Sabtu, 07 Maret 2015

Hikmah Saat Sakit…


www.rebellinasanty.blogspot.com
credit photo
Sudah sebulan blog saya kosong melompong. Tidak ada postingan sama sekali. Baru 2 hari kemarin saya bisa memulai mengisinya kembali. Turunkah semangat menulis saya? Tidak. Saya hanya diberi sentuhan ‘kasih sayang’ olehNya. Pemilik Hidup sesungguhnya.

Saya masih ingat, waktu itu hari Sabtu, 7 Februari 2015. Saat bangun membuka mata di pagi hari, tiba-tiba pandangan mata saya terasa berputar. Jendela kamar, dinding, dan segala yang disekeliling saya, terasa bergerak berputar dengan cepat awalnya, lalu melambat. Saya istigfar sambil berucap, “Gempa!”. Namun beberapa saat kemudian saya sadar, bukan gempa yang terjadi, melainkan ada yang tidak beres dengan kepala saya.

Mencoba menghilangkan pikiran panik, saya pun berpikir bahwa ini hanya akan sesaat saja. Nanti juga hilang. Nyatanya, saat kaki menjejak lantai kamar, saya hampir terjatuh, karena lantai pun terasa bergoyang. Lagi-lagi istighfar.  Akhirnya saya berjalan ke luar kamar dengan meraba-raba dinding sebagai penguat pijakan.

Kalau sakit kepala biasa, berupa berat di sebagai kepala atau keseluruhannya, itu sudah langganan. Saya bahkan menyediakan obat khusus untuk itu bila sakit sudah tidak tertahan. Namun seumur-umur, baru kali itu saya mengalami sakit kepala berputar-putar seperti itu. Setahu saya, itu vertigo. Dan saya merasakannya selama 3 minggu penuh.

Selama 3 hari awal mengalami vertigo, saya hampir tidak bisa bangun dari pembaringan. Kalau saya bangun, jalannya harus lambat-lambat dan dituntun suami atau anak-anak. Khawatir terjatuh. Sungguh tidak enak rasanya  saat hanya bisa berdiam diri di pembaringan. Sempat di dera rasa cemas yang sangat, bagaimana bila seumur hidup saya invalid begini?

Suami dan anak-anak mengingatkan untuk tidak cemas berlebihan, dan menanamkan sikap positif. Sekali lagi saya melihat betapa besarnya kasih sayang suami dan anak-anak pada saya. Dan itu menambah semangat saya untuk sembuh.

Di hari ke empat, saya mencoba beraktivitas normal. Sudah bisa berjalan ke sana kemari, walau jalannya sampai miring-miring, karena perasaan saya, bumi yang saya pijak bergoyang-goyang. Namun ternyata selama seminggu penuh, saya masih banyakan harus istirahat di kasur, walau sudah bisa masak  karena kasihan anak-anak dan suami, selama saya sakit, mereka banyakan makan  pakai telur dadar dan nasi goreng. Mencuci pakaian juga sudah bisa saya lakukan, walau selepas  melakukan satu kegiatan, saya harus beristirahat dulu. Tidak seperti biasalah.

Ketika saya coba duduk di depan komputer dan mencoba menulis, ternyata saya masih belum sanggup. Otak ini rasanya lelah sekali, dan perut saya mual. Saya putuskan, istirahat dari menulis blog, termasuk mantengi media sosial seperti yang biasa saya lakukan.

Sebagai gantinya, saya mencoba menyibukkan diri, karena tidak nyaman harus berbaring terus. Paling tidak ada yang bisa saya lakukan agar semangat tetap terjaga. Saya pun membuat ketrampilan buat anak-anak dengan cara membuat gelang dari botol plastik bekas minuman. Saya lakukan sambil duduk di atas kasur. Kalau lelah, saya baring sejenak. Hasilnya…, anak-anak bersorak kegirangan saat melihat gelang buatan saya untuk mereka. Melihat mereka riang, saya pun makin semangat
.
www.rebellinasanty.blogspot.com
Gelang dari plastik bekas minuman, buatan pribadi rebellina



Saya pun kembali melakukan aktivitas berkebun, sesuatu yang sudah agak lama terabaikan, baik karena cuaca yang tidak bersahabat, dan rasa malas. Ternyata, semua hal yang mermbuat hati saya senang dan merasa bahagia itu, sangat membantu kesembuhan saya. Termasuk juga memasak makanan yang saya senangi, khusus buat saya sendiri.
www.rebellinasanty.blogspot.com
 jalanan setapak halaman belakang, foto koleksi pribadi rebellina

Untuk yang satu ini memang saya jarang lakukan, karena selama ini mikirnya repot buat menu masakan yang berbeda dari keluarga. Masakan yang saya suka sederhana sebenarnya, tapi lidah  anak-anak dan suami kurang bisa menerimanya, seperti tumis super pedas paria, bunga pepaya, dan daun pepaya. Bukan pedasnya yang jadi masalah, tetapi rasa pahit dari ketiga bahan masakan tersebut.  Sedangkan saya, justru suka paduan rasa pahit dan pedas.

Selain semua di atas, mendekatkan diri kembali padaNya, itu justru obat yang paling ampuh. Saya akui, beberapa waktu belakangan, banyak hal membuat hati saya sedih, dan merasa menjadi pribadi yang kurang bersyukur. Akibatnya, Allah menyentil saya dengan memberi ujian sakit.  Saya mencoba menyikapinya dengan memperkuat hapalan ayat Qur’an, memtadabbur isi Qur’an, membaguskan sholat, dan membaca Qur’an pagi dan selepas maghrib. Itu coba saya lakukan konsisten setiap hari.

Menjauhkan diri dari hal-hal yang membuat hati saya sedih, juga sangat menolong. Salah satunya adalah, berhenti memantau FB. Terlepas dari media sosial satu ini, saya merasa kembali menjadi manusia yang penuh syukur. Ada banyak hal  negatif yang saya pribadi rasakan dari media satu ini, dan tidak aktif di dalamnya selama beberapa minggu,  ternyata membawa pengaruh positif, dari sisi ruhiyah yang kemudian efeknya mempengaruhi fisik. Saya putuskan untuk cuti dari mantengi FB sampai waktu tak terbatas. Kalau ingin sharing tulisan, saya bisa lakukan dari blog tanpa harus masuk dan terlena mantengi timeline.
Alhamdulillah, semua itu bisa membuat saya perlahan-lahan sembuh dari vertigo, walau belum normal total. Kini saya mencoba lagi menulis, karena menulis itu seperti kebutuhan bagi saya.

Banyak sekali hikmah yang saya petik dari sakitnya saya sebulan belakangan ini. Memang, untuk segala apapun yang terjadi pada diri kita sebagai manusia, kita bisa memandangnya dari dua sisi. Sisi positif dan negatif. Dan itu sepenuhnya pilihan di tangan kita. Saya memilih untuk memandangnya dengan cara positif.

Hikmah Saat sakit yang saya peroleh diantaranya adalah:

1.       Kembali dekat kepadaNya, Allah Sang Pemilik Hidup. Sakit itu meluruhkan kesombongan tanpa sadar yang mungkin pernah hinggap di hati, bahwa kita bisa melakukan segalanya. Cukup Allah beri sedikit sentilan, ternyata kita baru sadar, bahwa kita bisa saja menjadi mahkluk tanpa  daya yang bahkan hidupnya sangat tergantung pada bantuan orang lain.

2.       Sakit itu mendekatkan kembali perasaan cinta pada keluarga. Saat sakit, terlihat bagaimana reaksi keluarga yang sebenarnya. Dan saya merasakan betapa besar kasih sayang suami dan anak-anak pada saya.

3.       Sakit membuat kita banyak waktu untuk merenung dan melakukan hal lain yang selama ini kita lalai bisa melakukannya. Saat sehat saya lebih banyak melakukan hal sia-sia hanya untuk melihat celotehan yang banyak membawa efek negatif ke timbang positif. Saat sakit, saya beralih mengkaji isi AlQur’an, dan ternyata membawa hal positif untuk saya. Karenanya saya bertekad untuk meninggalkan hal negatif, dan mempertahankan dan berusaha konsisten melakukan hal positif, yakni cuti dari media sosial dan lebih banyak mengkaji AlQur’an

4.       Sakit ternyata mengajarkan saya untuk sabar. Dan Qur’an banyak sekali menjabarkan sabar di dalamnya. Semoga saya bisa konsisten mampu bersikap sabar, terhadap segala hal.

5.       Sakit juga membuat saya menjadi orang yang penuh syukur dengan apa yang saya punyai, dan jalani saat ini. Setidaknya, saya kembali belajar menerapkan ilmu Sabar, Syukur, dan Iklash yang pernah jadi motto hidup saya.

6.       Banyak lagi.

Dan sebagai masukan mungkin bagi yang membaca blog ini, saat sedang sakit, pikiranlah yang akan membantu kesembuhan kita. Jaga agar pikiran tetap positif dan happy alias bahagia..

 Jangan terpaku pada rasa sakit itu sendiri. Alihkan dengan melakukan hal-hal yang membuat hati kita senang, seperti melakukan hobi kita selama ini. Namun tetap tahu batasan tubuh. Atau juga memakan makanan yang kita senangi.

Ingat mati itu sangat perlu, tapi perlu diingat dengan mengingat mati, itu menjadi motivasi untuk mengisi waktu dengan hal bermanfaat, tidak saja bagi diri sendiri, namun juga untuk manusia lainnya. Karena kita sebagai makhluk sosial, kedekatan pada manusia lain itu sangat penting, terutama keluarga di dekat kita.

 Jangan jadikan sakit membuat kita mengisolir diri dengan semata hanya mendekatkan diri pada Allah, lakukan interaksi pada manusia lain dengan menjadikan diri bermanfaat walau dalam hal kecil apapun. Itu sangat membantu proses kesembuhan kita.

Obat itu hanya salah satu sarana, namun sekali lagi, pikiranlah yang utama. Banyak zikir, dan istighfar, serta sabar, agar sakit tidak menjadi keluhan semata, tetapi berganti pahala. Dan cob atetap beraktivitas yang menyenangkan hati, jauhkan diri dari hal-hal yang mebuat pikiran berat dan sedih. Karena sesungguhnya saat sakit, Allah sedang menggugurkan dosa-dosa kecil kita. Wallahua’alam.




8 komentar:

  1. syafakillah mak rebellina,, terima kasih untuk sharingnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama. berharap bisa bermanfaat

      Hapus
  2. Terima kasih mak, tulisannya nyampe ke hati. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama. alhamdulillah kalau nyampe ke hati. ditulisnya dengan hati:)

      Hapus
  3. Maaaaak, betul banget. kita butuh puasa sosmed untuk sejenak. saya pernah pas abis anak2 sakit, saya yg jatuh sakit. panas sampe 39 derajat, alhamdulillah segera pulih karena keingetan keluarga ga ada yg ngurus...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kekuatan cinta, karena memikirkan ada orag lainyang amat membutuhkan kita, bisa jadi pemicu kesembuhan diri dari sakit ya Mak. Itu yang juga saya alami.

      Hapus
  4. Alhamdulillah sdh sembuh dan bisa ngeblog lg ya Mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah. betul Mak Rita, akhirnya bisa ngeblog lagi. Ngeblog jugaternyata membantu mengurangi rasa sakit, karena pikiran teralihkan

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge