Minggu, 17 Mei 2015

Mukena Istimewa Dari Papa

Apa istimewanya sih mukena yang dibelikan orangtua? Bukannya memang kewajiban orangtua memenuhi kebutuhan anak-anak yang masih belum mandiri, terutama kebutuhan spiritualnya?

Bagi saya, sangatlah istimewa, terutama karena mukena itu dibelikan oleh papa saya (kini alm). Kenapa istimewa, karena selama ini, dari saya kecil sampai saya balig, dan menjelang menikah, saya kerap ‘berdiskusi’ dengan papa saya mengenai agama yang kami anut. Papa saya yang menganut agama lain sebelum menikah dengan mama, masih sering protes soal masalah Palestina dan Israel. Beliau sangat mendukung Israel, sedangkan saya sebaliknya. Padahal waktu itu pengetahuan saya sih masih seujung kuku soal Palestina dan Israel. Hanya saja, dalam pikiran saya saat itu, tentu saya berdiri di sisi saudara seiman saya, yang dalam hal ini berada di Palestina.


Ok lah, enggak usah bahas panjang lebar soal Palestina dan Israel, karena masalah ini cuma satu dari sekian banyak perbedaan cara pandang saya dengan orangtua. Enaknya diskusi dengan papa adalah kita berdiskusi dengan cara yang elegan, artinya, sepakat untuk tidak sepakat, dengan cara yang baik-baik.
www.rebellinasanty.blogspot.com
papa saya sangat sayang dengan Syafa

Di luar itu, jujur saja, latar belakang keluarga yang multikultural membuat cara hidup keluarga kami sekuler banget. Tidak ada tuntutan harus sholat 5 waktu setiap hari, apalagi sampai hukuman bila tidak menjalankannya. Puasa di bulan ramadhan? Oh…, saya malah lebih sering masak sahur sendirian, menjalankan ramadhan sendirian (terkadang adik perempuan yang beda usia 4 tahun dari saya ikut berpuasa juga), namun bukanya rame-rame. Tapi saat Idul Fitri, heboh banget menyambutnya. Terutama karena harus menerima tamu-tamu dari keluarga Papa yang beda agama, dimana hidangan lengkap harus ada, plus bir sebagai minuman yang wajib ada.

 Kaget? Begitulah…  Latar belakang keluarga papa yang berasal dari  Menado yang  biasa dengan hal tersebut, terbawa-bawa oleh papa walau sudah mualaf.(untunglah beberapa tahun belakangan, bir tidak lagi menjadi minuman yang wajib ada di rumah). Namun untuk Zakat Fitrah, papa saya rajin memenuhinya ke panitia pengumpulan zakat di dekat rumah.

Tidak bermaksud membuka aib, tapi pelajaran yang paling mahal adalah pengalaman sendiri bukan? Latar belakang tersebut yang menjadikan mukena dari papa ini sangat istimewa untuk saya.

Waktu itu saya masih SMA, dan mendekati bulan ramadhan. Papa tiba-tiba memanggil saya dan adik perempuan saya V. Ternyata papa kami sedang memesan 2 telekung untuk saya dan V  kepada seorang temannya yang penjahit. Lengkap dengan bordiran di pinggirannya. Kami ditanya mau pilih warna apa. Di kampung saya, mukena disebut dengan telekung.

Karena tidak ingin sama, saya pilih pinggiran mukena dengan bordiran warna biru, dan adik saya dengan warna merah. Pesanan datang seminggu kemudian.

Senangnya bukan kepalang menerima mukena baru, dalam artian baru dijahit, dan baru pertama kali pula dibelikan oleh papa saya. Selama ini orangtua kurang perhatian terhadap kebutuhan perlengkapan ibadah kami. Jadinya, mukena pertama yang dibelikan papa itu sangat berkesan banget buat saya.  Saya jadi merasa, dibalik sikap papa yang menurut saya agak frontal terhadap agama yang kami anut, ternyata masih ada harapan untuk beliau menjalankan pilihan agamanya dengan tulus. Bukan karena semata-mata pernikahan dengan mama saja. Alhamdulillah, beberapa tahun menjelang wafatnya, beliau rajin belajar shalat dan bertanya ini itu soal Islam.

Jadilah ramadhan itu saya memakai mukena baru yang dibelikan papa. Rasanya…, gimana gitu. Sukar dijelaskan, mengingat saya menganggap selama ini papa tidak perduli dengan hal-hal yang menyangkut ibadah.

Sampai saya selesai kuliah, dan wirausaha, mukena pemberian papa itu saya pakai terus. Warna biru pada pinggirannya pun sudah pudar, tapi tetap saya gunakan, bahkan saya bawa ke Singapura saat saya lagi ikut tour hadiah dari perusahaan pusat. Bukan soal tidak bisa beli yang baru, melainkan selain bahannya yang lembut di kulit, dan adem, dan terutama mukena itu dari papa!

Sayangnya, saat ikut suami tinggal di Bogor, mukena itu tidak saya bawa. Waktu pulang kampung beberapa tahun yang lalu, saya lihat mukena itu masih terlipat rapi di dalam lemari. Tidak ada yang menggunakan, sehingga lipatannya meninggalkan noda kuning. Lagi-lagi saya lupa membawanya ikut serta ke Bogor saat pulang kembali.

Kini papa sudah tiada. Diantara kenangan manis yang dia tinggalkan dalam benak saya, salah satu yang membekas ya tentang mukena ini.

Belajar dari pengalaman masa lalu saya,  dalam menjalankan roda rumah tangga dan mendidik anak-anak, landasan agama adalah yang utama. Untuk itu kami menerapkan aturan yang ketat  mengenai kewajiban utama  umat Islam ,dengan sejak dini mengharuskan anak-anak sholat dan puasa, membiasakan sedekah dan berbagi, serta membaca Alqur’an. Tak hanya itu, perlengkapan ibadah juga harus kami sediakan, seperti sajadah, mukenah, buku Iqro untuk belajar mengaji, serta Alqur’an danlainnya yang mendukung semangat mereka mengkaji Islam.

Makanya, tatkala mukena Aisyah sudah lepas karet pengikat kepalanya, saya pun mencoba membuat yang baru dengan menjahitnya. Jujur saja, saya kurang mahir menjahit, tapi saya usahakan karena belum berkesempatan membelikan Aisyah mukena yang baru saat itu. Alhamdulillah.., Aisyah punya mukena baru buatan bundanya, dan dia senang memakainya.
www.rebellinasanty.blogspot.com


Walau kini Aisyah juga punya mukena baru yang lain hadiah dari Uminya (kakak suami), mukena buatan saya masih sering juga dipakainya. Semoga semakin sholeha ya, Nak…




20 komentar:

  1. Semoga menang dalam event giveaway menyambut ramadhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin. harapannya sih begitu, hehehehe

      Hapus
  2. Subhanallah, pengalaman yang menyentuh mb...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, saya sampai kini mengenangnya karena itu

      Hapus
  3. Mukena penuh kenangan ya, Mbak... :'

    Di Pontianak juga sering disebut telekung.. :) Semoga sukses ya GA nya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak, aku lihat bahasa di kalimantan, riau dan medan enggak jauh beda. mungkin karena melayu, ya Mbak?

      Hapus
  4. benar-benar mukena penuh kenangan...semoga menang GAnya yaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, makasih...pengennya sih menang hahahaha:)

      Hapus
  5. Ceritanya bagus mba...menyentuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan fiksi...dan saya pun masih mengenangnya jelas

      Hapus
  6. cerita yg mengharukan mak, dan pastinya tak akan pernah terlupakan ya...

    BalasHapus
  7. Mukena bersejarah ya mb..., mukena pertama saya malah entah kemana....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau mukena pertama sama juga, entah kemana :)

      Hapus
  8. mukena yang penuh kenangan ya mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak, sangat penuh kenangan

      Hapus
  9. semoga mukena itu menjadi syafaat utk alm papa ya mba, aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin. mudah-mudahan menjadi bagian dari amal yang mengalirkan pahala untuk beliau

      Hapus
  10. Alhamdulillah ya mak..papa di akhir hayatnya rajin ibadah. Semoga husnul khatimah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin. berharapnya begitu mbak Kania

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge