Selasa, 24 Maret 2015

Ketika Cinta Memanggil




 Rasanya baru kemarin aku mendekapnya dalam pelukan, menyusuinya penuh kasih sayang, dan memakaikan popok untuknya. Namun lihatlah kini. Aku harus menyediakan tenaga ekstra saat dengan polosnya dia duduk dia dipangkuanku. Dia, yang kini berbobot lebih dari 30 kg dan tingginya pun hampir menyamai diriku.

Namanya Fatih Abdurrahman. Usianya akan tepat 10 tahun Juli mendatang. Dan dia belum bisa berbicara jelas, bahkan mengucap kata Bunda, seperti yang kuharap. Hanya gumaman-gumaman yang tak jelas, seperti bayi yang sedang berusaha mengenal kata.  Namun aku tak menyerah mengajarkannya mengucapkan kata. Dan aku bangga dengan kemajuannya, walau aku pun harus menyiapkan diri bahwa bisa saja seumur hidupnya Fatih kemungkinan tidak bisa berbicara sejelas anak-anak lainnya.


Kalau melihat ke belakang, tak ada yang salah dalam proses mengandungnya. Hanya di awal-awal kehamilan, aku pernah menderita diare akut, sampai harus di rawat di IGD Hermina Bogor untuk semalam. Gara-garanya makan hati sapi dan tumis kangkung. Apakah itu penyebabnya? Wallahua’alam.
Dari seluruh persalinan yang kujalani, prose kelahiran Fatih yang sangat amat mudah dan murah. Dialah satu-satunya anak yang kulahirkan di klinik bidan, sementara yang lainnya harus di rumah sakit besar.

Dia pulalah yang kulahirkan dengan normal, sementara yang lainnya dengan tindakan, mulai dari vakum sampai sectio. Dia pulalah yang kulahirkan tanpa aku harus mengalami pendarahan, sementara yang lainnya aku selalu harus dibantu tranfusi darah dan untuk kasus anak pertama, aku hampir kehilangan nyawaku karena sudah sampai titik kritis dimana kesadaranku sudah sempat menghilang.

Fatih pulalah bayi yang kulahirkan dengan berat badan paling ringan di antara saudara-saudaranya yang lain. Beratnya cuma 3,1 kg, sedangkan yang lainnya 4 kg ke atas, bahkan si bungsu mencatat rekor dengan berat 5,25 kg. Dan di atas semua itu, Fatih adalah terkhusus diantara yang lainnya, karena dia memang berkebutuhan khusus.

Mengasuh anak berkebutuhan khusus, jelas tidak mudah. Butuh kelapangan hati dan dukungan keluarga serta finansial yang tidak kecil. Aku tidak memiliki 2 hal yang terakhir, tetapi aku bisa menjadikan diriku orang yang bisa berlapang hati mengasuhnya. Tapi bukan berarti aku selalu sabar menghadapinya. Menarik diri sejenak, lalu menangis sejadi-jadinya di pojok kamar, sering kulakukan saat beban rasanya sudah memuncak. Tapi setelahnya, melihat wajahnya dan tatapan matanya yang polos, membangkitkan kemali semangat yang merapuh. Bagaimanapun, dia anakku, dan dia butuh aku.

Sebesar apapun usaha yang kulakukan untuk perkembangan Fatih, tetap saja aku merasa kurang. Aku bukan ahlinya dan aku terbatas dalam banyak hal.  Aku pernah mendatangi rumah autis di kota ini, namun melihat prosedur dan tarifnya, aku harus sadar diri, kami belum mampu saat ini untuk melakukan terapi secara berkesinambungan. 

Obsesiku ingin memberikan terapi buat Fatih secara khusus dengan ahlinya, membuat aku memutar otak ingin mencari penghasilan sendiri. Menulis adalah salah satu pilihan yang bisa kulakukan dari rumah. Namun, untuk itu mau tak mau aku harus fokus.

Aku mencoba fokus di situ. Tapi ternyata, apa yang kita harapkan, seringkali tidak sesuai dengan kenyataan. Saat aku mencoba fokus, mau tidak mau ada hal lain yang terabaikan, salah satunya Fatih. Dan imbasnya, dia mulai sering ‘rewel’, minta perhatianku. Misalnya, saat tengah serius menulis, dia menarik tanganku untuk menemaninya di kamar. Padahal hari masih pagi atau siang. Dan tak cuma itu, aku harus duduk seperti maunya, menghadap kemana, kaki dalam posisi apa,  dan banyak lagi peraturan tidak tertulis dan tidak terucap darinya. Bila itu tidak kulakukan, dia mulai tantrum dan seringkali sikap tubuhnya menyakiti diriku, semisal kaki yang tanpa sengaja menendang perut dan rusukku.

Fatih bukan anak yang suka menyakiti oranglain secara fisik. Hanya saja saat dia tantrum, dan bila posisinya di atas kasur, kakinya suka bergerak-gerak tidak tentu arah, dan kakinya itulah yang sering tanpa sengaja mampir di tubuhku yang saat itu diharuskannya duduk di dekatnya.

Karena pikiranku lagi tersandera oleh obsesi ingin mencari penghasilan yang akan kugunakan untuk terapinya, sikap Fatih kuanggap sebagai penghalang. Aku jadi uring-uringan, dan berujung ke stress yang meningkat ke depressi. Tidak bermaksud menyudutkan Fatih tapi sikapnya saat itu memang membuatku hampir tidak bisa melakukan apa-apa. Jangankan untuk menulis, mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya pun banyak terkendala, sementara aku tidak punya asisten rumah tangga. Semua hal kulakukan sendirian. Dan semua itu semakin menambah beban pikiranku.

Aku beruntung, suamiku dan anak-anak yang lain sangat tahu kondisi bundanya, dan mereka membantu meringankan beban pekerjaan dan beban hati ini sebisa mungkin.Di keluarga kecil kami inilah, aku benar-benar merasa kami saling memberi kekuatan satu sama lainnya.

Cukup lama juga aku tersandera antara obsesi dengan keinginan pribadi, dan kenyataan yang kuhadapi tidak sejalan dengan obsesi. Aku menjadi tidak bahagia, apalagi bila rasa sabar menghilang ketika menghadapi sikap Fatih. Setelahnya yangn muncul rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam. Terlalu sering aku meminta maaf sembari memeluk dan mencium anakku itu kala dia tertidur, dengan air mata masih menetes disudut matanya, akibat ketidaksabaranku terhadapnya sebelumnya.

Pada satu titik, aku merasa lelah yang amat sangat. Lelah lahir bathin. Lelah menghadapi pertentangan-pertentangan di dalam hati yang terdalam. Aku harus memilih, dan aku tahu betul pilihan mana yang harus kuambil. Dan keyakinan akan pilihanku semakin menguat saat aku meminta petunjuk dariNya dalam tangisan do’aku selepas sholat.

Saat ini, aku menarik diri dulu  dari obsesiku ingin menjadi penulis. Seperti yang pernah kutulis di salah satu postinganku, aku ingin menjadi penulis yang bahagia. Nyatanya, untuk berproses menjadi penulis aku butuh fokus, dan proses fokus itulah yang membuatku tidak bahagia. Mungkin bagi orang lain, antara menulis dan kegiatan lainnya bisa sejalan. Tapi untukku, aku tidak bisa. Intuisiku sebagai ibu memanggilku untuk mencurahkan waktuku lebih besar pada keluarga, anak-anak, terutama Fatih. Dan itu tidak bisa kulakukan setengah-setengah, karena tidak ada yang bisa menggantikan posisiku saat ini.  Fatih hanya bisa ditenangkan olehku. Dan dia membutuhkanku melebihi terapi-terapi yang kuangankan untuknya. Dia butuh cintaku seutuhnya, dan fokusku padanya.

Sejak pilihan itu kuambil, keadaan jauh lebih baik. Fatih jauh lebih kooperatif. Sikapnya lebih tenang, bahkan dia merespon kata-kata yang kutujukan padanya lebih banyak dari sebelumnya. Bila dilarang, dia menurut. Bila dipanggil namanya, dia menoleh. Dan banyak hal lainnya yang membuat aku bangga padanya.

Aku masih bisa menulis, setidaknya ngeblog. Ini adalah salah satu  me-timeku, di samping berkebun. Tapi aku tidak lagi melekatkan obsesiku ingin menjadi penulis dalam kegiatan menulisku ini. Aku melakukannya untuk diriku sendiri, membahagiakan diriku sendiri, agar aku tetap punya energi lebih menjalani hari.

Aku menjadi pribadi yang lebih lapang, terutama sejak menghindari membuka akun media sosialku. Bukan apa-apa, di akun tersebut aku banyak terhubung dengan grup kepenulisan, dan membaca semua itu hanya membuat obsesiku bangkit kembali. Aku ingin meredamnya dulu, sampai aku siap melihat lajunya teman-teman penulis tanpa aku harus berkecil hati. Entah sampai kapan, waktu nanti yang akan menjawabnya.

Pada Allah kutambatkan keyakinan akan pilihanku. Mungkin saat ini aku bukan apa-apa di luaran sana. Bukan orang yang menghasilkan karya yang membanggakan, bukan pula orang banyak memenangkan penghargaan. Tapi, di rumah ini, aku adalah bunda yang mereka butuhkan, terutama oleh Fatih. Mendedikasikan hidup dan cintaku demi perkembangan mereka saat ini adalah pilihan yang kuambil, dan itulah yang mereka butuhkan.

Melakukan semua itui klash dan bahagia, aku menyebarkan aura kebahagian ke seisi rumah. Dan aku berkeyakin, akan tiba waktu untuk aktualisasi diriku sendiri di suatu waktu nanti sebagai reward dariNya. Kalaupun tidak, aku memilih tetap bahagia dengan pilihanku ini.

Aku tahu, ini hanyalah salah satu fase ujian dariNya. Akan ada ujian-ujian lainnya kedepannya. Aku minta Allah memberiku kekuatan untuk menjalani ujian ini dan ujian-ujian lainnya kelak. Bukannya, hekakat hidup adalah ujian. Dan hidupku memang sejak kecil tidaklah mudah, dan aku berhasil melewatinya. Dan aku yakin, aku pun akan bisa melewati ujian hidup ini seperti sebelumnya.

Cinta itu sedang mengujiku, memanggilku dengan caranya  sendiri. Dan aku datang, memenuhi pangggilan cinta itu, dengan perasaan cinta …





29 komentar:

  1. Masya Alloh... terharu mbak. Semoga Alloh senantiasa memberikan kesabaran buat mbak sekeluarga. Semoga fatih semakin berkembang dari hari ke hari. *Kiss and big hug* :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin. doakan ya Mbak. Fatih selalu menunjukkan kemajuan, walau kadang-kadang sesekali mundur ke belakang. Tapi tetap ada progress yang positif.

      Hapus
  2. Subhanallah mak, anak memang segalanya..katanya, ibu yg bahagia akan menghasilkan anak yg bahagia. saya jg masih berusaha untuk itu. tak terbayang perjuangan mak, pasti luar biasa sekali. saya berdoa mak bisa menjalani hari2 bersama anak2 termasuk Fatih dengan bahagia..apapun ujiannya..salam sayang buat Fatih

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih dukungannya Mak Kania. Setuju sekali mengenai ibu yang bahagia akan menjadikan anak-anak yang bahagia juga. itulahyang sedang saya lakukan, agar anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang positif

      Hapus
  3. Semangat mak...Allah bersma org2 yg sabr seprti emak...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. insha Allah. Kata sabar memang ternyata banyak sekaliditemukan dalam Alqur'an, dan memang hidupini ujian bagia kesabaran.

      Hapus
  4. Subhannallah...terharu bacanya mbak, semoga Fatih dan mbak sekeluarga diberikan kesehatan. Fatih gemuk ya mbak, semoga menjadi anak sholeh yang bisa membahagiakan orang tua, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Fatih memang gemuk, saya berusaha mengurangi kelebihan berat badannya, tapi susah. Makasih do'anya ya.

      Hapus
  5. jadi ingat kata-kata ibu saya. tiap anak punya ceritanya sendiri. ada yang pas kecil 'nyusahin' tp gedenya nyenengin. ada yg lahirnya sulit tp gedenya mencuri hati. ada yg pas sekolah bermasalah tp pas udah kerja manjain orang tuanya.

    pun setiap ibu punya ceritanya sendiri ya mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. dan setiap kisah pasti unik, karena setiap manusia itu unik, termasuk anak.

      Hapus
  6. Buat anak, ibunya adalah segala-galanya, itu yang penting. Selamat berjuang Mak, saya dan setiap orang pasti juga menghadapi ujian hidup meskipun dlm wujud yg berbeda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya Mak, ujian itu akan berlangsung seumur hidup. kadang-kadang sajak ita tidak menyadarinya.

      Hapus
  7. Aku nangis bacanya, Mbak. You are a great mom, don't say you are nothing, you meant the whole world to your kids.

    Peluk erat. Tetap semangat ya Mak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih. dukungan yang menyejukkan dan menguatkan hati. Insha Allah semangat terus dipelihara

      Hapus
  8. Keep standing strong, mak Santy.
    Kita tidak pernah tahu ujung cerita yang ditulis Sang Pemberi Kehidupan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Berjuang agar tetap kuat dan tegar sampai batas waktu yang diberikanNya di dunia ini

      Hapus
  9. Salam kenal Mak... saya ngga bisa bilang apa-apa.. selain semoga terus sabar dan semangat Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. dukungan semangat itu sudah sangat meringankan hati dan membantu. Terima kasih ya, dan salam kenal juga

      Hapus
  10. Jadi ingat Kayla, anakku yang nomor dua, 10 tahun juga, tapi lebih berat 35 kg :)
    Suka protes kalau disamakan dengan kakaknya.
    Terharu membaca ini, sampai mau nangis. Fatih pasti bangga punya bunda seperti dirimu, Rebellina <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fatih terakhir kali nimbang berat badannya itu 3 tahun yang lalu. sekarang, dia makin'berat' aja. Pengen nuruni berat badannya, tapi masih belum tahu caranya. Mak Indah melakukan diet untuk ananda Kayla?
      Anyway, makasih Mak Indah untuk suntikan semangatnya

      Hapus
  11. peluk erat mba shanty....saya jadi ingin bantu mba..saya jg begitu terobsesi utk dpt uang dr menulis tp anak2 jg butuh perhatian... bagaimana jika kolaborasi,..pengalaman mba bisa dikumpulkan dan digabungkan dg teori yg akan saya cari (meski saya pun belum menguasai) namun inshaa allah ada jalan dr allah..konsepnya menyerupai isi buku "oki"

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, saya tertarik banget Mbak Ketty. lewat jalur apa nih agar kita bisa tetap melanjutkan omunikasi mengenai ini?

      Hapus
    2. email sj mba..kettyhusnia@gmail.com. saya selalu buka. karena ngurus anak ga ada habisnya jadi nulis sj segala bentuk pengalaman ibu. jk tidak sempat, di kertas saja. setelah itu diposting. setiap postingan ibu adalah ide buat saya. pelan2 saya juga usaha cr teori dr pengalaman ibu. bismillah ya bu...smg lancar.

      Hapus
  12. menjadi bagian terpenting dalam hidup seseorang itu berkah yang luar biasa... dan mbak sudah melakukannya... terhadap Fatih... (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. insha Allah. semoga dimudahkan olehNYa

      Hapus
  13. Subhanallah... Mbak kisahmu benar2 membuatku terharu. Mengingatkan untuk lebih banyak bersyukur. Semoga dirimu selalu kuat dan sabar. aamiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih Mbak Ira, untuk dukungan dan do'anya. doakan agar kuat dan sabar selalu akunya ya.

      Hapus
  14. terharuuu :') semangat ya mbak! semoga selalu dilancarkan. aamiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. insha Allah semangat selalu. makasih dukungannya ya

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge