Senin, 18 Januari 2016

“Mereka Bilang Aku Miskin!” Merubah Bully Menjadi Booster

“Mereka Bilang Aku Miskin!”
Merubah Bully Menjadi  Booster

Disclaimer:
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk pamer, atau menyombongkan diri. Apalagi bermaksud riya. Naudzubillah. Juga tidak dimaksudkan untuk menyinggung pihak lain yang terkait. Tulisan ini hanya berbagi pengalaman apa yang anak saya rasakan, dan bagaimana kami selaku orangtua mencoba memberi jalan keluar bagi dirinya.  Saya yakin pun diluaran sana banyak ibu-ibu yang mengalami hal yang sama. Semoga bisa diambil hikmahnya.

Ini kisah tentang putri sulung saya. Saya biasa menulis namanya di dalam blog ini dengan sebutan Kakak Sya.  Sekarang dia sedang dalam transisi menuju masa remaja. Wuih.., berhadapan dengan anak menjelang remaja, seperti naik roller coaster. Berhubung saya belum pernah naik roller coaster, anggap saja seperti naik kora-kora aja deh.
Tapi…, saya tak menuliskan tentang how to deal with teenager, melainkan  sepenggal kisah saat Kakak Sya masih duduk di bangku sekolah dasar.



http://www.rebellinasanty.blogspot.com
When she was 5

Ceritanya, anak sulung saya ini sejak kecil tumbuh dengan ceria dan menggemaskan. Seringkali saat saya bersama dengannya, orang-orang yang bertemu dengan kami hanya focus dengannya dan mengabaikan saya. Anggapannya, saya ini adalah nannynya, bukan ibunya. Sampai-sampai kalau lagi di mall saya sudah terbiasa dianggap pembantu kalau lagi gendong dia.


http://www.rebellinasanty.blogspot.com
she was 4

Skip..skip, sampai masuk TK di usia 4 tahun kurang. Terkenal ceria dan kalau bicara dengan bahasa yang tertata rapi. Sampai-sampai dapat piagam sebagai murid dengan kemampuan berbicara yang baik dan benar (setiap murid mendapat piagam mengenai keistimewaan masing-masing).  Misalnya, untuk bilang tidak, dia akan katakan tidak, bukan enggak. Semacam itulah. Memang, saya membiasakan dia untuk berucap kata yang benar,  juga memperkenalkan banyak kosa kata baik Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris sejak dia sudah mulai bisa bicara.


Kakak Sya ini lulus TK saat usianya 6 tahun kurang. Mau masuk SDN, tidak ada yang menerima dengan alasan usia yang kurang. Akhirnya, dia kami masukkan ke SDIT yang jaraknya lumayan jauh juga dari rumah. Soalnya, di SDIT ini kami merasa sreg karena sejalan dengan visi misi yang diembannya.


http://www.rebellinasanty.blogspot.com
masa-masa TK

Awal masuk sekolah, dia sangat antusias sekali. Namun lama kelamaan antusiasmenya dia menurun dratis, sampai jadi tingkat malas mau ke sekolah. Pasalnya? Ternyata dia ‘terlalu populer’ di kalangan kakak-kakak kelas. Setiap lewat, dipanggil, dipeluk-peluk, atau dihalang-halangi jalannya, di towel-towel pipi karena gemes, dan banyak lagi lah. Semua itu membuat dia tak nyaman dan terganggu. Karena memang dia tidak terbiasa diperlakukan begitu.  Jadilah setiap pagi, di rumah selalu terjadi drama, membujuknya agar mau sekolah. Dari kelas satu sampai kelas 3 itu, prestasi Kakak Sya biasa banget, karena dia cenderung kurang bergairah ke sekolah.

Oh ya, ada satu kejadian yang membekas, yakni saat kami selaku orangtuanya dipanggil ke sekolah. Ternyata, di sekolah Kakak Sya menggigit lengan seorang temannya. Dan itu tindakan fatal. Namun setelah direka ulang, alasan dari Kakak Sya bisa diterima.  Itu suatu bentuk frustasi dari ketidakmampuan dia menghadapi sikap kakak-kakak kelas dan seorang temannya  yang membuat dia merasa sangat terganggu.
 Waktu itu dia dikerubungi oleh beberapa orang kakak kelas dan salah seorang (yang lengannya digigit) menghalang-halangi Kakak Sya yang ingin membebaskan diri dari kepungan tersebut. Kakak –kakak kelas alias seniornya tersebut tidak bermaksud buruk, murni karena gemas karena menganggap putri saya ini lucu. Tapi mereka tidak menyadari hal itu membuat putri saya tidak nyaman.


Saat kelas 3 tersebut, kami bermaksud memindahkan Kakak Sya ke sekolah dekat rumah, karena pertimbangan finansial. Saat itu ayahnya sudah tidak kerja kantoran lagi, murni mengandalkan diri dari usha freelance jasa design grafis dan web. Dan tentu saja  biaya sekolah Kakak Sya jadi sangat terasa berat. Namun saat disampaikan ke pihak sekolah, pihak sekolah menolak dan malah memberikan pengurangan biaya sekolah Kakak Sya ini. Sekolah ini bener-bener jempolan deh dengan kepeduliannya pada murid-muridnya. Karena untuk hal ini, Kakak Sya tidak sendirian.  Jadilah dia tidak berhenti dan pindah sekolah, melainkan lanjut terus bersekolah di sini.

Memasuki kelas 4, Kakak Sya semakin terlihat berubah. Segala keceriaannya saat kecil, hilang, berganti dengan wajah yang selalu murung. Setiap mau sekolah, penyakitnya pasti kambuh. Yang sakit perut lah, ini itu dsb. Absennya banyak. Begitupun kemampuannya menyerap pelajaran tergolong baik.

http://www.rebellinasanty.blogspot.com

                               ultah ke 9. abaikan kue hancur buatan bunda. but she was so happy...

Melihat hal ini, saya merasa ada yang tidak beres. Perlu waktu membujuknya untuk bicara dari hati ke hati. Dan pada akhirnya, di suatu waktu, tangisnya meledak dan keluarlah ungkapan kesedihan bercampur kemarahan. “Mereka bilang, aku miskin!”

Saya terdiam sejenak mendengar kata-katanya, tetapi dengan mencoba bersikap tenang saya pun mengorek informasi lebih jauh mengenai apa yang dirasakan dan dialami anak saya. Seperti inilah dialog saya dengannya waktu itu.

“Alasannya apa sehingga teman-teman kamu mengatakan kamu miskin?”tanya saya .
“Tasku itu-itu saja, tidak ganti-ganti. Sepatuku juga sudah kelihatan jelek. Aku juga tidak memiliki buku pelajaran yang lengkap,” isaknya.
“Apakah semua temanmu yang bilang begitu, atau, cuma beberapa orang  saja?” Saya mencoba menggali lebih jauh.
“”Memang cuma beberapa…”katanya
“Berarti,lebih banyak yang bersikap baik bukan, daripada yang bicara begitu?”

Dia diam. Mungkin mencoba mencerna perkataan saya. Kediamannya saya tafsirkan bahwa apa yang saya katakan itu benar. Tapi wajah murungnya masih terlihat jelas.

Saya tahu, SDIT tempat Kakak Sya bersekolah tergolong sekolahnya anak-anak oarng mampu. Walau berlaku subsidi silang, tetap saja kebanyakan berasal dari kalangan orang berada. Bukan berarti keluarga kami termasuk kalangan  orang berada sehingga sekolah di sana, loh. Awal masuk di sana kita juga sudah dipermudah karena sekolah ini lebih mementingkan visi misi yang sejalan dengan para orangtua calon murid.

Saya tak menganggap sepele apa yang dirasakan dan dialami oleh putri saya tersebut. Bayangkan saja efeknya, dari seorang anak kecil yang lucu dan ceria, dia berubah menjadi anak yang pemurung dan tidak bergairah. Apalagi saat mau bersekolah. Harus ada yang dilakukan nih agar situasi yang membuatnya tak merasa nyaman bisa berubah.

Apakah lantas saya kemudian memenuhi kebutuhannya agar tidak dibilang miskin, seperti membelikannya sepatu baru, tas yang selalu berganti tiap semester, dll?

Tidak! Selain memang karena keadaan financial keluarga saat itu lagi di titik nadir, juga bukan solusi yang tepat bila memenuhi segala kemauan anak hanya apa karena ‘kata teman atau kata orang.”

Bila keadaan yang tidak menyenangkan untuk anak saya tidak bisa diubah karena sistemnya memang begitu, berarti yang harus diubah adalah pola pikir anak saya dalam menghadapi situasi seperti itu. Mindset Kakak Sya mengenai hal ini harus di dobrak! Kepercayaan dirinya harus dibangkitkan tanpa dirinya harus mengikuti tren atau apa yang dilakukan orang lain kebanyakan.

Kalau kondisi kami saat itu memang pas-pasan, itu Kakak Sya harus tahu dan sadari. Yang penting bagaimana keadaan itu tetap menjadikan dirinya tegar, terus maju dan tetap bermental positif. Dan yang paling penting, mental anti pengemis dan menjadi ‘keset kaki’ tidak boleh ada sama sekali dalam kamusnya. Kamus saya sih tepatnya, karena itu yang saya tekadkan ingin saya tanamkan padanya saat itu.

Maka, saya  pun mulai dengan misi merubah mindset Kakak Sya tentang hidup, kaya, miskin, dan menaikkan kepercayaan dirinya. Anak kelas 4 SD sudah diberi wawasan seperti itu? Kenapa tidak? Tentu saja bahasa penyampaiannya disesuaikan dengan kemampuan akalnya saat itu.

“Kak, menurut Kakak, kita miskin?” tanya saya membuka dialog
Dia mengangguk. Saya yakin pikirannya pasti membandingkan kondisi dirinya dengan teman-temannya.

“Coba lihat tetangga-tetangga sekeliling kita. Mereka kebanyakan hanya bisa makan 2 kali sehari dengan lauk yang itu..itu.. saja. Kalau tidak dengan ikan asin, pasti dengan sayur asem yang banyakan kuahnya daripada isinya,” kata saya. Maaf, saya tidak merendahkan mereka yang makan ikan asin, hanya mencoba menggambarkan kondisi yang bisa dia lihat jelas dari sekelilingnya.

Dia diam. Tapi saya tahu dia mencerna. “Kamu masih makan 3 kali sehari, khan?” lanjut saya.
Dia menganggguk

“Masih bunda bawaian makan siang dan bekal sekolah dari rumah. Snack kamu bahkan  beberapa kali bikin teman-temanmu pada ngiler,bukan?”, tanya saya. Saya memang buat sendiri bekal makan siang dan bekal camilannya. Sekolahnya berlangsung sampai sore, dan menurut ceritanya, teman-temannya suka ‘kepengen’ kalau lihat bekal camilannya.

 “Kamu masih bisa pakai sepatu, tas, dan  bias sekolah, harus disyukuri dulu, karena itu hasil jerih payah usaha ayah yang insha Allah bunda tahu itu halal dan berkah. Kalau belum bisa punya ini, itu, trus ganti-ganti saat lagi musimnya, bukan berarti kamu miskin, nak…”

“Tidak ikut kebiasaan sebagian besar teman-teman di sekolahmu,  bukan berarti kamu lebih rendah dari mereka. Sepanjang kamu tidak mengemis, tidak meminta-minta, dan ayahmu mengusahakan segala sesuatunya untuk kita dengan jalan yang halal, itu justru yang harus kamu banggakan. Lagipula, yang bilang kamu miskin juga bukan orang kaya. Yang kaya itu bapak ibunya. Masa depanmu masih panjang, kalau pun miskin, yang miskin ini ayah dan bunda selaku orangtuamu, bukan dirimu. jangan menyerah hanya karena olokan orang lain. Dan miskin itu bukan sesuatu yang hina. Hina itu bila malas usaha,” Kata saya panjang lebar

Tapi mereka suka tertawa-tawa ngelihat aku, Bun. Bilangnya sepatuku jelek, tasku enggak pernah ganti..” dia mewek
“Denger sendiri ucapan mereka?”
Dia menggeleng. “Tapi aku denger mereka tertawa dibelakangku.”
“Khan bukan berarti sedang menertawakanmu. Bisa jadi ada cerita lucu atau kejadian lucu saat itu diantara mereka”.
Syafa kelihatan jengkel dengan ucapan  saya saat itu. Mungkin dianggapnya saya kurang empati dengannya.

“Ok,” kata saya. “Katakanlah mereka menertawakanmu. So what? Tidak ada khan yang luka dari tubuhmu kecuali perasaanmu, saja?. Justru kamu harus kasihan pada teman-temanmu yang menertawakanmu. Itu pun bila itu benar sesuai persangkaanmu. Karena itu berarti, temen-temenmu kesepian, enggak ada yangn mengajarkan mereka untuk berlaku lembut dan tidak menghina orang lain,” kata saya lagi. “Jadi mereka mencari pelampiasannya dengan bersikap seperti itu. Kamulah sasarannya, karena saat itu kamu yang terlihat berbeda diantara mereka…”

“Tapi aku tidak punya, buku. Jadi mereka sering ngejekin aku. Kalau itu, aku denger sendiri,”
“Faktanya saat ini kita memang lagi sulit. Tapi kamu punya tangan, khan? Mengapa tidak mencatat apa yang dijelaskan Pak Guru? Buktikan pada yang mengejekmu, bahwa kau jauh lebih baik dari mereka. Mereka punya segalanya, bahkan fasilitas yyang lengkap disbandingkan dirimu.Tapi kamu pasti bias membuktikan, kau bias jauh lebih baik dengan keadaanmu saat ini,.Bunda yakin itu, karena Bunda tahu kemampuanmu.”

“Atau, kamu lebih mau ayah melakukan perbuatan maksiat yang dilarang Allah, misalnya merampok agar kamu bisa mengikuti gaya teman-temanmu?”, tanya saya memancing

Dia menggelang kuat-kuat. Saya menarik napas. Itulah reka ulang pembicaraan saya dengannya saat itu.

Saya tidak tahu, apakah putri saya mencerna dengan baik kata-kata saya. Tapi sejak itu, sikapnya berubah. Dia tidak lagi malas-malas ke sekolah, bahkan rajin mencatat pelajaran, karena  memang kami belum bisa membeli buku pelajarannya secara lengkap saat itu. Namun ayahnya rajin mengunduh materi pelajaran dari internet untuknya. Dia juga kelihatan lebih tegar dengan baju seragamnya sejak awal masuk sekolah belum beli baru lagi.karena dia sudah semakin tinggi, seragam gamisnya sudah agak ngatung. Solusinya, saya jahitkan tambahan bahan kain yang sewarna sehingga menutupi auratnya dengan sempurna.

Prestasi sekolahnya juga kemudian meningkat pesat. Terlihat angka-angka nilai pelajaran menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Sekolahnya memang tidak mencantumkan nilai rangking, namun kata gurunya putri saya termasuk 10 besar di kelas. Begitu juga saat dia sakit beberapa hari dan teman-teman serta gurunya mengunjungi rumah kami yang sederhana, dia tidak terlihat malu atau minder. Bahkan mengajak teman-temannya mengelilingi rumah dan halaman. Wajahnya juga sumringah menyambut teman-temannya.

Iseng-iseng saya bertanya pada teman-temannya mengenai apa yang terlihat menonjol dari seorang Syava Adiva. Jawaban mereka mengejutkan karena secara serentak semuanya menjawab, “Pintaaarrrr!”

Alhamdulillah, sejak saat itu, dia tidak pernah mengeluh lagi di bully miskin atau apapun itu. Dan yang lebih mengejutkan, putri sulung saya ini mendapat bea siswa dari sekolah dan dari orang tua murid yang sampai kini tidak mau diungkap identitasnya. (Terima kasih untuk SDIT IT Bogor dan orangtua murid yang telah memberi dukungan beasiswa pada putri kami. Semoga Allah memberi ganjaran keberkahan dan pahala yang berlipat ganda).

Beasiswa yang diterimanya semakin memacunya untuk lebih gigih dan giat. Kami kerap mengingatkannya agar menjaga amanah dari mereka yang mendukung pendidikannya, dengan memberikan kualitas terbaik dari dirinya. “Nilai memang bukan yang utama. Tetapi, bila engkau mampu meraih angka 10, mengapa hanya berhenti di angka 7?”

Alhamdulillah, mungkin itu juga menjadi pemicu semangatnya. Walau tak ikut bimbingan ini itu selain hanya belajar di skeolah dan di rumah sendiri dan dibimbing ayahnya, Kakak Sya berhasil lulus dengan nilai UN Matematika sempurna, yakni 10, dan rata-rata 9 lebih. Nilai UN-nya juga termasuk 3 besar yang tertinggi di sekolahnya.

Kini dia sudah duduk di kelas VII di SMPN dekat rumah. Seperti awal masuk SD dulu, di lingkungan baru ini pun dia bertemu lagi dengan orang-orang baru yang punya kecenderungan suka membully orang lain. Tetapi karena sejak awal saya sudah mengingatkannya untuk tidak lari dari masalah, termasuk dalam menghadapi pembully, dia pun sudah jauh lebih bijak menghadapi para pembully. Tentu saja tetap harus diyakinkan bahwa kita selaku orangtuanya merupakan pendukung utama dirinya.

  Nasehat yang sama saya berikan lagi padanya untuk menguatkannya. “Cara membungkam mulut orang-orang yang suka menghina, adalah dengan membuat dirimu maju beberapa langkah dari mereka. Bisa lewat prestasi, prilaku yang lebih terpuji, atau pun karya positif. Dijamin,  mereka akan diam dan tak akan berani membully lagi. Bila mereka masih begitu, kasihanilah, karena itu menandakan jiwa mereka sakit. Mungkin di rumahnya, mereka kurang kasih sayang dan kurang perhatian,” kata saya panjang lebar.

http://www.rebellinasanty.blogspot.com
menjelang tamat SD


Puji syukur pada Allah, karena anak saya ini masih mau mendengar nasehat dan motivasi dari orangtuanya ini.  Dia membuktikan bully dari teman-teman baru itu tidak mempan untuknya. Prestasinya stabil, sejak awal masuk hingga satu semester berjalan. Saat mengambil rapor dan bertemu wali kelasnya, saya bertanya tentang diri putri saya ini di sekolah. Wali Kelasnya hanya tertawa menjawab bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengannya. Prestasinya bagus, akhlaknya juga terjaga. Dan rangkingnya? Alhamdulillah, seperti saya bilang selalu ke dia, “Nilai memang bukan yang utama. Tapi bila dirimu mampu mencapai posisi pertama, mengapa hanya berhenti di posisi lainnya?”

Perjalanannya masih panjang. Pasti akan ada fase naik dan turun. Yang penting bagi kami adalah menyakinnya bahwa apapun dia, bagaimana pun dia, cinta kami selalu ada untuknya. Bila dia menghadapi kesulitan, jangan pernah ragu untuk membaginya pada kami. Karena insha Allah, kami orangtuanya dan adik-adiknya, akan selalu mendukungnya dan membantunya mencari solusi.

Motivasi yang sama saya terapkan untuk anak-anak lainnya. Dan itu juga terlihat pada Aisyah. Sejak kini pun Aisyah tidak terbebani dengan tampil beda dari teman-temannya yang lain. Saya akan membagikan kisah Aisyah di postingan lainnya.


Buat yang membaca tulisan ini, berbagi yuk kiatnya menghadapi dan memotivasi anak-anak kita yang dibully temannya. Ditunggu loh  komentarnya…




30 komentar:

  1. semanat ya kakak Sya..! mak, tulisanya bagus kenapa ga diikutkan ke lomba blog KEB, temanya sesuai kayanya. infonya di emak2blogger.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. duh Mak Kania. Akhir-akhir ini aku belum sempat bw ke mana-mana. mau ikut lomba juga pengen tapi waktunya..Tapi makasih infonya. Mudah-mudahan masih bisa ikut

      Hapus
  2. Inspiring banget ceritanya....kakak Sya ini seperti saya dulu, tapi sayangnya saya tidak sepandai kak Sya...
    insyaAllah sukses dan bisa membuat orangtuamu bangga ya kak Sya... ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua orang pasti cerdas dengan bakatnya sendiri Mbak. Akuyakin Mbak Ika pasti cerdas dulunya.
      Salam sukse jug abuat mbak Ika dan keluarga

      Hapus
  3. Saya baru aja menuliskan ttg kisah anak sulung saya di blog. Yah kurang lebih sama Mbak ceritanya. Semangat terus unt menjadi insan yg solehah ya Kak Sya!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin. semoga dia istiqomah dalam kebaikan

      Hapus
  4. Bagus sekali tulisannya, Mbak Ren. Sukses selalu, Kak Sya. Dan semoga jadi anak salehah. ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin. makasiih mbak.. Semoga dia menjadi anak shalehah yang bermanfaat bagi banyak orang

      Hapus
  5. Inspiring, Mbak....Sukses terus ya Ka Sya..^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak. bantu doa agar kita smeua istiqamah dalam kebaikan dan dia kuat menghadapi tantangan jaman

      Hapus
  6. kakak Sya..cantiiik bangeett.. emang sekolahnya di SD mana mba? bisikin dong, hehe.. tapi hebat euy Mba Ren, selalu bisa mencari penyelesaian masalah. semangat ya kakak Sya..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. doakan ya Mbak Arin agar kakak Sya semangat selalu dalam kebaikan

      Hapus
  7. Wah kakak Sya emang gemesin banget itu pas kecil, jadi pengen cubit jugaaa XD

    aku salut sama mbanya dan makasih buat ilmu parentingnya ini walaupun belum nikah sih, tapi kan jadi bekal nanti kalau sudah nikah dan punya anak.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. senang kalau dirasa bermanfaat sharing dari saya ini :)

      Hapus
  8. Saya jg tekankan hal yg sama kpd anak sy mak..bedanya anak sy lbh tegar dr kaka sya..mgkn kr dr kecil sy mendidiknya agar kuat, mandiri dan tegar...walo namanya anak tentunya msh mngeluhkan tmnnya ada yg begini dan begitu..tp sbg ortu kt slalu cr solusinya ya mak...apa yg terbaik utk mrk..mgkn bkn harta benda..tp budi pekerti jg akhlak yg indah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget mak. itu yang banyak orang lupa untuk diajarkan pada anak

      Hapus
  9. peluk kaka Sya yang cantik :)
    apa kabar mba ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mbak Irma. Kangen nih. Kabarku baik, tapi emanng jarang bisa bw dan aktif di dunia online. Pelaknya udah diwakili emaknya :)

      Hapus
  10. Kak Sya hebat... Anak saya (8 th) akhir2 ini jg sering bertanya ttg kaya dan miskin. Terima kasih sharingnya, Mbak...

    BalasHapus
  11. Kakak Sya tantiiik... udah tantik pintar lagi. Terus berprestasi ya, Kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kakak..Moga Sya semakin baik lagi dan termotivasi ke depannya...

      Hapus
  12. Kakak Sya cantik, semoga senantiasa menjadi anak sholehah dan membanggakan untuk kedua orangtuanya ya...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. perjalanannya masih akan penu ujian lagii. Doakan agar kami dan dia mampu menjalaninya dengan sabar dan istiqamah dalam kebaikan. makasih untuk support dan doany aya

      Hapus
  13. Kaka Sya memang imut dan nggemesin ya. Waktu ke rumah saya ga ketemu ya Mbak? Salut dengan usaha Mbak dalam menyemangatinya. Akan selalu ada orang-orang yang coba menggerogoti keyakinan dan kemampuan kita. Dianggap rendah belum tentu rendah toh? Itu kan anggapan orang, tak perlu diindahkan. Buktinya Syafa berprestasi gemilang sampe dapet beasiswa. Benar kata Mbak, masa depan masih panjang. Sya bisa jadi apa saja, bismillah...

    Salam sayang dari kami sekeluarga untuk Sya ^-^

    BalasHapus
    Balasan
    1. perjalanannya masih panjang, dia masih terus harus dapat penguatan mental dan bimbingan. Batu doa ya Mas dan terima kasih untuk supportnya

      Hapus
  14. kakak sya cantik ...kalau anak abege saya tertutup sekali mba...apa karena cowok ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau anak abgnya cowok, coba pendekatannya lewat bapaknya. sesama laki-laki barangkali bisa lebih terbuka :)

      Hapus
  15. kalau saya malah dulu dibully karena dianggap kaya, suka dibilang "kalau dirumah pasti makan buahnya anggur, apel, pear, ya". itu jama tahun 1994. lah padahal gak pernah sekalipun nyentuh buah2an itu, wong ortu aja masih ngontrak. emg sih yg bully tetangga yang gak kerja, sementara ortu dua2nya pegawe, meski dulu masih honorer.

    *numpang curhat bgt mba*

    BalasHapus
    Balasan
    1. dimana-mana selalu ada orang-orang yang bermental bully ya Mbak...

      Hapus

Hai.., Terima kasih sudah mau baca tulisanku. Jika berkenan, beri komentar ya. Setiap komentar insha Allah pasti dibalas, kecuali yang nyepam dan SARA ya. Komentar anda, membantu banget buat perbaikan Blog ini. Salam, Rebellina :)

badge