Kartunama cantik sebagai jati diri dari praktisprint |
Ibu rumah tangga butuh kartu nama?
Ah, enggak segitunya kalee…
Khan cuma di rumah saja
Jangan salah loh, Ibu rumah tangga itu banyak berkarya,
walau dari rumah. Justru saking sibuknya sebagai ibu rumah tangga yang
produktif, kartu nama perlu sebagai sarana awal memperkenalkan diri dalam
lingkup sosial agar semakin dikenal. Apalagi kalau ibu rumah tangga itu kurang gaul tapi sok sibuk seperti saya. Kudu punya kartu nama!
Sejak menikah, kemudian mundur dari usaha dan memutuskan
sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga, seperti ada yang hilang dari diri saya.
Bukan berarti saya menyesali keputusan saya untuk menjadi ibu rumah tangga.
Tetapi gimana ya.., pokoknya serasa ada yang tercabut dari hidup saya.
Apalagi hampir 24 jam kehidupan saya hanya berkutat seputar
tanah ukuran 14 x 27 m saja. Keluar rumah hanya untuk berbelanja kebutuhan
rumah tangga, ke warung, atau di akhir pekan sekedar cuci mata mencari tanaman
bersama suami. Itu kalau tidak banyak pekerjaan domestik semisal mencuci
pakaian, atau pun mengolah belanjaan buat kebutuhan rumah untuk sepekan ke
depannya. Keluar rumah hanya bisa saat putri sulung saya libur sekolah atau
suami libur mengajar. Saya memang tidak
punya asisten rumah tangga, sedangkan anak ke dua saya berkebutuhan khusus,
yang butuh penjagaan orang dewasa. Itu sebabnya saya tidak leluasa keluar rumah. Bisa dikatakan, saya ini ibu rumah tangga yang kurang gaul.
Salah satu kegiatan
yang melengkapi kesibukan saya sebagai ibu rumah tangga adalah ngeblog dan menulis (untuk
media). Dengan ngeblog saya menyambung hasrat saya untuk bersosialisasi dengan
dunia di luar keseharian saya. Dengan
ngeblog pula saya bisa berbagi kisah,pengalaman, atau bahkan sekedar
menceritakan hal remeh temeh seputar kehidupan saya. Bagi orang lain mungkin
tidak penting, tetapi bagi saya?
Blog semacam katarsis
dari segala kepenatan rutinitas yang harus saya hadapi. Blog menjadi
wadah untuk eksistensi saya diakui dengan cara yang positif. Dengan ngeblog
pula saya menjalin banyak pertemanan, walau melalui dunia maya. Dengan ngeblog juga kepercayaan diri saya
muncul. Walau di rumah, tanpa mengenyampingkan peran utama saya sebagai ibu,
saya tetap bisa berbagi hal positif dengan dunia luar. Dari ngeblog pula saya
banyak mendapat keuntungan yang bersifat materi. Menyenangkan banget, bukan? Saya
pun dengan percaya diri sekarang ini menyebut diri saya seorang MomBlogger.
Tapi…
Tidak semua orang paham apa itu blog, dan menyebut diri
sebagai MomBlogger, membuat pandangan mata dan alis sedikit berkerut penuh
tanya. Setidaknya hal itu saya temui pada tetangga sekitar saya dan beberapa rekan orangtua murid saat saya sedang
mengikuti pertemuan di sekolah anak saya. Dan, semua itu terjadi di dunia
nyata. Dunia yang saya bersentuhan dengan manusia real, yang memiliki gadget
kekinian dan menggunakan media sosial, tapi belum sepenuhnya melek internet.
Jangan heran kalau
masih ada yang belum tahu apa itu blog, boro-boro menyebut diri saya
MomBlogger. Apalagi kalau ditanya di mana
tempat kerja sayanya dan saya menjawab, “Kerjanya di rumah” (lalu,
pandangan mata yang semula kelihatan bingung, terlihat bertambah bingung..)
“Gini loh Bu, saya itu ibu rumah tangga yang juga ngeblog
dan nulis. Sebagian saya kirim ke media, berharap itu dimuat. Sebagian lagi
saya tuliskan di blog, dan sebagian lagi saya tuliskan dalam bentuk buku atau
ebook,” kata saya mencoba menjelaskan kegiatan saya di rumah sembari memberi
tahu nama dan link blog saya. Sebagian kemudian ada yang memahami, sebagian
lagi.., saya enggak tahu. Tapi saya
merasa, nama blog saya cuma lewat begitu saja diingatan teman-teman tersebut.
Saya yakin, banyak yang seperti saya, ibu rumah tangga
tetapi memiliki aktivitas positif lainnya di luar urusan mengatur urusan
domestik rumah tangga. Bisa jadi seperti saya, ibu rumah tangga sekaligus
blogger,kerennya MomBlogger, atau ibu rumah tangga yang juga bakulan kue, ibu
rumah tangga yang berjualan online, atau pun ibu rumah tangga sepenuhnya yang
kurang suka keluar rumah. Dan biasanya, ibu rumah tangga yang sibuk seperti ini
jarang suka ngumpul hanya buat rumpi yang enggak jelas.
Antar anak ke sekolah,
langsung pulang. Sudah waktunya jemput, tinggal jemput langsung pulang. .
Enggak ada waktu deh buat kongkow-kongkow bareng ibu-ibu yang lain untuk hanya sekedar
cerita-cerita tentang k-drama yang lagi ngehits, atau blanja blanji ke mall,
atau bicarain gossip artis ini itu. Kebanyakan malah berbagi cerita itu semua
lewat media sosial atau melalui komunikasi lewat gadget. Padahal, saya termasuk
salah sedikit orang yang tidak begitu suka tergantung pada peralatan
komunikasi. Jadi, alat komunikasi berupa telepon genggam atau pun telepon
pintar, malah lebih sering digunakan oleh anak-anak saya sebagai wadah mereka
berekplorasi melalui fasilitas kamera, video kamera, dan games.Itu pun saya batasi penggunaannya.
Karena hal ini, saya jadi kurang dikenal dan lambat menerima informasi. Emak kurang gaol,
mungkin itu bahasa umumnya. Setidaknya,
ini yang saya alami. Beberapa kali kegiatan dan pengumuman dari sekolah saya
tidak tahu, karena guru-guru di sekolah anak saya (lucunya) sangat jarang memberikan informasi/pengumuman lewat
selebaran. Informasi lewat pemberitahuan langsung dari guru ke orangtua murid yang rajin duduk-duduk ngumpul menunggui
anak mereka pulang sekolah. Dan informasi pun beredar hanya seputar mereka yang
aktif berkumpul bersama.
Ini memang kekurangan saya. Kurang gaul. Tapi konsekwensi
ini saya terima, karena memang saya sulit untuk keluar rumah dalam jangka waktu
yang lama bila tidak ada orang dewasa yang menggantikan peran saya di rumah.
Tidak ada asisten, dan ada anak berkebutuhan khusus yang harus saya bimbing dan
ajari di rumah.
Harus cari solusi!
Bagaimanapun juga, kesulitan bukan membuat kita harus mati
gaya. Dan solusi itu bernama #kartunama!
kartu nama saya dari praktisprint |
Kartu nama cantik dari PraktisPrint yang datang minggu lalu
itu ngebantu banget buat saya. Saya enggak perlu lagi repot-repot menjelaskan
kegiatan saya yang sok sibuk dengan banyak kata. Selembar kartu nama
menjelaskan semua. Ada nama saya di situ, dengan identitas sebagai MomBlogger, lengkap
dengan alamat dan nomor kontak yang bisa dihubungi, serta alamat web/blog saya.
![]() |
sebagian data dalam gambar kartu nama di foto ini telah saya edit |
Pilihan designnya
saya pilih yang menggambarkan saya dan blog saya. Maunya sih ada foto pribadi,
tapi kok ya saya enggak pede terkait soal poto pribadi. Padahal di
Praktisprint, mau masukin foto pribadi atau mau design sendiri kartunya pun bisa loh.
Mau tinggal pakai template yang tersedia, juga ada banyak pilihan di website www.praktisprint.com.
Tinggal pilih design yang paling kita sukai. Bahkan bisa dikustomisasi sendiri
sesuai maunya kita.
Soal layanan, praktisprint ini patut dijadikan contoh buat
perusahaan online loh. Cepet dan enggak pakai ribet. Saya pesen hari Minggu
sore. Selasa siang, satu paket kartu nama saya dalam kotak warna biru cantik,
telah saya terima. Hasilnya.., sesuai dengan ekspetasi saya deh. Sesuai dengan
namanya, praktisprint, pesan kartu nama mulai dari memilih design sampai
pembayaran dan pengiriman barang hingga sampai di saya, bener-bener praktis.
Seperti kartu nama saya ini. saya sampai bingung menetukan pilihan designya, karena buanyak banget pilihan yang menggoda mata. Akhirnya setelah timbang sana timbang sini, pilihan jatuh pada kartu nama dengan design nomor 14.4, pilihan kertas jenis AC 260 Non laminating. Saya suka karena warnanya yang soft, serta gambarnya menurut saya mewakili salah satu hobi yang saya tuangkan dalam blog, yakni memasak dan berkebun. Dan setelah hasil jadinya saya terima, puas deh, karena gambar dan hasil cetak sesuai harapan.
Dalam beberapa hari, kartu nama itu sudah tersebar di
beberapa orangtua murid dan beberapa kenalan. Pesan pendek pun mulai masuk ke
dalam kotak pesan di telepon genggam saya. Ada yang berisi informasi mengenai
kegiatan sekolah, ada juga ucapan terima kasih karena ketika baca blog saya
menemukan inspirasi, terutama resep. Saya pun semakin banyak mengenal ibu-ibu
orangtua murid lainnya. Jadi walau saya jarang keluar, kartu nama telah
membantu saya sebagai sarana awal membina pertemanan dan bergaul dengan
orang-orang di lingkungan sosial sekitar saya.
Jadi, saya berani bilang loh, sebagai ibu rumah tangga yang kurang bisa gaul di kekinian, saya butuh kartu nama sebagai pembuka jalan..
biasanya paling nyesel pas ada kocokan doorprise n ga bawa kartyu nama..hihi
BalasHapus#pengalaman
wah, berarti kocokan doorprice sekarang kudu pakai kartu nama ya? baru tahu :)
HapusBlog semacam katarsis dari segala kepenatan rutinitas yang harus saya hadapi. Blog menjadi wadah untuk eksistensi saya diakui dengan cara yang positif. Dengan ngeblog pula saya menjalin banyak pertemanan, walau melalui dunia maya. Dengan ngeblog juga kepercayaan diri saya muncul. Walau di rumah, tanpa mengenyampingkan peran utama saya sebagai ibu, saya tetap bisa berbagi hal positif dengan dunia luar. Dari ngeblog pula saya banyak mendapat keuntungan yang bersifat materi. Menyenangkan banget, bukan? Saya pun dengan percaya diri sekarang ini menyebut diri saya seorang MomBlogger.
BalasHapusmaaak, setuju banget dengan kalimat2 di atas itu...kapan ya kita ketemu lagiii
iya mak, pengen ketemuan lagi. tapi akunya susah..., lewat sms aja ya?
Hapussebenarnya, perwujudan identitas dalam bentuk kartu nama, label nama dsb ini kan sudah banyak dikenal dan diterapkan oleh berbagai usia dan profesi ya... dulu, waktu saya masih sekolah juga sudah punya kartu nama hi hi... padahal apalah yang dicantumkan di kartu itu... paling nama, alamat, sekolah, dan 1-2 baris rangkaian kata yang dibikin-bikin jadi "gaya" gitu he he he...
BalasHapusjadi setuju banget sama mbak rebellina... bikin kartu nama!
bukan eksklusif milik kalangan tertentu kan ;)
kartu nama bikin ibu rumah tangga jadi makin gaya, hahahah
HapusHuwaasaa, daku ketinggalan... Belum punyaaa
BalasHapusbikin yuk... :)
HapusBagus sih itu menurut saya ide yang kreatif dan unik
BalasHapusIjin Share
BalasHapusJangan lupa untuk kunjungi blog ini
http://infotopan.blogspot.co.id/