Jumat, 21 Maret 2014

Yang Penting Bahagia...

Apa passion  anda?

Kalau pertanyaan itu diajukan pada saya, maka dulu dengan yakin saya akan jawab, menjadi penulis! Saya merasa punya sedikit  bakat, hasil karya pernah nampang di media, serta punya segudang ide yang seliweran di benak saya siap dituangkan dalam tulisan (Sok percaya diri banget euy, malu-maluin deh). Tapi itu dulu! Awal-awal saya terkena euforia menulis, dan ikutan menulis rame-rame alias antologi, walau hasil karya antologi cuma sebiji! Setelah itu saya mandeg dari menulis. Lama…, sekitar 2 tahunan. Walau kini mengaktifkan diri untuk kembali belajar menulis, namun kalau ditanya kini apa passion saya? Maka akan saya jawab, banyak! Bukan cuma menulis saja.

Menyerah?  Atau takut menghadapi kenyataan di depan mata bahwa penulis baru bermunculan dengan talenta dan ide-ide yang lebih segar?

www.theway-weremember.blogspot.com
courtesy: www.theway-weremember.blogspot.com
Tidak begitu. Saya tidak menyerah atau khawatir kalah bersaing dengan penulis lainnya. Setiap orang dan termasuk penulis, punya jalannya masing-masing dalam mewujudkan mimpinya. Termasuk saya. Impian menjadi penulis masih tertanam kuat, jalan ke sana pun sudah dirintis. Namun saya memilih realistis dengan kondisi saya . Saya punya prioritas lebih dari keinginan pribadi. Ada 4 anak yang masih sangat butuh perhatian, suami yang tetap punya hak atas diri saya seperti saya memiliki hak atas dirinya, dan lingkungan yang saya harus tetap ambil bagian di dalamnya. Diantara ke empat anak kami tersebut, satu memerlukan perhatian yang khusus, karena dia pun khusus, tidak sama dengan saudara-saudaranya yang lain. Saya jadi merasa egois kalau fokus mengejar mimpi sementara tanggung jawab utama saya terbengkalai.

Bukannya cari-cari alasan saja? Banyak penulis lain yang punya banyak keterbatasan mampu menghasilkan karya?

Pertanyaan itu sering juga mampir di benak saya. Belum lagi tulisan motivasi kepenulisan yang seliweran, terkadang membuat telinga ini panas saat saya membacanya. Dan jangan pula dibilang saya tak pernah mencobanya. Hasilnya? Yang ada niat menjadi penulis serasa seperti beban, membuat hidup saya jadi berat, berimbas negatif ke anak-anak dan suami, karena saya marah-marah bila target menulis tak tercapai. Inikah yang saya kejar?

Sejatinya hidup adalah mencari kebahagiaan. Karena saya menganut agama Islam, tentunya standar kebahagiaan saya dilandasi oleh pemahaman yang saya yakini, tidak bertentangan dengan hukum syara’ dan suami ridho, serta kebahagiaan yang saya peroleh insha Allah membawa berkah. Itu saja . Kalau saya bahagia, kebahagiaan itu akan menyebar dan menaungi orang-orang di sekeliling saya, termasuk anak-anak dan suami.
www.rebellinasanty blogspot.com
kebahagiaan itu menyebar :) dokumentasi pribadi rebellina

Lalu, bila  ambisi menjadi penulis malah memerangkap diri saya menjadi pribadi yang tidak bahagia, tujuan apa yang sudah saya capai? Bukannya berarti saya malah gagal?

Ah, cuma alasan pembelaan diri demi menutupi kegagalanmu menjadi penulis…

Sekali lagi, jalan hidup orang beda-beda. Berhasil buat orang lain, belum tentu berjalan baik bagi diri sendiri. Saya tidak mau mengusili pilihan orang lain. Tapi bagi saya saat ini, keluarga adalah prioritas nomor satu. Tak perlu juga saya tulis detil apa yang membuat saya terpontang panting di dalam keluarga ini sehingga membuat saya harus menyingkirkan niat menjadi penulis sementara waktu di nomor urutan ke sekian. Tapi, bukan saya berhenti. Tetap rajin membaca, menabung ide, menulis alur, dan saat tenaga tersisa di waktu yang jua tersisa, saya akan berusaha menuliskannya. Atau kerinduan menulis saya tuangkan lewat ngeblog.

www.rebellinasanty blogspot.com
Tas Tote hasil belajar jahit rebellina
Di luar itu, ternyata saya menyadari potensi saya bukan cuma hanya menulis. Saya mampu menjahit, walau sekedar membuat tas sederhana buat si kakak, membuat mukena imut buat Ai, dan memake over baju-baju tak terpakai. Suatu prestasi yang walau tidak hebat sama sekali, tapi diri saya sendiri mengapresiasinya karena sebelumnya saya tak pandai menjahit sama sekali. Memegang mesin jahit saja enggak bisa!

www.rebellinasanty blogspot.com
courtesy:rebellina
Lalu, tanaman yang tumbuh subur di halaman sekeliling rumah, baik tanaman hias hijau daun, tanaman bunga, serta tanaman buah yang sudah banyak memberikan hasilnya untuk kami. Ternyata, setelah saya tekuni di sela-sela kesibukan saya, membuat saya bahagia dan semakin mencintai dunia tanam menanam. Perlu dicatet juga, bahwa saya juga tidak pernah berkutat dengan tanaman sebelumnya. Ini karena terpaksa! (baca, Bermula Dari Alamanda)

Membuat kue, cemilan, mencoba aneka resep-resep baru untuk buah hati dan keluarga, juga begitu menyenangkan, walau saya tak begitu antusias memakannya. Sampai disarankan untuk buka usaha kuliner, tapi belum untuk saat ini karena saya merasa kemampuan memasak saya jauh dari memadai. Namun kegiatan ini juga menyeimbangkan emosi saya, dan jadi cara asyik untuk mendekatkan diri saya dan anak-anak.
www.rebellinasanty.blogspot.com
bolugulung hias; courtesy: rebellina
www.rebellinasanty.blogspot.com
pastry gulung keju, courtesy : rebellina

Beraktivitas bersama anak-anak pun sangat membahagiakan saya. Berjoget-joget enggak karuan bareng si bungsu sembari mendengarkan musik. Atau membuat kerajinan dari bahan-bahan sederhana, misalnya butiran beras yang diwarnai pewarna makanan. Itu juga membuat hati ini bahagia, karena melihat kegembiraan anak-anak bersama saya.
www.rebellinasanty.blogspot.com
crafting  bersama anak-anak, courtesy rebellina

Sekarang, utak atik blog, berkutat dengan program HTML dan CSS, ternyata menambah daftar kegiatan yang membuat saya happy melakukannya, walau masih dengan ilmu  ala kadarnya. Lagi-lagi, awalnya saya buta dengan urusan HTML dan CSS.  Tapi untuk yang satu ini sepertinya tidak ditekuni terlalu jauh, mengingat keterbatasan waktu saya untuk menjalaninya.
www.rebellinasanty.blogspot.com
hasil utak atik html dan css ala rebellina

Menjahit, membuat kue dan cemilan, serta berkebun, bisa melibatkan anak-anak dan anggota keluarga lainnya untuk aktif terlibat. Beda dengan menulis. Untuk menulis, saya butuh konsentrasi, kesendirian, serta fokus. Keterlibatan anggota keluarga yang lain malah membuat fokus saya buyar. Itu sebabnya, saya tetap mencintai kegiatan itu diluar passion menulis saya, karena semua kegiatan itu  juga menjadi Me Time saya yang lain, menggantikan hasrat menulis yang belum bisa saya penuhi dengan keadaan saya saat ini.

Lagi pula, suami saya juga mengatakan bahwa saya justru terlihat bahagia bila melakukan sesuatu yang saya senangi  tanpa beban. Seperti  menjahit, memasak kue, dan terutama berkebun. Setelah itu, katanya lagi, saya pasti semangat menulis.

“Bunda kalau lagi on menulis, pasti efektif,” pujinya (atau menghibur?)
“Kok bisa?”  Kata saya
“Tuh buktinya, sekali kirim langsung dimuat.” gombalnya
“ Tapi Bun kan jarang menulis untuk media, berarti enggak efektif dong.” Ngeles sambil manyun.
“Ya enggak juga. Kalau nulis, walau jarang tapi langsung dimuat, khan berarti efektif. Ketimbang nulis terus tapi ditolak melulu…” Masih semangat dia menghibur saya.
“Lebih enak kalau nulis terus, dan dimuat terus khan…” Masih ngotot juga saya. Hehehe

Ngalah deh suami. Tapi saya juga jujur mengakui, bukan masalah efektif atau tidaknya proses menulis yang saya lakukan. Tetapi apakah itu membahagiakan atau tidak?

Bila keinginan menjadi penulis membuahkan obsesi yang malah membuat saya tertekan, apa untungnya untuk saya? Bukan malah jadi karya, tapi malah berujung ke stress nantinya.  Saya justru bahagia melakukan kegiatan yang menjadi passion baru saya. Dan semua itu malah membuat saya semangat kembali menulis, tanpa beban, karena saya menulisnya dengan bahagia.

Menjadi Penulis?
Teteup dong! Namun menjadi penulis yang menulis dengan bahagia










22 komentar:

  1. Setuju, mak :D semua dijalani dengan bahagia, melenceng dikit dari menulis gpp ya, kan cuma sedikit, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. Kalau diri sudah berbahagia, insha Allah akan membawa aura positif ke sekeliling kita, terutama keluarga. Menulis, teuteup! tapi menulis dengan bahagia :)

      Hapus
  2. rajin banget si mbak berkebun, bikin kue, bikin craft buat anak2, masih bisa nulis pula .. subhanallah ...Mantabbs :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena semuai tu membuat saya bahagia, mbak :). jadi anteng saja melakukannya :)

      Hapus
  3. betul sekali :) wah mba Passy ternyata multitalented ya hihi.. eh blognya juga makin bagus euy:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, terima kasih san. dirimu juga banyak menginspirasi diriku untuk tidak kalah dalam hal belajar :)

      Hapus
  4. mak,, betul sekali.. semua kegiatan itu kalau tidak dijalani dengan bahagia ya ga bisa maksimal hasilnya..
    btw,, pengen juga main crafting sama anak.. langsung deh cari-cari referensi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. crafting bersama anak-anak memang menyenangkan mak, tapi riweuh... Enggak susah sebenarnya kok mak crafting bersama anak, hanya butuh kesabaran saja mendampingi mereka. kalau soal hasil, hehehehe...

      Hapus
  5. Setuju Mbak.. Sesuatu yang dipaksakan hasilnya tidak akan maksimal. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. beda hasilnya dengan melakukan sesuatu sepenuh hati ya Rin..

      Hapus
  6. Setuju sekali, Mak Reni. Saya juga akhirnya menyadari bahwa passion saya ternyata adalah keluarga. Apa pun yang saya lakukan asal bersama keluarga, membuat saya hepi. Benar sekali apa yang Mbak Ren bilang, bahwa diri kita sendiri harus bahagia. Agar bisa membahagiakan orang lain. Saya juga sama, Mbak ndak pernah ngoyo sana-sini. Ngalir aja. Lagi pengen masak2 ya ikuti saja. Lagi pengen berkebun ya saya utak-atik tanaman sampai mabok. Mau nulis ya nulis. Ndak ada unsur terpaksa. Kecuali kalau ada pesanan tulisan dan DL revisi. :) Keep happy, Mbak! ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbak. Stress saya kalau mau ikuti impian pribadi saya, karena ternyata hidup sendiri dengan bekeluarga sudahlah pasti beda. dan yup, kebahagiaan bersama keluarga di atas kebahagiaan pribadi. Dan enggak beda tuh dgn mbak, lagi mau bekebon, sampai lumutan dilakoni, lagi bosan, tanamannya layu pun dicuekin, hehehe (enggak kok)

      Hapus
  7. Aaih, ternyata ada yg sehati sama saya :)
    Saya juga jalanin semua apa adanya, tanpa target. Betul kata Mbak Rebellina, jika ditarget malah bikin stres dan berimbas pada keluarga. Masih banyk potensi lain yg bisa digali. Semua tetap berjalan apa adanya dan sesuai keadaan n kehendak hati. Sukses terus berkreasi sambil hepi2 ya, Mbak ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya Mbak Inna. prioritas untuk ibu-ibu seperti kita ini adalah keluarga dulu ya. Pasti nanti ada masanya kita bisa mewujudkan mimpi sendiri, setelah mengantarkan orang-orang tercinta kita meraih mimpi-mimpinya terlebih dulu. Itu pastinya lebih menyengkan hati, dan juga menentramkan :)

      Hapus
  8. Bagus sekali, Mbak. Harus dipertimbangkan, ya, biar hidup lebih seimbang :)
    Salut dengan berbagai kesibukannya, semua tampak berjalan dengan indah. Semoga selalu bahagia, ya, Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. namanya hidup, ya jatuh bangun juga Mbak. Tetapi memiliki bnayak kegiatan positif yang membuat hati senang memang membuat hidup enggak terasa nyesek, hehehe. makasih ya do'anya

      Hapus
  9. Setuju mak...tp klo sy memang tdk bercita-2 jd penulis, tp begitu kenal dunia ngeblog...jd suka nulis...ya ttg keseharian sj...sy suka utak atik bhn makanan agr bs jd msakan yg enak, utak atik craft, yg alhamdulillah smua jg menghasilkan walo kcl2an...hihi...klo menjahit sdh dr blm menikah sy sdh prnh ikut kursus sp terima jahitan, tp bertmbhnya umur, menjahit sgt melelahkan bg saya...lbh memilih craft dan masak...hehe...yg penting Bahagia kan ya Mak....?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak. apapun itu kalau dilakukan membuat hati kita bahagia, pasti jadi menyenangkan ya..

      Hapus
  10. sepakaat pake bangeud Mak..
    pokoe hepi insyaallah yang kita lakukan berkah :v

    hadoooh kenapa pokusnya ke pastry kejuu
    ahhh jadi dangdutan niy perut

    BalasHapus
    Balasan
    1. tul Mbak. suka buat kue? ntar resep pastry kejunya di sharing juga, hehehe

      Hapus
  11. Mak rebellina, setuju banget. Yg penting pertanyaan "area you happy with your job?" dan " do you pround Of your job?" bisa terjawab ya mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. superb sekali Mbak Yervi Hesna dengan kalimat 'are you happy with your job' dan 'do you proud of your job?''. untuk saya, hal seperti inilah yang mengena. beda barangkali dengnan orang lain. jadi yang penting kita bahagia dengan apa yang kita lakukan, iya enggak Mbak?

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge