Lipstik


https://rebellinasanty.blogspot.co.id



Terakhir pakai lipstik itu..., 14 tahun yang lalu.
Lho, kok bisa?
Iya, karena begitu menikah, suami dengan halus meminta saya tidak memakainya lagi. Dan saya pun malah keterusan merasa nyaman tidak pakai lipstik.

Tidak hanya lipstik, perawatan wajah yang lain pun, kini saya tidak punya, karena tidak memakainya. Paling banter bedak tabur untuk anak-anak, yang makenya pun jarang-jarang. Selebihnya, ya polos-polos aja.

Padahal perempuan biasanya tidak bisa lepas dari benda yang satu ini ya. Beragam warna dan jenis. Mulai dari jenis matte, glossy atau apa lagi deh. Tapi, seperti yang sebutkan di atas, saya terakhir pakai lipstik itu 14 tahun yang lalu. Jadi saya bener-bener enggak mengikuti sama sekali perkembangan tren lipstik yang sedang berlaku saat ini.

Sebelumnya, saya sih sama dengan perempuan lain. Kemana-mana, enggak percaya diri kalau bibir belum dipoles lipstik alias gincu, gitu saya bilangnya dulu. Pilihan warnanya sih enggak jauh-jauh dari warna nude, merah muda, coklat muda, atau oranye. Kalau warna mencorong, saya enggak pede. Tapi kalau di rumah, saya malah nyaman tanpa lipstik. Jadi seperti kebiasaan, kalau mau ke luar rumah, kudu wajib pakai lipstik, kalau enggak, serasa ada yang kurang. Begitu pulang, langsung bersihkan wajah termasuk menghapus polesan si lipstik ini.


Pertama pakai lipstik itu pun secara kebetulan, dan mulanya awal kuliah. Kalau tidak salah ingat, itu pun bermula karena waktu itu saya jadi anggota salah satu perusahaan Direct Selling Avon yang khusus menjual barang-barang dan perlengkapan kosmetik.

Waktu pertama kali polesan lipstik itu nempel di bibir, duh...rasanya bibir saya  menebal 5 cm. Dan ketika berjalan ke luar rumah, pandangan orang-orang semuanya tertuju ke bibir saya. Padahal itu cuma perasaan saja, hehehe. Seterusnya malah biasa dan kemudian kalau keluar rumah malah terasa ada yg kurang kalau enggak pakai lipstik.

Karena agen Avon, semua lipstik saya ya merknya Avon. Cuma jenis dan warnya aja yang beda-beda. Tapi paling banyak di atas meja rias saya cuma ada 3 buah lipstik dengan pilihan warna standar aman. Enggak berani nggonjreng pokoknya.

Oh lupa, ternyata saya pernah punya satu lipstik merk Revlon. Itupun dapetnya dari hadiah, ngirim potongan kupon yang ada di majalah wanita. Dan saya termasuk yang beruntung, sebagai salah satu 5000 pengirim pertama. Sayangnya, lipstik Revlon warna lembut itu cuma sekali memoles bibir saya, karena kemudian hilang di curi temen mama saya, hahahaha.

Soal warna lipstik, saya salut ama temen dekat rumah. Jannah panggilannya (hai Jen, di mana dirimu?). Percaya dirinya tinggi banget sehingga warna lipstik yang seumur hidup enggak pernah akan mampir di bibir saya kala itu, malah membingkai bibirnya setiap waktu.

 Masih ingat saya, kala itu demam telenovella Cassandra sedang mewabah, termasuk  warna lipstiknya yang super duper gelap pun ikut menjadi tren saat itu. Nah, Si Miss Jen ini termasuk salah satu yang mengikuti perkembangan tren lipstik warna gelap tersebut. Enggak tanggung-tanggung, Miss Jen pakai lipstik warna coklat atu ungu tua gitu deh yang menjurus ke warna hitam!
Karena dia nyaman dan percaya diri memakai lipstik warna tersebut, ya terlihatnya sih elok-elok saja. Tapi kalau saya yang makai, entahlah...

https://rebellinasanty.blogspot.co.id

Saya sempat juga punya alat-alat kosmetik pendukung lipstik ini. Misalnya, lip liner yang membingkai bentuk bibir saya seperti yang saya inginkan, Kalau ingin terlihat lebih lebar , biasanya saya menggambar garis bibir melebihi batas garis bibir aslinya dengan lip liner ini. Kadangkala saya berekperimen dengan memoles lipstik lagi dengan warna setingkat lebih tua dari polesan pertama,  di bagian tengah bibir agar terkesan penuh.

Tidak hanya lip liner, masih ada lagi semacam fondation untuk alas bibir sebelum lipstiknya dipoleskan. Setelahnya dilapis lagi dengan lapisan (saya lupa namanya) yang membuat lipstik tahan lama sekaligus lembab. Ada juga lipstik yang memang tahan lama, dan water proof. Tapi saya kurang suka pakai lipstik jenis itu karena membuat bibir saya kering.

Pada akhirnya, proses pemakaian lipstik saya harus berhenti di awal-awal bulan pernikahan saya. Agak lucu juga sih kisahnya.

Jadi, biasalah pengantin baru khan selalu ingin terlihat segar dan cantik saat menyambut hubby pulang dari kerja.  Sesuai saran mama saya, bahwasanya jangan pernah terlihat kucel di hadapan suami, saya pun begitu.

Dandan cantik dan wangi, serta tidak lupa pakai lipstik walau tipis. Saat suami pulang, cium tangan dan kedua pipi. Nah pas makan malam, suami pelan-pelan ngomong, "Hmmm..., Hon..." ( belum punya anak, jadi panggilnya masih agak lebay deh, pakai honey gitu). Terlihat dia serba salah.
Melihat saya masih menunggu, dia pun akhirnya melanjutkan ucapannya dengan hati-hati, "Kalau bisa, besok-besok enggak usah pakai lipstik lagi ya. Aku enggak suka...."

Ternyata, suami saya bukan hanya tidak suka melihat bibir saya dipoles lipstik, tetapi juga enggak tahan bau lipstiknya. Mungkin hidung suami saya terlalu sensitif ya. Jadi, sejak itu saya tidak pernah pakai lipstik lagi. Bukan semata-mata menghargai suami, tetapi juga karena kemudian saya sendiri pun nyaman-nyaman saja tampil polos tanpa lipstik,  dan kemudian sesuai kaidah ajaran agama yang saya yakini, untuk tidak bertabarruj.

Sejak itu, peralatan make-up dan kosmetik kecuali bedak baby pun tidak ada lagi di meja rias saya. Anak-anak saya pun tidak pernah melihat semua itu langsung kecuali lewat tv atau ineternet dan media sosial, tanpa juga tahu apa fungsinya.

Gara-gara itu, ada kejadian yang unik kalau tidak dikatakan lucu. Terjadinya tahun 2011 lalu saat saya sekeluarga pulang kampung ke rumah orangtua di Medan.

Berbeda dengan saya yang tampil polos, mama selalu terlihat gaya dan bibirnya tidak pernah lekang dari lipstik. Begitu melihat saya tampil polos, mama protes dan bilang bahwa saya enggak perlu sampai segitunya demi ngikuti suami (tampil tanpa make-up, maksudnya). Saya mah diam aja, karena jalan pikiran kita memang beda, jadi percuma juga kalau dijelaskan. Yang ada bisa debat kusir, seperti dulu...

Nah di meja rias mama itu terdapat beberapa buah lipstik. Entah mengapa saya ingin iseng moles bibir saya pakai lipstik. Saya pakai deh lipstik mama dan kemudian keluar kamar pamerin ke anak-anak.

Tahu enggak apa komentar kedua anak perempuan saya saat itu? Mereka masih berusia  8 dan 4 tahun saat itu.

"Ih..., Bunda kayak hantu...!"

Wuah..,karena tidak pernah sekalipun melihat saya pakai lipstik, mereka jadi takut dan keget melihat bibir saya berganti warna, hahahaha. Langsung deh saya hapus lipstiknya.


Jadi, walau secara resmi saya tidak pakai lipstik sejak 14 tahun silam, di tahun 2011 saya pakai lipstik untuk lucu-lucuan, yang kemudian berakhir dengan tragedi disamakan dengan hantu.
Sejak itu, lipstik menghilang selamanya dari kehidupan saya.


Rebellina Santy aka Reni Susanti










Rebellina Santy

Author, Blogger, Crafter, and Gardener. Informasi pemuatan artikel, Sponsored Post, Placement, Job Review, dan Undangan Event, email ke : rebellinasanty@gmail.com. Twitter/IG: @rebellinasanty

2 komentar:

  1. Ngakak baca komentar anak Bunda, hahaha... sebel nggak sih? Udah dandan cantik-cantik malah dibilang kaya hantu

    BalasHapus

Halo...
Thanks ya uda mau mampir dan kasih komentar di blog Rebellina Santy. Komentar kamu berharga banget buat saya.

Salam
Reni Susanti