3 Hal yang Harus Dipersiapkan ketika Ingin Punya Hewan Peliharaan

https://rebellinasanty.blogspot.cm
Mumut, dalam kenangan. 

"Bun, boleh enggak kita punya anjing?" tanya Si Sulung suatu ketika. Dulu.
Sodaranya yang lain mendukung, pasang tatapan mata memohon. Mungkin mereka terinspirasi oleh cerita saya tentang Jimboo. Baca cerita tentang Jimboo di sini.
"Tidak!" jawab saya tegas.
"Mengapa?" cecar Si Sulung
"Karena kita tidak punya kebun, ladang, ternak, atau rumah dengan harta berlimpah sehingga butuh anjing penjaga. Kalian tahu, dalam agama kita, anjing hanya boleh dipelihara untuk menjadi penjaga rumah, ternak atau kebun atau untuk berburu. Itu pun tidak boleh berada di areal dalam rumah."

"Kalau kucing, gimana?" tanya Si Sulung lagi.
"Boleh..." kata saya.

Mereka bersorak gembira, namun kemudian terhenti karena kemudian saya lanjutkan, "Asal kalian sendiri yang mempersiapkan makannya, kemudian membuang kotorannya! Dan kalau kucingnya beranak, kalian harus siap mengurus semuanya. Bunda tidak mau tahu sama sekali, karena Bunda tidak minat memelihara hewan peliharaan." Lantas saya mengingatkan mereka moment 3 ekor anak kucing yang mati.


Mereka terdiam. Beberapa waktu kemudian kompakan mereka menarik keinginannya untuk memelihara kucing, atau kelinci, dan sejenisnya. Mungkin terbayang oleh mereka beratnya mengurus hewan peliharaan, setelah saya jelaskan secara rinci apa-apa saja yang harus mereka lakukan kalau memiliki hewan peliharaan semisal kucing atau kelinci dan saya tegaskan juga bahwa saya tidak mau terlibat sama sekali untuk hal itu.
Dialog saya dengan anak-anak tersebut sudah lama sekali. Namun gara-gara heboh pemberitaan tentang sosok wanita bercadar yang memelihara 11 ekor anjing dan beberapa jenis hewan lainnya di rumahnya, membuat saya tertarik menuliskan pendapat saya soal hewan peliharaan ini. Terus terang, karena ada pengalaman pribadi sebagai tetangga dari orang yang memiliki hewan peliharaan, hanya saja bukan anjing, melainkan kucing dan ayam.
Berdasarkan pengalaman itulah saya tuliskan hal-hal berikut ini yang harus dipersiapkan oleh siapa pun yang ingin memiliki hewan peliharaan di rumah. Apalagi buat yang ingin punya hewan peliharaan lebih dari seekor.

https://rebellinasanty.blogspot.com
Si Kuput, yang berkali-kali diusir, tetep aja ngendn di halaman belakang. Lumayan, buat ngusir tikus

Berikut 3 Hal yang Harus Dipersiapkan Ketika Ingin Punya Hewan Peliharaan

1. Tanggung jawab
Memelihara hewan peliharaan itu butuh tanggung jawab dan kesungguhan hati. Bukan karena kasihan semata. Hewan peliharaan juga butuh dikasih makan, atau disediakan kebutuhan lainnya, semisal kandang, tempat buang kotoran, atau diajak jalan.Bahkan untuk urusan kesehatannya juga. Bukan cuma buat dielus-elus, diajak main, dan sebagainya, lantas setelah bosan, diabaikan begitu saja. Atau ketika butuh makan, hewan peliharaannya dibiarkan keluar untuk mencari makan sendiri dan buang kotorannya di mana-mana.
Anak tetangga saya ada yang mengklaim seekor kucing betina kampung sebagai miliknya. Diberi kalung di lehernya sebagai penanda bahwa kucing itu punya dia. Sayangnya, kucing yang katanya punya dia tersebut, dibiarkan berkeliaran ke mana-mana termasuk ke halaman belakang rumah kami. Tak jarang menyelinap di dapur mengobrak-abrik meja makan. Belum lagi ketika bunting, dia beranak di atas plafon kamar anak sulung saya. Enggak cukup sampai di situ, 3 ekor anaknya yang masih belum buka mata, ditinggal begitu saja, hingga sepanjang hari mengeong-ngeong terus.
Saya sampai membayar tetangga lainnya untuk naik ke plafon dan mengambil anak kucing yang butuh susu induknya. Namun karena induknya entah kemana dan tidak pernah datang untuk nyusui anaknya, akhirnya anak kucing tersebut cuma bisa dikasih air putih. Namun ikhtiar untuk menyelamatkan nyawa anak kucing tersebut tidak berhasil. Ketiganya mati dan dikubur di pojok kiri halaman belakang rumah. Bahkan pake upacara penguburan yang dipenuhi do'a, bunga, dan tangisan Si Sulung, Si Tiga, dan Si Bungsu, karena selama beberapa hari merekalah yang berjuang menyelamatkan nyawa ketiga bayi kucing tersebut (mulai dari menyuapi susu dan air putih memakai sedotan ke mulut mungil anak kucing, memberi selimut dari pakaian bekas, dan membersihkan kotorannya). Bekas kuburan ketiga anak kucing tersebut ditandai pakai batu koral hias yang berwarna putih.
Anak tetangga yang mengklaim sebagai pemilik kucing (si induk bayi kucing yang mati) tetap terlihat santai saja. Tetapi karena anak-anak, tentu saja susah dimintai pertanggungjawabannya khan, hehehe.

Ketika saya ingatkan peristiwa 3 ekor anak kucing yang mati itu, cukup ampuh buat anak-anak saya memikirkan ulang permintaan mereka untuk memiliki hewan peliharaan. Tanggung jawab, tidaklah semudah seperti yang mereka bayangkan semula.
2. Finansial/Keuangan
Punya hewan peliharaan berarti harus siap-siap juga menyediakan dana untuk kebutuhan hewan peliharaan tersebut, berupa makanannya, kesehatannya, kebersihannya, kandangnya, dan lain-lain yang tidak terduga.

Jangan anggap sepele soal dana untuk hewan peliharaan ini. Soal makanannya saja bisa jadi masalah besar. Berdasarkan cerita teman yang memiliki kucing jenis angora, makanannya harus khusus, bukan sekedar nasi dicampur ikan asin ala kucing kampung. Mana mau kucing anggora makan itu. kalau pun mau (terpaksa,) akibatnya, bulu indahnya bisa rontok. Hilang deh sesuatu yang membuat kita betah memeluk si anggora.Dan makanan khusus buat kucing ini enggak murah loh. Bayangkan saja kalau kita memiliki lebih dari seekor kucing jenis tertentu sebagai hewan peliharaan.

https://rebellinasanty.blogspot.com
Mumut, dalam kenangan. Sekarang udah mati, sepertinya tertabrak mobil kalau kata mertua
Begitu juga dengan anjing. Sebagai hewan karnivora, anjing membutuhkan daging sebagai makanannya. Walau beberapa kali saya pernah ketemu pemilik anjing yang membeli kepala dan kaki ayam sebagai makanan untuk anjing peliharaannya, tentu saja tetap memerlukan biaya yang tidak sedikit. Soalnya, anjing makannya khan minimal dua kali sehari. Gimana kalau anjingnya lebih dari seekor? Hitung sendiri aja deh.
Belum lagi urusan sakit dan harus di bawa ke dokter hewan. Itu butuh dana yang tidak sedikit.
Seperti kisah Mumut, kucing (tak sengaja) peliharaan keluarga mertua. Ketika mumut sakit dan tidak mau makan, dibawalah ke dokter hewan. Sampai kena sekitar sejuta rupiah, kata mertua. Duh.., kalau untuk saya, uang segitu rasanya sayang buat seekor kucing yg tidak mau makan, karena banyak hal lain yang lebih prioritas untuk kehidupan saya dan manusia lainnya. Tapi saya maklum, kalau sudah sayang terhadap hewan peliharaan, tentu tak tega melihatnya sakit.
Jangan sampai berani memiliki hewan peliharaan yang memerlukan makanan khusus dan perlakuan khusus (tentu dengan budget khusus juga pastinya), sementara isi dompet kita nanggung. Enggak elok kalau untuk kebutuhan makanan hewan peliharaan kita, kita koar-koar di media sosial, menggalang dana, mengulik rasa kasihan dari orang lain agar membantu biaya hewan peliharaan kita. Duh...itu namanya enggak bertanggung jawab.
Atau seperti salah seorang warga di kampung saya. Ayam miliknya belasan ekor, namun setiap hari untuk makannya, ayam tersebut sengaja dilepas berkeliaran kemana-mana. Halaman tetangga jadi korbannya, termasuk halaman rumah kami.Bikin rusuh dengan mematuki bunga yang ada di dalam pot dan tanah sampai berpatahan batangnya. Pot-pot bunga bertumbangan, belum lagi sampah yang saya kumpulkan dalam lubang, kembali berserakan dibuat ayam-ayam tersebut. Dan juga kotorannya yang berserakan di segala sudut halaman, terkadang di teras rumah. Bukan saya saja korban ayam tetangga ini, tetangga-tetangga yang lain juga sering kedengaran ngomel akibat ulah ayam yang dibiarkan ini.

Pemiliknya sih tenang-tenang saja. Kalau ayam-ayamnya sudah besar, dia tinggal jual dan memperoleh penghasilan, sementara tetangga telah dibuat susah oleh hewannya.

3. Tempat dan aspek lingkungan sekitar
Punya hewan peliharaan enggak cuma punya modal duit dan tanggung jawab. Tempat tinggal buat hewan peliharaan serta lingkungan sekitar juga harus wajib diperhatikan.

Kalau punya kucing seekor rumah dengan luas 60m2 masih bisa memadai. Tapi kalau lebih dari seekor, saya enggak yakin rumah menjadi tempat yang nyaman baik untuk penghuni rumahnya, dan juga hewan peliharaan, terutama soal kotoran kucing yang amboi baunya.
Kalau kucingnya cuma main di rumah, mungkin masih bisa kita urus dan bersihkan sendiri kotorannya sehingga tidak mengganggu kenyamanan sekitar. Kalau dilepas dan main ke halaman tetangga, kemudian ninggalkan kotorannya di sana, gimana? Apa enggak bikin susah tetangga?
Belum lagi kalau para pejantan lagi birahi atau berantem dengan sesama pejantan lainnya. Berisiknya minta ampun.
Enggak enak buat kuping siapa saja yang mendengarnya deh...

Begitu juga dengan hewan peliharaan lainnya, seperti anjing.
Saya pernah melihat beberapa ekor anjing yang diikat di teras depan pemilik rumahnya, menggonggong terus menerus. Mungkin anjingnya enggak nyaman dan butuh udara segar, karena rumahnya terlihat sempit dan pengap karena dibatasi tembok bata tinggi. Kalau sudah begitu, kasihan anjingnya dan juga mengganggu kenyamanan lingkungan sekitarnya.

Harusnya, kalau mau punya hewan peliharaan, terutama lebih dari seekor, bikinlah kandangnya yang luas sehingga tidak mengusik halaman orang lain, dan juga hewan peliharaannya sendiri tidak tersiksa. Atau, rumahnya yang dibikin pagar, sehingga hewan peliharaannya tidak sembarangan main ke halaman tetangga lainnya dan bikin rusuh.
Iya,hewan sih enggak tahu apa-apa soal etika, tapi pemiliknya khan tahu. Masak pemilik hewan peliharaan mau disamakan dengan hewan peliharaannya yang tidak memiliki etika?
Hal-hal seperti ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan dalam bertetangga, dan tidak menutup kemungkinan seperti menghadirkan bara terpendam. Sewaktu-waktu bara tersebut bisa menjadi api yang berkobar dan merusak hubungan antar tetangga hanya gara-gara hewan peliharaan.

So, begitulah setidaknya pendapat saya mengenai hal yang harus dipersiapkan ketika ingin punya hewan peliharaan. Atas pertimbangan tersebut, saya memilih saat ini untuk tidak memiliki satupun hewan peliharaan.

Tapi enggak punya hewan peliharaan, bukan berarti pembenci hewan atau tega berbuat keji pada hewan-hewan, bukan?

Salam
Rebellina Santy

Rebellina Santy

Author, Blogger, Crafter, and Gardener. Informasi pemuatan artikel, Sponsored Post, Placement, Job Review, dan Undangan Event, email ke : rebellinasanty@gmail.com. Twitter/IG: @rebellinasanty

4 komentar:

  1. Pelihara hewan itu mahal. Nggak cuma soal makanan dan ruang gerak, kalau kita nggak bisa menyayanginya, hewannya juga menderita kok. Apalagi hewan mamalia yang selalu butuh lingkungan sosial.

    BalasHapus
  2. dan di rumahku dilarang pelihara hewan.

    BalasHapus
  3. Ini menunjukan bahwa manusia bisa melihat hewan seperti sodara sendiri

    BalasHapus

Halo...
Thanks ya uda mau mampir dan kasih komentar di blog Rebellina Santy. Komentar kamu berharga banget buat saya.

Salam
Reni Susanti