Senin, 01 September 2014

Teriak, Tendang, Cakar, Gigit, Dan Lari!

“Pokoknya, kamu harus teriak sekuat mungkin. Kalau perlu, tendang kemaluannya, cakar matanya, gigit tangannya, lalu lari sekuat tenagamu!” kata saya pada Kakak, Ai, dan juga si kecil Zulfikar. Tentu saja pakai aksi peragaan cara melakukannya, serta bagian-bagian vital yang harus mereka tendang, gigit, dan cakar.
www.rebellinasanty.blogspot.com
ilustrasi : credit


Lho, kok ngajarin kekerasan pada anak-anak? Bukannya anak-anak harus diajari etika, sikap lemah lembut dan sopan santun pada orang lain?

Eits…,lihat dulu konteksnya.

Saya mengajarkan anak-anak saya untuk bersikap seperti itu bila berhadapan dengan orang yang mencoba melakukan pelecehan seksual terhadap diri mereka. Sekarang ini makin parno aja membaca berita mengenai kejahatan seksual terhadap anak-anak. Rasanya, enggak ada tempat yang aman buat anak-anak lagi. Tidak sekolah atau tempat ngaji. Apalagi lapangan terbuka untuk bermain. Tapi bukan berarti karena itu saya harus mengungkung anak di balik sekat tembok rumah, bukan? Harus cari solusi! Caranya, kenalkan anak secara dini mengenai sex, kejahatan yang mengintai mereka dalam rupa yang berbeda, serta siapa-siapa saja yang patut di waspadai.


Mengenalkan anak secara dini dengan sex tentu saja disesuaikan dengan usianya. Tetapi yang pasti, saya mengenalkan konsep mengenal diri sendiri pada tiap anak-anak saya. Konsep mengenal diri sendiri itu dalam artian secara fisik, bahwa tubuh perempuan dan laki-laki secara spesifik memang berbeda. Saya dan suami juga menjelaskan batasan aurat yang mana boleh terlihat umum, dan yang mana boleh dilihat oleh muhrim baik aurat untuk perempuan dan aurat laki-laki.  Apalagi kalau sudah baligh, itu sesuatu yang mutlak harus mereka pegang teguh. Juga batas-batas pergaulan, sesuai syariat agama yang saya anut.

Lalu selanjutnya saya jelaskan bagian-bagian sensitif mana yang tidak boleh dilihat, diraba atau sentuh oleh siapa pun, bahkan oleh ayahnya sendiri (ini khusus buat anak perempuan).  Namun ada pengecualian khusus, yakni bila terjadi luka dan saya tidak ada, sementara tindakan darurat harus dilakukan, barulah boleh. Kalaupun dokter atau tenaga medis yang melakukannya, setidaknya mereka ditemani oleh salah satu anggota keluarga.

Saya juga menanamkan untuk bersikap waspada pada siapapun, mengingat kejahatan seksual saat ini bukan saja dilakukan oleh lawan jenis, tetapi juga oleh orang-orang yang berjenis kelamin sama dengan anak kita. Dan bahkan kebanyakan dilakukan bukan oleh orang yang asing sama sekali, malah justru orang-orang di sekitar korban. Saya ajarkan juga kepada mereka untuk menolak setiap pemberian makanan apapun dari siapa pun, bila tanpa ada salah satu dari kami sebagai orang tuanya di sisi mereka. Tentu saja menolak dengan cara yang sopan, misalnya mengatakan, belum  mendapat ijin dari kami sebagai orangtuanya apakah boleh menerima pemberian tersebut. Ngeri aja membayangkan anak-anak ini diberi permen yang dalamnya sudah ada zat bius. Hiyyy..
www.rebellinasanty.blogspot.com
Ajarkan untuk tidak menerima pemberian siapa pun bila tidak did ampingi orang tua, credit

www.rebellinasanty.blogspot.com
No, Thanks, Credits


Lalu, dalam interaksi dengan orang yang dituakan dan dihormati, saya juga tanamkan untuk selalu bersama teman bila harus menemui orang tersebut. Kalau pun tidak ada teman yang boleh menemani, pertemuan itu harus dilakukan di ruangan yang ramai oleh orang lain juga. Kalau tidak ada juga, saya katakan, lebih baik menolak dan pilih pulang ke rumah!

Tidak boleh percaya dengan siapa pun yang mengaku-ngaku utusan dari kami atau salah satu dari kami sebagai orangtuanya bila mereka sedang tidak bersama kami atau sedang menunggu jemputan dari kami. Pokoknya, setelat apapun kami menjemput mereka dari sekolah, mereka harus menunggu di sekolah sampai kami datang. Bila sekolah sudah sepi, pilih tempat yang ramai oleh banyak orang, misalnya warung. Dan peraturan untuk tidak menerima makanan apapun dari orang lain serta tidak mempercayai siapapun, tetap berlaku.

Lalu bagaimana bila semua antisipasi itu sudah dilakukan dan tetap saja ada kejadian (ih…,amit-amit. Semoga Allah melindungiku dan anak-anakku dari kekejian manusia), mereka harus melakukan perlawanan sekuat tenaga!

“Teriak sekuat tenaga yang kamu mampu, tendang kemaluannya, cakar ke arah matanya, atau gigit lengannya, dan lari!” itu kata saya yang didukung sepenuhnya oleh ayah mereka. Bahkan ayah mereka mengajarkan titik-titik kelemahan tubuh manusia yang bila diserang bisa berakibat fatal. Tentu saja penanaman keyakinan untuk memohon pertolongan padaNya tak luput kami masukkan sebagai bagian dari mekanisme perlawanan diri.
www.rebellinasanty.blogspot.com
salah satu tindakan untuk melindungi diri, credit

www.rebellinasanty.blogspot.com
salah satu tindakna untuk melindungi diri, credit

Bagaimana bila mereka terluka dalam aksi perlawanannya?
“Itu memang resiko,” kata saya. Setidaknya mereka sudah melakukan perjuangan sampai batas yang mereka mampu sambil menunggu pertolongan datang. 
Bila sesuatu yang buruk terjadi karena perlawanan mereka?

Saya tidak mau memikirkan hal itu…

Bogor, 28 Agustus 2014



  

24 komentar:

  1. Huf... jadi menghela nafas berat nih baca postingan ini. Berat banget ya mbak jadi orang tua jaman sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Jaman sekarang makin gila saja. Harus ada antisipasi kita sebagai ortu untuk menanamkan sikap waspada dan perlindungan diri sejak dini buat anak-anak.

      Hapus
  2. Perlu ya Mak sampe mengajarkan cara-cara keras itu, kemaren baru ngajarin tentang pakaian dalam, saya bilang ke anak laki-laki saya yang berusia 3 tahun, kalo ga ada orang lain yang boleh membuka ataupun memegang celana dalamnya selain keluarga, dan kayaknya dia manggut-manggut ngerti. Semoga hal-hal buruk tidak akan menimpa keluarga kita ya mak,

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau pendapat saya, perlu sekali Mak, hanya saja idbarengi penjelasan, itu untuk situasi yang benar-benar 'perlu dilakukan' demi keselamatan mereka. Aamiin,untuk do'anya, berharap anak-anak kita dilindungi olehNya ya

      Hapus
  3. Jadi inget sama kasus mutilasi di Siak, Riau. Emang anak-anak harus dikasih pendidikan dari orangtua soal menyikapi org2 yang 'black purpose' gitu mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berita itu salah satu dari sekian banyak kasus yang membuat saya agak parno,Mak. Karenanya saya mengajarkan anak-anak untuk mewaspai sikap-sikap orang yang bisa berindikasi ke arah san

      Hapus
  4. Aku juga mulai ngajarin anakku (3,5thn) tenatang batas2 anggota tubuh nya yang boleh dan tidak boleh dipegang orang. Kalo ada orang yang pegang bagian ini dan itu (menunjukkan anggota tubuh) berarti dia orang jahat kamu harus teriak, dan cerita sama mama

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mak. haru situ. anak sejak dini harus diajari untuk peka akan situasi disekelilingnya, termasuk situasi orang yang 'berniat' jahat terhadapnya

      Hapus
  5. setuju, anak anak harus mulai diajari cara melindungi diri dari aksi kejahatan seksual. btw, besok anakku mau kulesin taekwondo ah ahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya San. Sebagai bagian adari anggota masyarakat, mengedukasi murid les pun bisa kita lakukan, termasuk mengenalkan mereka terhadap potensi bahaya di sekeliling mereka yang mengancam keselamatan mereka.

      Hapus
  6. betul mak, karena memang kejahatan ada dimana2. Semoga anak2 kita selalu dilindungi ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak, hanya saja tetep dibarengi memberi pemahaman bahwa yang kita ajarkan itu bila mereka dalam situasi darurat, dan dalam upaya mencaripertolongan.berharap anak-anak dimanapun terlindungi bukan hanya dari kejahatan sexual, tapi juga kekerasan lainnya

      Hapus
  7. Aku ngajarin keponakanku yang cowok agar berontak bila ada yang mau membullynya. Nyatanya keponakanku itu sekarang jadi agresif. Setiap teman yang mau usil padanya dia langsung melawan... karena dia sudah jadi anak pemberani tak ada lagi yang mau usil padanya... Kira2 salah gak ya mengajarkan anak agar dia ngelawan sama orang lain seperti itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau bully, anak saya dulu kenyang dapet hal yang begituan Mak. tapi bully psikis. untuk itu, bukan perlawanan fisik yang saya ajarkan, tapi melatih mentalnya agar kuat dan tidak terprovokasi bully, justru harus menunjukkan kepada si pembully bahwa dia (anak saya) lebih baik dalam banyak hal. tapi kalau bully fisik, terus terang saya memang mengajarkan dia untuk berani mempertahankan diri, namun tetap disertai pemahaman untuk selalu rendah hati dan tidak memancing permusuhan.

      Hapus
  8. Duuhh ngeri ya mak ..makin banyak aja kekerasan seksual pada anak. Mang penting bgt anak2 mengenal tubuhnya sendiri. Aku jg sudah mulai sejak nadia TK ttg batasan aurat juga tentang batasan bagian mana yg blh n tidak boleh disentuh org lain
    Thanks for sharing mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, pemahamank e anak sejak dini itu penting banget, untuk keselamatan mereka. makasih kalau postingan ini bermanfaat

      Hapus
  9. Tengkiyu sharingnya Mak, bermanfaat banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah, kalau membawa manfaat

      Hapus
  10. Makasih mak sharenya...saya kadang suka bingung gimana menjelaskan hal.ky gini ke anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mak. semoga bisa sedikit membantu mak Kania menjelaskan pada anak mengenai hal kayak gini

      Hapus
  11. cukup membantu para emak emak yang lain supaya mengajarkan kepada sang buah hati cara melindungi diri ala super hero, sehingga biar kecil tapi cabe rawit ya mbak. yang penting bagaimana cara menjelaskan kepada mereka secara santun dan bijak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya tulisan ini ditujukan sebagai tindakan antisipasi bila anak-anak berada dalam situasi yang saat itu tidak ada orang untuk dimintai pertolongan. Jadi, tetp saja harus dibarengi memberipemahaman aktifitas tendang, menggigit dan aksi superhero itu bukan utk dilakukan tiap hari dan dengan siapa saja. Hanya dilakukan kalau dia sudah terancam. itulah tugas kita sebagai ortu untuk memberi pemahaman itu

      Hapus
    2. iya mbak benar sekali maksud saya juga begitu, maksudnya super hero dalam arti kiasan bahwa anak anak setidaknya bisa menjaga diri ketika di situasi dimana tidak ada orang yang bisa dimintai tolong.

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge