Rabu, 22 Januari 2014

Gado-Gado Femina, Lho Kok Ada Dua?

 Setelah bertahun-tahun tidak kirim naskah ke media manapun, akhirnya berhasil juga naskah pertama yang saya kirimkan, menembus rubrik Gado-gado  Femina.  Naskah ini aslinya berjudul Lho Kok Ayah Ada Dua? Merupakan kisah nyata yang alami saat masih mengontrak rumah di salah satu komplek perumahan yang ada di Bogor.

Naskah ini saya kirim ke Gado-gado Femina pada tanggal 3 Mei, 2013 lalu. Tanggal 8 Juli 2013, dapet pemberitahuan bahwa naskah sudah diterima redaksi Femina, dan disuruh menunggu selama maksimal 6 bulan, apakah naskah itu layak muat atau tidak.

Tanggal 22 Oktober 2013, ada panggilan tak terjawab di hp saya. Sempat mengira-ngira apa itu dari Femina kah? Tapi tak berani berharap. Kemudian terlupakan seiring waktu dan kabar yang datang tentang berpulangnya papa sayayang tercinta tanggal 25 Oktober 2013 lalu.


Pulang dari Medan, beberapa hari kemudian ada sms yang masuk ke hp saya, menyebutkan bahwa naskah yang saya kirimkan tersebut ternyata layak muat, dan ada beberapa urusan administrasi yang harus saya selesaikan.  Wow…, penghiburan dariNya setelah duka kehilangan yang sangat kehilangan papa tercinta.

Akhirnya, naskahku dimuat di rubrik Gado-Gado  Majalah Femina No. 47, tahun 2013. Ada perubahan sedikit dari naskah asilnya, yakni judulnya dipotong (aslinya terlalu panjang, hehe) dan beberapa editan . Ternyata, saya harus belajar lebih keras untuk EYD, hehehe.

Berikut tampilan naskah asli yang saya kirimkan, dan naskah yang sudah dimuat di Gado-Gado Femina. Tulisan dari naskah asli yang berwarna biru, berarti ketika dimuat telah mengalami editing dari Femina. Semoga bisa mengispirasi.

Naskah asli:
Lho, kok Ayah Ada Dua?
Saat itu aku heran, sedang apa suamiku  malam-malam begini di dapur. Aku baru sadar kalau itu bukan suamiku saat mendengar dengkuran halusnya  di sampingku. Lalu, yang di dapur siapa?

Tinggal di rumah yang lingkungannya masih sangat sepi dengan kondisi rumah sekitar banyak yang rusak, memang tidak enak. Apalagi di tambah dengan kehadiran-kehadiran lainnya yang tak kasat mata. Wew… Tapi apa mau dikata? Aku harus menghadapinya selama 2 tahun sesuai perjanjian sewa rumah.

Tak ada yang aneh awal memasuki rumah kontrakan tersebut, kecuali putriku yang menjerit-jerit tanpa sebab. Aku menanggapinya biasa. Maklum, anak usia 1,5 tahun tentu saja tidak seperti orang dewasa saat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Dia baru tenang saat diletakkan di kereta dorong dan disenandungkan dengan ayat-ayat suci.

Lalu, keributan di gudang kecil dekat dapur pun, bukan sesuatu yang membuat kudukku harus berdiri. Tikus adalah hal yang paling masuk akal sebagai sumber keributan tersebut. Maklum saja, kanan kiri rumah yang kami tempati memang kosong, rusak berat, dan ditumbuhi semak belukar. Lalu, apa yang membuatku kemudian  yakin bahwa di rumah itu bukan hanya aku, suamiku, dan putriku saja yang berdiam di situ?

Awalnya saat suami sedang shift malam. Seperti biasa, aku di kamar berdua dengan putriku ditemani tv yang menyala. Saat itu sekitar pukul sepulun malam, dan mataku mulai berat.  Antara setengah sadar dan mengantuk, itu pertama kali aku melihat sosok lain yang ikut tinggal bersama kami. Sosoknya setinggi manusia normal, hanya saja dia memakai jubah berwarna hitam. Dia berdiri tepat di samping tv yang sedang menyala. Aku lebih memilih memejamkan mataku, dan membaca segala macam do’a yang kuingat sampai aku tertidur.

Itu perkenalan pertama dari ‘mereka’, demikian aku menyebut para penghuni lain rumah kami. Kunjungan berikutnya lebih beragam lagi.  Dari mulai ketukan-ketukan di dinding kamar dan kamar mandi, sampai seruan salam dari pintu depan. Seringkali aku tergopoh-gopoh menjawab salam sembari membuka pintu, hanya untuk mendapatkan teras depan kosong melompong tanpa ada satu orang pun yang bertamu

Kejadian paling parah adalah ketika aku melihat sosok Ayah yang lain. Aku memang memanggil suamiku dengan sebutan Ayah. Sosok  Ayah yang lain itu  dalam posisi memunggungiku dan berada di dapur. Dapur kami memang bisa terlihat dari kamar, karena aku jarang menutup pintu kamar kalau suami lagi di rumah. Saat itu aku heran, sedang apa suamiku  malam-malam begini di dapur. Aku baru sadar kalau itu bukan suamiku saat mendengar dengkuran halusnya  di  sampingku. Lalu, yang di dapur siapa?

Kejadian lainnya yang terkait dengan Ayah adalah saat kami berdua menonton tayangan film di tv. Seperti biasa, stasiun tv seringkali memutar ulang film yang pernah ditayangkan . Kebetulan yang kami tonton saat itu film horror yang salah satu pemerannya adalah Nirina Zubir. Film ini pernah kami tonton bersama-sama sebelumnya.

“Yah, kok film ini lagi yang di tonton? Memang tidak ada acara lain yang menarik?” protesku.
“Ayah baru pertama kali nonton film ini,” jawabnya membuatku kaget.
“Ihh  Ayah,  gimana sih!  Waktu itu kita nontonnya sama-sama. Bunda malah ngumpet  terus dipelukan Ayah karena takut,” jawabku mencoba mengurai ingatannya.
Tetapi suamiku bertahan bahwa dia baru pertama kali ini menonton film tersebut. Dan aku pun mati-matian bertahan dengan ingatanku bahwa film itu sebelumnya telah pernah kami tonton bersama. Menjaga perasaanku, suamiku mengalah dengan mengatakan waktu pertama kali menonton film itu kemungkinan dia mengantuk sehingga jadi lupa. Semenjak kejadian itu, aku dan suami punya kata sandi khusus untuk memastikan bahwa Ayah adalah sosok suamiku yang sebenarnya, bukan sosok Ayah yang lain. Terkadang, aku pukul dadanya sembari mengucapkan do’a untuk memastikan bahwa Ayah yang sedang bersamaku adalah benar suamiku.

Selama tinggal di rumah tersebut dengan berbagai kejadian, membuatku jadi kebal berhadapan dengan mereka. Bukan karena aku tidak punya rasa takut,  justru karena menjadi berani adalah satu-satunya pilihanku saat itu. Tidak mungkin aku menyulitkan suami dengan meminta pindah segera. Selain ribet dengan urusan pindahan, juga biayanya yang tidak sedikit.

Kami  pindah dari rumah kontrakan itu setelah 2 tahun bermukim di sana. Pindahnya pun bukan karena gangguan mereka, tetapi karena rumah itu bocornya sudah tidak bisa diperbaiki lagi (dilemma rumah komplek yang dempetan dengan rumah tetangga), plus tikus-tikus yang makin merajalela. Jujur, kalau dengan tikus, nyaliku lebih ciut dibandingkan harus menghadapi keusilan mereka.

Yang dimuat di Gado-gado  Femina No 47, 2013 lalu


Lho, kok  Ada Dua?
Saat itu aku heran, sedang apa suamiku  malam-malam begini di dapur. Aku baru sadar kalau itu bukan suamiku saat mendengar dengkuran halusnya  di sampingku. Lalu, yang di dapur siapa?

Tinggal di rumah yang lingkungannya masih sangat sepi dengan kondisi rumah sekitar banyak yang rusak, memang tidak enak. Apalagi di tambah dengan kehadiran-kehadiran lainnya yang tak kasat mata. Ini bukan menakut-nakuti, tapi sungguh pengalaman kami selama 2 tahun, saat menyewa rumah ini. 

Tak ada yang aneh awal memasuki rumah kontrakan tersebut, kecuali putriku yang menjerit-jerit tanpa sebab. Aku menanggapinya biasa. Maklum, anak usia 1,5 tahun tentu saja tidak seperti orang dewasa saat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Dia baru tenang saat diletakkan di kereta dorong dan dibacakan  ayat-ayat suci.

Lalu, keributan di gudang kecil dekat dapur pun, bukan sesuatu yang membuat kudukku harus berdiri. Tikus adalah hal yang paling masuk akal sebagai sumber keributan tersebut.  Lalu, apa yang membuatku kemudian  yakin bahwa di rumah itu bukan hanya aku, suamiku, dan putriku saja yang berdiam di situ?

Suatu malam, suamiku ngantor shift malam. Seperti biasa, aku di kamar berdua dengan putriku ditemani TV yang menyala. Saat itu sekitar pukul sepulun malam, dan mataku mulai berat.  Antara setengah sadar dan mengantuk,  aku melihat sosok lain di rumah kami. . Sosoknya setinggi manusia normal, hanya saja dia memakai jubah berwarna hitam. Dia berdiri tepat di samping TV yang sedang menyala.Mimpi atau  nyata ya? Saat itu aku memilih  memejamkan mata, dan membaca segala macam do’a yang kuingat sampai  tertidur.

Itu perkenalan pertama dari ‘mereka’, demikian aku menyebut para penghuni lain rumah kami. Kunjungan berikutnya lebih seru lagi.  Mulai dari ketukan-ketukan di dinding kamar dan kamar mandi, sampai seruan salam dari pintu depan. Seringkali aku tergopoh-gopoh menjawab salam sembari membuka pintu, hanya untuk mendapatkan teras depan kosong melompong ....

Kejadian paling parah adalah ketika aku melihat sosok suami yang lain. Aku  memanggil suamiku dengan sebutan Ayah. Sosok  Ayah yang lain itu  dalam posisi memunggungiku dan berada di dapur. Dapur kami memang bisa terlihat dari kamar, karena aku jarang menutup pintu kamar kalau suami sedang  di rumah. Saat itu aku heran, sedang apa suamiku  malam-malam begini di dapur. Aku baru sadar kalau itu bukan suamiku saat mendengar dengkuran halusnya  di  sampingku. Lalu, yang di dapur siapa?

Kejadian berikutnya saat kami berdua sedang menonton tayangan film di TV.  . Kebetulan yang kami tonton saat itu film horror  pernah kami tonton bersama-sama sebelumnya.

“Yah, kok film ini lagi yang di tonton? Memang tidak ada acara lain yang menarik?” protesku.
“Ayah baru pertama kali nonton film ini,” jawabnya membuatku kaget.
“Ihh, Ayah,  gimana sih!  Waktu itu kita nontonnya sama-sama. Bunda malah ngumpet  terus dipelukan Ayah karena takut,” jawabku mencoba mengurai ingatannya.

Tetapi suamiku tetap bertahan bahwa dia baru pertama kali ini menonton film tersebut. Dan aku pun mati-matian bertahan dengan ingatanku bahwa film itu sebelumnya sudah  pernah kami tonton bersama. 
Menjaga perasaanku, suamiku mengalah dengan mengatakan waktu pertama kali menonton film itu kemungkinan dia mengantuk sehingga jadi lupa. Jadi, dengan siapa aku berpelukan dulu itu, ya? Saya pun merinding....
Semenjak kejadian itu, aku dan suami punya kata sandi khusus untuk memastikan bahwa ia adalah sosok suamiku  sebenarnya, bukan sosok Ayah yang lain. Terkadang, aku pukul dadanya sembari mengucapkan do’a untuk memastikan . Konyol juga sih.



Kami  pindah dari rumah kontrakan itu setelah 2 tahun bermukim di sana. Pindahnya pun bukan karena gangguan mereka, tetapi karena rumah terus menerus bocor  plus tikus-yang makin merajalela. Jujur, kalau dengan tikus, nyaliku lebih ciut dibandingkan harus menghadapi keusilan mereka.
*************


Alhamdulillah, naskah ini ternyata bukan naskah terakhir yang dimuat di rubrik Gado-gado Femina. Karena berjarak kurang lebih sebulan dari pemuatan naskah Gado-gado Femina yang pertamaku, dapat kabar kalau naskah yang kukirim selang waktu seminggu dari naskah pertama ini, ternyata layak muat juga. Judulnya, Buntusi. Tayang di rubrik Gado-gado Femina di edisi No 2, Januari 2014 ini. Semoga menyusul yang lainnya. Aamiin.






43 komentar:

  1. Waah horor juga ya mak...
    Dengan adanya perbandingan tulisan yg sudah dan belum diedit ini, saya jadi bisa ikut belajar. Sudah lama saya ingin kirim tulisan ke Gado-gado Femina, tapi belum tahu cara mengolah tulisan yg baik untuk dikirim ke media. Sekarang saya jd dapat ilmu baru dan ada bayangan jika mau mengrim tulisan nanti.
    Makasih sharingnya, ya Mak ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. ikut senang kalau tulisan ini bisa bermanfaat, Mak. rencananya saya juga mau nulis cara-cara ngirim naskah gado-gado ke femina, termasuk ending kisahnya (karena Femina suka yg khas). tapiini menurut saya lho berdasarkan pengamatan dari puluhan majalahnya :)

      Hapus
  2. makasi mbak, jadi ngerti sekarang bedanya hehe tp kok masih susah merangkai kata ya hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak latihan San, terutama nulis di diary atau blog snagat membantu kok :)

      Hapus
  3. Wah, Mbak Rebellina Santy termasuk pemberani juga ya. Kalau saya, udah merengek-rengek njelehi minta pindah daripada dapat kejutan tiap hari nggak tentu waktu :) Namun, kalau sudah terbiasa, ya kita menyikapinya biasa saja lho, ya, malah kadang nyadarnya telat.

    Saya nulis kalimat sebelumnya lantaran punya pengalamaan 11-12 sama Mbak di rumah. Salah seorang kawan adik saya pernah menginap di rumah dapat kejutan hore dari nggak-tahu-siapa. Di depan rumah, si kawan diliatin sama makhluk astral yang kerap disebut Tante "K". Trus pas tidur di kamar, dia dijejerin sama nggak-tahu-siapa. Kebetulan anaknya indigo & untungnya dia sudah bisa menguasai diri (terbiasa).

    Memang, saya juga pernah dengar ada suara orang bernapas di tempat tidur yang dipakai kawan adik saya menginap itu. Suara mirip orang mendengkur tapi bukan yang ngorok keras gitu. Smooth. Seringnya sih klebatan-klebatan nggak jelas. Tapi, ya, itu tadi, lantaran kejadiannya di rumah sendiri, yang telah saya huni seumur hidup saya, ya kalem aja. Kalau di rumah orang? Nggak tahu deh. :D

    Yang pasti, pengalaman seperti itu pasti ada sisi positifnya, bukan?

    Salam kenal,
    Ratri

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo, salam kenal kembali. Pemberani? enggak juga kok. saya pernah terbirit-birit nendang pintu keluar kamar, dan tidak berani tidur di dalamnya selama seminggu gara-gara ada suara nafas berat (saya tulis di blog ini juga kok). Namun kadang keadaan membuat kita baru menyadari, wah, ternyata potensi kita lebih dari yang kita kira semula. mungkin geitu yg saya alami di rumah tsb . makasih ya sudah berkunjung

      Hapus
  4. Wah, keren mba, saya belum pernah tembus femina, beberapa kali gagal terus. Terimakasih sharingnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. pasti suatu waktu nanti bisa nembus Femina juga Mbak Ety. terima kasih juga kunjungannya..

      Hapus
  5. Awalnya buka postingan ini karena mau belajar soal EYD, tapi malah salah fokus karena ceritanya bikin merinding. Baiklah sekarang merinding sudah selesai, mari belajar he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. ay, kita belajar bersama. belajar itu tidak kenal waktu, bukan. salam kenal :)

      Hapus
  6. Berapa halaman Mbak, kalo kirim naskah gado2?
    Makasih ya...Aulia..

    BalasHapus
    Balasan
    1. 3 halaman legal, double spasi, kalau kata sekitar 700-800 kata. salam kenal dan terima kasih kembali untuk kunjungannya

      Hapus
  7. Saya senang membacanya...dan sekalian sambil belajar kalimat yang lebih pas :) Terimakasih ya mbak...bener ini menginspirasi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah senang bila tulisan ini bisa mengispirasi mbak untuk belajar. terima kasih ya untuk kunjungannya, dan salam kenal :)

      Hapus
  8. Huwaaaa aku juga pernah ngalamin kejadian serupa. Bedanya aku nggak sampai berhadapan dan ngobrol. Cuma dengar suaranya pas lagi di kamar mandi, eh ternyata bukan. Salut deh sama keberanian Mak Rebellina :) Selamat ya sudah dimuat di Femina dan semoga sukses terusss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Pritha. sukses juga untukmu :)

      Hapus
  9. Makasiih sharingnya ya, Mak Rebellina..
    Udah lama ga baca Femina, kirain Gado-Gado itu hanya memuat kisah yg mengundang senyum, trnyata yg serem2 jg ya..
    Salut banget sm Mak Rebellina yg pemberaniii.. whaaa.. kalau aku dah nangis2 minta pindah kayaknya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Femina nerima juga kok tentang yg serem-serem, tapi tetap aja tokohnya menunjukkan karakter yang kuat. setidaknya itu yang sya amati. makasih sudah berkunjung ya Mbak Linda. Saya suka baca review bukumu di blog. bagus-bagus :)

      Hapus
  10. duh mak kok serem gitu ya.. tapi bisa bertahan 2thn hebat loo. btw selamat ya nembus gado2 femina, aku udah pernah ngirim belum layak muat :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah Mak. itubutuh perjuangan mantengi gaya gado-gado dengan membaca puluhan Feminanya :)

      Hapus
  11. wah selamat mbak, hore masuk femina, apa alamat email feminanya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih. alamatnya kontak@femina.co.id. semoga sukses :)

      Hapus
  12. Wuih keren. Pengen deh bisa masuk Femina. Selamat, ya, Mak. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Mak Nia. Pasti mak bisa nembus Femina, wong buku aja terbit :)

      Hapus
  13. wuihh horror banget sih mak ceritanya... *merinding* apalagi pas bagian ragu-ragu waktu nonton itu meluk siapa/apa sebenernya... hiiyyy... kalo saya sih selama gak berwujud/dikasih liat masih bisa cuek. Tapi kalo udah keliatan dalam sosok-sosok tertentu mending ngibrit....

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, ya begitulah mak. makasih sudah mampir ya

      Hapus
  14. hiii hororrr mak....tapi pengalamnnya malah bisa masuk femina hehee, selamat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini namanya horor berbuah rejeki, ya enggak Mak :)

      Hapus
  15. ih, serem amat ceritanya, mak. Kl saya udah jerit2an deh liat begituan.

    BalasHapus
  16. First of all.. Hebatnya Drimu krn berani sekali kl aku lgs minta pindah deh Mbak hiiiiii...... Ga kebayang si ayah itu.. Second of all keren nya Drimu bisa nembus femina... Aku simpan ahh ini ilmu bermanfaat sgt, moga2 aku ketularan hebat n keren nya, ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aih..,melambung deh dengan pujian mak satu ini. keadaan Mak, membuat kitaternyata bisa kuat :)

      Hapus
  17. kalau aku mak sudah ambil langkah seribu....bagiku melihat makhluk halus adalah sebuah musibah yang akan selalu teringat...duh mudah2an aku tak kena musibah....salut deh mak.....selamat ya mak, semoga selalu eksis menulis dan tetap menembus media....

    BalasHapus
    Balasan
    1. entahlah mak, saya sudah ngeliat makhluk tuh sejak kecil (ada tulisannya di blog dunia-lain-rebellina). tetapi tetep aja emang keder :). makasih supportnya ya

      Hapus
  18. Tikus ternyata lebih nyeremin, Mak, hehehe. Selamat ya bisa menembus Femina.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, masih belum bisa nulis resensi seperti dirimu. anyway, makasih ya

      Hapus
  19. astagaaa seram sekaliii..
    tapi selamat yaaa sudah nembus gado-gadonya femina.. jadi belajar banyak dari sini. makasi ya

    BalasHapus
  20. Ihiksss... Ini Gado2 awal tahun lalu ya Mak?

    Aku juga mau coba2 kirim aaah... Makasiiii sharingnya Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan, ini gado-gado yang di November 2013 lalu. yang awal tahun adalah Buntusi

      Hapus
    2. bukan, ini gado-gado yang di November 2013 lalu. yang awal tahun adalah Buntusi

      Hapus
  21. huaaaa... serem bacanya maak... Nakal plus genit juga 'penghuni'nya suka niru2 suami. Semoga skrg dah ga ada gangguan lagi di rumah baru ya mak.
    Selamat ya masuk gado2. Iya ya berasa juga wkt itu, editannya banyak, perlu belajar EYD lagi sepertinya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. di rumah sekarang ini juga ada kok. kayaknya.., saya yang sensitif :)

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge