Jumat, 21 Oktober 2016

Rekam Jejak Pagi Yang Kelak Jadi Sejarah


Pagi ini saya bangun dengan pikiran agak suntuk.  Berbagai pikiran berkecamuk. Sudah lebih dari 3 bulan ini saya malas nulis. Tapi bukan berarti saya enggak melakukan apa-apa. Berkebun tetap saya lakukan, tetapi kadangkala dengan hati yang kusut.  Beberapa tanaman yang baru saya beli seperti bunga mawar dan bunga marigold, sepertinya tumbuh dengan merana. Mungkin mereka merasakan ya suasana pikiran saya yang kusut seperti benang sulam yang saya simpan uwel-uwelan dalam kotak prakarya saya.

Bikin kue ini itu buat cemilan anak-anak pun, tidak terlalu sering lagi saya lakukan. Paling cuma bikin pancake, karena bahannya  dan pembuatannya mudah, serta anak-anak suka. Pokoknya pikiran saya seperti terblokir untuk melakukan hal-hal yang dulunya saya senangi. Lucunya, semua semakin terjadi (malas saya) malah setelah ikut pelatihan blogging dan  setelah suami pulang umroh ramadhan lalu.

 Kebanyakan waktu saya malah diisi dengan baca-baca majalah, buku, atau pun berkelindan di dunia maya semisal di forum. Medsos saya seperti FB saja pun tidak saya sentuh, kecuali sesekali mengintipnya lantas kemudian kabur.

Nah, pagi ini saya ingin mendobrak suasana hati saya yang lagi jelek itu.  Berhubung  untuk sarapan anak-anak sudah beres, saya  putuskan untuk jalan-jalan pagi ke luar halaman. Biasanya saya jalan-jalan pagi kalau hari libur bersama anak-anak dan suami. Sekedar menikmati suasana pagi yang masih berkabut dan say ‘hello’  dengan tetangga yang jarang ketemu.  Namun kali ini saya sendirian, karena anak-anak harus sekolah dan suami sibuk dengan kerjaannya.

Saya memilih keluar dari pintu depan. Sengaja bawa kamera karena saya ingin mengabadikan momen pagi ini untuk saya tuliskan.
Begitu pintu depan terbuka, mata saya tertambat bunga mungil berwarna merah keunguan.


Ahai.., saya ingat, bunga  ini bibitnya saya peroleh dari seorang bapak di daerah Kali Suren. Saat itu saya dengan suami sedang jalan-jalan cuci mata. Biasalah, mata saya suka melotot kalau lihat ada tanaman yang cantik. Seperti bunga ungu ini yang saya lihat tumbuh merimbun di sisi tembok sebuah  rumah. Kebetulan bapak pemilik rumah sedang bersih-bersih. Dengan pede aja saya sapa bapak tersebut dengan salam, dan tanya ini itu tentang bunga ungu tersebut. Ternyata bapak ini pun tidak tahu namanya. Tapi tegur sapa saya tidak sia-sia. Saya bawa pulang beberapa rumpunnya dan bibit bunganya yang berupa biji.


Rumpun bunga yang masih kecil itu kemudian saya tanam. Sayang, saat berbunga pertama kali, pohonnya patah. Patahannya saya coba tanam kembali. Iseng aja sih, berharap patahannya bisa tumbuh. Lha, ternyata bisa. Buktinya patahannya malah tumbuh subur dibanding batangnya semula dan kini berbunga lagi walau kecil (mungkin karena nanamnya di dalam pot ya, dan enggak begitu saya urus).

Lalu, pandangan saya alihkan ke halaman sisi kiri. Di barisan kiri yang berbatasan dengan halaman tetangga, saya menanam  bunga raya alias kembang sepatu (hibiscus). Warna bunganya merah menyala, dan sudah banyak putih-putik baru bermunculan. Pengennya sih mereka mekar serempak, barengan dengan tanaman bunga kaca piring (gardenia) dan bunga ungu ruella. Bayangan saya , perpaduan mereh dari hibiscus, putih dari gardenia, dan ungu ruella pastinya akan membuat halaman kiri ini semarak. Nyatanya…, impian tak seindah kenyataan.

Bunga raya, begitu saya mengenal bunga ini semasa kanak-kanak, ternyata tak  gampang berbunga di halaman saya. Kalaupun berbunga, seringkali cuma satu dua. Entahlah, halaman saya ini kalau tanaman daun-daun, suburnya minta ampun. Tapi kalau tanaman bunga , rada sulit berbunga banyak. Daunnya aja yang kelewat lebat dan subur. Termasuk juga kaca piring, yang daunnya selalu jadi kena serangan ulat sampai harus saya gunduli.  Jadi harapan saya pengen punya halaman penuh bunga warna warni yang mekarnya serempak (seperti taman-taman yang ada di pinterest, hahaha)


Satu-satunya bunga yang mekar tak berhenti justru si ungu ruella.  Namun karena tumbuhnya berantakan, malah jadi tak enak dilihat. Saya kerap merapikannya walau terkadang harus mencabut tanamannya. Sebelumnya pakai ngobrol dulu bilang ke ruella kalau saya mau merapikan tumbuhnya, bukan mau merusaknya.




Baca : Bercakap-cakap Dengan Tanaman

Langkah saya berlanjut, menuju ke  jalan raya. Di sebrang pintu pagar rumah, pandangan mata tertambat pada kumpulan bunga liar. Terus terang, saya tidak tahu namanya. Tetapi yang saya ingat jelas, bunga ini suka jadi mainan saya dan teman-teman kala kanak-kanak. Biji bunganya yang kecil dan berwarna hitam, sering kali kami jadikan tahi lalat-tahi lalatan di wajah. Lumayan seru. Sayangnya, tanaman ini entah kenapa kok kurang indah kalau di tanam di dalam pot, atau halaman. Tumbuhnya yang tidak beraturan itu bikin halaman kurang elok dipandang. Bunga ini saya namakan sendiri dengan bunga tahi lalat-tahi lalatan, hehehehe. (foto)


Kaki saya berbelok ke arah kiri, menelusuri jalan di tengah cuaca yang masih berselimut kabut tipis dan cahaya hangat matahari yang mula muncul. Jalanan masih relatif sepi, hanya sesekali dilewati motor  yang membawa anak-anak yang ingin ke sekolah. Dulunya jalan di kampung  ini, belum sebagus sekarang . Lampu jalan juga baru terpasang dua tahun terakhir ini. Perubahan yang nyata terlihat dari kampung ini adalah, lahan-lahan pertanian yang beralih fungsi jadi perumahan. Semakin panas, dan mengurangi atmosfer sejuk yang terasa saat mula pertama kami tinggal di kampung ini.

Di sisi kanan jalan, putri malu yang biasanya tumbuh rendah, justru tumbuh  menjulang setara dengan pohon  kelor di sampingnya.  Bunga putri malu ternyata cantik juga sebagai objek foto. Sama halnya dengan hijau daun kelor  yang sungguh menggoda .  Daun kelor katanya bisa  diolah jadi sayuran. Tapi saya belum pernah nyoba masak sayur daun kelor. Kalau orang Sulawesi, katanya biasa mengolah daun kelor jadi sayuran. Kalau di sini, daun kelor dibiarkan tumbuh tanpa dimanfaatkan. Paling-paling Cuma dipetik untuk makanan kambing. Padahal kasiatnya banyak. Saya pengen nyoba nanam pohon kelor ini di dalam pot atau polybag. Tapi, kapan ya… (mikirn waktu yang terasa semakin pendek…) (foto)


Perjalanan pendek saya selanjutnya  menemukan satu bunga yang tumbuh liar di dekat selokan kering, di tengah-tengah rumput liar. Kalau di luar negeri, bunga ini mirip dengan lily of the valley. Sayang, saat saya foto, bung a ini masih kuncupnya saja, belum mekar. Beberapa kali saya telah mencoba mengorek bunga ini dari habitatnya, untuk dipindahkan ke dalam pot atau polybag di rumah. Namun, sepertinya akarnya masuk jauh ke dalam tanah dan belum rejeki saya  untuk melihatnya tumbuh di halaman saya.  Setidaknya, saya bersyukur pagi ini mata saya masih bisa melihat keindahan kuncup calon bunganya.


Masih di sisi jalan kiri, saya melihat tandan bunga sejenis pohon palem. Sepertinya, pihak pengembang perumahan yang  dulu pernah membeli tanah-tanah di sini, pernah menanam pohon pale m ini sebagai (calon) penghias jalan di komplek perumahan kelak. Beberapa batang pohon palem ini dicat warna merah. Tidak tahu disengaja oleh pihak pengembang sebagai penanda batas tanah milik, atau sekedar ulah iseng  anak-anak abg.

Sekedar informasi, ketika kami sekeluarga pindah ke kampung ini sekitar 9 tahun yang silam, tanah-tanah pertanian di sebrang jalan rumah, dan di belakang  rumah, telah dimiliki sepenuhnya oleh pihak pengembang perumahan tertentu. . Namun sampai sekarang, komplek perumahan ini belum terealisasi.

Menurut penduduk setempat, harga tanah yang mereka jual dulu sangat murah sekali. Saat ini, mereka banyak menyesali keputusan mereka menjual tanah subur pertanian. Walau masih diijinkan untuk mengelola tanah tersebut sebagai lahan pertanian singkong, tetap saja tanah itu sudah bukan milik mereka lagi. Hanya tinggal menunggu waktu lahan-lahan kosong yang dimanfaatkan sebagai ladang tanaman singkong, akan berbuah menjadi barisan perumahan yang seragam. Saya merasa termasuk bagian dari orang yang beruntung memiliki tanah cukup luas di tepi jalan yang tidak termasuk bagian dari lahan rencana komplek perumahan.

Sepertinya langkah kaki saya harus berputar balik menuju rumah. Di dekat rumpun pandan berduri, saya memutar langkah. Ngomong-ngomong soal pandan berduri, entah siapa yang menanamnya. Mungkin tak sengaja tumbuh sendiri, karena sependek yang saya tahu, tanaman pandan berduri ini juga tidak ada yang memanfaatkannya. Beberapa kali oleh pemilik tanah, tanaman ini dibabat habis dan dibiarkan menjadi kompos dengan sendirinya. Namun, dia tetap tumbuh subur, bahkan area tumbuhnya semakin meluas dari semula.


Sinar matahari perlahan namun pasti mulai mengusir kabut pagi . Saya melangkahkan kaki kembali menuju rumah. Melihat sisi kanan dari jalan pulang, terhampar lahan-lahan kosong yang ditumbuhi ilalang dan rerumputan. Lahan kosong ini yang saya katakan  telah dimiliki oleh pihak pengembang perumahan. Biasanya, oleh pihak pengembang, lahan ini masih boleh dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk  ladang tanaman singkong. Tentu saja selagi area komplek perumahan belum dibangun.

Saya bayangkan, paling lambat 5 tahun ke depan, ladang-ladang singkong ini akan berganti menjadi komplek perumahan. Soalnya, pihak pengembang mulai mengukur ulang  batas-batas tanah yang mereka miliki. informasi yang terakhir yang saya ketahui dari ketua RT, pihak pengembang selain  sudah mulai memetakan kembali lahan miliknya, juga  telah mempersiapkan beberapa bulldozer untuk  memulai pengerjaan komplek perumahan tersebut. Sedih.., tinggal menunggu waktu lahan kosong ini berganti menjadi hamparan perumahan yang seragam…

Langkah saya semakin mendekati rumah, namun saya hentikan sejenak untuk menikmati pemandangan tanaman sawo kecik yang lebat berbuah di halaman tetangga berjarak dua rumah dari saya. Tetangga ini salah satu dari tetangga yang masih bisa dihitung dengan jari jumlahnya, yang memiliki halaman  lumayan luas. Selebihnya, walau masih berstatus kampung, di sekitar tempat tinggal saya telah padat oleh rumah-rumah penduduk,

Akhirnya langkah kaki telah mendekati pintu pagar depan rumah. Disambut oleh wajah sumringah Si Bungsu dan jejeran tanaman hias dan tanaman bunga yang masih berantakan, belum sempat terurus sepenuhnya oleh saya. (foto-foto)

Walau belum terurus sepenuhnya, setidaknya, adanya tanaman di halaman rumah, membuat kami sekeluarga merasa betah karena hawa sejuk yang ditimbulkannya.  Apalagi beberapa tanaman buah sudah mulai rajin berbuah, seperti jambu air, manga, dan alpukat. Kalau rambutan, tidak pernah absen berbuah setiap tahunnya. Dan insha Allah, kami  berkomitmen untuk terus mempertahankan keberadaan tanaman ini, bukan hanya untuk tambatan mata yang menyejukkan, tetapi sebagai penyeimbang ekosistem di sekitar rumah yang semakin  rusak oleh tangan-tangan manusia.

Saya bayangkan, bila saja  komplek perumahan telah berdiri, maka daerah resapan air yang selama ini ada, akan menghilang. Sementara, saa t ini saja  bila musim kemarau tiba, masyarakat kesulitan memperoleh air bersih karena sumur-sumur  mereka mengering. Apa jadinya bila seluruh daerah resapan air dan lahan-lahan luas pertanian semula, berganti menjadi komplek perumahan? Banjir di musim hujan, dan kekeringan di musim kemarau!

Baca: saat Air Sumur Kami kering

Itu yang menjadi pemikiran utama saya saat saya serius menekuni hobi bertanam-tanam. Pada suami, saya tegaskan untuk tidak memotong tanaman berbatang keras, seperti tanaman buah-buahan yang ada di halaman depan dan belakang hanya demi estetika. Soalnya suami sempat berencana membuang tanaman mangga, lengkeng, dan jambu air yang ada di halaman depan demi tatanan taman yang cantik (kelak). Tapi saya bertahan, taman boleh ada, tapi menyesuaikan dengan tanaman berbatang keras yang ada. Karena melalui tanaman ini sumber air kami akan tetap terjaga, walau di sekitar kami nanti dipenuhi oleh komplek perumahan. Kecuali untuk pohon rambutan, kami relakan untuk ditebang                   bila ada proyek perluasan jalan dari pemerintah, karena pohon rambutan tersebut memang tumbuh di tepi jalan (walau masih masuk tanah milik kami).

Sekarang ini, dampak pemasan global saja sudah sangat terasa di wilayah  kami ini. Setiap tetangga dan kerabat yang datang berkunjung, mengakui kalau  duduk di teras depan, sangat terasa bedanya dengan suasana di tempat lain. Lebih sejuk dan adem. Kalau saya sih, lebih betah duduk-duduk di halaman belakang , main bersama anak-anak, soalnya lebih bebas, enggak harus pakai hijab, dan bisa main ayunan di bawah pohon alpukat.

Ah.., sepertinya tulisan ini harus saya akhiri, walau rasanya masih banyak yang ingin saya bagi.  Tetapi, saya cukupkan sampai di sini.  Kelak bila beberapa waktu kemudian saya baca ulang  tulisan ini, saya yakin yang saya tuliskan ini sebagian besar hanya akan jadi sejarah, terutama pemandangan dan tanaman-tanamannya. Tetapi saya tetap berharap, anak-anak saya bila belajar dari tulisan ini kelak dan meneruskan minat saya menjaga lingkungan sekitar melalui tanaman.


RebellinaSanty
Bogor 25 Agustus 2016




15 komentar:

  1. Welcome back, Mbak Reni.... Aku juga sering tiba2 males nulis, Mbak. Moga2 Mbak sekeluarga sehat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sehat. Cuma masalah nulisnya belum sepenuhnya normal semangatnya :)

      Hapus
  2. bunga-bunganya canti banget, merawatnya pasti butuh perhatian lebih ya. DUlu waktu ngontrak sempat punya 1 pot bunga mawar, udah berbunga, layu trus mati, ga pintermerawatnya. btw, tampilan blognya baru, bagus :) fresh

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih acak kadut mbak, belum sempat benahi :)

      Hapus
  3. Itu fotonya bikin yang liat moodnya membaik deh, thanks for sharing mbak.

    Salam,
    Syanu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih, moga mood saya juga membaik setiap hari biar bisa nulis terus.

      Hapus
  4. selamat datang kembali lagi mbak ... semoga semakin rajin nulis blognya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih ya do'anya. lagi diusahakan agar semangatnya kembali

      Hapus
  5. Oh ini tuh bunga glory merah, bunga glory banyak banget jenisnya, ji (panggiln untuk ibu2).
    Bln llu aq keranjingn nyari bunga2. Ketemu dhe lapak bibit/biji bunga di petanirumahan.com murah2 biji/bibitny...
    Ad bunga glory morning, glory blue star dll.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tau klo Ibu ini keturunan tionghoa juga. (Aq baca postingn awal smpe sini, ntr lnjut baca lq dhe hehe)

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. wah, terima kasih infonya. Hehehe, iya, aku ada keturunan tionghoa. Salam kenal ya

      Hapus
  6. Trus yg bunga berbiji hitam itu namanya bunga jengger ayam, biasa di perumahan tionghoa ada (setauku sih).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bunga jengger ayam lumayan cantik, di google ada, yg tumbuhnya besar bgt.

      Hapus
  7. Trus yg bunga berbiji hitam itu namanya bunga jengger ayam, biasa di perumahan tionghoa ada (setauku sih).

    BalasHapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge