Kamis, 06 Februari 2014

Gadis Kecil Di Kamar Kos

Peristiwa ini sudah lama banget terjadinya, sekitar tahun 2000. Waktu itu saya masih single, dan punya usaha mandiri, namun dalam beberapa hal masih terikat dengan kantor pusat yang berada di Jakarta. Mungkin kalau sekarang seperti franchise begitu.

Ceritanya, setiap beberapa bulan, minimal setidaknya 2 kali dalam setahun saya harus hadir di Jakarta untuk gathering dengan perwakilan dari daerah lain di kantor pusat. Tentu saja di sana kami dapat pelatihan motivasi, dan kepemimpinan serta hal-hal lain terkait kemajuan usaha yang kami miliki. Kalau usaha tiap perwakilan daerah maju, tentunya kantor pusat juga akan mendapat untung besar, bukan? Jadi tidak heran, kantor pusat pun tidak segan mengeluarkan biaya untuk kami perwakilan daerah berupa penginapan di hotel dan fasilitas lainnya, termasuk akomodasi pulang pergi ke daerah asal.
www.rebellinasanty.blogspot.com
bisnis plan, ilustrasi






Berhubung waktu acara gathering (kalau tidak salah bulan Februari 2000), berdekatan dengan keberangkatan saya ke Singapura (hanya berjarak 1 minggu setelah selesai acara gathering), saya memilih tidak pulang dulu ke Medan. Keberangkatan ke Singapura pun merupakan hadiah dari kantor pusat karena waktu itu saya merupakan salah satu Business Center (perwakilan di daerah) yang omzet perbulannya di atas 300jt. Pengennya sih berangkat dari Medan, karena tidak kena biaya fiskal. Namun kebijakan pusat mengharuskan kami berangkat bersama-sama dalam satu rombongan dari Jakarta.

Yang namanya pedagang, pastilah otaknya mencari jalan bagaimana dengan biaya seirit-iritnya, bisa mendapatkan benefit yang maksimal. Begitu juga dengan saya, hehehe. Mikirnya, kalau saya pulang ke Medan, selain waktunya yang tanggung dengan jadwal keberangkatan, juga ongkos ke Jakarta dalam rangka keberangkatan ke Singapura tidak lagi dibiayai oleh kantor pusat. Ongkos ditanggung sendiri karena sudah termasuk dalam biaya uang saku yang diberi kepada masing-masing peserta rombongan. Lumayan khan ongkos peswat saat itu. Jadinya, saya putuskan selepas gathering, saya akan menetap di Jakarta sembari menunggu keberangkatan ke Singapura seminggu kemudian.

Lalu, kemana nih saya nginapnya selama di Jakarta? Jatah nginap di hotel cuma 2 hari, sementara di Jakarta saya tidak punya sanak kerabat. Nginap di rumah rekan, ihhh..,enggak deh. Enggak enak rasanya. Lagi-lagi otak dagang saya berpikir cepat. Kalau nginap di hotel, bisa bangkrut saya. Tapi tetep harus punya tempat untuk istirahat khan? Masak luntang luntung ke sana kemari bawa-bawa koper? hehehe.
www.rebellinasanty.blogspot.com
ilustrasi


Ide brilian mampir ke otak. Ngekos. Di Jakarta tempat kos khan bertaburan. Lagipula karyawan bagian entry data di kantor pusat banyak yang kos di wilayah sekitar kantor. Berbekal informasi dari salah seorang karyawan bagian entry data, akhirnya ketemulah tempat kos yang nyaman, aman, serta lokasinya deket banget dengan kantor pusat yang terletak di Gedung Hero Jl. Gatot Subroto Jakarta Selatan tersebut.

Jarak tempat kos saya dengan kantor pusat cuma sekitar 10 menit jalan kaki. Tempat kosnya terdiri dari bangunan 2 lantai, dan dikhususkan buat wanita saja (memang carinya yang begitu, biar aman). Tentu saja saat masuk ke kos saya enggak bilang kalau ngekos buat cuma sebulan saja, hehehe. Biayanya saat itu sekitar 300 rb sebulan.Fasilitasnya lumayan, ada kamar mandi dalam, kasur, lemari dan satu meja dan satu kursi. meja dan kursi terletak bersebrangan dengan tempat tidur. Cukup nyaman deh buat saya.
www.rebellinasanty.blogspot.com
seperti beginilah gambaran letaknya, kurang lebih deh. ilustrasi

Nah, selepas acara gathering selesai menjelang sore, saya pun segera angkat koper dari hotel, menuju kos-kosan. Singkat cerita, sampai deh di kos-kosan. Masing-masing penghuni kos memiliki 2 kunci, yakni kunci kamar, dan kunci gerbang. Rata-rata penghuni kos adalah pekerja, sebagian besar perawat di RS Medistra yang masih terletak di jalan GatSu Jakarta Selatan.

Saya pun masuk ke kamar kos. Kamar kos saya ini di lantai bawah , sisi sebelah kiri (saya lupa ada berapa total kamar di kos-kosan ini, tapi di atas 10 kamar). Begitu masuk, tekan saklar lampu..
Caileh..., lampunya enggak hidup, alias bola lampunya mati. Yang ada lampu kamar mandi yang tidak begitu terang karena masih pakai lampu pijar saat itu. Bermaksud mengganti bola lampu, ternyata lagi apesnya saya, langit-langit kamarnya terlalu tinggi. Enggak bisa cuma sekedar naik kursi atau meja, apalagi ukuran tubuh saya yang rata-rata. Duh.., berarti harus pakai tangga dong.

Keluar kamar, celingak celinguk, sepi banget. Matahari pun bahkan sudah mengumpet alias mau magrib (lebay deh bahasanya, sok nyastra, hahaha). Dicari-cari seantero ruangan kos, enggak ketemu tangga. Pasrah...

Akhirnya beberes-bereslah saya dalam remang-remang cahaya lampu pijar dari kamar mandi. Pintu kamar mandi sengaja saya buka agar cahayanya bisa membias ke dalam kamar. Selepas beberes, saya pun merebahkan  diri di kasur. Belum mau tidur, soalnya mau nelpon orangtua di Medan, ngabarin kalau putri sulungnya sudah aman di kos-kosan :)

Eh, pas lagi siap-siap mau nelpon, entah mengapa ada serrrr..., gitu di tengkuk. Sistem alert di tubuh saya ternyata bereaksi. Wah, apa nih? getar hati saya.

Tak perlu lama untuk tahu mengapa sistem alert tubuh saya on. Ternyata, di sebelah meja yang terletak dekat pintu keluar, dan berhadapan dengan kasur ada dia, berdiri dalam keremangan cahaya, menatap saya dalam diam.
www.rebellinasanty.blogspot.com
kalau dilihat dari samping, seperti
beginilah penampakannya . ilustrasi

Bukan pemandangan yang mengerikan yang terpampang di depan mata. Bukan pula sosok hantu-hantu seperti yang bertebaran di film horor Indonesia, dengan penampakan yang begitu menjadi biasa (rambut tergerai, mata hitam, dan baju putih yang seolah menjadi ciri khas abadi sosok hantu Indonesia). Ah.., tidak, bukan seperti itu.

Dia hanyalah sesosok gadis kecil, seusia anak 8 tahun. Dengan rambut di ikat 2, kanan dan kiri. Andai wajah dan tubuhnya terlihat jelas, bukan tersamarkan dalam remang, mungkinkah sosok itu terlihat menggemaskan? Atau sebaliknya,menakutkan?

Ada sekitar duapuluhan detik saya terpaku beku memandang kehadiran gadis kecil yang begitu tiba-tiba. Saya tidak percaya pada ilusi mata dalam keremangan cahaya, karena ini bukanlah penampakan yang saya lihat untuk pertama kalinya. Takut, saya akui. Tetapi yang membuat saya sekaligus berani adalah karena kedudukan saya pastilah lebih tinggi darinya, seperti yang Allah telah cantumkan dalam surat, An-Nas. Dan yang pasti juga, tak ada orang yang mati karena hantu!

Sepertarikan nafas kemudian, dia menghilang, tak berbekas. Jangan bayangkan asap menggumpal sebagai gantinya. Itu cuma ada di film-film saja. Lega, iya! Tapi menyisakan merinding yang membuat mata saya sulit terpejam. Melepaskan rasa enggak enak sendirian, saya memilih menelpon teman yang bekerja di Indosiar saat itu, sekedar untuk ngobrol. Malam itu, demi menghilangkan rasa 'enggak enak' tersebut, duit saya sobek hanya untuk pulsa hp sebesar 200 rb yang habis cuma dalam waktu 2 jam kurang.

Gadis kecil itu tidak pernah terlihat lagi. Pun sampai saya berangkat ke Singapura, dan kembali setelahnya. Lalu, sampai saya pulang kembali ke Medan, dia pun tidak pernah hadir. Syukurlah, berarti dia cuma ingin melihat saya saja sejenak. Atau, lagi-lagi mata saya yang kecolongan melihat dunia mereka?
Wallahua'lam.



8 komentar:

  1. hiiiii...sereem.kalo aku mungkin nggak berani untuk tidur malam itu mak.*cemen

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduh.., perasaan gaya nulisnya sudah sangat diminimaliskan dari kesan serem, hehehe. aku juga cemen, mbak. terutama justru dengan tikus :) (enggak nyambung deh, hehehe)

      Hapus
  2. dulu biaya telepon masih mahal sih ya mbaa, kalo sekarang dua jam paling cuma kena 3rb an hehehe.. btw mbaa berani bener ya menghadapin yang ky gituu

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mak. terutama sekali XL (dulu). kalau berani itu karena terpaksa, hehehe

      Hapus
  3. Huaaa biaya nelpon buat 2jam lbh oke drpd hatha ngekos sebulan. Wkwkwkkw
    Ya ampuun maaak klo aku di situ lamgsung nelpon rekan kerja aja deh nginep di tempatnya. Hiiiyyy sereeeemmmm.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau dipikir-pikir sekarang, iya sih Mak. tapi waktu masih single dulu, engak begitu terpikirkan deh.

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge