Sabtu, 14 Maret 2015

Luka Yang Membuatmu Tumbuh

Menjadikan luka sebagai bagian dari perasaan yang membuat kita menjadi pribadi yang lebih bijak dan arif dalam menyikapi hidup
foto koleksi pribadi rebellina
Berbicara mengenai kehidupan, kita cenderung menampilkan diri sebagai seorang yang berjiwa positif, penuh percaya diri, penuh cinta, bertanggung jawab, sensitif, optimis, bersemangat, dan banyak lagi. Kesemuanya merupakan sisi baik dari manusia. Seolah-olah, begitulah seluruh keseharian hidup yang kita jalankan. Sedikit dari kita yang penuh kesadaran diri menampilkan sisi sebaliknya, walau hal itulah yang sedang terjadi pada kita.


Kita terdoktrinasi  sejak kecil untuk tidak boleh mengeluarkan keseluruhan emosi yang kita miliki. Saya masih ingat, saat kecil, bila menangis, maka orangtua pasti akan dengan tak sabaran menyuruh saya berhenti menangis. Tidak pernah ada yang membiarkan saya menangis sampai rasanya rasa sakit yang saya alami ikut menghilang bersama tetesan airmata. Menangis seperti menunjukkan  kelemahan yang yang tak layak terlihat, bahkan kalau perlu disembunyikan rapat-rapat dari muka umum. Jadilah kemudian airmata itu terhenti, tapi rasa sakit tetap terbawa-bawa sampai ke dalam hati.

Betapa sering kita sendiri pun sebagai orangtua, memaksa anak untuk tidak menangis lama-lama, walau mungkin saja hal itu sebab  rasa sakit yang ia alami, misalnya, terjatuh sampai kakinya berdarah. Kita lebih suka melihat mereka berbuat tingkah lucu yang membuat kita terpingkal-pingkal karenanya. Begitulah kita, manusia, tumbuh menjadi pribadi yang cenderung menutupi luka, dan hanya menampilkan sisi positif diri kita semata.

Sejatinya, perasaan luka dan sakit yang mendera kita pun adalah  emosi yang membuat kita tumbuh lebih bijak dan arif. Bukan semata-mata perasaan emosi yang bernilai kegembiraan, cinta, keberanian untuk bersikap tegar yang hanya menjadikan kita menjadi pribadi yang bertumbuh.. Perasaan luka dan sakit pun bila disikapi dengan cara yang positif akan membuat kita tumbuh menjadi pribadi yang bijak.

Perasan luka dan sakit dimaksudkan untuk membangkitkan kita, menyadarkan kita akan potensi diri yang selama ini terpendam. Perasaan luka dan sakit itu merupakan suatu perasaan yang harus diterima dengan rasa iklash dan sukarela. Dengan demikian, penerimaan kita terhadap perasaan luka dan sakit, sama halnya dengan penerimaan kita terhadap perasaan hidup dan kebutuhan akan cinta. Sama-sama perasaan. Jadi tak perlu menyembunyikan perasaan luka dan sakit, serta merasa malu terhadap apa yang kita rasakan mengenai rasa sakit dan luka yang kita derita. 

Dengan menerima sepenuhnya bahwa kita mengalami luka dan sakit, sesungguhnya itu penerimaan hakiki kita terhadap hidup kita sendiri. Kita belajar untuk mengatasi, berhadapan serta bekerja sama dengan perasaan tersebut.  Jika kita menghindari, bahkan bersikap malu bahwa kita mengalami kelukaan dan rasa sakit, justru menunjukkan kita tidak merasa nyaman dengan diri kita sendiri. Kita hidup di balik tabir. Diri kita yang ingin kita tunjukkan pada dunia, dan diri kita sesungguhnya dalam hal ini menjadi pribadi yang berbeda.

Berdiri diatas perasan yang luka dan tersakiti, serta menyadari hal itu sepenuhnya, bukanlah pula menunjukkan kelemahan diri. Justru dengan menyadari bahwa kita harus berhadapan dengan perasaan luka dan sakit, akan membangun kekuatan diri untuk bisa bekerja sama dengan perasaan tersebut dan melanjutkan hidup. 

Bukankah saat kita menyadari realita kehidupan yang sebenarnya, dimana menjadi pribadi yang kuat adalah satu-satunya pilihan yang harus diambil saat pdiri kita merasa luka dan tersakiti, adalah kekuatan diri yang akan kemudian menyembuhkan, setidaknya mengurangi luka hati kita? Dan itulah yang membentuk proses kita tumbuh menjadi lebih bijak dan arif menyikapi hidup.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge