Sabtu, 15 November 2014

Do’a

www.rebellinasanty.blogspot.com
sumber foto : credit
Do’a merupakan bagian tak terpisahkan dari umat Islam. Harusnya. Setiap selesai sholat, duduk diam sejenak di atas sajadah,  tangan menengadah di atas, dan bibir mengucapkan segala hal yang ada di dada; keluh kesah, harapan, permintaan, bahkan terkadang kemarahan.

Ada kalanya, do’a yang terucap begitu panjang, dan syahdu. Airmata pun sampai bercucuran tanpa terasa. Selepas itu, dada terasa plong dan ringan. Namun tak  sekali dua pula do’a begitu sulit dirapal. Rasanya seperti tersumbat di ujung tenggorokan. Bukan karena tidak ada yang ingin disampaikan padaNya, namun karena begitu sesaknya isi dada, sehingga berebutan ingin keluar tanpa tertahan lewat kata. Nyatanya, malah membuat bibir tak mampu mengucapkan apapun. Dan kalau sudah begitu, do’a sapu jagad jadi andalan . Adakah yang begitu?
www.rebellinasanty.blogspot.com
do'a ini yang sering disebut sebagai do'a sapu jagad. Do'a mengharap kebaikan dunia dan akhirat.


Dalam berdo’a, saya bukanlah type orang yang mampu merangkai kata-kata indah saat mengajukan proporsal isi hati saya, apa itu permintaan,pengharapan, keluh kesah. Bahasa saya apa adanya, tidak indah, apalagi berbau sastra. Tapi bukankah Allah memahami setiap bahasa umatNya? Begitupun, saya tetap berusaha memperbaiki narasi saya padaNya. Saya belajar dari suami untuk itu.
Suami saya, kalau berdo’a, diksinya bagus sekali. Santun, indah, dan maknanya dalam. Salah satu contohnya begini: Kalau saya berdo’a minta diberi kelapangan hati saat ada masalah, beliau menambahkan dengan diksi untuk diberi penglihatan diatas penglihatan agar mampu melihat hikmah di balik setiap masalah.

Sering saya berdiskusi dengannya, mengapa kalimat-kalimat yang keluar dalam do’anya begitu indah dan sarat makna? Kata suami, mungkin karena dulu ketika SMA, setiap selesai shalat dhuha, dia rajin membaca surat Ar-rahman. Tapi wallahua’alam, katanya lagi.

Tak jarang pula saya meminta dia menuliskan kalimat-kalimat yang sering menjadi do’anya buat saya tiru. Sayangnya, sampai sekarang saya belum berhasil memperbagus diksi saya ketika berdo’a padaNya. Tapi saya enggak menyerah, belajar melembutkan hati agar bisa memperbagus ungkapan kata-kata dalam do’a saya pada Allah, saya pun mulai menghafal surat Ar-rahman. Bukan sekedar membaca, tapi juga menghafalnya, sesuai target yang pernah saya niatkan sebelumnya, yakni akan menghafal Ar-rahman setelah hafal surat al-waqeeah. Alhamdulillah, al-waqiah telah usai saya hafal seluruhnya. Kini ar-rahman yang menjadi target selanjutnya.

Balik lagi ke do’a. ada kalanya saya tidak mampu berdo’a panjang-panjang karena sesaknya dada dan penuhnya isi kepala, sehingga semua isi hati yang ingin terucap dalam do’a malah terhenti diujung tenggorokan. Kalau sudah begitu, saya memilih berdo’a yang baku (salah satunya ya do’a sapu jagad tersebut), dan ditambah berdo’a agar Allah mengabulkan segala do’a suami saya. Karena saya tahu, selain berdo’a untuk dirinya sendiri, orangtua, umat muslim, anak-anak, saudara, suami juga secara khusus mendoakan saya.  Jadi, kalau saya meminta Allah mengabulkan do’a suami, bukankah itu berarti saya mendo’akan diri sendiri juga? Karena ada nama saya dalam untaian do’a yang dilafazkan suami untukNya.

Sikap suami itu kemudian menjadi contoh bagi saya, yakni selalu mendo’akan orang-orang yang saya kenal, yakni keluarga inti,  dan saudara-saudara, serta sesama muslim di belahan tempat manapun di dunia ini. Dan saya tambahkan pula, agar Allah mengabulkan setiap do’a-do’a umatNya di manapun juga. Mana tahu, dalam do’a-do’a hambaNya di belahan tempat yang lain, ada nama saya termasuk dalam do’anya. Kita tidak tahu, do’a siapa yang lebih dahulu Allah kabulkan, bukan?
Yuk, kita saling mendo’akan. Tentu saja dalam kebaikan dan mengharap ridhaNya.




2 komentar:

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge