Sabtu, 24 Januari 2015

Baju Baru Untuk Noura (1)

www.rebellinasanty.blogspot.com
ilustasi foto dari : annazr.or.id

“Jadi Ibu kemari?”tanya Noura pada Johan suaminya. Beberapa detik yang lalu Johan baru saja menyudahi pembicaraan dengan ibunya melalui telepon selular. Sekilas Noura mendengar bahwa ibu mertuanya akan datang ke rumah mereka.

Johan mengangguk.”Sudah berangkat sejak subuh tadi” kata Johan

Noura melihat jam dinding. Berarti hanya tersisa waktu 2 jam untuk membuat segalanya menyenangkan. Setidaknya  menurut kriteria ibu.

“Kalau begitu…” Baik Noura dan Johan saling pandang. Ya, mereka harus bergegas. Berpacu dengan waktu, membereskan segala hal yang ada di rumah. Paling tidak, mengurangi celah yang memungkinkan Ibu berkomentar tidak enak.
Begitulah. Setiap kali Ibu mau datang, Noura dan Johan harus ekstra beberes. Mengganti sprai dan sarung bantal guling, setidaknya kalau Ibu memilih pulang hari, Ibu bisa beristirahat di kamar. Rumah Noura dan Johan hanya memiliki 2 kamar. Kamar mereka, dan kamar anak-anak. Bila Ibu datang, Noura mengungsi ke kamar anak-anak, agar Ibu bisa leluasa di kamar mereka. Johan bisa tidur di atas karpet di ruang tamu.

Sebenarnya tak banyak yang bisa dibereskan. Rumah mereka sederhana, namun bersih. Tapi bersih belum cukup untuk  standar Ibu . Seperti seprai dan sarung bantal yang harus senada dengan gorden. Atau meja-meja yang harus diberi vas bunga dengan tatanan bunga segar yang elok dipandang mata.  Begitu juga tanaman yang ada di halaman, semua harus mewakili apa yang diinginkan Ibu.

Noura cukup tahu diri dengan keinginan Ibu selama ini. Sebisa mungkin dia berusaha mengikuti selera Ibu. Tapi apa mau dikata. Bukan tak ingin Noura menyelaraskan tampilan isi rumahnya agar tampak indah di mata. Anak-anak yang masih kecil dengan polah tingkahnya, tak bisa membuat Noura harus rapi-rapi sepanjang waktu. Begitu juga dengan tenaganya dan keuangan keluarga tak bisa menopang semua hal sesuai kriteria Ibu. Bisa bertahan hidup dengan kualitas standar saja selama ini, sesuatu hal yang sudah mereka syukuri. Jadi, untuk saat ini Noura lebih berpikir bagaimana bisa bertahan hidup dengan kondisi yang ada daripada memikirkan padu padan gorden atau tatanan taplak meja yang harus serasi dengan keseluruhan tatanan rumah.

Ibu memang modis, rapi, dan sangat pandai menata rumah. Rumah Ibu selalu terlihat rapi dan bersih. Tak dipungkiri, segala hal yang ada di rumah Ibu terlihat serasi. Bila jendela depan memakai gorden bewarna hijau, maka seluruh jendela rumah akan memakai warna yang senada. Pokoknya Noura angkat jempol untuk kemodisan Ibu dalam hal fashion. “Berkelas”, itu kriteria yang diinginkan Ibu. Kriteria yang belum mampu dipenuhi Noura saat ini.

Selera Noura bukannya tidak berkelas. Tapi bagaimana memenuhi kriteria selera Ibu bila penghasilan Johan saja membuatnya harus memutar otak lebih keras agar bisa bertahan selama sebulan? Johan bukan pekerja kantoran. Johan tidak pernah betah bekerja kantoran, tapi bukan pula seorang wiraswasta ulet yang handal. Johan terbiasa menunggu datangnya orderan.  Datangnya orderan tidak sebanding dengan kebutuhan yang terus menerus meningkat jumlahnya seiring bertambahnya anak-anak.

 Baru minggu lalu Noura menjual gelang emasnya, bawaan tabungannya semasa sebelum menikah dengan Johan. Susu untuk  Dilla anaknya yang bungsu, tidak bisa menunggu datangnya orderan pekerjaan untuk Johan. Dan penjualan barang berharga milik Noura itu bukan yang pertama. Tapi semua itu hanya Noura simpan dalam hati. Baginya, Johan adalah suaminya. Kekurangan Johan adalah kekurangannya juga. Tak layak diumbar kemana-mana, walaupun kepada ibunya sendiri. Tapi Noura akui sikap Ibu akhir-akhir ini mengusik alter egonya. Bermula sejak Ibu membelikan mereka rumah ini.

“Gorden kok warnanya beda-beda. Enggak enak dipandang mata,” komentar Ibu melihat gorden jendela di rumah bagian depan dengan bagian belakang yang berbeda warna.

Lain waktu, “Kalau punya rumah itu harus pandai menatanya. Jadi biar yang datang makin betah.”

Atau ketika Ibu baru tiba, langsung memanggil tetangga di sebelah rumah Noura untuk menebang pohon pisang di halaman belakang. “Bikin semak,” kata Ibu, tanpa meminta pertimbangan Noura dan Johan.

Pohon pisang itu sengaja ditanam Noura karena Noura butuh daunnya. Daun pisang itu berguna bagi Noura untuk membungkus kue-kue kecil yang dibuatnya agar bisa membantu keuangan keluarga. Daripada harus sering-sering minta tetangga, apalagi beli, lebih baik punya tanamannya sendiri. Namun kini pohon pisang itu sudah berganti dengan jejeran puring yang dibawa Ibu.

Noura cuma bisa menghela nafas masgul dalam hati. Sejak tinggal di rumah pemberian Ibu, harga diri Noura serasa terhempas. Noura dianggap tidak punya hak sama sekali. Ibu beberapa kali mengingatkannya akan hak Ibu terhadap Johan.

“Noura harus tahu, dalam agama kita,  Johan itu harus manut pada Ibu, dan Ibu enggak harus minta ijinmu untuk melakukan ini itu di rumah ini,” kata Ibu menegaskan posisinya pada Noura, sembari tangannya menyendok nasi dari dalam bakul nasi.

Serasa membeku darah Noura saat Ibu mengeluarkan pernyataannya. Seingat Noura, waktu mereka masih ngontrak rumah, yang sewanya lagi-lagi dari hasil tabungannya, Noura tidak pernah memperlakukan Ibu sesuka hatinya. Noura tahu betul aturan harus menghormati Ibu mertua, dan sebisa mungkin Noura tetap mengusahakan yang terbaik untuk Ibu setiap kali beliau datang.

“Bersabarlah.. “ kata Johan saat Noura berbagi hati mengenai sikap Ibu. “Ibu memang sedikit dominan terhadapku semenjak papa meninggal. Cuma aku laki-laki yang kini dia miliki,” kata Johan, tidak membantu merinagankan beban hati Noura
.
Klakson mobil di depan pagar, membuyarkan lamunan Noura. Orang yang ditunggu sudah datang. Noura mempersiapkan hatinya untuk menerima kejutan-kejutan baru nantinya dari Ibu.

“Sehat,Bu?” tanya Noura setelah mencium tangan Ibu yang masih halus mulus dengan takjim.

Ibu membalasnya dengan anggukan kecil setengah hati. Noura berusaha menepis prasangkanya, bahwa Ibu selama ini tidak benar-benar menyukainya sebagai menantu. Tetapi entah mengapa hatinya merasa sikap Ibu kepadanya hanya sekedarnya, hanya karena dia adalah ibu dari cucu-cucu Ibu.

Anak-anak berhamburan menyambut neneknya. Banyak bawaan yang dibawakan Ibu untuk mereka. Kepada anak-anak, Ibu memang terlihat sayang. Hal itu membuat beban hati Noura sedikit terangkat. “Walau tidak menyukaiku, setidaknya Ibu tetap menyayangi anak-anak…”, desah Noura lirih.

Noura mematut dirinya di depan cermin, memastikan letak kerudungnya agar tidak memperlihatkan sehelai rambut pun miliknya. Gamisnya yang lebar berwarna ungu tua, walau tidak lagi baru, tetapi masih layak pakai. Sejam ke depan dia akan menemui Ibu-Ibu Komite Sekolah tempat Arumi bersekolah. Noura akan mempresentasikan proyek pengadaan buku tahunan yang akan dikerjakan Johan. Bila proyek itu deal, fee-nya lumayan.

“Bu, Noura tinggal sebentar ya. Noura mau ke sekolah Arumi, bertemu Ibu-ibu Komite Sekolah. Do’akan agar pekerjaan ini deal ya, Bu,” pamit Noura sambil minta restu ke Ibu yang saat itu sedang duduk di teras.

Ibu memicingkan matanya, memandang Noura dari ujung kepalanya, sampai ke mata kaki. “Mau bertemu orang, apalagi urusan pekerjaan, mbok ya pakai pakaian yang pantes!”

Deg! Ucapan ibu menohok ulu hati Noura.  Hampir saja bulir-bulir airmata meleleh ke pipinya sekiranya Nooura tidak menggigit bibirnya untuk menahan itu terjadi. Dia tidak boleh menangis di hadapan Ibu. Tapi sepanjang jalan menuju sekolah, hati Noura menjerit.

Jejeran gamis yang tergantung dalam lemari itu jumlahnya memang tidak banyak. Sudah lebih dari 3 tahun ini Noura tidak membeli gamis baru lagi. Gamis miliknya yang sudah tidak muat, telah diberikan kepada orang lain. Yang tersisa adalah gamis yang masih muat untuknya. Itulah yang dipakainya berulangkali saat keluar rumah.

 Membeli gamis baru bukanlah prioritas Noura saat ini, mengingat keadaan ekonomi mereka yang masih sempit. Dia tidak pernah memaksa Johan untuk membelikannya gamis baru. Dia sadar, hal itu akan membuat Johan semakin merasa terpuruk. Noura tahu, selama ini suaminya merasa sangat bersalah kepadanya, karena belum mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan layak. Dan terutama Johan pun  sangat berterima kasih pada Noura, karena tidak pernah mengeluhkan apapun keadaan mereka.

 “Hhh…” Noura menghela napas berat. Ucapan Ibu siang tadi menorehkan luka di hatinya. 

Johan meremas bahu istrinya lembut. Sebagai laki-laki, seharusnya dia pantang menangis. Tapi kali ini, menatap kesedihan di mata istrinya, dan merasakan luka hatinya, tak urung membuat matanya berkaca-kaca. “Maafkan aku, Noura. Maafkan juga ibuku,” bisiknya lembut di telinga Noura. 

Noura mengangguk. Perempuan itu memeluk suaminya. Menegaskan dalam diam, walau hatinya sedih dan luka, tapi tak akan pernah terucap di bibirnya mengenai kesulitan finansial mereka sebenarnya pada Ibu.

Bersambung…
















10 komentar:

  1. Ini fiksi mak? Klo iya bisa jadi novel ya lama2. Saya juga pengen bisa bikin novel/cerpen lagi tp bingung. Bingung gimana mulainya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. loh, bukannya mbak kania udahpernah bikin buku? ini fiksi-ispiratif :)

      Hapus
  2. Waaah, musti nunggu kelanjutanya nih mak :D

    BalasHapus
  3. dilanjut mba Ren, mau dibikin cerpen atau novel mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. cuma kisah sederhana, kisah inspirasi, untuk blog aja mbak

      Hapus
  4. jadi penasaran mbak... ga sabar nunggu lanjutannya

    BalasHapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge