Minggu, 19 Oktober 2014

Ciri-Ciri Orang Yang Gemar Berhutang, Tapi Enggan Membayar (2)

photo pinjam dari sini

2013 Lalu..

Perempuan berusia 25 tahun itu mengetuk pintu depan rumah kami. Suami yang lagi kerja di depan kompie di ruang depan sekaligus tempat usaha pembayaran Listrik Online, yang membuka pintu. Seketika suami  menundukkan pandangan mata. Risih. Berbusana blus sebagai atasan dipadu dengan celana pendek selutut, perempuan yang tidak pernah kami kenal sebelumnya memohon dengan memelas ingin meminjam uang.  Tentu saja suami gelagapan, merasa ditodong tiba-tiba seperti ini oleh perempuan tidak dikenal. Bergegas suami menemui saya di dapur, dan menceritakan sekilas mau si perempuan tersebut, dan menyerahkan urusan itu pada saya.

Saya yang kemudian menghadapinya. Ternyata dia tetangga saya, tidak dekat, berjarak sekitar 300 m dari rumah. Rumahnya bersebrangan jalan dari mesjid. Sebut saja namanya Mia. Cantik, kulit bersih, berusia sekita 25-an, memiliki 2 orang anak. saya memang jarang keluar rumah, jadi bertemu Mia baru kali itu.  Heran juga saya kok sampai nekad benar Mia ini ingin meminjam uang kepada tetangga yang tidak begitu kenal dengannya.


Saya tanya Mia apakah uang yang ingin dipinjamnya itu untuk kebutuhan makan keluarganya, atau biaya pengobatan mendadak?. Dia katakan tidak. Tapi dia tidak mau menjelaskan untuk apa, hanya berjanji akan megembalikannya minggu depan. Tidak besar sih yang ingin dipinjamnya. Tapi saya tidak suka sikapnya yang bertahan (maaf, tanpa malu) ingin meminjam uang, tanpa alasan yang jelas. Ya sudah, saya dan suami sepakat memberinya pinjaman setengah dari yang dia ingin pinjam.  Sudah ada firasat awal, Mia bukanlah orang yang amanah, mengingat tanpa sungkan mendatangi tetangganya yang tidak dikenal sama sekali hanya untuk meminjam uang.

Seperti diperkirakan, Mia bukan orang yang amanah. Janji minggu depan ditambah menjadi bulan depan, lagi dan lagi berubah. Ketika kemudian ketemu di hajatan tetangga, penampilan Mia sangat terlihat wah. Rumahnya sendiri jauh lebih bagus dari rumah saya. Sikapnya sungguh manis pada saya saat itu. Memberi janji-janji baru yang saya sudah antipati mendengarnya, karena pasti palsu. Saya sudah bisa meraba type Mia ini seperti apa. Bener saja, beberapa bulan kemudian, setiap bertemu, dia pasang muka seolah-olah tidak kenal saya.

Singkat cerita, tahulah saya kemudian Mia ini sudah berhutang kemana-mana. Tetangga sekampung hampir seluruhnya telah menjadi korbannya. Memang tidak besar, tidak sampai jut-jut, karena itu tetangga (dan saya) juga memberinya pinjaman karena Mia ini pandai bersandiwara. Bersikap memelas dengan dalih sangat butuh sekali dan berjanji akan membayarnya secepat mungkin. Itu yang membuat kita semua jatuh sebagai korban. Bahkan pekerja bangunan mesjid di depan rumahnya pun tak luput dihutanginya! Padahal pekerja bangunan itu bukan orang mampu. 

Mia ini menurut saya adalah type penipu kelas teri dengan dalih hutang. Korbannya biasanya adalah orang yang  berada dilingkungannya, bisa tetanggaan, atau dalam komunitas yang sama. Jumlah korban yang terperangkap dengan aksi seperti ini pastilah banyak, bukan satu dua orang.  Jumlah yang dipinjamnya tidak besar, karena itulah, saat dia tidak mau membayar, biasanya korban tidak mau memperpanjang kasusnya.

Penipu semacam ini lihay bermain kata-kata dan berakting meyakinkan sehingga menimbulkan rasa kasihan. Tak jarang dia mempergunakan kelebihan fisiknya sebagai sarana untuk memudahkan jalannya menipu. Bahkan maaf, sampai kehilangan rasa malu dan bersikap ndableg sampai keinginannya terpenuhi.
   
Bila bertemu dengan orang semacam ini, harus berhati-hati. Jangan sampai terperangkap mulut manis dan akting memelas. Orang-orang seperti ini banyak berkeliaran di sekitar kita, bahkan juga di komunitas-komunitas dunia maya. Biasanya, dia akan ramah sekali pada kita bila ada maunya. Tapi akan segera menghilang, atau pura-pura tidak kenal lagi  ketika maksudnya telah tercapai.

Ada lagi type orang yang gemar berhutang tapi enggan membayar karena gaya hidup, alias lebih besar pasak daripada tiang. Orang seperti ini suka kalap mata dihadapkan pada tawaran-tawaran yang bersifat materi, sehingga lupa pada kemampuan kantongnya. Dan saat waktu pembayaran tiba, biasanya dia kebingungan mau bayarnya dari mana, dan memilih menghindar atau sembunyi. Alih-alih menghadapi si pemberi hutang, type orang semacam ini justru lari dari tanggung jawab. Sebenarnya kasihan dengan jenis orang seperti ini, karena gaya hidupnya membuat hidupnya sendiri menjadi tidak tenang. Harus selalu bermain kucing-kucingan dengan penagih hutang. Berhadapan dengan type ini sarannya cuma satu, jangan jual barang apapun padanya.

 Lalu, type yang gemar berhutang tapi enggan membayar lainnya, adalah karena merasa si pemberi hutang hidupnya jauh berkecukupan, sehingga si peminjam ini merasa  tak apa bila dia tidak membayar hutang. Saya menyebut type jenis ini adalah type pengemis berkedok hutang.  Bila diingatkan untuk membayar, eh malah berkilah bahwa hutangnya itu tak seberapa dibandingkan yang dimiliki si pemberi hutang, kok sampai demikian diperhitungkan. Aneh bukan, sudah berhutang, malah menasehati si pemberi hutang. Berhadapan dengan type ini, lebih baik diniatkan bersedah saja atau jangan beri pinjaman sama sekali.

Sebenarnya, di luar type-type yang saya sebutkan di atas, masih banyak orang baik dan amanah yang sangat takut berhutang, dan kalaupun berhutang, itu dilakukan dengan sangat terpaksa dan merasa malu. Bila ada kelapangan, memilih untuk membayarnya atau mencicil hutangnya sampai lunas. Atau, bila belum sanggup membayar, orang yang berhutang ini akan memberitahu si pemberi hutang bahwa dia tetap ingat dengan hutangnya, hanya saja belum mampu untuk membayar. Begitu juga, dia akan memberi tahu keluarganya mengenai hutang piutang yang dia miliki, agar kelak kalaupun ajal memanggil, keluarganya bisa menyelesaikannya nanti. Intinya, tidak lari dari kewajiban membayar hutang.

Untuk type terakhir, adalah  berhutang karena terpaksa, dan belum mampu membayar, bukan karena enggan membayar. Untuk orang yang berhutang semacam ini, tidak ada salahnya bagi si pemberi hutang untuk memberi kelonggaran, dan kalau bisa menganggap lunas hutang-hutangnya.

"Dan jika (orang berhutang) itu dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kami menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS.Al-Baqarah:280)

“Barangsiapa memberi tempo waktu kepada orang yang berutang yang mengalami kesulitan membayar utang, maka ia mendapatkan sedekah pada setiap hari sebelum tiba waktu pembayaran. Jika waktu pembayaran telah tiba kemudian ia memberi tempo lagi setelah itu kepadanya, maka ia mendapat sedekah pada setiap hari semisalnya.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad, al-Hakim)
Tapi memang sebaiknya bagi orang yang berhutang, adalah tetap menjaga etika dan silaturahminya dengan si pemberi hutang. Bila belum mampu membayar, komunikasikan. Minta waktu kelonggaran, tentu saja dengan bahasa yang santun. Jangan menghindar apalagi memiliki niat tidak mau membayar. Jangan lupa mencatat hutang piutang, serta beritahu keluarga (suami atau istri dan anak-anak),  sehingga bila ada kejadian tak terduga, keluarga bisa menyelesaikan hutang piutang yang ada. Bila ada kelapangan, sebaiknya langsung membayar hutang.

Islam mengajarkan untuk tidak menganggap remeh masalah hutang. Hutang yang belum diselesaikan di dunia, akan menjadi penghalang untuk mendapatkan kerihaan Allah. Bahkan seorang yang mati syahid sekalipun bisa terhalang masuk surgaNya bila masih mempunyai hutang semasa di dunia, seperti hadis Nabi dalam riwayat Muslim, “Seorang yang mati syahid akan diampuni segala dosa-dosanya, kecuali hutang.”


Itu masalah hutang, yang jelas akadnya antara si pemberi hutang dan yang berhutang. Bagaimana dengan pelaku korupsi alias koruptor yang telah semena-mena menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, di akhirat kelak? Saya tidak berani membayangkan apa yang aka Allah beri sebagai ganjaran. Wallahua’lam.

Tulisan ini sebagai pengingat diri sendiri juga, untuk selalu bersikap amanah, termasuk dalam urusan hutang.






24 komentar:

  1. Ciri-ciri lain dari orang yang berhutang tapi nggak mau bayar yaitu suka gonta-ganti nomer hape. Betul nggak bu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, kalau gonta ganti nomor hape, saya jadi tutup muka nih Bu Sri. Karena sejak punya anak saya suka malas megang hp, sampa kartunya kadaluarsa. Yang pasti bukan karena hutang, hehehe. Tapi bener sih Bu, salah satu cara menghindari tagihan, si gemar berhutang kerap berganti nomor hape

      Hapus
  2. kebiasaan untuk berhutang, hemat saya selain bukan karena faktor situasi dan kondisi, tapi kadang merupakan cerminan dari hasil didikan orang tuanya dahulu...
    Alhamdulillah, dikeluarga kami mengajarkan untuk tidak berhutang ke orang selain keluarga (walopun kami juga dalam keluarga dalam taraf pas2an)... Malu dan berat amanahnya..apalagi kita tidak tahu kapan ajal menjemput... salam bloofers..ini pertama kalinya singgah disini..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kembali. senang dikunjungi warga bloofers :). Betul, kebiasaan enggan membayar hutang padahal mampu, karena terbiasa melihat sikap sekelilingnya yang tidak amanah. bisa dari lingkungan atau keluarga. setuju sekali untuk selalu menjaga amanah dan membesarkan rasa malu. Itu yang menjaga kita dari dosa. makasih sudah mampir ya :)

      Hapus
  3. Hehehe....tapi g semua gitu mak...kadang org minjem karena memang dia g punya uang beneran :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener, dan bila benar-benar dia termasuk orang yang tidak mampu untuk membayar hutang, lebih baik bagi si pemberi hutang untuk mengiklashkan hutang itu sebagai sedekah. saya tulis kok di bagian akhir :)

      Hapus
  4. Hutang piutang menurut saya banyak buntut gak enaknya.. Jadi sebisa mungkin gak hutang piutang saja.. Jika ada, sedekah saja sudah..

    *btw salamkenal ya mak ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal kembali :). Urusan hutang piutang berbuntut tidak enak karena sikap tidak amanah dari pihak yang berhutang. Beda bila dia tidak bayar karena benar-benar tidak mampu, itu layak dibantu. Tapi kalau karena tabiatnya memang suka berhutang namun enggan membayar? Nah ini yang malah banyak terjadi

      Hapus
  5. Komenku di postingan yg pertama mungkin lebih cocok dikomenkan di sini ya, Mak :p Btw, makasih remindernya, Mak. Jadi pengingat utk kita semua :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mak Grace. Makasih sudah mampir. tulisan ini memang ditujukan untuk mengingatkan diri sendiri juga

      Hapus
  6. hemmm iyah... aku punya pengalaman.. orang utang ngembaliinnya nyicil ehh ujung-ujungnya gak dilunasi... ya wes lah biar Allah yang mengatur hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iklashkan atau biarkan, beda konsekwensinya terhadap orang yang berhutang loh Mbak. Kalu kita iklashkan, berarti hutangnya kita anggap lunas, sedangkan kalau kita biarkan, karena enggak rela tapi malas nagih, berarti hutangnya tetap belum lunas. hutang yang belum lunas akan menghalanginya masuk surga kelak, seperti hadis nabi

      Hapus
  7. dsini jg ada mak yg ky gitu... saya sih klo lg ada rejeki & ingin bantu tp males sakit hati, mending niatin utk ngasih aja... kasian jg dianya klo ngutang ga dbayar... tp seringnya sih saya tolak hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak. lebih baik kalau diniatkan bersedekah saja bila dia terlihat tak mampu bayar

      Hapus
  8. Semoga kita semua terhindar dari hutang ya Mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul Rin, Kalaupun terpaksa berhutang, tidak berniat lari dari tanggung jawab dan diikhtiarkan untuk membayarnya

      Hapus
  9. serem juga ya mbak punya hutang saya paling anti hutang dah semoga gak hutang suatu hari nanti aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. serem kalau punyahutang merasa belum bisa membayar. deg-degan,takut kalau azal memanggil, hutangnya masih belum bisa terbayar.

      Hapus
  10. Saya juga pernah jadi korban mbak. Sekarang saya kapok ngutangin orang kalo ga sama orang yang bener-bener saya kenal baik. Terserahlah dia mau bilang saya pelit ato gimana, saya melindungi diri dari penyakit hati dan lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kalau kita memberi hutang ke orang lain tapi hati terpaksa, malah berujung menjadi penyakit buat diri.

      Hapus
  11. Halo, ini adalah untuk menginformasikan kepada masyarakat umum, tentang penipuan pinjaman internet, itu benar-benar menyebabkan banyak kerusakan dan telah membawa beberapa keluarga dalam pemisahan dan penderitaan. Kami benar-benar berjuang untuk membawa para pelaku ke buku. Namun akan membutuhkan bantuan Anda, karena tanpa bantuan Anda, kami tidak bisa mengakhiri penipuan internet ini. Apa yang kita inginkan dari Anda sekarang adalah bagi Anda untuk mengisi formulir di bawah ini tepat.

    Nama Perusahaan: .............................................
    Perusahaan Usulan Alamat: ........................
    Perusahaan Alamat Email: ................................
    Jumlah Total Dibayar: .............................................
    Penerimaan Scan: ............................................... ......
    Nama Penerima: ............................................
    Cara Pembayaran: ..............................................

    Catatan: Informasi ini adalah bagi mereka yang telah menjadi korban oleh warga Nigeria yang berpura-pura menjadi pemberi pinjaman kredit sedangkan mereka tidak. Jadi Polisi Nigeria dan EFCC bekerja begitu keras untuk memastikan kejahatan ini dibawa ke berhenti. Jika Anda cukup beruntung uang Anda menghabiskan mungkin dikembalikan kembali kepada Anda.
    Di sini kita hanya memiliki dua kreditur yang kredibel baik lokal maupun internasional, jika Anda benar-benar membutuhkan pinjaman kita bisa juga memberikan arahan yang lebih baik dan menyarankan untuk membimbing Anda dalam mendapatkan yang lebih baik dan transaksi transparan. Anda dapat menghubungi kami: nigerian.policeforce247@gmail.com.

    BalasHapus
  12. menarik sekali share dari mbak Rebel ini, saya kalau ada masalah sedapat mungkin menghindari minjam meskipun pada kakak dan abang sendiri. bahkan pernah saya udah curhat ke teman maslah saya terdesak mau bantu bayar spp study doktoral suami dan kawan saya sudah siap meminjamkan. tapi saya urung, saya coab sedaya upaya memenuhi sendiri dengan memangkas beberapa anggaran rutin.
    kalau sudah berutang saya usahakan betul secepatnya bayar bila sudah ada uang, meskipun masih ada keperluan untuk hal lain. karena apa? jawabannya adalah harga diri!
    orang berutang yang suka melenceng dan menghindar untuk membayar, merupakan orang dengan tipologi harga diri yang sangat rendah!

    BalasHapus
  13. Ngutangin jd musuh gak dihutangin apa lagi, didaerah saya buanyaaak heheh
    Saya pun di pasar dagang ada saja org yg belanja ini itu dgn niat memang kekurangannya sudah diniatkan tdak dibayar oleh mereka
    Cukup tau saja saya sama orang2 itu!
    Akan saya zakatkan hutang mereka
    Agar rezeky mereka berpindah ke saya!

    BalasHapus
  14. Bener mbak itu semua benar...ibu saya itu sudah bertahun2 gak bisa hilang sikapnya dari hutang...mau pindah rumah dimanapun selalu hutang kemana2. Menyadarkan ibu saya sangat susah. Kakak2 saya pada gak mau ngurus ibu saya karena bikin malu. Saya nasehatin tiap hari juga gak ngefect apa2. Selalu diulangi lagi. Saya sampai pengen bunuh ibu saya sendiri rasanya mbak biar gak malu. Dikasih uang tiap bulan aja bilang ke tetangga saya gak kasih uang..ngemis2 ke tetangga bohong ini dan itu. semua kenalan dan tetangga anak2nya dihutangi semua...saya yg anaknya sendiri aja sering dibohongi apalagi orang lain. kalau saya nasehatin malah saya dikutuk ibu saya. mbak masih beruntung ketemu dengan tukang berhutang..lha saya hidup serumah dengan tukang berhutang dan itu ibu saya sendiri.

    BalasHapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge