Kamis, 05 Februari 2015

Perangkap Tikus

www.rebellinasanty.blogspot.com
credit

 Pernikahan itu seperti perangkap tikus? Yang di luar ingin masuk ke dalamnya, sedangkan yang di dalam ingin keluar? Benarkah?

Jaman masih jomblo, saya suka ngumpul bareng rekan-rekan sesama jomblo. Yang dibahas enggak jauh dari urusan jodoh. Bahasnya enggak pakai galau, banyakan ketawa ketiwinya, berhubung kita-kita semua memang pada mandiri, jadi terkesan deh agak gengsi kalau bahas jodoh pakai bahasa mellow, padahal di dalam hati… , hmmm.

Nah saat lagi ngerumpi urusan inilah,  salah seorang rekan nimbrung dan bilang kalau pernikahan itu seperti perangkap tikus. Yang di dalam ingin ke luar, yang di luar malah ingin masuk. Rekan ini sudah menikah loh. Wah, kita jadi melongo mendengar celutukannya.


“Maksud Kakak?” tanya kita-kita, para jombloers saat itu, masih belum jelas dengan maksud perkataannya. Kalau udah nikah, pengen keluar dari pernikahankah alias cerai, gitu?

Diah mah senyum-senyum menanggapi keluguan kita. “Nikah itu dari luarnya aja terlihat enak, menyenangkan. Tapi begitu menjalaninya, baru terasa deh berrratnya…”

Ngomong berat itu pakai tekanan loh, sehingga huruf r nya terkesan banyak dan lama…..Ih lebay! Saya nya,  yang menuliskan ini, bukan si kakak loh.

Dilalahnya, rasa penasaran kita tidak terjawab tuntas, Beliaunya malah ngacir setelah tuntas melakukan transaksi.Jadilah celutukan Si Kakak cuma menjadi sekedar wacana saja, sampai kemudian saya memutuskan menikah, dan trala..

Belasan tahun menikah, berusaha beradaptasi dengan segala dinamikanya, ucapan Si Kakak tentang perangkap tikus tidak lekang dari ingatan. Saya merasakan, ucapan itu ada benarnya.

Menikah, menyatukan 2 pribadi yang berbeda itu butuh penyesuaian seumur hidup. Itu masih antar pribadi suami-istri. Belum lagi masalah menyatukan keluarga besar, anak-anak,  finansial, dan buanyak lagi. Kesepakatan-kesepakatan baru harus senantiasa dibuat. Kesabaran  yang harus terus dihidupkan agar tak kehilangan pengharapan pada pasangan, bila pasangan tak sesuai harapan. Atau juga romentisme yang harus selalu dipupuk agar semangat menjalani pernikahan tetap tarjaga , walau tak mungkin lagi sama seperti pengantin baru.

Dan sering kali pula perasaan jenuh dan lelah mendera jiwa. Apalagi bila kenyataan  hidup jauh dari ekspektasi semula. Ditambah lagi misalnya dengan campur tangan pihak-pihak lain. Semakin runyamlah terlihat pernikahan yang dijalani.Ibarat irama, udah enggak enak lagi di dengar dan didendangkan bersama.
Saat itu terjadi, perasaan  merindukan  saat diri masih menjadi pribadi yang mandiri dan memiliki kendali penuh atas diri sendiri pun hadir. Nah, di sinilah ungkapan pernikahan seperti perangkap tikus itu terasa banget benarnya. Lalu, apakah kemudian dengan naifnya pernikahan itu kemudian disudahi?

Bukan perangkap namanya kalau tikus akan mudah keluar setelah masuk ke dalam perangkap dan memakan umpan.  Andai segampang itu.., pasti jalan itu yang banyak dipilih. Berpisah, meninggalkan kenangan yang menyakitkan, lingkungan yang tidak mendukung,  lalu melanjutkan kehidupan yang baru.
 
Namun perlu diingat, yang namanya perangkap, kalaupun berhasil keluar dari perangkap, tubuhnya pasti mengalami luka. Walau mungkin segores, tetap luka, bukan? Begitu juga dengan pernikahan. Tidak mudah untuk berpisah, segampang menganalogikannya dengan perangkap tikus. Banyak pertimbangan, salah satunya anak-anak. Menjadikan pernikahan dengan segala dinamikanya sebagai ladang amal ibadah, termasuk salah satu cara untuk bertahan dalan ikatan suci tersebut.Tapi tentu saja tidak semua memilikip endapat yang sama,bukan?

So, menurutmu bagaimana? Benarkah pernikahan itu seperti perangkap tikus? Lalu, apa solusinya bila itu yang dirasakan?Bagi pendapatmu di komentar ya :)








8 komentar:

  1. Menjadikan pernikahan dengan segala dinamikanya sebagai ladang amal ibadah

    saya setuju dgn yg ini mak, dengan segala pahit manisnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul. perangkap hanya bagi yang tidak iklash ya

      Hapus
  2. Istilah masuk perangkap tikus itu lebih tepat bila pasangan yang menyatukan ikrar dlm ikatan pernikahannya tidak ikhlas menjalani kehidupan pasca pernikahan... Sehingga ketika menemukan pernak-pernik kecil dlm pernikahan merasa ada suatu ganjalan... Mudah-mudahan kita yg sudah terikatan pernikahan bisa ikhlas menjalaninya sebagai ladang ibadah...sehingga gak ada tuh istilahnya masuk perangkap tikus...

    BalasHapus
    Balasan
    1. barangkali yang menganggap begitu, ekpektasinya terhadap pasangan dan pernikahan kelewat besar, dan tidak berusaha menerima diri dan kondisi perniakahan mereka ya Mak

      Hapus
  3. saya gak pernah terpikir kalau itu suatu perangkap, sih. Walopun memang kadang suka ada rasa kesal. Tapi, mencoba menikmati saja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau saya, jujur, sesekali terpikir begitu. tapi kembalikan diri dengan tujuan sebagai ibadah. akhirnya, sadar :)

      Hapus
  4. Maka sebaiknya nikah jangan karena umur atau merasa harus, nikah tuh karena siap sharing life experience dengan 1 orang yang compatible dgn kita. Baiknya kedua belah pihak terbiasa mandiri sejak kecil, bukan yang tipe netek ibunya (tinggal serumah walau udh dewasa). Tipe org macam ni biasanya ga siap dgn dunia rumah tangga krn terbiasa nebeng di kehidupan rumhtgga ortunya tnp terbiasa memegang tgjwb thdp diri sendiri.

    Keluarga Indonesia rempong sih. Apa2 ikut campur. Belum lagi kepatriarkisan yang menjijikan dimana wanita yg selalu disalahkan kalau ada konflik rumah tangga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. :) makasih udah komen ya. Enggak semuanya juga keluarga Indonesia begitu, walau tak dipungkiri ada juga yang begitu ;)

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge