Kamis, 06 Agustus 2015

Lukisan Berhantu


 
http://rebellinasanty.blogspot.com
sumber: www.thesun.co.uk
Katanya, lukisan yang mengambarkan seorang bocah laki-laki yang sedang menangis itu, berhantu! Lukisan yang berjudul The Crying Boy itu dikabarkan membawa sial bagi yang memilikinya, bahkan hasil repronya sekalipun. Banyak yang mempercayai kebenaran berita ini, walau ada juga berita yang mengatakan semua itu adalah hoax. Namun, cerita mengenai lukisan berhantu ini mengingatkan saya akan pengalaman pribadi. Mengenai sebua lukisan, di sebuah kamar hotel yang ada di Cilegon. Dan Lukisan itu…

Tahun 2002 kejadiannya. Sudah lama banget ya, dan itu masih awal-awal pernikahan saya. Masih honeymoon ceritanya.

Saat itu suami sedang ada urusan ke Cilegon. Sebagai pengantin baru, dan perantauan pula, enggak enak banget khan ditinggal sendirian. Jadilah saya ngintil ikut suami. Dengan bis malam, kami pun berangkat menuju Cilegon.



Karena urusan suami enggak ada sangkut pautnya dengan saya, tentu saja enggak etis saya harus ngintil kemana pun dia pergi. Maka, setelah sampai di Cilegon, sekitar pukul 10 malam, saya dan suami pun mencari hotel untuk saya menginap. Ketemu deh hotel yang sesuai kantong, namun tetap nyaman dan aman untuk saya, karena saya khan nginapnya sendiri, sampai besok paginya di jemput suami.

Singkat kisah, saya dengan diantar suami dan roomboy pun melihat kamar yang akan saya tempati malam itu. Bersih, dan nyaman, itu kesan pertama yang saya tangkap, sampai kemudian mata saya menangkap satu pigura besar beriskan lukisan seorang perempuan di dinding bagian headboard kasur. Detil lukisannya, jujur saya lupa, yang saya ingat sosok perempuan dalam lukisan itu mendominasi kanvas, dan sorot matanya, bikin saya gimana…gitu.

Suami yang menangkap ketidaknyamanan saya bertanya,”Gimana, Hon? Sreg enggak dengan kamar ini?” (panggilnya masih Honey-honey-an saat itu. Maklum masih pengantin baru.

“Eng… Ga pa pa deh,” kata saya. Menenangkan dan menepis keraguan di diri sendiri.
Setelah sekali lagi memastikan bahwa saya nyaman, aman dan tenang, suami pun kemudian meninggalkan saya untuk menyelesaikan urusannya yang harus tuntas malam itu juga.

So, saya pun membaringkan diri di spring bed yang empuk menul-menul. Dinginnya ac harusnya mengantarkan saya tidur lebih cepat, karena lelah setelah hampir 3 jam melakukan perjalanan dari Bogor-Cilegon dengan bus. Apalagi ada selimut tebal nan hangat, klop banget bukan dengan dinginnya AC

Nyatanya, saya gelisah. Saat mata mencoba terpejam dan nyala lampu dimatikan, eh, malah perasaan saya enggak enak banget. Seperti ada yang ngawasi saya dari atas. Tak beda juga bila lampu kamar dihidupkan.
Tapi saya memaksa diri untuk tidur. Segala bacaan pun saya lantunkan di dalam hati.  Tetap saja perasaan enggak enak membuat mata saya sulit terpejam. Ada setengah jam lebih saya memaksakan diri untuk tidur, namun ternyata tubuh saya hanya bolak balik menghadap kanan dan kiri dengan perasaan saya masih diawasi.

Kalau dibilang perasaan gelisah ini datang karena saya tidur di hotel dan sendirian pula, enggak masuk akal. Perjalanan bisnis yang pernah saya lakukan tak pelak sering membuat saya harus menginap di hotel sendirian. Untung setelah menikah, tak pernah lagi kecuali saat ini.

Puncak kegelisahan itu datang saat dada saya terasa berdebar-debar dan perasaan tak enak semakin menjadi-jadi. Dan seperti biasa, bulu-bulu halus yang meremang serta perasaan dingin yangn bukan dari ac, mulai menyerang. Di tengkuk, di kaki, dan di pungggung. Hmm…

Sekali lagi saya nyalakan lampu kamar. Kali ini pandangan saya arahkan ke lukisan di dinding bagian kepala tempat tidur. Sebelumnya saya menghindari memandang lukisan tersebut. Namun kali ini saya memaksakan diri memandang lukisan tersebut.

Dan saya tidak sanggup…

Saya telpon suami, bilang enggak nyaman dengan kamar saya. Karena suami enggak bisa balik ke hotel, maka dia pun menelpon ke bagian front office dan melaporkan keluhan saya. Salah seorang pegawai hotel  pun datang serta menangapi keluhan saya.

Saya meminta agar lukisan di atas headboard kasur di pindahkan dari kamar. Alhamdulillah, pegawai hotel mengerti keinginan saya. Lukisan perempuan itu dilepas dari gantungannya, lantas di bawa keluar.

Setelah lukisan perempuan itu dibawa keluar, perasaan saya merasa lega, dan rasa gelisah serta rasa ‘dingin’ itu menghilang.

Emangnya, apa sih yang saya lihat dari lukisan perempuan tersebut?
Matanya memandang mencorong ke saya dengan nada mengancam. 

Atau, apakah itu cuma ‘perasaan’ saya saja?





42 komentar:

  1. duh mbak...saya pernah kejadian kaya gitu, bukan lukisan sih..tapi lebih ke aura nggak enak yang bikin nggak tenang pas tidur...maklum, rumah 'loji' belanda, pagi nya pak satpam baru cerita kalau rumah yang saya inapi malam itu memang paling angker... :3 serem sumpaahh!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau bahasa alam bawah sadar kita tidak bisa diabaikan ya Mbak. Lebih baik waspada kalau alam bawah sadar udah ngasih tanda-tanda

      Hapus
  2. Balasan
    1. enggak nyaman sih tepatnya, karena merasa diawasi terus

      Hapus
  3. Balasan
    1. begitulah, sampai memutuskan minta dipindahkan tuh lukisannya

      Hapus
  4. hii..jd teringat wkt dl jaman msh kost..rmh kost sy besar pake banget.. di ruang tamu trgantung foto si pemilik rmh yg sdh meninggal.. wkt itu sy cm berdua dg tmn sy..nonton tv diruang tamu..sy kekiri foto itu melihat ke kiri bgt sebaliknya..akhirnya kami berlarian ke kamar smbl menutup tubuh kami dg selimut... hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak irowati. saya pernah juga ngalami lihat foto yang sudah alm, matanya serasa ngikuti ngelihat kita. hiyyy

      Hapus
  5. hii takutt... kayak dipelototin ya, mak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti itulah Mbak Riana Wulandari. Btw, apa kabarnya? Lama tak kelihatan woro-woro tulisan

      Hapus
  6. kalo saya ngalamin, pasti saya akan ketakutan

    BalasHapus
  7. huuhuhu.. serem bingits... untung ceritanya sore-sore.. gak malem..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya, saya nulisnya dan sharenya malam-malam kok. Pas malam Jum'at :)

      Hapus
  8. Ih, untung ga kenapa2 ya, mba? Hiii, serem....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Mbak Alaika, sejauh ini bersinggungan dengan hal-hal begituan, enggak berakibat ke fisik (kesurupan atau sejenisnya)

      Hapus
  9. Ih, untung ga kenapa2 ya, mba? Hiii, serem....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Mbak Alaika, sejauh ini bersinggungan dengan hal-hal begituan, enggak berakibat ke fisik (kesurupan atau sejenisnya)

      Delete

      Hapus
  10. Waah sereem banget mbaak...

    BalasHapus
  11. Ya Allah, sampe dipelototin gitu, Mbak? Mana sendirian, pulak! Jadi penasaran, Mbak nggak nanya2 sama staff hotelnya tentang lukisan itu? Mungkin ada cerita di balik lukisan tersebut. >____<

    BalasHapus
    Balasan
    1. enggak kepikiran saat itu mau tanya-tanya detil tentang lukisan tersebut Mbak Isti. Kepikirannya cuma bagaimna bisa tidur tanpa perasaan diawasi

      Hapus
  12. Mbak Santy, waktu baru pertama masuk ke kamar hotel itu, memang mata sosok di lukisan itu menghadap ke mana ? *takuuut tapi penasarann*

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang pasti aura tatapan matanya berbeda saat pertama masuk kamar hotel dengan saat saya pandang teralhir kali itu

      Hapus
  13. Aduuh, Mak Santi, Bunda saat ini lagi sendiri nih di ruang Komputer, jadi gimanaa...gitu. Tapi ah,Bunda halau perasaan yang macem-macem (padahal satu macam sih: was-was, hehe...) Soalnya kalau diturutin nanti gak bisa bikin postingan malam ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu karena Bunda baru baca tulisan saya. Teruskan aja nulisnya Bunda. yakin enggak ada apa-apa deh di ruang komputer Bunda

      Hapus
  14. astaghfirulloh...

    memang larangan majang gambar makhluk bernyawa itu betul. di rumah pun saya turunkan foto2, mbak. kalender juga yg ada foto manusia/hewannya.

    oya, foto yg matanya seolah ngikutin kita itu karena mata si objek fokus ke kamera pas difoto. saya dulu juga pernah kayak dilihatin sama model kalender. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget Mbak, soal larangan memajang gambar mahkluk bernyawa. Asumsi mengenai mata objek yang seolah ngikuti kita, mungkin benar juga tuh

      Hapus
  15. Kalau kata adikku, jika memang sudah ada perasaan tidak enak dan gak nyaman seperti itu bisa jd tanda2 keberadaan 'sesuatu' Mak Santy...

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju, dan jangan diabaikan. itu bahasa alam bawah sadar tubuh.

      Hapus
  16. Untung "cewek " itu gak berontak saat dipindahkan ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah enggak terjadi. kalau terjadi, alamakk....hiyyy

      Hapus
  17. Kalo saya malah foto saya sendiri mbak.
    Ga tau mgkn masih ngantuk atau gimana. Saya bangun tengah malam buat belajar persiapan ujian. Tiba2 foto itu senyum sendiri. Sejak itu ak ga mau ada foto di rumah. Terutama kamar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul Mbak. Lebih baik kamar bebas dari lukisan yang menggambarkan mahkluk hidup. enggak nyaman

      Hapus
  18. Kamar hotel seharusnya memasang lukisan selain manusia. Saya sebel banget begitu dapet kamar hotel yg ada lukisan manusianya. Terlebih matanya menatap kita. Seharusnya jd standar hotel "tidak boleh/dilarang memasang lukisan manusia", gitu kali y, mak? Qiqiqiiqq... Duh baca postingan ini jd takut deh. Huhuhu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, bagus juga sarannya. kamar harus bersih dari lukisan makluk hidup ya. lain halnya kalau di luar kamar (hotel maksud saya)

      Hapus
  19. waduuh serem amat mak, untung rumah saya aman semua lukisannya :D

    BalasHapus
  20. jadi merinding gini bacanya juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. bacanya jangan malam, mak. kalau merinding, mungkin angin di sekitar mak lagi kenceng :)

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge