Kamis, 13 April 2017

The Orphanage: Film Drama Horor Pencarian Si Anak Hilang



https://rebellinasanty.blogspot.com
sumber: Pinterest


Bagaimana rasanya kehilangan  anak?  Untuk orangtua yang kehilangan anak karena tersesat atau penculikan, dunia pasti seakan runtuh . Saya aja yang kehilangan Fatih saat usianya masih sekitar 4 tahun, dan cuma selama kurang lebih 1 jam, bukan saja menangis bombay dan seketika  merasa  dunia saya gelap dan hancur. Tetapi juga berhasil membuat tetangga sekampung berbondong-bondong mengulurkan bantuan untuk mencarinya. Padahal anaknya ternyata tertawa-tawa duduk di dalam keranjang pakaian yang ada di gudang. Mungkin kisahnya akan saya tuliskan di lain postingan.

Karena hal tersebut, saat menonton The Orphanage, yang berkisah mengenai pencarian seorang ibu yang kehilangan anak tunggalnya, saya merasa cukup memahami  tingkah laku Laura, sang tokoh ibu tersebut. Perasaan bahwa putranya yang hilang tersebut masih hidup dan berada di sekitarnya, membuat Laura terlihat seperti ‘ setengah sinting’ bagi orang di sekelilingnya, termasuk oleh suaminya.

 Sayang sekali, bukan dukungan yang diperoleh Laura, tetapi justru suaminya memutuskan untuk membiarkan Laura sendirian dalam pencariannya. Suatu keputusan yang berakibat fatal, karena ketika Laura menemukan kebenaran sejati tentang anaknya yang hilang, dia tidak mampu menerima kebenaran tersebut. Coba saja kalau suaminya ada di sisinya saat itu…

Eh, jadi kepanjangan nih opini pribadi tentang film tersebut. Baiknya langsung aja saya tuliskan sinopsis singkatnya ..

Laura dulunya seorang anak penghuni panti asuhan yang ada di Spanyol, namun kemudian dia diadopsi, sehingga harus meninggalkan panti asuhan tempat dia di asuh selama ini . Bertahun-tahun kemudian, Laura  datang kembali ke panti asuhan tersebut bersama suaminya Carlos, dan putra semata wayangnya Simon. Kali ini kedatangannya justru sebagai pemilik yang baru dari panti asuhan, yang ternyata telah ditutup tersebut. Didukung suaminya, Laura bermaksud membuka kembali panti asuhan tersebut, hanya saja lebih dikhususkan untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus.

Ditengah-tengah kesibukan mempersiapkan rumah sekaligus panti asuhan untuk anak-anak berkebutuhan khusus , Laura dan Carlos harus menghadapi sikap Simon yang  merasa mempunyai teman-teman yang tak terlihat oleh mereka. Namun hal  ini oleh  Laura dan Carlos hanya dianggap biasa, yakni  suatu fase di mana anak-anak biasanya menciptakan teman khayalan sebagai pengisi rasa sepi mereka.

Dalam salah satu kesempatan Laura menemani Simon bermain di gua dekat mercusuar. Gua ini hanya bisa di datangi saat air laut surut, dan akan dipenuhi oleh air saat air laut pasang. Di dalam goa ini, terlihat Simon seperti sedang berbicara dengan seseorang. Namun saat diperiksa, Laura tak menemukan siapapun.

Sepanjang jalan pulang kembali ke rumah, ternyata Simon meninggalkan jejak berupa cangkang kerang  sebagai penuntun jalan ke rumahnya. Katanya, agar teman barunya bisa ikut ke rumahnya dan bermain bersamanya. Lagi-lagi Laura dan Carlos meanggapi hal itu sebagai imaginary friends –nya Simon.

Malamnya, Laura dikunjungi oleh seorang nenek tua bernama Benigna  Escobedo, seorang pekerja social yang membawa dokumen mengenai Simon. Dari informasi yang dibawa Benigna ini, penonton jadi mengetahu bahwa ternyata Simon mengidap HIV, dan dia bukan darah daging Laura dan Carlos. Simon anak adopsi.

Merasa tak nyaman dengan sikap Benigna, Laura  menolak berbincang lebih lama dengan Benigna dan menyuruhnya pergi. Namun di tengah malam, Laura justru diganggu oleh kehadiran Benigna dalam gudang penyimpanan batubara , walau kemudian  Benigna berhasil kabur.

Setelah kejadian ini, situasi aneh mulai bermunculan di rumah Laura, salah satunya adalah bertambahnya 6 orang teman baru Simon yang tak terlihat Laura dan Carlos. Simon menggambarkan wujud teman-temannya  di atas kertas. Seorang diantaranya adalah sosok  anak yang menutupi kepala hingga lehernya dengan karung gandum, dan hanya menyisakan lubang untuk mata saja. Nama anak bertopeng karung itu, Tomas.

Simon juga mengajak Laura untuk memainkan satu permainan, dimana pemenangnya bisa mengajukan satu permohonan. Permainan ini menuntun keduanya ketempat Laura menyimpan dokumen mengenai Simon yang dibawa Benigna. Di sini Simon marah dan mengatakan bahwa dia tahu kalau dia bukan anak kandung Laura dan Carlos,, dan dia akan mati. Laura mengira Simon membaca dokumen yang sebelumnya terkunci tersebut, namun Simon mengatakan bahwa dia tidak melakukan hal itu, melainkan teman-temannyalah yang memberitahu hal tersebut padanya.

Di tengah-tengah pesta yang diadakan pasangan suami istri ini dalam rangka pembukaan panti asuhan khususnya, Simon mengajak Laura untuk melihat rumah kecil Tomas, namun Laura justru memaksa Simon untuk turun dan berbaur dalam suasana pesta. Terjadi perdebatan kalau tidak bisa dikatakan pertengkaran antara ibu dan anak sehingga Laura hilang kendali dan menampar pipi Simon.

Simon kemudian menghilang! Suasana pesta pun berubah menjadi ajang pencarian Simon. Di tengah situasi panik tersebut, Laura justru melihat sosok yang pernah digambarkan Simon di atas kertas. Tomas!
https://rebellinasanty.blogspot.com
sosok Tomas

Berbalut baju tempo dulu dan penutup kepala dan wajah dari karung, sosok Tomas itu mendorong Laura ke dalam kamar mandi dan menguncinya. Dalam insiden ini, jari tangan Laura terluka karena terjepit pintu yang ditutup sosok Tomas.

Pencarian terus berlanjut sampai ke arah gua dekat mercuasuar. Dari kejauhan, Laura seperti melihat sosok Simon di mulut gua, namun kemudian menghilang. Situasi saat itu air laut sedang pasang. Pencarian sampai malam dan melibatkan aparat, juga tak menemukan Simon. Nihil! Simon benar-benar raib seperti ditelan bumi. Dalam upayanya menghibur Laura, Carlos meminjamkan kalung warisan neneknya, yang harus dikembalikan Laura bila telah menemukan Simon.

Sejak hilangnya Simon, muncul hal-hal aneh di dalam rumah, seperti suara -suara dari balik dinding, serta munculnya boneka  di atas kasur. Namun Simon tetap tidak ditemukan hingga 6 bulan pun berlalu.

 Walau sudah 6 bulan berlalu, Laura tetap tidak menyerah dalam pencariannya. Dia menyakini bahwa Simon masih hidup dan berada di suatu tempat. Dalam upaya pencarian tersebut, di satu momen, Laura dan Carlos menemukan Benigna yang tewas akibat kecelakaan. Dari sinilah kemudian diketahui bahwa Benigna ternyata dulunya adalah pegawai di panti asuhan yang ditempati Laura ketika kecil. Dia memiliki anak yang cacat bernama Tomas.

Kehadiran Tomas disembunyikan oleh pihak panti, dan dia ditempatkan dalam ruangan tersembunyi tanpa banyak orang yang mengetahui. Tomas juga kerap mengenakan karung goni sebagai penutup kepala dan wajahnya untuk menyembunyikan penampilannya yang menyeramkan.

Setelah Laura kecil pergi karena diadopsi, di panti tersebut terjadi insiden yang menyebabkan Tomas tewas. Ternyata, penyebabnya adalah anak-anak panti lainnya yang bermaksud melihat rupa Tomas yang sebenarnya. Caranya dengan menyembunyikan karung goni penutup kepala Tomas saat mereka bermain di gua dekat mercusuar. Anak-anak panti mengira Tomas akan ikut keluar gua bersama mereka, sehingga mereka bisa melihat rupa Tomas dengan jelas. Sayangnya, Tomas terlalu malu untuk keluar dari gua sehingga air laut pasang dan menenggelamkannya hingga tewas.

Pencarian yang belum membawa Simon kembali, membuat Laura mulai memikirkan mengenai teman-teman  khayalan Simon dan mengaitkan hal tersebut dengan hilangnya Simon. Hal ini terlihat tidak sesuai dengan pemikiran Carlos. Apalagi kemudian Laura mulai melibatkan paranormal dan medium dalam upaya pencariannya terhadap Simon.

Pencarian yang melibatkan suatu tim kecil dan Aurora sebagai mediumnya, merasakan adanya  anak-anak panti asuhan yang kesakitan dan memerlukan pertolongan. Anak-anak tersebut sekarat karena diracun oleh Benigna yang dendam akibat kematian Tomas. Jasad anak-anak malang itu disembunyikan Benigna dalam karung debu sisa pembakaran batu bara (untuk pemanas ruangan) di dalam gudang. Laura menguak fakta tersebut dengan petunjuk dari yang tak terlihat, yang kemudian diyakini Laura sebagai teman-teman  semasa kecilnya di panti.

 Dari sinilah mulai muncul perbedaan pandangan antara Carlos dan laura. Carlos  mengajak Laura untuk sejenak meninggalkan rumah tersebut,  namun Laura menolak dan meminta Carlos memberinya waktu dua hari sendirian di panti tersebut. Laura bersikeras melanjutkan pencariannya. Akhirnya  Carlos memilih untuk keluar dan membiarkan Laura meneruskan upaya pencariannya terhadap  Simon. Sendirian.
https://rebellinasanty.blogspot.com
Hasil gambar Tomas

Laura pun mengatur ulang panti menyerupai situasi seperti 30 tahun yang lalu. Bahkan dalam keputusasaannya karena upayanya masih belum ada hasil, Laura mulai melakukan permainan ketuk pintu seperti yang dilakukannya dulu. Dari sinilah petunjuk satu persatu mulai bermunculan. Sampai akhirnya, Laura menemukan Simon…

https://rebellinasanty.blogspot.com
pada akhirnya, pencarian itu menemukan hasilnya

Ngenes banget pada bagian ini… Saya sampai tahan nafas sejenak. Apalagi saat Laura menjeritkan perasaan bersalahnya setelah sebelumnya satu persatu kilasan masa lalu ,mengurai ingatannya akan kejadian yang sebenarnya terjadi.

Cerita ditutup dengan kunjungan Carlos ke panti asuhan tersebut. Di salah satu bagian rumah, dia menemukan kembali kalung yang telah dipinjamkannya ke Laura dulu. Kalung yang harus dikembalikan Laura, bila Laura telah menemukan Simon.

Carlos pun tersenyum sambil menatap ke  arah pintu yang terbuka dengan kalung dalam genggaman…


 Film Orphanage ini sudah lama saya ketahui sebagai salah satu film horror bagus, melalui forum-forum pecinta film horror. Namun baru bisa saya tonton tahun lalu, padahal film ini rilis di tahun 2007. Dan entah mengapa pula, film ini juga ada andil Guillermo del Toro (cek spelling), sama halnya dengan film Mama yang pernah saya ulas sebelumnya.

Baca juga : Mama, Film Horor Drama Yang Menyentuh Hati

 Film lain yang sudah saya tonton,  selain Mama dan Orphanage  yang Guillermo del Torro ikut telibat di dalamnya adalah Pan's Labiryn. Dan ada satu benang merah kesamaan ketiga film ini, yakni menyangkut hubungan orangtua dan anak. Saya juga suka dengan Pan's Labyrinth walau mencerna jalinan ceritanya tidak semudah  film Mama dan Orphanage ini.  Tapi tetap bagus sih, menurut saya.

Kembali ke Orphanage.
Film ini banyak menuai pujian dari kritikus film, terutama untuk Belen Rueda, yang memerankan Laura. Film ini aslinya dirilis dalam bahasa Spanyol, dengan judul asli El Orfanato. Selain Belen Rueda, juga ada Fernando Cayo sebagai Carlos, dan Roger Princep sebagai Simon. Lihat Simon, asli deh bikin saya gemes lihat tampangnya yang imut dan rambut ikalnya. Hehehehe, dikit melenceng deh ☺☺☺

Pada akhirnya, menonton film horor drama mengenai pencarian anak yang hilang ini meninggalkan satu pesan yanng teramat jelas yanng saya tangkap dari kacamata seorang ibu.

"Jangan abaikan  perkataan anakmu, sesibuk apapun dirimu saat itu. Kesibukan bisa dijeda sejenak, namun menyepelekan perkataan dan permintaan anak, ternyata bisa menjadi penyesalan yang akan ditanggung seumur hidup."
Setidaknya, itu yang dialami Laura.
Dan, dada saya pun sesak oleh rasa pilu setelah usai menonton film ini.


Rebellina Santy
 April 2017



3 komentar:

  1. Pengen nonton tapi kok takut, hihi. Kayaknya kalo mo nonton kudu rame-rame nih :D

    BalasHapus
  2. Film horror yg ngga cuna nakut2in doang nih kyknya ya

    BalasHapus
  3. Bu rebellina coba tonton secret sunshine,the truth beneath,missing semuanya film korea tentang ibu dan anak,kalau tentang ayah dan anak coba miracle in cell no.7,dan hope.

    BalasHapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge