Rabu, 07 Januari 2015

Berbagilah Denganku ,Karena Kutahu Bagaimana Rasanya Sendirian…

www.rebellinasanty.blogspot.com
Foto diambil dari : quotesvalley.com


Berbagilah Denganku,
Karena Kutahu Bagaimana Rasanya Sendirian…

Kau tahu bagaimana rasanya merasa sendirian? Bukan karena ketiadaan orang lain disekelilingmu. Melainkan karena engkau menanggung beban yang hanya kau tanggung seorang diri, tanpa tahu kepada siapa harus berbagi. Kau hanya butuh teman untuk mendengarkan, bukan untuk menghakimi. Namun nyatanya, di era ketika waktu begitu menjadi berharga, dan setiap individu berlomba-lomba bersaing dengan waktu untuk mencapai tujuannya, semua orang merasa hidupnya sendiri begitu berat. Apalagi kalau harus ditambah dengan mendengar curahan hatimu. Begitukan?


Atau, ketika engkau berbagi segala kisah yang menjadi rahasia terdalam dari hidupmu kepada seseorang yang begitu engkau percaya, namun nyatanya, kisahmu menjadi konsumsi publik karena ulahnya. Bangunan kepercayaanmu menjadi runtuh, dan engkau merasa demikian terpuruk.

Bagaimana dengan banyak saran-saran motivasi? Kau hanya perlu menuliskannya, agar bebanmu bisa berkurang. Tapi banyak alasan yang menyebabkan kau tidak bisa melakukannya. Karena ini menyangkut orang-orang yang terdekat, bisa dekat dengan dirimu pribadi, suamimu, keluarga besarmu, lingkungan kerjamu, orang-orang penting yang mungkin orang lain tidak akan mengira menjadi penyebab bebanmu. Betul, begitu?

Atau dogma yang tertanam kuat bahwa aib tidaklah perlu diungkapkan agar Allah kelak menutup aibmu nanti. Dan untuk semua itu, terpaksalah engkau menanggungnya seorang diri. Berpura-pura semua akan baik-baik saja. Atau waktu akan menjadi penyembuh luka. Benarkah kiranya?

Kadangkala, kau merasa demikian putus asa. Tidak ada yang mau peduli, hanya untuk mendengar dengan hati. Bukan mendengar karena  basa basi, kemudian sang pendengar akan menuliskan keluhanmu di linimasanya, menertawakannya tanpa beban. Bukannya bebanmu akan berkurang, hal seperti itu malah seperti menabur garam di atas luka. Pernah mengalami hal itu?

Sempat kau melakukan tindakan yang sia-sia. Masih untung sekiranya engkau masih punya iman untuk tidak terjerumus dalam tindakan sesat berujung mati yang hina. Tapi, di luaran sana, masih banyak kau-kau lain yang tidak beruntung. Yang memilih menuntaskan masalahnya di dunia ini dengan cara singkat. Padahal, kadang kala mereka hanya ingin di dengar. Hanya ingin di dengar. Bukankah begitu?

Kau mengalihakan segala curhatan hatimu yang terdalam, padaNya. Betul ada kelegaan. Tetapi jujurlah, kau butuh manusia lainnya untuk tempat berbagi juga di dengar.  Dengan demikian kau merasa eksistensimu sebagai manusia itu ada.Kau tidak ingin terlupakan, apalagi diabaikan. Termasuk dengan rasa luka, dan trauma yang pernah kau dapatkan.

Kau pun ingin orang lain tahu apa yang kau rasakan, apa yang kau derita dan alami. Dan kau pun ingin agar orang lain tak mengalami hal yang sama seperti apa yang kau alami. Agar orang lain bisa mengambil pelajaran dari sisi kehidupanmu. Namun lagi-lagi kau terkendala oleh batasan-batasan etika dan agama.

Dalam hal itu, kau seakan ‘dipaksa’ oleh keadaan untuk tetap diam. Kalau kau bersuara, dosa akan menimpa dirimu. Kalau kau bersuara, dunia tidak berpihak padamu, karena kau berhadapan dengan sesuatu yang berbeda dengan kelaziman. Seperti anak dengan orangtua, kelaziman hanya membenarkan sikap orangtua. Atau istri dan suami, dogma mengharuskanmu untuk taat pada suami. Istri pembangkang tempatnya adalah neraka. Relasi mertua dan menantu, atau bawahan dengan atasan dalam tempat kerja, dan banyak lagi. Kau pasti salah satu diantaranya bukan?

Sungguh tak enak berada dalam posisi seperti itu. Kau melihat segala hal diluar dirimu baik-baik saja, sedangkan kau harus berjuang sekuat tenaga untuk mengikuti pusaran dunia yang baik-baik saja. Kau ingin berteriak minta tolong. Tapi semua hal bergerak cepat dalam dinamikanya, hampir tidak menyisakan tempat untukmu di dengar. Sampai kau merasa hidupmu demikian hampa…

Sesungguhnya, kau tidak sendirian. Selalu ada tangan-tangan yang siap mengulurkan pertolongan. Selalu ada bahu untukmu bisa bersandar dan mencurahkan beban, selalu ada hati yang menyisakan tempat untuk mendengar segala kesah.  Mungkin, aku tidak bisa membantu banyak. Tetapi aku bersedia menjadi sahabatmu, tempat untukmu merasa ingin di dengar.

Aku lakukan itu iklash. Sebagai bagian dari terima kasihku padaNya karena telah memberikanku kesempatan kedua. Menata hidup yang lebih baik, setelah sekian lama merasa tidak pernah di dengar.

Apakah aku minta imbalan?
Tidak, sahabat. Aku tulus menawarkannya.

Apakah aku akan menyebar ceritamu dengan cara mengolok-oloknya sehingga kau menjadi bahan candaan di luaran sana?
Kau bisa amati status-statusku di lini masaku, dan nilailah sendiri.

Aku melakukannya, karena aku pernah mengalami semua yang kutuliskan di atas. Aku melakukannya, karena aku tahu bagaimana hati saat menanggung beban sendirian. Maka, Berbagilah denganku, Karena aku tahu, bagaimana rasanya sendirian…
www.rebellinasanty.blogspot.com
foto dipinjam dari islamic-quotes.com
Notes: 
Beberapa teman sering menginbox saya, mengucapkan terima kasih untuk beberapa tulisan saya yang mewakili juga apa yang mereka alami dan rasakan. Hal itulah yang menginspirasi saya menuliskan ini, betapa kadang kita merasa sendirian menanggung beban.

saya menawarkan diri untuk menjadi teman berbagi cerita. silakan aja tuliskan apa yang menjadi beban hati sahabat ke imel saya rebellinasanty@gmail.com. Cara ini saya harapkan bisa membantu sahabat yang butuh teman untuk berbagi. Isi email tidak akan saya publikasikan. 

Saya lakukan ini  iklash, jujur, karena dulu saya pun pernah merasakan hal yang sama... 





10 komentar:

  1. Jadi melow bacanya :( Meluangkan waktu untuk mendengarkan orang lain kadang memang tidak mudah. Hebat dirimu mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak tindakan nyata diluaran sana yang lebih hebat Mak. hanya mencoba memanfaatkan waktu utk hal yg berguna bagi org lain

      Hapus
  2. Hiks, beneran ya mak..boleh curhat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh Mak. lewat imel atau inbox aja.

      Hapus
  3. Dengan berbagi, dengan meceritakan, rasanya jadi plong ya, Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul. plong itu... membahagiakan :)

      Hapus
  4. Tulisannya so true banget.. terkadang kita mau curhat tentang aib kita mikir2, katanya Allah aja nutup aib kita masa kita buka2.. tapi kadang kalau nggak dibagi bisa stres sendiri, depresi ujungnya malah bahaya :) Beruntung kalau suka nulis ya mbak, bisa sedikit terluapkan lewat tulisan.. :)

    Keep inspiring ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. menulis membuat beban sedikit berkurang. Hanya saja kalau beban hati, agak diperhalus bahasanya. Menjaga nama orang-orang yang terlibat:)

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge