itu adalah uang suami sy, yg harusnya tiap bulan dy bayar tukang renovasi rumah & membeli susu u/ kedua anak sy, tapi dy kasih ke ibunya u/ byr hutang ke sy, sy mengerti hati seorang anak yg ingin membantu ibnya, tapi apa ibunya mengerti dengan keadaan anaknya, yg tidak bisa setiap saat harus memenuhi kemauannya, sy berpikir klw ibu mertua sy itu tdk pernah memikirkan ank2nya yg sudah punya keluarga & tanggungan, ibu mertua sy ngambil cicilan mobil tapi yg harus byar anak2nya tanpa berpikir klw anak2nya sdh pny ank & istri.

    BalasHapus
  28. saya jg alamin kyak gini,tmn saya hutang ke saya waktu minta saya d kejar" kaya maling seolah" uang hrs ada dlm 30mnt jd saya turutin aja krn faktor tmn...janji besok dibayar ehh sampai skrng orangnya gaya gk tau n gaya gk punya hutang,sy bukan karakter orang yg nagih jg prinsip sy klo mmang gk d bayar y ikhlaskan tp jujur trkdng jg berat krn nominal lmyan besar n waktu hutang dl saya d kejar"

    BalasHapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge