Senin, 01 Juni 2015

Bercakap-cakap Dengan Tanaman

rebellinasanty.blogspot.com
kembang sepatu, foto  pribadi
“Selamat Pagi! Halo alpukat, halo melati, halo miana, halo lantana, halo kaca piring…”

Itu sapaan saya setiap membuka pintu belakang, sembari menyerap udara pagi.

Bagi sebagian orang, saya mungkin dianggap aneh, karena sosok yang saya sapa itu bukan manusia. Ya, saya menyapa tanaman-tanaman yang ada di halaman belakang. Hal yang sama sering saya lakukan kalau lagi di halaman depan terhadap pohon durian, jambu air, mangga, mete dan rambutan.

Sejak rajin bersentuhan dengan tanaman, saya memang terbiasa menyapa mereka, walau monolog. Entahlah, saya merasa kalau saya memperlakukan tanaman itu dengan cinta, mereka akan merespon dengan sangat positif. Buktinya, pohon alpukat. Saya pernah cerita tentang si pohon alpukat yang semula meranggas. Ceritanya bisa dibaca di sini. Sejak saat itu si alpukat tumbuh subur, dan mulai rajin berbuah.

Di awalnya si alpukat berbuah cuma 3 butir saja. Buahnya besar, bijinya kecil, dan daging buahnya tebal, kuning keemasan. Rasanya eunak banget. Selepas panen pertama tersebut, saya sering menyapa si alpukat dan berbincang-bincang. Menyemangatinya agar mau berbuah lebih banyak lagi, dan berjanji akan membagi buahnya ke tetangga terdekat.
rebellinasanty.blogspot.com
foto koleksi pribadi, panen alpukat

Namun ternyata, perjalanan si alpukat tidak semulus itu. Bulan Mei tahun 2014 lalu, serangan ulat bulu yang luar biasa membuat si alpukat merana. Seluruh tubuhnya dipenuhi oleh ribuan ulat bulu. Tak hanya menyerang si alpukat, ulbul (demikian saya menyngkat si ulat bulu) pun sampai merangsek maju ke pintu belakang. Kata tetangga-tetangga, pohon alpukat memang sangat disukai si ulat bulu. Itu sebabnya mereka tak minat bertanam pohon alpukat.
rebellinasanty.blogspot.com
saat kena serangan ulat bulu, foto pribadi

Tapi berkat tetangga pulalah saya tahu bagaimana mengusir hama ulbul dengan metode sederhana. Cukup mengikat batang alpukat dengan ilalang. Dan ajaibnya, seluruh ulat bulu yang ada di pohon alpukat tersebut, mendekat semua ke arah ilalang yang melingkari batang pohon alpukat. Lalu, ulat bulu itu terlihat mencitu, tidak gembul lagi, lalu berjatuhan ke tanah, dan mati dalam keadaan tubuh seperti dehidrasi (mengisut). Saya akan tulis tentang ini di lain postingan.
rebellinasanty.blogspot.com
penanganan yang sederhana, foto pribadi

Sejak terbebas dari ulat bulu, saya sering tepuk-tepuk batang si alpukat, menyemangatinya untuk tumbuh rimbun kembali dan berbuah. Saya bilang begini, “Ayo berbuah alpukat, yang banyak. Karena saya mau bagi-bagi tetangga, biar mereka ikut merasakan lezatnya buahmu.”

Malu juga sebenarnya kalau ada yang lihat saya ngomong begitu ke alpukat. Kalau orang rumah sih sudah biasa melihat saya bercakap-cakap dengan tanaman saya, baik tanaman buah, tanaman hias daun, atau pun tanaman berbunga.

Alpukat yang karena serangan ulat bulu membuat daun-daunnya hampir habis, mulai tumbuh merimbun  dan berbuah kembali. Februari-Maret lalu, kami panen sebanyak 16 buah alpukat, dan sesuai nazar sebagian saya bagi-bagi dengan tetangga. Buahnya besar dan bijinya kecil banget. Bahkan ada beberapa yang bijinya tidak ada, hanya menyisakan kulit biji yang mengering. Alhamdulillah, saat saya menulis ini, si alpukat sudah berbunga lagi. Mudah-mudahan, kali ini buahnya lebih banyak, tetap besar dan lezat.
rebellinasanty.blogspot.com
panen alpukat, alhamdulillah

Lain ceritanya dengan pohon pisang. Semula saya nanam pohon pisang karena butuh daunnya. Saya suka masak lontong sendiri, jadi butuh daun pisang. Jenis pisang siam yang dipilih karena daunnya cocok digunakan untuk bungkus lontong. Lagi-lagi, alhamdulillah, panen pisang beberapa kali, sampai dijadiin keripik pisang.

Sayangnya, beberapa anakan pohon pisang tumbuh di tanah dekat selokan yang terlalu gembur. Mana pohonnya besar dan tinggi. Ada sekitar 3 meteran tingginya dan agak miring. Kebit-kebit hati melihatnya mengingat angin dari arah belakang rumah ini sangat kencang. Apalgi di bulan-bulan tertentu seperti September-Februari.

Ke pohon pisang siam tersebut saya sering ngomong, agar kalau dia tumbang, tolong jangan mengenai rumah. Enggak kebayang kalau rumah kena timpa pohon pisang, pasti rubuh dan hancur, mengingat rumah ini dibangun tanpa struktur yang kokoh (belinya masih begitu, belum renovasi J. Tapi secara logika, kalau tumbang, pasti kena rumah, karena jarak tumbuh pisang dengan bagian belakang rumah sekitar 2,5 mtr. Sebenarnya sudah berniat mau motong pohon pisang tersebut, tetapi ada aja kendalanya.

Dan bener saja kekhawatiran saya. Pagi-pagi saat hujan deras ditambah angin kencang, terdengar suara berdebum yang keras sekali dari arah belakang. Terburu-buru kami semua menuju belakang rumah, yakni dapur. Tepat di depan pintu dapur, terkaparlah si pohon pisang. Cuma daunnya yang menyentuh pintu dapur, dan beberapa genteng yang jatuh kena pelepah daunnya. Berucap syukur alhamdulillah pada Allah bahwa kami semua masih selamat dari musibahnya. Saya sentuh si pisang yang tumbang dan berucap terima kasih karena dia jatuh tanpa menimpa rumah kami.

Sesungguhnya ada keheranan di hati karena pohon pisang itu jatuhnya nyerong, sehingga rumah terhindar dari ketimpa batangnya. Kalau saja dia jatuh lurus ke depan, sudah dipastikan bagian belakang rumah akan rubuh seketika.

Lalu, cerita pohon pepaya. Buahnya lebat dan manis, tapi…pohonnya tinggi banget. Jadi susah mau ambil buahnya walau sudah dijolok pakai galah bambu.  Akhirnya, saya dan suami sering mandangi pohon pepaya dengan buahnya yang bergantungan sambil bergumam, “aduh, pohon pepayanya sudah tinggi banget. Jadi susah mau ambil buahnya. Apa kita potong saja, ya?”

Sorenya, tetangga sebelah rumah yang berbatasan tembok, bawain saya satu keranjang penuh pepaya. Katanya itu pepaya saya yang tumbang kena petir dan buahnya jatuh ke tempatnya. Karena hujan deras, tak satu pun dari kami mendengar pohon pepaya itu tumbang (patah di bagian atasnya). Oala.., si pepaya tahu diri, sebelum di potong, dia sudah merelakan dirinya jatuh kesamber petir J

Sampai kini, bercakap-cakap dengan tanaman tetap saya lakukan. Bahkan saat saya merapikan tanaman hias, dan mengguntingnya, selalu saya berucap permisi, dan bilang ke tanaman tersebut kalau saya tidak berniat menyakiti. Hanya membuat rapi agar dia semakin cantik.

Begitu juga saat panen tomat atau cabe. Enggak banyak sih, tetapi selalu saya ucapkan, “Minta ya buahnya. Jangan kapok untuk terus berbuah, karena sangat bermanfaat untuk saya dan keluarga.”
rebellinasanty.blogspot.com
tomat, foto pribadi

Demikian pula halnya bila tanaman sudah penuh dan ‘terpaksa’ harus saya buang sebagian. Dengan sedih saya minta maaf ke tanaman tersebut,”Maaf ya, bukan karena tidak suka. Tapi karena yang lain juga butuh hidup, dan kamu sudah terlalu banyak, makanya terpaksa saya cabut.” Ini saya ucapkan pada tanaman sirih yang sudah over loaded di sisi kiri rumah. Sedangkan tanaman sirih masih ada di beberapa bagian halaman lainnya. Jadi dengan terpaksa, saya buang sebagian agar masih ada tempat buat tanaman lainnya bisa tumbuh. Maklum, halaman saya terbatas, kepengen nanamnya macem-macem.

Anak-anak suka geli melihat saya bercakap-cakap dengan tanaman. Tapi kecintaan saya pada tanaman syukurnya menular juga pada mereka. Seperti kakak yang kalau bantuin saya nyuci beras, airnya selalu disiramkan ke tanaman. Atau adik Zulfikar yang tidak mau sembarangan metiki bunga hanya untuk dijadikan mainan.

Bercakap-cakap dengan tanaman mengajarkan saya banyak hal. Dengan tanaman yang dianggap tak berjiwa saja  mereka mengerti perasaan cinta dan percaya yang saya bagi, tentu hal yang sama bisa saya lakukan pada anak-anak saya.  
rebellinasanty.blogspot.com
halaman depan dilihat dari pinggir jalan, foto pribadi

Saya dan suami menanamkan pada mereka, bahwa saya percaya mereka akan jadi anak sholih dan soliha, serta menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya dan juga alam sekitarnya. Maka, pada saat airmata jatuh dan perasaan lelah mendera karena ulah anak-anak saya, saya ingat proses interaksi saya dengan tanaman. Saya ingat proses bercakap-cakap saya dengan tanaman tersebut dan reaksi yang saya dapatkan. Dan itu membuat saya semangat untuk tetap percaya dengan mereka. Dan tentu saja memperbanyak bercakap-cakap dengan anak-anak, baik secara lisan, hati, dan perbuatan agar mereka tahu saya tetap menyintai dan menaruh kepercayaan pada mereka. Selalu :)




20 komentar:

  1. ternyata bukan saya aja yang suka ngomong sama tanaman hahahahha

    BalasHapus
  2. saya juga suka ngebon

    btw itu serem banget tanamannya kena hama ulat bulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. saya kira pohonnya akan mati. ternyata dia selamat

      Hapus
  3. Mak rumahnya rindang banget, adem lihatnya... Setahun lalu rumahku ketimpa pohon pisang tetangga loh, gede buanget. Untung ada toren air di belakang rumah, kalau enggak udah hancur deh genteng2 hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbak, pohon pisang batangnya gede, sayangnya, akarnya enggak kuat, karena serabut. Jadi memang berbahaya kalau nanamnya dekat rumah

      Hapus
  4. Wah, ada temennya :D aku juga suka "ngobrol" sama tanaman dan hewan-hewan peliharaan di rumah. Aku percaya semua yang diciptakan Allah itu memiliki energi dan saling berhubungan. Kalau kita kasih energi positif, feedbacknya juga positif.

    Ulat bulunya serem, Mak. Jadi ingat waktu kecil dulu, pohon alpukat di rumah kena hama ulat bulu. Tiap mau berangkat sekolah, ancang2 dulu buat lari, karena letak si pohon di depan jalan masuk halaman hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepakat,Mak.aku enggak punya hewan peliharaan resmi sih, tapi di halaman belakang suka bnayak kucing kampung nginep. kubiarkan saja. walau bukan peliharaan resmi, tetep beri nama, dan diajakin becanda pakai ngobrol juga.

      ulat bulunya memang serem Mak. Tapi setelah tahu cara menangkalnya, jadi enggak begitu takut lagi dengan serangannya

      Hapus
  5. Jadi inget sama nenek saya. Beliau itu kalo nyiram tanamannya suka sambil nembang jawa. Apa karena itu ya tanamannya jadi subur dan anggreknya kalo berbunga banyak banget. Kalo orang bilang nenek saya itu bertangan dingin dalam mengurus tanaman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut teori, entah bener atau hoax ya, katanya sih beitu. tanaman yang diperdengarkan bmusik indah lebih subur daripada yang tidak. soal tangan dingin, waktu awal bertanam-tanam, banyak yang mati juga loh :)

      Hapus
  6. Kok ngeri mak ulet nya...padahal aku tanam 3 batang alpukat di blkng rmh....anak2 suka alpukat soalnya, dan ternyata bijinya gmpang bngt numbuh. Asyik mak kebun dpn n blkng nya...mau apa, tinggal petik:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ulat bulunya iya mak, gila-gilaan serangannya waktu itu. untung cuma di situ, enggak sampai masuk ke rumah.

      alhamdulillah, masih ada lahan untuk ditanami :)

      Hapus
  7. mbaaa, itu ulat bulunya sereeemmm bgtttt :(.. aku trauma ama ulbul soalnya... prnh kena dan sekujur bdn lgs sukses gatal2 -__-..hihhh..masih merinding... ga kebayang kena sebanyak itu...

    kalo ama tanaman aku ga prnh ngomong sih :D.. Secara ga ada kebun jg di rumah :D... Tapi aku suka bicara ama kucingku ;p... udh suka disangka gila deh ama org rumah... tp gmn ya, kucingku udh aku anggab kyk keluarga sendiri sih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga sih Mbak, sering ngomong dengan kucing yang suka tinggal di halaman belakang. Namanya belly, alias betina liar, karena beranak mulu dan milih beranaknya di rumah. betah kali ya, padaahal enggak pernah jadi kucing peliharaan resmi

      Hapus
  8. Hehe, sama, mak. Aku sejak kecil juga punya kebiasaan kayak gitu. Jadi tanamannya mau tumbuh subur, walau tanahnya kecil karena dekat sama jalan raya. Tanaman itu punya jiwa juga. Biasanya yang rajin ditengokin sama pemiliknya jadi rajin berbuah tepat waktu.

    BalasHapus
  9. iya Mak. Tanaman yang lebih sering disentuh dengan cinta, beda hasilnya dengan yang tdak. itu pengalaman saya sih..

    BalasHapus
  10. banyak banget tanamannya , kalau dirumah saya yang ada cuma tanaman lidah buaya aja udah:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nanamnya juga nyicil kok. Tahu-tahu enggak terasa udah banyak

      Hapus
  11. asik banget sih mak, punya kebun sendiri di rumha. kaya rumah ortu di kampung ada kebun yg ditanami berbagai tanaman. memang tanaman juga makhluk Allah, dia pasti maunya dibaik-baikin seperti halnya manusia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. cuma sepetak kecil halaman Mak. tanaman itu peka pada perasaan org ya menanamnya. itu menurut saya loh :)

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge