![]() |
Credit photo ryot.org |
Mencapai impian-impian lewat kecantikan, bukanlah cita-cita
saya. Saya percaya diri dengan apa yang telah diberikan Allah pada saya. Fisik
saya , tidak kurang suatu apapun, dan kesemua indra saya pun normal. Jadi, apa
pula yang harus saya khawatirkan dengan penampilan saya?
Tapi, ternyata mama saya tidak berpendapat sama dengan saya.
Menurut pandangan matanya, saya tidak menarik, yang mata sipitlah, hidung
kurang tinggi, tubuh terlalu gemuk dan pendek, atau pun bentuk wajah yang
terlalu bulat. Dan untuk itu beliau
seringkali menganjurkan, dengan setengah memaksa agar saya mau dioperasi
plastik alias oplas, khusus untuk meninggikan hidung dan membuat kelopak mata,
agar mata saya terlihat bulat dan indah. Ya ampun…, ternyata di mata mama saya,
saya terlihat begitu jelek ya sehingga dia menganjurkan hal demikian :)
Pandangan mama saya itu memang terlalu berbeda jauh dengan pandangan saya, terutama mengenai hakikat hidup. Itu salah satu
alasan yang membuat hubungan saya dan mama kurang harmonis, di antara banyak
alasan-alasan lain. Ukuran kecantikan yang dipakai beliau ini membuat saya
seringkali gatal mulut membantahnya. Ujung-ujungnya jadi bertengkar. Capek deh…
Tapi ada satu waktu saya hampir jatuh pada keinginan mama
saya. Entahlah apa karena sugesti yang ditanamkannya terus menerus ke saya
untuk oplas, atau saat itu rasa percaya diri saya lagi down. Saya menyetujui
ide mama untuk oplas, dan pilihan oplas pertama saya adalah meninggikan tulang
hidung .
Saya bersama mama pun
berangkat ke klinik untuk konsul dan melakukan prosedur oplas. Kata mama sih
menurut info dari temannya yang telah melakukan oplas, klinik tersebut bagus
reputasinya, dan dikelola dokter bedah estetis profesional. Prosesnya cepat,
dan enggak ribet, bisa langsung pulang hari itu juga, dan perawatan selanjutnya
bisa di rumah.
Sampai di sana, ternyata dokternya sedang tidak berada di
tempat. Karena malas menunggu, saya putuskan untuk pulang dulu, dan kembali
lagi sekitar jam 3 sore, waktu di mana dokternya sudah kembali berada di
tempat. Dalam perjalanan pulang, kesadaran saya terbuka kembali dan menyesali
niat yang sempat hampir terlaksana. Saya putuskan untuk membatalkan operasi
plastik tersebut saat itu juga.
Mama saya?
Tentu saja beliau jengkel dengan sikap saya.
Katanya saya plinplan. Tapi saya abaikan saja jengkelnya beliau. Toh ini tubuh
dan wajah saya, dan semuanya normal, enggak ada yang kurang baik bentuk dan
fungsinya. Selain itu, saya pun tahu kalau operasi plastik hanya sekedar
untuk kecantikan, dalam tinjauan agama Islam tidak dibenarkan. Saya merasa,
pertolongan Allah hadir untuk saya, dengan cara ketiadaan dokter yang
bersangkutan, sehingga saya kembali sadar dan membatalkan niat operasi plastik
demi hidung tinggi berapa cm.
Itu kisah saya semasa gadis, dan telah berlalu
bertahun-tahun silam. Bagi sebagian orang, termasuk mama saya, kecantikan
adalah salah satu cara untuk meraih impian-impian hidup, mendapat pekerjaan,
meraih karir dan jodoh yang tampan dan mapan, dan lain-lain.
Tapi bagi saya, kecantikan dari hasil oplas itu semu, dan
wujud dari ketidakpercayaan diri, tidak bersyukur serta tentu saja mengingkari
hasil ciptaan Allah. Dalam hal ini pengecualiannya adalah bila oplas dilakukan
untuk memperbaiki ataupun membantu fungsi tubuh yang kurang, salah satu contoh:
operasi untuk bibir sumbing.
Ternyata pula, seiring waktu yang berjalan, oplas malah
seakan menjadi tren sebagai cara untuk mencapai impian-impian. Bahkan sampai
rela melakuka segalanya, pengorbanan harta,
bahkan dengan taruhan nyawa.
Lihat saja kasus Andressa Urach (27) asal Brasil. Seperti
yang saya baca di Harian Kompas, edisi Minggu, 1 Februari 2015 lalu, di hal 4.
Andressa Urach telah melakukan implan
silikon, anabolik steroid, operasi hidung, suntikan botoks, serta entah apa
lagi demi menggapai impiannya menjadi tenar dan apalagi kalau bukan, uang. Memang,
untuk sejenak hidupnya terlihat begitu sukses, dari seorang ibu tunggal yang
kurus kering, menjelma menjadi perempuan seksi di acara realitas TV Brasil.
Ketenaran dan uang tentu didapatkannya saat itu. Bahkan dia sempat menjadi
penganjur gigih operasi plastik.
Namun oplas yang dilakukan Andressa tersebut membuahkan efek
negatif. Perempuan ini mengalami shock septis, shock akibat infeksi dan
keracunan darah, gara-gara sebuah operasi untuk memperbesar pahanya. Hidupnya
pun sempat tergantung pada mesin penyokong hidup, dan pahanya menjadi
bolong-bolong karena operasi plastik yang gagal, sebagaimana foto-foto yang
disebarkannya melalui akun Instagram-nya.
Di akun Instagram-nya tersebut juga Andressa menyatakan
penyesalannya pada keputusan untuk melakukan operasi plastik demi kecantikan,
ketenaran, dan uang. “Kita kehilangan kesehatan kita karena ingin menjadi
kaya”, tulisnya baru-baru ini di akun tersebut. “Kita hidup seakan-akan kita
tidak akan mati.”
Well, kasus semacam Andressa Urach ini hanya sedikit contoh
dari berbagai kasus yang ditimbulkan oleh oplas. Saya pernah baca kalau salah
seorang pria di China menuntut istrinya
yang cantik ke pengadilan, hanya
gara-gara anaknya yang lahir berwajah jelek. Kok bisa? Ternyata, kecantikan
istrinya adalah artifisial, alias hasil bentukan tangan-tangan dokter bedah dan
peralatannya, dan si pria merasa tertipuuu…
Atau lihat saja bagaimana oplas berhasil mengubah
gadis-gadis Korea Selatan menjadi berwajah hampir seragam. Perkembangan ini terjadi begitu budaya Kpop
mendunia, sehingga menjadi ada semacam tuntutan di generasi muda Korea untuk
menjadi tenar, dan berujung ke uang pastinya. Tak heran, kasus bunuh diri pun
semakin marak terjadi di sana, karena menurut saya, rasa kepercayaan diri yang
mereka bangun pun semu, walau sudah oplas. Yang ada jiwa-jiwa yang rapuh.
Walaupun telah terjadi banyak kasus akibat oplas ini, baik
yang dilakukan sesuai prosedur, ataupun yang ilegal, tetap saja tidak membuat
permintaan operasi plastik ini menurun.
Peminatnya bukan hanya dari kalangan perempuan saja, bahkan laki-laki
pun tak sungkan melakukan operasi plastik demi alasan yang serupa, demi
ketenaran, dan sukses. Untuk hal ini, mereka mengabaikan keselamatan nyawa
mereka sendiri, bahkan mengabaikan aturan agama (Islam) yang melarang oplas
tanpa alasan jelas (memperbaiki fungsi tubuh/organ tubuh yang rusak). Sayang
sekali…
Saya bersyukur saya terhindar melakukan operasi plastik demi
semata-mata terlihat ‘cantik’ versi mama saya, atau demi meningkatkan kepercayaan diri. Saya bersyukur dengan apa yang telah Allah beri ke diri saya, seutuhnya. Tanpa oplas, saya percaya diri mengatakan saya cantik, setidaknya itu
kata suami dan anak-anak. Buktinya, anak-anak saya pun cantik-cantik (bukankah
dimata setiap ibu, anak-anaknya adalah yang paling cantik dan ganteng sedunia?)
Untuk 2 kalimat terakhir di atas, abaikan saja ya, jangan masukkan ke dalam
hati :).
Ckckckckckckckck. Memang demikin kalau dunia hanya menilai orang dari luarnya saja ya, Mbak. ira
BalasHapuskalau dunia semata yang jadi tujuannya, ya begitulah Mbak Ir
HapusIntinya kan don't judge a book by its cover...lbh baik cantik hati drpd raga yg akan sirna.kecantikannya krn usia
BalasHapusno more agree :)
Hapusselalu bersyukur dengan apa yang kita miliki, ya
BalasHapusitu kuncinya, biar hati lempeng
HapusSerius mak beneran pernah dateng ke dokter oplas >.<
BalasHapustadi saya barusan nonton yang ada dr Tompi bahas tentang oplas juga
serius Mak. saya susah nulis sesuatu kalau tidak berkaitan dengan pengalaman sendiri :)
HapusHidung saya juga rada pendek tapi kalau untuk oplas saya lebih berat ke biayanya, jadi tidak berpikir ke sana :)
BalasHapusberarti kalau ada dana, kemungikinan oplas dilakukan bisa saja? hehejhe, kepo deh sayanya
Hapus