Rabu, 06 Mei 2015

Korupsi Kok Bangga

www.rebellinasanty.blogspot.com
sumber foto di sini
Rasanya, saat berbicara mengenai korupsi dan pelakunya, pastinya membuat dada kita panas dan hati menjadi geram. Tidak hanya merugikan negara, rakyat juga menjadi korbannya. Membayangkan bagimana setiap harinya rakyat harus berkutat dengan segala daya upaya agar kebutuhan pokoknya terpenuhi, sementara di bagian lain pelaku korupsi demikian mudahnya menumpuk pundi-pundi kekayaannya dalam bentuk tabungan,deposito, rumah di mana-mana, dan tanah yang tersebar dimana-mana juga, tentulah terasa sakitnya.

Kadang demikian mudah kita melihat adanya indikasi korupsi yang dilakukan seseorang/oknum, tapi tidak gampang juga menudingkan jari terang-terangan mengatakan oknum tersebut koruptor. Butuh bukti yang nyata dan akurat, dan itu tugasnya ada di aparat.



Belum lagi kalau pelaku indikasi korupsi ngeles dengan ngomong bahwa hartanya didapat dari harta warisan,usaha sampingan, dan lain-lain.Paling-paling kita yang melihatnya dan mencurigai adanya indikasi tersebut, melaporkan atau memberi informasi. Ini pun bisa jadi bumerang buat diri sendiri, dibalas tudingan pencemaran nama baik. Jadi tidak heran akhirnya kebanyakan dari kita memilih diam, walau melihat indikasi korupsi itu terjadi.

Ada pula diantara kita yang suka teriak-teriak anti korupsi, tapi begitu menduduki jabatan tertentu, malah jadi pelakunya. Atau, ikut bersuara sebagai bagian dari masyarakat yang anti korupsi, tapi berdiam diri saat anggota keluarga yang melakukannya, bahkan menjadi bagian dari penikmatnya, dan malah bangga. Orang-orang seperti ini banyak loh beredar di antara kita.

Salah seorang kerabat jauh saya pernah dengan bangganya bercerita bahwa adiknya kini telah menjadi orang yang hebat. Rumahnya sudah ada 2, tanahnya di mana-mana, dan alhamdulillah.., kata si kerabat tersebut, bahwa adiknya kini sudah bisa bantu keluarga besarnya.

Saya kenal betul dengan kerabat tersebut, karena rumahnya berdekatan dengan rumah saya. Hanya saja adiknya yang diceritakan tersebut setelah menikah berdomisili di dekat tempat kerjanya, yakni kantor pemda kabupaten A. adiknya menjabat sebagai sekertaris bupati, dan suaminya juga bekerja di intansi yang sama, beda bagian.

Miris sebenarnya mendengar cerita penuh kebanggaan dari kerabat tersebut, mengingat latar belakang keluarga mereka bukanlah orang yang berharta banyak. Ditinjau dari gaji , sang adik  dan suaminya tidak akan mungkin dalam waktu 3 tahun akan mampu punya rumah 2 dan tanah dimana-mana, sesuai pengakuan si kerabat. Lebih miris lagi, si kerabat terang-terangan mengakui dan bangga bahwa harta itu diperoleh berkat kepiawaian sang adik dan suami ‘mengolah’ jabatan, dengan saling mengoper ‘layanan’ antara suami dan istri, sehingga istri dan suami itu sama-sama mendapat ‘bagian’ dari layanan publik yang harusnya memang bagian dari kewajibannya.

Setahun yang lalu, saat pulang kampung, saya pun bertemu dengan kerabat lain lagi. Lagi-lagi kebanggaan yang dibagi betapa kini kerabat yang usianya dibawah saya tersebut, sudah sangat berkecukupan hidupnya. Pulang pergi Jakarta, menginap di hotel berbintang, hal yang biasa dilakukan, untuk menemui suaminya yang tinggal di Jakarta.Rumahnya ada beberapa buah, yang diatasnamakan sang istri (kerabat saya tersebut). Belum lagi tabungan, asuransi, dan deposito, atas nama kerabat dan anaknya. Itu masih untuk istri yang satu, karena suaminya ini punya 2 istri. Tidak masalah kalau suaminya pengusaha. Tapi suaminya seorang pegawai bea cukai. Kata mama saya, itu tempat ‘basah’.

Bicara tempat basah, waktu tinggal di pemukiman yang rumahnya ada hantunya , ada tetangga yang juga bangga bercerita kalau di tempat kerja suaminya, ‘uang masuk’ itu sampai berkarung-karung jumlahnya. Dan itu nanti dibagi-bagi ke sesama pegawai yang terkait. untuk mendapatkan tempat basah ini, tak jarang sikut-sikutan antar karyawan terjadi.

Itu, pengalaman yang saya alami sendiri. Masih banyak pengalaman serupa yang saya terima, tapi cukuplah itu saja contohnya.  Saya yakin, di luaran sana hal begini pasti juga banyak terjadi. Sebagai istri atau bagian dari keluarga, tidakkah harusnya meluruskan yang terlihat salah, setidaknya mengingatkan? Bahkan sangat perlu mempertanyakan darimana datangnya uang yang dibawa selain dari gaji dan tunjangan yang resmi? Bukannya malah bangga dengan hasil harta yang tidak jelas sumbernya.

Mungkin mereka (koruptor) kira hartanya akan membawa kebahagiaan bagi diri mereka dan keluarga. Padahal tidak ada satupun yang luput dari Allah. Tidak hanya di dunia, harta yang mereka kira akan membawa kebahagiaan dan keselamatan untuk mereka dan keluarga pun kelak akan menjerat mereka dalam kesusahan. Apalagi nanti balasannya di akhirat. Naudzubillah..

Ya Allah..
Lindungilah aku, keluargaku, dan keturunanku, dari prilaku menzholimi orang lain, dari prilaku memakan harta yang bukan haqnya, dari prilaku memakan riba. Luruskan langkah kami selalu, agar selalu di jalanMu..
Aamiin





12 komentar:

  1. Sekarang orang korupsi udah terang2an ya mak bahkan menganggap itu hal biasa... mereka lupa semua harta yg mereka ambil yg masuk dlm tubùh anak istrinya harus dipertanghungjawabkan.
    Semoga kita terhindar dari hal2 seperti ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. harta dunia begitu menyilaukan mata, sehingga menutup iman di dada..

      Hapus
  2. Astaghfirullah..
    Semoga ibu dan suaminya itu segara sadar dan bertaubat.
    Dan, memang kalo urusan duit begni, mudah bagi siapapun untk terjangkit virus korupsi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bahkan yang semula teriak-teriak 'say no to korupsi' pun bisa terjerumus ya Pak..

      Hapus
  3. Semoga kita, anak2 dan keturunan kita terhindar dari sifat dan sikap yang seperti itu ya mb

    BalasHapus
  4. Saya pernah baca, mbak, kalau orang Indonesia ini baru pada tahap benci koruptor (bukan korupsinya). Jadi ya begitulah... Miris. Mudah-mudahan kita dan keturunan terhindar dari sifat dan sikap buruk ini, aamiin.. TFS mbak Santy.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bencinya juga sebentar Mbak. Ditambah, orang Indonesia itu gampang lupa, termasuk urusan korupsi ini juga. Aaamiin, semoga keluarga kita selalu terjaga dari perbuatan buruk ini ya

      Hapus
  5. duh, semoga kita terhindar dari yang demikian, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu salah satu do'a yang selalu saya ucapkan untuk keluarga dan keturunan saya

      Hapus
  6. Astaghfirullah...

    Bahkan bukan cuma korupsi uang yang kini dianggap biasa, yaitu korupsi waktu!

    Betapa menyedihkan. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. menyedihkan, itu kata yang tepat melihat situasi perkorupsian di negara kita. meliputi semua bidang dan di segala lini. Hiks :(

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge