Saat Ibu dari Penyandang Autis Butuh Dukungan, Natsbee Honey Lemon Siap Membantu Agar Harinya Kembali #AsikTanpaToxic

https://rebellinasanty.blogspot.com
Habis menangis, minum yang segar-segar seperti Natsbee Honey Lemon. Abang Fatih..


“Bun, minum dulu ya…Mudah-mudahan bisa membuat Bunda lebih segar dan tenang,” kata suami sembari mengangsurkan sebuah botol plastik kuning bergambar  lebah, madu dan buah lemon. Saya tahu dia pasti baru mengambil  NATSBEE Honey Lemon dari kulkas karena ketika dipegang, botol itu terasa dingin.

Suami saya baru saja pulang kerja, namun begitu melihat saya duduk terisak di halaman belakang ini,  segera tahu harus melakukan apa pada saya. Sebotol Natsbee Honey Lemon yang dingin dengan rasa lemon dan madu yang segar, selama ini  cukup berhasil meredakan stress  yang saya alami .

Tidak pakai lama tutup segelnya terbuka, isinya langsung masuk ke kerongkongan. Memang betul apa yang dia katakan. Rasanya yang manis asam khas madu campur lemon, seketika membuat tubuh sedikit segar sekaligus membuat  tenang .  Padahal beberapa menit sebelumnya saya baru terisak-isak meluapkan segala emosi di dada.

 Setelah meletakkan tas kerjanya di kamar, suami  kembali ke halaman belakang dan duduk di samping saya. “Abang?” tanyanya.

Saya mengangguk sambil menyeka  sisa airmata yang masih mengalir di pipi. Tidak berapa lama kemudian dari pintu dapur muncul sosok yang sedang jadi pembicaraan kami. Abang, alias Fatih, anak saya yang penyandang autis. 

Kakinya lincah melompat-lompat di antara bebatuan sembari bertepuk tangan dan mulutnya mengeluarkan suara-suara tanpa kata. Melihatnya begitu, membuat   aneka bentuk emosi  kembali meruap memenuhi dada saya. Sedih, sayang, putus asa, cemas, khawatir, pokoknya semua campur aduk di dada. Tidak terlihat tanda-tanda dia merasa bersalah, atau kesedihan di raut wajahnya.  Malah kemudian dia mendatangi saya dan mengambil botol Natsbee Honey Lemon yang  ada di tangan saya dan langsung menenggaknya sampai habis tak bersisa.  Botol kosong itu kemudian di main-mainkan sejenak, lalu dengan senyum khasnya  dia kemudian bertepuk-tepuk tangan kembali .

Ah, Abang….

Walau saya sudah tahu dan terbiasa akan  hal itu serta memahaminya, tetap saja airmata kembali mengalir tanpa tertahan .

Suami saya mengelus-elus punggung saya, menenangkan gejolak rasa sedih . Saya tahu dia menunggu saya bercerita. Sebenarnya, kisah klise di keluarga kami, karena terlalu sering kami hadapi. Dan akan kami hadapi lagi dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Tetapi rasanya tetap saja butuh saya ceritakan ulang, agar sebagian beban terangkat.

Ingatan saya melayang ke beberapa waktu yang lalu….
     Teriakan tangisnya tidak berhenti sudah sejam lebih lamanya.. Mendenging-denging menghantam gendang telinga, dan membuyarkan ketenangan yang  coba saya bangun melalui zikir dalam hati. Belum lagi jari-jarinya yang bertenaga kuat dan kukunya yang  panjang (saya belum sempat memotong kuku jari tangannya   yang harusnya rutin dipotong seminggu sekali) mencengkram bagian tubuh saya yang bisa dia pegang.
      Terlambat menghindar, dan akibatnya, “Sakit..., Bang” isak saya begitu kuku jari tangannya menghujam  lengan . Lengan saya terasa perih walau tak berdarah, hanya meninggalkan jejak goresan merah. Hati saya sedih sekali. Anak saya, yang saya besarkan dengan rasa sayang dan cinta, melakukan ini kepada ibunya. Tapi saya memahami bahwa apa yang dia lakukan diluar kendalinya sama sekali. Dia sedang mengalami sensory meltdown.
     Adiknya, Si Tiga dan Si Bungsu berusaha melepaskan cengkeraman tangan abangnya dari lengan saya. Namun tenaga anak perempuan berusia 10 tahun dan anak lelaki 7 tahun, tidak  sebanding dengan kekuatan Abangnya yang berusia 13 tahun. Saya pun menyuruh mereka berdua keluar  ruangan, walau sorot kecemasan tersirat jelas di wajah mereka.
     “Insha Allah Bunda  bisa menghadapinya, Nak. Keluarlah dulu. Tidak baik untuk kalian berdua menghadapi situasi ini,” kata saya, tak ingin mereka ikut-ikutan stress melihat situasi yang lagi chaos seperti ini.
     Keduanya menuruti  saran saya, keluar ruangan dan menuju halaman belakang.  Sedangkan Abang, masih menjerit-jerit dengan dengingan suara yang sungguh terasa menusuk telinga. Jemarinya masih mencengkeram erat lengan saya, semakin meninggalkan jejak kuku di situ.
     Airmata semakin deras membasahi pipi. Rasanya ingin menghempaskan tangan yang mencengkeram lengan saya, tapi pengalaman yang lalu-lalu mengajarkan bahwa sikap yang emosional justru akan memperparah keadaan. Abang tidak bisa dihadapi dengan amarah dan sikap kasar. Abang  hanya bias ditenangkan oleh suara yang pelan dan sentuhan ‘jiwa’.
     Abang masih menjerit-jerit sambil menarik tangan saya untuk mengikuti langkahnya.  Kali ini saya begitu lelah menghadapi abang. Efek kurang tidur bermalam-malam membuat tidak hanya fisik yang layu, namun begitu juga mental . Saya merasa begitu putus asa dan kehilangan harapan. Dunia rasanya begitu gelap untuk saya ke depannya.
     Saya menangis sejadi-jadinya. Tidak perduli lagi di dengar tetangga atau tidak. Saya lelah…, lelah luar biasa. Saya ucapkan itu jelas- jelas di hadapan Abang. “Bunda lelah, Bang.. Capek banget menghadapi sikap Abang yang terus-terusan begini. Abang bisa lihat, Bunda kurang tidur. Kalau  terus-terusan begini, Bunda bisa sakit dan tidak bisa mendampingi Abang, “ saya terisak.
     Begitu mendengar isak tangis  dan melihat deraian airmata yang deras mengalir di pipi, dia menghentikan sikap agresifnya.. Dia beralih duduk di tepi kasurnya, lantas kemudian berbaring sembari meletakkan kedua kakinya di atas pangkuan saya. Tangisnya masih terdengar namun tidak sekeras sebelumnya. Itu tanda-tanda dia sudah mulai bisa ditenangkan lebih lanjut.
      Jemari saya memijit lembut ke dua belah kakinya, mulai dari jari-jari kaki, hingga ke betis. Sambil melakukan itu saya berbicara padanya dengan nada serendah mungkin namun bisa didengarnya,  bahwa apa yang dia lakukan itu menyakiti diri saya dan saudara-saudaranya.. Bahwa itu sesuatu yang tidak baik dan dia harus belajar mengontrolnya. Namun apapun itu, kata saya lagi masih tetap dengan nada rendah, kami semua tetap mencintai dan menyayanginya. Kata-kata itu saya akhiri dengan ciuman di kening dan kedua belah pipinya.
      Itu salah satu cara yang sering saya lakukan untuk menenangkannya. Tapi itu hanya bisa di lakukan kalau dia sendiri mulai tenang. Tentu saja setelah di dahului oleh  drama yang menguras emosi dan fisik saya dan  juga anggota keluarga yang lain. Dan ini bukan yang pertama, juga bukan yang terakhir pastinya…

Keluarga dari anak penyandang autis rentan mengalami stress

Suami memeluk saya, dan kami menangis bersama di senja itu, di halaman belakang. Dia pastinya merasakan yang saya rasakan, karena hampir setiap malam selama beberapa pekan terakhir ini kami saling bergantian mengawasi dan berhadapan dengan sensory meltdown yang dihadapi Abang.  Tidur hanya cuma beberapa jam, sedangkan kewajiban lain tidak  bisa kami abaikan. Anak-anak yang lain pun tetap membutuhkan kami dari sisi yang lain, walau mereka sudah sangat mandiri, melebihi usianya dan teman sebayanya di sini. Kami lelah secara fisik, dan juga  bathin, tetapi kami harus bertahan, karena itu cuma satu-satunya pilihan. Abang membutuhkan kami. Dan saudara-saudaranya yang lain juga membutuhkan kami.

Untungnya anak-anak sejak dini sudah kami persiapkan untuk mengerti keadaan abangnya, termasuk memberi penjelasan sederhana mengenai keadaan abangnya terhadap teman-teman mereka. Namun sedikit banyak, pastinya mereka juga mengalami stress dan gejolak emosi yang campur aduk terkait situasi ini. Antara marah, jengkel, sedih, kesal, sayang, cemas,dan sebagainya. Soalnya, mereka menyaksikan, bahkan ikut terlibat dalam pengasuhan Fatih. Keluarga kami tidak punya asisten rumah tangga, sehingga butuh kerjasama dari seluruh anggota keluarga untuk menangani urusan domestik rumah tangga. Namun porsi terbesar tetap saja terletak di pundak saya dan suami. Apalagi dalam pengurusan Fatih. Mereka (saudara-saudara Fatih) sudah bisa mandiri saja , itu sudah sangat meringankan beban kami…
https://rebellinasanty.blogspot.com
Mereka pun layak mendapat kesegeran Natsbee Honey lemon agar harinya tetap bergairah aktif #asyiktanpatoxic

Situasi yang kami hadapi, dan saya yakin banyak ibu dari penyandang autis yang juga mengalaminya,  membuat beban stress di keluarga penyandang autis menjadi berat.

Hari-hari kurang tidur, karena penyandang autis biasanya bermasalah dengan pola tidur, diet makanan yang ketat, rutinitas yang harus dijalankan, terapi-terapi yang harus dilalui  begitu melelahkan. Menguras emosi, fisik, waktu, tenaga, dan pastinya biaya yang tidak sedikit. Itu pun tidak selalu berhasil.

Tak jarang  rasa sabar menghilang dan amarah meledak , berujung pada perasaan merasa bersalah dan gagal menjadi orangtua yang baik. Terlebih saat membaca perjuangan ibu dari penyandang autis lainnya,saya merasa apa yang saya lakukan  masih jauh dari yang seharusnya. Disitulah kadang saya merasa tak berdaya dan gagal.

Ibu dari Penyandang Autis Kerap merasa sendirian dan terisolasi

Tidak gampang bagi keluarga  terutama ibu dari penyandang autis untuk memiliki kehidupan sosial yang bebas bila dibandingkan keluarga lainnya. Segala jadwal harus disesuaikan dengan keadaan anak penyandang autisme, termasuk agenda-agenda terapinya.

Rencana kegiatan, jadwal liburan, semuanya juga disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan  anak penyandang autis.Setidaknya, itu yang saya  rasakan.
 Beberapa tahun terakhir ini saya tidak terlalu aktif mengisi blog dan ikut event blogger karena keterbatasan ini. Bisa saja sih di waktu luang saya masih mengikuti kegiatan ini itu, tapi tentu saja tidak semua waktu luang saya sejalan dengan agenda kegiatan di luar sana yang ingin saya ikuti. Ada perasaan sedih, sendiri, dan terutama tersiolasi dari lingkungan yang saya senangi. Tapi saya harus terima kenyataan, bahwa inilah kehidupan saya dan keluarga saya.

Pada akhirnya kebanyakan keluarga penyandang autis lebih memilih untuk berada di rumah saja, ataupun hanya berkunjung ke keluarga yg dekat saja dalam waktu yang singkat. Itu pilihan yang sering kami ambil, mengingat bepergian dengan Fatih butuh persiapan yang panjang bila ingin nyaman (untuk semua pihak). Hal-hal seperti ini yang menjadikan Ibu dan keluarga penyandang autis sering merasa tersisih, terisolasi, dan sendirian.

 Belum lagi sekecil apapun perubahan dari pola rutinitas yang biasa Fatih jalani setiap harinya, akan mempengaruhi moodnya. Contohnya seperti kejadian di atas, ketika dia harus dipindahkan ke kamar depan dengan alasan yang sangat urgen, itu bisa membuat Fatih berada dalam situasi yang tidak nyaman dan memicu sensory meltdownya selama berhari-hari.

Ada kalanya saya ingin menyerah saat situasi benar-benar memburuk dan membuat saya terpuruk. Kelelahan,kurang cukup tidur (kadangkala cuma 1-2 jam saja setiap malam saat sensory meltdownnya kumat), sementara kewajiban rumah tangga tetap harus ditunaikan, menambah kadar stress yang saya alami. Belum lagi kalau mikir ke depannya, apakah Fatih bisa mandiri? Bagaimana nasibnya nanti kalau kami tidak ada, dan sebagainya, dsb…, menjadikan level stress meningkat tajam.

Tapi menyerah tidak boleh masuk dalam pilihan yang harus diambil, karena  Fatih, suami saya, dan anak-anak saya yang lain membutuhkan saya. Saya istri dan ibu , pusat  di rumah ini. Saya harus kuat, demi keluarga yang saya cintai. Saya harus segera bangkit bila rasa putus asa sudah mulai menyergap akal sehat saya.

Apalagi berdasarkan pengalaman selama ini, kadar stress yang meningkat pada diri saya ternyata juga ikut mempengaruhi tingkat stress abang, dan juga anggota keluarga yang lain. Abang menjadi lebih sering gelisah, dan itu semakin meningkatkan pemicu sensory meltdownya muncul. Suasana rumah juga pastinya tidak nyaman dan kesalahpahaman kecil saja bisa memunculkan pertengkaran besar karena pikiran tidak lagi jernih dan fokus.

Stress itu ibarat sampah toxic alias  racun. Bila dibiarkan terus pasti akan menyebar dan  menambah berat beban yang sudah ada. Itu yangsaya rasakan dan alami saat ini. Menghadapi Abang yang sedang mengalami sensory meltdown membuat saya berada di titik nadir.  Kalau dibiarkan terus, racun berupa stress ini berbahaya bagi kesehatan saya dan juga membawa efek bagi anggota keluarga yang lain, terutama Abang. Ini harus segera diatasi. Caranya dengan membersihkan diri dari stress yang bisa menjadi toxic bagi tubuh.

Cara membersihkan diri dari racun  stress bagi Ibu dan keluarga dari anak penyandang autis
Ibarat tong sampah yang sudah penuh, sampahnya harus dibuang. Begitu juga dengan stress yang lambat laun kalau dibiarkan pasti meracuni tubuh, juga harus segera diatasi. Racun berupa stress itu harus segera dibuang, dibersihkan, sehingga tubuh bisa kembali bugar dan segar.

 Untuk menghilangkan  stress yang mulai meningkat terus kadarnya, inilah yang saya lakukan. Mungkin bisa jadi inspirasi bagi ibu dan orangtua lainnya.

  1. Mendekatkan diri padaNya, pemilik hidup dan alam semesta. Di hadapanNya saya bisa menangis dan mengadukan segala beban yang saya tanggung, seperti anak kecil tanpa harus merasa bersalah dan malu. Selain melegakan, kemudian setelahnya seperti mendapatkan energy baru. Seperti batre smartphone yang baru diisi ulang penuh. Full energy!
  2. Mensugesti diri bahwa diri saya mampu melewati hal  ini seperti sebelumnya, karena hal seperti ini telah pernah terjadi dan saya pun telah pernah melaluinya.
  3. Saya mungkin tidak bisa bersikap ‘tangguh’ setiap saat, ada kalanya saya memang lemah, dan itu manusiawi. Mengakui diri terkadang lemah dan rentan, efeknya  seperti menarik sebagian beban yang ada di hati. Lega...
    https://rebellinasanty.blogspot.com
    santai sejenak melepas penat #asiktanpatoxic
  4.    Bermalas-malasan...  Sesekali bermalas-malasan  dengan  mengabaikan segala tetek bengek urusan domestic rumah tangga ternyata menyenangkan lho.  Abaikan saja sejenak cucian yang menumpuk, piring kotor yang berserakan, rumah yang belum di sapu, dan lainnya. Kalau mau makan, beli dari rumah makan padang.  Tidur seharian di kasur seharian juga tak apa. Selain memulihkan kelelahan juga mengembalikan energy.  Syaratnya, cukup dilakukan  sesekali saja dan jangan keterusan. Kalau keterusan malah menimbulkan masalah baru 😉
  5.   Harus punya hobi sebagai pengalih dari rasa jenuh dalam mengurus buah hati penyandang autis. Saya memilih crafting , merajut dan berkebun.  Untuk crafting dan merajut,saya bisa lakukan sembari mendampingi dan mengawasinya, sedangkan berkebun sebagai sarana saya grounding dengan alam untuk memperoleh energi baru.
    https://rebellinasanty.blogspot.com
    Berkebun sebagai salah satu cara melepas stress. jangan lupa banyak minum agar hari-harimu aktif kembali #asiktanpatoxic
  6. Berbagi tanggung jawab dengan anggota keluarga yang lain. Tidak segala urusan rumah tangga harus kita lakukan sendirian. Saya sudah menanamkan kewajiban dalam porsi masing-masing yang bisa dilakukan anggota keluarga yang lain. Ini sangat membantu saya fokus pada sesuatu (Abang) yang tidak bisa anggota keluarga lainnya atasi. Kala lagi tantrum atau sedang sensory meltdown, Abang biasanya hanya mau ditenangkan oleh saya.
  7.  Jangan fokus pada pencapaian ke depannya, tapi fokuslah pada sejauh mana pencapaian yang sudah dilakukan dari anak penyandang autis. Kalau mikirin ke depannya, beban hidup akan berat banget terasa, namun kalau melihat ke belakang dan membandingkannya dengan apa yang telah bisa dilakukan anak penyandang autis saat ini, hidup akan dipenuhi syukur. Percaya deh, itu yang saya alami.
  8. Jauhi lingkungan dan orang-orang yang suka memberi stigma negatif tentang anak-anak berkebutuhan khusus. Hidup yang sudah melelahkan hanya akan bertambah menyakitkan kalau harus mendengar ocehan negatif dari orang-orang yang tidak paham.  ( Kalau untuk yang ini, ada beberapa hal yang sulit dielakkan, karena kultur masyarakat kita yang mengharuskan silaturahmi pada keluarga, sementara justru kadang stigma dan komentar negatif datangnya dari kerabat). 
  9. Memanjakan diri dan memberi hadiah buat diri sendiri. Tidak usah merasa bersalah kalau sesekali Ibu menjauh sejenak dari anak penyandang autis sekedar untuk menonton film, merawat diri ke salon atau spa dengan pijatan aroma terapi dan masker emas . Anggap saja memberi hadiah buat diri sendiri, dan kita memang layak kok mendapatkannya setelah hari-hari yang melelahkan.
  10. Memberi hadiah bagi anggota keluarga lainnya, karena mereka pun telah memberikan kontribusinya dalam merawat dan mengasuh saudaranya. Saya biasanya membelikan mereka buku-buku cerita, peralatan crafting ataupun es krim yang kami nikmati bersama-sama. Membuat orang lain bahagia, akan membawa diri kita sendiri pun turut berbahagia. Sangat mengurangi tingkat stress loh.
  11. Harus punya waktu sendiri dengan pasangan. Jangan sampai kesibukan dan waktu yang tersita justru membuat hubungan kita dengan pasangan menjadi hambar dan jauh. Tak apa menyisihkan beberapa jam dalam seminggu untuk berduaan dengan suami, sekedar makan lontong sayur favorit seperti yang biasa saya lakukan di Minggu pagi. Atau jalan-jalan ke tempat penjual tanaman buat menambah koleksi tanaman di halaman saya. 
  12. Kelompok dukungan.  Berbeda dengan poit 8, kita justru harus aktif mencari kelompok dukungan agar tidak merasa sendirian dan terisolasi sepenuhnya. Kita butuh orang lain sebagai teman yang saling mendukung dan berbagi pengalaman dalam pengasuhan dan pendidikan anak penyandang autis. Kesadaran bahwa kita tidak sendirian menjalani ini semua , dan di luar sana banyak yang senasib dan sepenanggungan walau dengan cara dan situasi yang berbeda, sangat membantu meringankan beban stress yang kita hadapi.
  13. Olahraga. Jangan lupakan salah satu cara mengendurkan saraf tubuh yang tegang adalah dengan olahraga. Tidak harus ke gym, jalan kaki keliling komplek rumah, menggerak-gerakkan leher, kepala, tangan dan kaki dengan pola dan hitungan tertentu membantu meredakan stress. Bahkan saat duduk olahraga ringan bisa dilakukan.
  14. Menjaga kesehatan melalui asupan makanan, minuman, dan vitamin. Ini sangat penting. Tubuh yang kelelahan butuh diberi pasokan energi berupa makanan dan minuman sehat. Tubuh yang tak bertenaga akan lebih rentan ditumpangi stress. Dan sebaliknya, fisik yang sehat akan menjadi topangan yang kuat buat jiwa yang memiliki beban berat di hari-harinya. Jangan juga lupakan asupan vitamin, terutama Vitamin C  yang mendukung daya tahan tubuh.

Bicara soal vitamin dan daya tahan tubuh , sudah tiga tahun terakhir ini setiap pagi  saya selalu menyediakan perasan air jeruk lemon, madu dan air hangat untuk menambah daya tahan dan kebugaran tubuh.   Literatur yang saya baca dari berbagai sumber menyebutkan bahwa lemon memiliki banyak kandungan vitamin C yang membantu meningkatkan  daya tahan tubuh.Sedangkan madu yang dikenal sejak berabad lalu sebagai anti oksidan, anti peradangan, anti bakteri dan jamur, sudah pasti membawa efek positif bagi tubuh.  Gabungan madu dan lemon yang menjadi minuman madu lemon yang kaya dengan nutrisi dan vitamin, akan membuat daya tahan tubuh meningkat, mengurangi ketegangan, membaguskan kulit dan rambut, menghilangkan jerawat, melancarkan saluran pencernaan, dan tentu saja membuat efek segar dan tenang bagi tubuh karena rasanya enak.

Efek positifnya nya sudah teruji buat saya dan suami.Setiap kali musim hujan tiba biasanya suami mudah terserang flu dan asmanya kambuh. Namun sejak mengkonsumsi minuman madu lemon tersebut, flu dan asma menjauh. Dan manfaat positif ini sudah bertahun-tahun kami rasakan.

 Untuk saya yang bermasalah dengan pencernaan, campuran lemon,madu dan air hangat ini membantu melancarkan saluran pembuangan saya, dan membantu tidur saya lebih nyenyak. Saya lebih mudah buang air besar setiap pagi, sehingga badan saya lebih ringan dan  bisa terus bugar sepanjang hari walau banyak kewajiban yang harus saya lakukan. Saya juga masih bisa berkebun, crafting dan merajut di sela-sela seabreg kesibukan bersama Abang.

Namun untuk anak-anak yang lain, belum terlihat hasilnya yang jelas, karena mereka jarang mau minum ramuan ini.  Mereka kurang suka dengan rasa masam lemon. Mungkin takaran saya ketika mempersiapkan minuman air jeruk lemon dan madu itu kurang pas, sehingga rasa masamnya yang dominan di lidah mereka. Soalnya, itu yang mereka keluhkan selama ini.

Hidup menjadi bersemangat kala itu. Semua dijalani #AsikTanpaToxic, sampai kemudian  akhir-akhir ini saya kehilangan waktu mempersiapkan ramuan kaya manfaat tersebut. 

Bayangkan saja, setiap malam saya dan suami hanya cuma waktu beberapa jam saja untuk tidur, sehingga saat bangun pun badan sudah kuyu, lemas tak bertenaga. Mempersiapkan bekal makan dan snakc untuk suami dan anak-anak pun tidak lagi seperti dulu. Cuma seadanya dan sekedarnya. Apalagi harus motong-motong jeruk lemon, memerasnya, kemudian mencampurnya dengan madu dan air hangat, duh... sudah tidak sempat. Tidak heran hidup yang semula #AsikTanpaToxic menjadi stress dan berat. Sepertinya racun-racun itu sudah mulai memasuki tubuh kami kembali.

Sempat saya mencoba kembali memeras jeruk lemon dan mencampurnya dengan madu. Ternyata dengan kondisi abang yang sering kumat meltdownya, membuat saya kehilangan daya. Untungnya beberapa waktu yang lalu saya diperkenalkan dengan Natsbee Honey Lemon. Begitu mencobanya pertama kali, saya langsung merasa menemukan solusi bagi masalah saya.

Natsbee Honey Lemon membantu hari-hari kami kembali #AsikTanpaToxic dengan cara yang mudah.
https://rebellinasanty.blogspot.com
Natsbee Honey lemon, kesegaran paduan lemon dan madu membuat semangat menjalani hari dengan #asiktanpatoxic

Gimana tidak?
1. Natsbee Honey Lemon mengandung madu  dan  lemon, yang nutrisi kedua jenis bahan tersebut saya telah tahu dan rasakan manfaatnya selama ini buat tubuh saya dan suami.Saya tidak perlu lagi repot memeras lemon untuk membuat ramuan menyehatkan ini.

2. Takaran madu dan lemonnya pas, sehingga anak-anak saya pun menyukainya. Apalagi kemasannya dalam botol yang mudah di simpan dalam kulkas sehingga ketika dibutuhkan,siap konsumsi segera 

3. Natsbee Honey Lemon membantu saya tetap segar selama  beraktivitas seperti saat sedang crafting, berkebun, dan terutama saat menghadapi abang kalau lagi tantrum atas sedang meltdown.
https://rebellinasanty.blogspot.com
Lagi crafting. Selalu jaga asupan cairan untuk tubuh agar tetap fokus menjalani hobi dengan #asiktanpatoxic

4. Natsbee Honey Lemon juga membantu  memulihkan kesegaran Abang setelah dia berjam-jam menangis saat sedang tantrum mau pun meltdown. Dia suka rasanya dan efek setelah meminumnya membuat dia jauh lebih tenang. 
Ada pepatah yang saya buat di rumah mengenai Abang, yakni "Kalau Abang tenang, kami pun senang. Kalau Abang senang, kami pun tenang.  Natsbee Honey Lemon membantu membuat abang senang dan tenang setelah meminumnya. Dan itu berarti membantu saya terbebas dari stress yang berkepanjangan saat harus menghadapi tantrum dan meltdownnya. Hidup jadi benar-benar  kembali #AsikTanpaToxic .

5.  Natsbee Honey Lemon menjadi minuman kegemaran bersama seisi rumah. Acara kumpul bersama di tempat favorit yakni halaman belakang, menjadi semakin mencairkan komunikasi antaranggota keluarga. Dan  kami jadi lebih saling memahami dan saling mendukung dalam menghadapi situasi yang berat dan tidak enak .

Pada akhirnya, saya berharap kondisi meltdown yang tengah abang hadapi segera mereda, walau kemungkinan akan terjadi lagi sudah pasti ada. Stress datang kembali, pasti juga ada. Sama halnya dengan sampah-sampah dalam kehidupan. Tidak bisa selamanya rumah kita bebas sampah. Yang ada adalah bagaimana kita mengelola sampah tersebut, yakni dengan membuangnya, bukan semakin menumpuknya.

Punya anak penyandang autis bukan berarti tidak bisa menikmati hidup. Apa yang saya bagi, bukan juga untuk membuka aib atau menjual kisah kondisi abang. Saya hanya ingin membuka diri, bahwa ada loh orang-orang seperti kami, keluarga dari anak-anak istimewa yang ditipkan Tuhan untuk diasuh dan di sayang penuh cinta. Tapi jalan yang kami tempuh sangat berliku dan menguras fisik dan psikis. 
Kami butuh dukungan, bukan komentar negatif, bukan pula stigma yang membuat hidup jadi lebih berat.

Saya memilih bahagia dan menjalani hidup bersama anak dan keluarga saya dengan cara yang #AsikTanpaToxic. Dan salah satu toxic itu adalah pandangan negatif mengenai keluarga dan anak-anak berkebutuhan khusus, dan autisme salah satunya. 

Tapi bagaimanapun memang akan selalu ada orang-orang yang berpikir positif, dan juga pasti akan selalu ada yang memandang negatif. Pandangan positif sudah pasti akan membantu kami-kami para orangtua penyandang autis untuk selalu optimis dengan anak-anak istimewa kami dan menjalaninya dengan semangat dan positif.
Dan pandangan negatif saya pastikan akan saya lewatkan karena hanya akan membuat tempat sampah saya penuh. 

Saya yakin, yang baca blog saya ini pasti orang-orang yang berjiwa positif dan mendukung gaya hidup #AsikTanpaToxic bukan?

Salam
Rebellina aka Reni Susanti

Sumber : 

Baca kisah yang mendukung mengenai Fatih dalam : Ketika Cinta Memanggil



     
     







Rebellina Santy

Author, Blogger, Crafter, and Gardener. Informasi pemuatan artikel, Sponsored Post, Placement, Job Review, dan Undangan Event, email ke : rebellinasanty@gmail.com. Twitter/IG: @rebellinasanty

10 komentar:

  1. Salut Mbak dengan perjuangan Anda terus menemani Abang, semoga dimudahkan ya, apalagi sekarang ada Natsbee honey lemon jadi makin bersemangat deh beraktivitas. Jadi mupeng pengin ke kebunnya hehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. makasih doanya nih Mas. Aku belum punya kebun sih, masih sebatas halaman saja, hehehe. Dakan punya kebun yanng luas seperti impian...

      Hapus
  2. Dalut Mbak dengan ketegarannya. Ibu istimewa buat anak istimewa. Tetap semangaaat ya. Memang sih kadang perlu sekali kali memanjakan diri ya dengan istirahat dari kesibukan rumah tangga. Atau menyegarkan diri dengan minum Natsbee honey lemon ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memanjakan diri untuk mengisi energi kembali Mbak. Dan Natsbee hney lemn teman yang enak dan menyegarkan untuk itu...

      Hapus
  3. Abang Fatiiih, sehat terus yaaaa

    BalasHapus
  4. mamanya juga sehat2 ya dan semoga diberikan kesbaran mendampingi abang Fatih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak Kania. Memang harus jaga kesehatan nih, biar enggak makin down..

      Hapus
  5. Semoga selalu diberi kesehatan dan kekuatan dalam menjalani keseharian ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin. Terima kasih buat do'anya ya...

      Hapus

Halo...
Thanks ya uda mau mampir dan kasih komentar di blog Rebellina Santy. Komentar kamu berharga banget buat saya.

Salam
Reni Susanti