Apa passion anda?
Kalau pertanyaan itu diajukan pada saya, maka dulu dengan
yakin saya akan jawab, menjadi penulis! Saya merasa punya sedikit bakat, hasil karya
pernah nampang di media, serta punya segudang ide yang seliweran di benak saya siap
dituangkan dalam tulisan (Sok percaya diri banget euy, malu-maluin deh). Tapi itu dulu! Awal-awal saya terkena euforia
menulis, dan ikutan menulis rame-rame alias antologi, walau hasil karya
antologi cuma sebiji! Setelah itu saya mandeg dari menulis. Lama…, sekitar 2
tahunan. Walau kini mengaktifkan diri untuk kembali belajar menulis, namun kalau ditanya kini apa passion saya? Maka akan saya jawab, banyak! Bukan
cuma menulis saja.
Menyerah? Atau
takut menghadapi kenyataan di depan mata bahwa penulis baru bermunculan dengan
talenta dan ide-ide yang lebih segar?
![]() |
courtesy: www.theway-weremember.blogspot.com |
Tidak begitu. Saya tidak menyerah atau khawatir kalah
bersaing dengan penulis lainnya. Setiap orang dan termasuk penulis, punya
jalannya masing-masing dalam mewujudkan mimpinya. Termasuk saya. Impian menjadi
penulis masih tertanam kuat, jalan ke sana pun sudah dirintis. Namun saya
memilih realistis dengan kondisi saya . Saya punya prioritas lebih dari
keinginan pribadi. Ada 4 anak yang masih sangat butuh perhatian, suami yang
tetap punya hak atas diri saya seperti saya memiliki hak atas dirinya, dan
lingkungan yang saya harus tetap ambil bagian di dalamnya. Diantara ke empat
anak kami tersebut, satu memerlukan perhatian yang khusus, karena dia pun
khusus, tidak sama dengan saudara-saudaranya yang lain. Saya jadi merasa egois
kalau fokus mengejar mimpi sementara tanggung jawab utama saya terbengkalai.
Bukannya cari-cari alasan saja? Banyak penulis lain
yang punya banyak keterbatasan mampu menghasilkan karya?
Pertanyaan itu sering juga mampir di benak saya. Belum lagi
tulisan motivasi kepenulisan yang seliweran, terkadang membuat telinga ini
panas saat saya membacanya. Dan jangan pula dibilang saya tak pernah
mencobanya. Hasilnya? Yang ada niat menjadi penulis serasa seperti beban,
membuat hidup saya jadi berat, berimbas negatif ke anak-anak dan suami, karena
saya marah-marah bila target menulis tak tercapai. Inikah yang saya kejar?
Sejatinya hidup adalah mencari kebahagiaan. Karena saya
menganut agama Islam, tentunya standar kebahagiaan saya dilandasi oleh
pemahaman yang saya yakini, tidak bertentangan dengan hukum syara’ dan suami
ridho, serta kebahagiaan yang saya peroleh insha Allah membawa berkah. Itu saja
. Kalau saya bahagia, kebahagiaan itu akan menyebar dan menaungi orang-orang
di sekeliling saya, termasuk anak-anak dan suami.
Lalu, bila ambisi
menjadi penulis malah memerangkap diri saya menjadi pribadi yang tidak bahagia,
tujuan apa yang sudah saya capai? Bukannya berarti saya malah gagal?
Ah, cuma alasan pembelaan diri demi menutupi
kegagalanmu menjadi penulis…
Sekali lagi, jalan hidup orang beda-beda. Berhasil buat
orang lain, belum tentu berjalan baik bagi diri sendiri. Saya tidak mau
mengusili pilihan orang lain. Tapi bagi saya saat ini, keluarga adalah prioritas nomor
satu. Tak perlu juga saya tulis detil apa yang membuat saya terpontang panting
di dalam keluarga ini sehingga membuat saya harus menyingkirkan niat menjadi
penulis sementara waktu di nomor urutan ke sekian. Tapi, bukan saya berhenti.
Tetap rajin membaca, menabung ide, menulis alur, dan saat tenaga tersisa di
waktu yang jua tersisa, saya akan berusaha menuliskannya. Atau kerinduan menulis saya tuangkan lewat ngeblog.
![]() |
Tas Tote hasil belajar jahit rebellina |
courtesy:rebellina |
Lalu, tanaman yang tumbuh subur di halaman sekeliling rumah,
baik tanaman hias hijau daun, tanaman bunga, serta tanaman buah yang sudah banyak
memberikan hasilnya untuk kami. Ternyata, setelah saya tekuni di sela-sela
kesibukan saya, membuat saya bahagia dan semakin mencintai dunia tanam menanam.
Perlu dicatet juga, bahwa saya juga tidak pernah berkutat dengan tanaman
sebelumnya. Ini karena terpaksa! (baca, Bermula Dari Alamanda)
Membuat kue, cemilan, mencoba aneka resep-resep baru untuk
buah hati dan keluarga, juga begitu menyenangkan, walau saya tak begitu
antusias memakannya. Sampai disarankan untuk buka usaha kuliner, tapi belum
untuk saat ini karena saya merasa kemampuan memasak saya jauh dari memadai. Namun kegiatan ini juga menyeimbangkan
emosi saya, dan jadi cara asyik untuk mendekatkan diri saya dan anak-anak.
bolugulung hias; courtesy: rebellina |
pastry gulung keju, courtesy : rebellina |
Beraktivitas bersama anak-anak pun sangat membahagiakan saya. Berjoget-joget enggak karuan bareng si bungsu sembari mendengarkan musik. Atau membuat kerajinan dari bahan-bahan sederhana, misalnya butiran beras yang diwarnai pewarna makanan. Itu juga membuat hati ini bahagia, karena melihat kegembiraan anak-anak bersama saya.
Sekarang, utak atik blog, berkutat dengan program HTML dan CSS, ternyata menambah daftar kegiatan yang membuat saya happy melakukannya, walau masih dengan ilmu ala kadarnya. Lagi-lagi, awalnya saya buta dengan urusan HTML dan CSS. Tapi untuk yang satu ini sepertinya tidak ditekuni terlalu jauh, mengingat keterbatasan waktu saya untuk menjalaninya.
![]() |
crafting bersama anak-anak, courtesy rebellina |
Sekarang, utak atik blog, berkutat dengan program HTML dan CSS, ternyata menambah daftar kegiatan yang membuat saya happy melakukannya, walau masih dengan ilmu ala kadarnya. Lagi-lagi, awalnya saya buta dengan urusan HTML dan CSS. Tapi untuk yang satu ini sepertinya tidak ditekuni terlalu jauh, mengingat keterbatasan waktu saya untuk menjalaninya.
![]() |
hasil utak atik html dan css ala rebellina |
Menjahit, membuat kue dan cemilan, serta berkebun, bisa
melibatkan anak-anak dan anggota keluarga lainnya untuk aktif terlibat. Beda
dengan menulis. Untuk menulis, saya butuh konsentrasi, kesendirian, serta
fokus. Keterlibatan anggota keluarga yang lain malah membuat fokus saya buyar.
Itu sebabnya, saya tetap mencintai kegiatan itu diluar passion menulis saya,
karena semua kegiatan itu juga menjadi Me
Time saya yang lain, menggantikan hasrat menulis yang belum bisa saya
penuhi dengan keadaan saya saat ini.
Lagi pula, suami saya juga mengatakan bahwa saya justru
terlihat bahagia bila melakukan sesuatu yang saya senangi tanpa beban. Seperti menjahit, memasak kue, dan terutama berkebun.
Setelah itu, katanya lagi, saya pasti semangat menulis.
“Bunda kalau lagi on menulis, pasti efektif,” pujinya (atau
menghibur?)
“Kok bisa?” Kata saya
“Tuh buktinya, sekali kirim langsung dimuat.” gombalnya
“ Tapi Bun kan jarang menulis untuk media, berarti enggak
efektif dong.” Ngeles sambil manyun.
“Ya enggak juga. Kalau nulis, walau jarang tapi langsung
dimuat, khan berarti efektif. Ketimbang nulis terus tapi ditolak melulu…” Masih
semangat dia menghibur saya.
“Lebih enak kalau nulis terus, dan dimuat terus khan…” Masih
ngotot juga saya. Hehehe
Ngalah deh suami. Tapi saya juga jujur mengakui, bukan
masalah efektif atau tidaknya proses menulis yang saya lakukan. Tetapi apakah
itu membahagiakan atau tidak?
Bila keinginan menjadi penulis membuahkan obsesi yang malah
membuat saya tertekan, apa untungnya untuk saya? Bukan malah jadi karya, tapi
malah berujung ke stress nantinya. Saya
justru bahagia melakukan kegiatan yang menjadi passion baru saya. Dan semua itu
malah membuat saya semangat kembali menulis, tanpa beban, karena saya menulisnya
dengan bahagia.
Menjadi Penulis?
Teteup dong! Namun menjadi penulis yang menulis dengan bahagia

Menjadi Penulis?
Teteup dong! Namun menjadi penulis yang menulis dengan bahagia

Setuju, mak :D semua dijalani dengan bahagia, melenceng dikit dari menulis gpp ya, kan cuma sedikit, hehe
BalasHapusiya. Kalau diri sudah berbahagia, insha Allah akan membawa aura positif ke sekeliling kita, terutama keluarga. Menulis, teuteup! tapi menulis dengan bahagia :)
Hapusrajin banget si mbak berkebun, bikin kue, bikin craft buat anak2, masih bisa nulis pula .. subhanallah ...Mantabbs :)
BalasHapuskarena semuai tu membuat saya bahagia, mbak :). jadi anteng saja melakukannya :)
Hapusbetul sekali :) wah mba Passy ternyata multitalented ya hihi.. eh blognya juga makin bagus euy:D
BalasHapushehehe, terima kasih san. dirimu juga banyak menginspirasi diriku untuk tidak kalah dalam hal belajar :)
Hapusmak,, betul sekali.. semua kegiatan itu kalau tidak dijalani dengan bahagia ya ga bisa maksimal hasilnya..
BalasHapusbtw,, pengen juga main crafting sama anak.. langsung deh cari-cari referensi..
crafting bersama anak-anak memang menyenangkan mak, tapi riweuh... Enggak susah sebenarnya kok mak crafting bersama anak, hanya butuh kesabaran saja mendampingi mereka. kalau soal hasil, hehehehe...
HapusSetuju Mbak.. Sesuatu yang dipaksakan hasilnya tidak akan maksimal. :)
BalasHapusbeda hasilnya dengan melakukan sesuatu sepenuh hati ya Rin..
HapusSetuju sekali, Mak Reni. Saya juga akhirnya menyadari bahwa passion saya ternyata adalah keluarga. Apa pun yang saya lakukan asal bersama keluarga, membuat saya hepi. Benar sekali apa yang Mbak Ren bilang, bahwa diri kita sendiri harus bahagia. Agar bisa membahagiakan orang lain. Saya juga sama, Mbak ndak pernah ngoyo sana-sini. Ngalir aja. Lagi pengen masak2 ya ikuti saja. Lagi pengen berkebun ya saya utak-atik tanaman sampai mabok. Mau nulis ya nulis. Ndak ada unsur terpaksa. Kecuali kalau ada pesanan tulisan dan DL revisi. :) Keep happy, Mbak! ira
BalasHapusiya Mbak. Stress saya kalau mau ikuti impian pribadi saya, karena ternyata hidup sendiri dengan bekeluarga sudahlah pasti beda. dan yup, kebahagiaan bersama keluarga di atas kebahagiaan pribadi. Dan enggak beda tuh dgn mbak, lagi mau bekebon, sampai lumutan dilakoni, lagi bosan, tanamannya layu pun dicuekin, hehehe (enggak kok)
HapusAaih, ternyata ada yg sehati sama saya :)
BalasHapusSaya juga jalanin semua apa adanya, tanpa target. Betul kata Mbak Rebellina, jika ditarget malah bikin stres dan berimbas pada keluarga. Masih banyk potensi lain yg bisa digali. Semua tetap berjalan apa adanya dan sesuai keadaan n kehendak hati. Sukses terus berkreasi sambil hepi2 ya, Mbak ^_^
Hehehe, iya Mbak Inna. prioritas untuk ibu-ibu seperti kita ini adalah keluarga dulu ya. Pasti nanti ada masanya kita bisa mewujudkan mimpi sendiri, setelah mengantarkan orang-orang tercinta kita meraih mimpi-mimpinya terlebih dulu. Itu pastinya lebih menyengkan hati, dan juga menentramkan :)
HapusBagus sekali, Mbak. Harus dipertimbangkan, ya, biar hidup lebih seimbang :)
BalasHapusSalut dengan berbagai kesibukannya, semua tampak berjalan dengan indah. Semoga selalu bahagia, ya, Mbak :)
namanya hidup, ya jatuh bangun juga Mbak. Tetapi memiliki bnayak kegiatan positif yang membuat hati senang memang membuat hidup enggak terasa nyesek, hehehe. makasih ya do'anya
HapusSetuju mak...tp klo sy memang tdk bercita-2 jd penulis, tp begitu kenal dunia ngeblog...jd suka nulis...ya ttg keseharian sj...sy suka utak atik bhn makanan agr bs jd msakan yg enak, utak atik craft, yg alhamdulillah smua jg menghasilkan walo kcl2an...hihi...klo menjahit sdh dr blm menikah sy sdh prnh ikut kursus sp terima jahitan, tp bertmbhnya umur, menjahit sgt melelahkan bg saya...lbh memilih craft dan masak...hehe...yg penting Bahagia kan ya Mak....?
BalasHapusiya mak. apapun itu kalau dilakukan membuat hati kita bahagia, pasti jadi menyenangkan ya..
Hapussepakaat pake bangeud Mak..
BalasHapuspokoe hepi insyaallah yang kita lakukan berkah :v
hadoooh kenapa pokusnya ke pastry kejuu
ahhh jadi dangdutan niy perut
tul Mbak. suka buat kue? ntar resep pastry kejunya di sharing juga, hehehe
HapusMak rebellina, setuju banget. Yg penting pertanyaan "area you happy with your job?" dan " do you pround Of your job?" bisa terjawab ya mak
BalasHapussuperb sekali Mbak Yervi Hesna dengan kalimat 'are you happy with your job' dan 'do you proud of your job?''. untuk saya, hal seperti inilah yang mengena. beda barangkali dengnan orang lain. jadi yang penting kita bahagia dengan apa yang kita lakukan, iya enggak Mbak?
Hapus